Bab 31

1066 Words

Udara malam Kyoto yang semula terasa menenangkan kini berubah jadi dingin yang menusuk sampai ke tulang. Aku berdiri mematung di depan restoran, menatap jalanan yang baru saja dilewati mobil itu. Lampu-lampu kota memantul di permukaan aspal yang basah, seolah mengejekku yang hanya bisa menunggu tanpa daya. Menunggu adalah pekerjaan paling menyakitkan bagi seseorang yang hatinya dipenuhi ragu. Aku memeluk diriku sendiri, mencoba mengusir hawa dingin yang merayap ke kulit. Tapi dingin dalam dadaku jauh lebih sulit dihangatkan. Lima menit terasa seperti selamanya. Aku menatap jam di ponselku—dua menit berlalu. Aku menggigit bibir. Tuhan… kenapa rasanya seperti lebih dari dua menit? Aku memutuskan berjalan pelan ke arah jembatan dekat sana. Tempat kami tadi melewati sebelum tiba di restora

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD