Bab 76

1031 Words

Aurel menutup panggilan dengan tangan gemetar. Ponsel itu masih menempel di telinganya beberapa detik lebih lama, seolah ia berharap suara ibunya kembali terdengar dan mengatakan bahwa semua itu hanya salah paham. Tapi layar sudah gelap. Sunyi kembali mengisi kamar, dan kali ini sunyi itu terasa berat, menekan d**a. Samuel berdiri beberapa langkah darinya. Tubuhnya kaku, rahangnya mengeras. Ia sudah mengambil ponselnya sendiri sejak mendengar kata “berita”, dan kini layar ponsel itu menampilkan deretan notifikasi yang terus masuk tanpa henti. “Aurel,” ucap Samuel akhirnya, suaranya rendah tapi tegas. “Kamu duduk dulu.” Aurel menurut. Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan. Samuel berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depannya. Ia berjongkok sedikit a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD