Mobil melaju meninggalkan gedung itu dengan kecepatan stabil. Samuel duduk di sisi Aurel, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata awas menatap kaca spion dan jalanan di depan. Ia tidak berbicara, tapi keheningannya justru terasa berat. Aurel duduk tegak, kedua tangannya saling menggenggam di atas paha, berusaha menenangkan diri. “Kamu takut?” tanya Samuel akhirnya, tanpa menoleh. Aurel menggeleng pelan. “Aku cuma… belum terbiasa.” Samuel mengangguk, seolah jawaban itu sudah ia duga. “Kamu tidak seharusnya terbiasa dengan ini,” katanya datar. “Ini bukan dunia yang aman.” Mobil berhenti di lampu merah. Samuel menoleh, menatap Aurel cukup lama. “Dan aku tidak akan membiarkan dunia ini menelanmu.” Aurel menatap balik, ada sesuatu di matanya yang ingin bertanya, tapi ia menahan diri. Ia ta

