Bab 92

1178 Words

Aurel menatap jendela mobil dengan pandangan kosong, tetapi tangannya tetap menggenggam erat tangan Samuel. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang kacau, membayangkan kembali suasana malam di Kyoto tadi. Lampu-lampu kota yang memantul di air sungai, aroma bunga dan kayu dari kuil, semua itu terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Namun kenyataan adalah Samuel di sampingnya, hadir dan nyata, memberikan rasa hangat yang anehnya menenangkan sekaligus membuat hati Aurel berdegup kencang. “Samuel,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil, “aku takut. Takut kalau kontrak ini… berakhir dan kita harus kembali ke dunia masing-masing.” Samuel menoleh, sorot matanya tajam namun lembut. “Aku tahu, Aurel. Aku juga takut. Tapi itulah mengapa kita harus meman

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD