Mereka meninggalkan kuil dengan langkah pelan, udara malam Kyoto yang dingin seolah ikut menenangkan hati yang bergejolak. Samuel masih menggenggam tangan Aurel, tidak melepaskannya sama sekali, meski jalan setapak licin karena hujan semalam. Aurel merasakan hangat genggaman itu, hangat yang tidak hanya berasal dari tubuh Samuel tapi dari ketulusan yang ia rasakan di balik tatapan serius lelaki itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berlari kencang. “Samuel, kita akan benar-benar menjalani ini, ya?” tanyanya pelan, suaranya hampir tenggelam di deru angin malam. Samuel menoleh sebentar, mata hitamnya menatap tajam ke arah Aurel, sorot itu membawa campuran perhatian dan keinginan melindungi. “Ya, Aurel. Kita akan menghadapi semua ini bersama. Aku ber

