Aurel menatap jendela mobil yang bergerak pelan menyusuri jalanan Kyoto. Lampu jalan memantul di kaca, membentuk garis-garis cahaya yang memanjang, seolah menuntun langkah mereka ke tempat yang Samuel sebut penting. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, tapi genggaman tangan Samuel yang tak lepas memberi kehangatan yang tak bisa ia abaikan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang bergejolak antara rasa takut dan penasaran. Samuel duduk di sampingnya, tetap fokus pada jalan meski sesekali menoleh untuk memastikan Aurel nyaman. Senyumnya tipis, tapi matanya gelap dan serius, memancarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perhatian biasa. Aurel menatapnya diam-diam, mencoba membaca emosi di balik ekspresi dinginnya. Satu hal yang pasti, Samuel selalu bisa mem

