Keesokan harinya, Aurel bangun lebih pagi dari biasanya. Suara deru mobil dan hiruk-pikuk kota Tokyo terdengar samar dari jendela kamar hotel, tapi pikirannya masih kacau karena malam sebelumnya. Samuel sudah bangun lebih dulu; ia terlihat duduk di meja dekat jendela, menatap dokumen-dokumen kontrak bisnis yang dibawanya, wajahnya serius dan penuh fokus. Meski begitu, sorot matanya tak luput memperhatikan Aurel ketika ia keluar dari kamar mandi. “Aurel,” ucap Samuel pelan, tapi cukup tegas untuk membuat Aurel berhenti sejenak. “Kau siap untuk hari ini?” Aurel menelan ludah, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar tenang. “Siap.” Hatinya tetap berdebar, terutama setelah kemarin malam hampir terjadi sesuatu yang tak boleh mereka lakukan karena kontrak masih mengikat. Samuel mengangg

