Bab 93

1187 Words

Aurel menghela napas panjang saat menatap kota Tokyo dari balkon kamar hotel. Lampu-lampu kota berkelap-kelip, memantul di permukaan jalan yang basah setelah hujan sore tadi. Angin dingin menampar wajahnya, membuat ia merapatkan syal tipis yang melingkari lehernya. Samuel berdiri di belakangnya, sedikit lebih tinggi, tangan kanannya menyentuh punggung Aurel dengan lembut, memberinya rasa hangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kontrak satu tahun ini, yang awalnya terasa seperti belenggu, perlahan mulai menghadirkan kebingungan dalam hatinya. Ia mulai merasakan perhatian Samuel bukan sekadar karena kewajiban kontrak, tapi ada sesuatu yang lebih. “Kamu tenang?” suara Samuel pelan, hampir menyatu dengan desir angin malam. Aurel menoleh, menatap wajah pria itu yang serius namun lembut.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD