Aurel tidak tidur malam itu. Setelah panggilan dari ibunya dan kabar tentang foto-foto yang beredar, pikirannya terus bekerja, menyusun kemungkinan terburuk satu per satu. Ia duduk di tepi ranjang dengan punggung bersandar ke sandaran kepala, selimut hanya menutupi kakinya. Lampu kamar sengaja dibiarkan redup, seolah terang berlebihan bisa memancing kenyataan yang belum siap ia hadapi. Samuel berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Aurel. Tirai setengah terbuka memperlihatkan cahaya kota Tokyo yang masih hidup meski malam semakin larut. Ia menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membaca apa pun. Rahangnya mengeras. Dari caranya berdiri, Aurel tahu pria itu sedang menahan amarah. “Ada berapa foto?” tanya Aurel akhirnya, memecah keheningan yang terlalu berat. Samuel menoleh. “Ti

