Aurel masih berdiri di tempat yang sama bahkan setelah suara pintu kamar mandi tertutup. Napasnya belum kembali normal, pikirannya berantakan, dan tubuhnya terasa seperti baru saja mengalami sesuatu yang jauh lebih melelahkan daripada pertengkaran apa pun. Samuel… pria itu selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, bahkan saat tidak melakukan apa-apa selain berdiri terlalu dekat. Aurel memejamkan mata. “Kenapa sih aku begini?” Ia mencoba berjalan ke arah ranjang, tapi langkahnya justru terasa goyah. Ia duduk di tepi kasur, memeluk kedua lutut, mencoba menenangkan diri. Tapi yang terlintas di kepalanya justru momen ketika Samuel menahan dagunya tadi. Sentuhan yang singkat itu seperti membakar kulitnya. Dia bilang itu kenyataan. Dia bilang dia tidak mau berpura-pura lagi. Apa maksud s

