Bab 94

1201 Words

Aurel menatap keluar jendela kamar hotel, hujan yang turun tipis membuat lampu-lampu kota Tokyo terlihat seperti lukisan yang berkilau. Hatinya campur aduk. Ia masih merasa gelisah setelah percakapan dengan Samuel tadi malam. Kontrak satu tahun yang mereka jalani terasa lebih berat ketika perasaan mulai muncul tanpa bisa dikendalikan. Ia mencoba mengatur napasnya, menenangkan diri, namun pikiran tentang Samuel terus membayangi. Ia menutup mata sejenak, membayangkan tatapan hitam Samuel yang tajam tapi hangat, genggaman tangannya yang kuat namun menenangkan, dan kata-kata lembut yang terdengar seperti janji, meski semua itu belum bisa mereka ungkapkan secara resmi. Samuel, di sisi lain, duduk di kursi dekat meja, menatap laptop yang terbuka di depannya. Tapi pikirannya jauh dari laporan bi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD