Bab 33

1126 Words

Aurel berdiri mematung beberapa detik setelah pintu tertutup. Napasnya masih belum stabil, dadanya naik turun seperti habis dikejar kenyataan. Ia menatap pintu yang baru saja dilewati Samuel, seolah tatapan itu bisa menarik lelaki itu kembali masuk. Tapi hening yang menjawab. Ia kembali ke ranjang. Duduk. Menatap ponsel yang masih menyala di sampingnya. Nama Chelsea terasa seperti belati yang menyayat setiap kemungkinan yang barusan hampir terjadi. Aurel mengusap wajahnya. “Aku bodoh banget,” gumamnya pada diri sendiri. Tapi suara itu bahkan tidak meyakinkan dirinya. Ia baru saja menegakkan punggung saat ponsel bergetar. Satu pesan masuk. “Maaf.” Hanya itu. Tapi cukup untuk membuat hatinya runtuh dan berharap dalam waktu yang sama. Aurel menarik napas panjang, mencoba mengatur emosin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD