Part 18

1333 Words
Deg Tubuh Syifa mematung di tempat. Permintaan Hafiz terdengar begitu jelas di telinganya. Melihat diamnya Syifa, Hafiz seketika mengambil tindakan. Ia memegang dagu Syifa lalu diarahkan untuk menatapnya. Keduanya saling menatap namun dengan arti yang berbeda. Tidak ada respon apapun dari Syifa membuat Hafiz tersenyum dalam hati. Ia berpikir Syifa mengizinkannya. Perlahan Hafiz mendekatkan wajah keduanya. Ia memiringkan sedikit kepalanya sampai hidung mereka bersentuhan. Cup Bibir keduanya menyatu dengan sempurna. Perlahan Hafiz menggerakkan bibirnya serta mendorong tengkuk Syifa agar lebih dekat. “Ummhh..” Syifa melenguh pelan “Kak…” Suara decapan lembut mulai terdengar memenuhi ruangan tersebut. Hal itu yang membuat Hafiz semakin bersemangat. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi. Hafiz melepas bibirnya lalu menggendong Syifa menuju tempat tidur. “Huhh..” “Kak Hafiz mau apa?” tanya Syifa dengan nafas terengah “Saya ingin melanjutkannya di atas kasur, Syifa.” “—“ Syifa terdiam. Ia seolah pasrah dengan apa yang akan suaminya lakukan. Hafiz membaringkan Syifa di atas kasur secara perlahan dan hati-hati. Setelahnya ia bergerak menindih tubuh Syifa dan kedua tangannya ia jadikan sebagai tumpuan agar tidak menindih sepenuhnya. Bahkan Hafiz melupakan pekerjaannya begitu saja. Keduanya saling menatap. “A-apa sepengaruh itu Syifa bergerak, Kak?” tanyanya dengan nada gugup “Tentu, Syifa. Kamu sudah membangunkan Singa yang sedang tidur.” Glek Syifa menelan ludahnya kasar. Hafiz mengelus pipi istrinya dengan lembut. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Tatapannya tertuju pada bibir merah alami milik istrinya yang sangat menggoda. Cup “Emhh..” kali ini Syifa menerima perbuatan suaminya dengan hati terbuka. “Uummhh..” Hafiz bergerak semakin kasar membuat Syifa sedikit kuwalahan saat ingin mengimbangi gerakannya. “Sshh..” “Ummhh..” “Uhh.. Kak Hafiz!” Syifa memanggil nama suaminya dengan nada meracau. Suara Syifa mengalun indah di telinga Hafiz. Hal itu yang membuat Hafiz semangat melakukannya. Perlahan tangannya mulai bergerak menelusuri lekuk tubuh istrinya. Dan sampailah pada dua benda kenyal kesukaannya. Area fovorit yang tidak pernah terlupakan. “Sshh..” “Aakkhh..” Syifa terus mengeluarkan suara indahnya yang membuat pikiran Hafiz kacau. “Uummhh..” “Pelanh-pelanh, Kak!” Hafiz bergerak semakin turun ke bawah. Jemari kekarnya bergerak melepas satu per satu kancing baju tidur yang dikenakan istrinya. Dalam satu tarikan pakaian itu berhasil tergelatak di lantai. Dan sekarang terlihatlah pemandangan yang sangat indah di hadapannya. “Waw.. sangat cantik!” Hafiz berdecak kagum menatapnya. “Kak, jangan menatapnya seperti itu.” dengan gerakan cepat Syifa menyilangkan kedua tangannya di depan d**a karena malu akibat tatapan suaminya. Perlahan Hafiz menarik tangan Syifa agar tidak menghalangi pemandangan indah yang saat ini ia nikmati. “Jangan ditutup, ya! Saya ingin menikmati pemandangan indah ini.” ucapnya dengan nada lembut “T-tapi.. Syifa malu, Kak!” cicitnya Hafiz tersenyum kecil. “Nggak papa. Lagipula saya sudah pernah melihat dan merasakannya.” Blush Kedua pipi Syifa bersemu merah mendengarnya. Meskipun mereka sudah pernah berhubungan namun ia belum terbiasa. Tatapan lekat suaminya membuat Syifa merasa malu-malu. “Semua yang ada di dalam diri kamu saya menyukainya.” ujar Hafiz Hafiz beralih mengelus lengan istrinya dengan lembut. Gerakannya semakin turun ke bawah. Sesekali ia menciumnya karena menyukai wangi istrinya. “Huhh..” nafas Syifa terengah karena perbuatan suaminya. Bahkan dadanya terlihat naik turun tidak beraturan. Hafiz berhenti di perut Syifa. Ia mengelusnya lembut sembari menatapnya lekat. Tatapannya terlihat penuh harapan. Sebelum melakukan ke inti ia berdoa dalam hati agar istrinya segera mengandung. Cup Hafiz mencium perut istrinya dengan lembut. “Segera tumbuh di perut Ibu, ya!” Doa’nya dalam hati Hafiz melempar pakaiannya ke lantai. Ia kembali menindih tubuh istrinya bersiap melakukan ke inti. “Bersiaplah istriku!” bisiknya dengan suara lembut “Ahh..” Syifa dan Hafiz melenguh panjang secara bersamaan. Genggaman tangan keduanya semakin menguat. “Owhh.. Kak Hafiz!” panggil Syifa dengan nada meracau “Emhh..” “Saya akan bergerak secara perlahan, Syifa.” Hafiz mulai menggerakkan tubuhnya. Ia melakukannya secara perlahan agar tidak menyakiti istrinya. “Uummhh..” “Enak, Kak!” “Owhh.. terus!” Syifa terus meracau membuat Hafiz semakin bersemangat melakukannya. Keduanya terlihat begitu menikmati. Keringat mulai membanjiri tubuh keduanya, namun hal itu tidak membuat mereka berhenti melakukannya. Justru semakin lama Hafiz semakin bersemangat bergerak untuk mencapai kenikmatan. “Uummhh..” “Lebih cepat, Kak!” “Owhh..” “Aahh..” Hafiz tersenyum mendengar suara istrinya. Ia menurut untuk lebih cepat. “Sedikit lagi!” Dan… “Aahh..” Hafiz melenguh panjang. Brugh “Sshh..” Syifa meringis pelan saat Hafiz menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Nafas keduanya terengah. Mereka seolah berebut nafas karena oksigen di sekitar mereka terasa menipis. Melelahkan namun ada kenikmatan sendiri di dalamnya. Perut Syifa terasa hangat karena cairan cinta keduanya. Ia memeluk suaminya erat. Di bawah sana mereka masih menyatu membuat Syifa merasa kurang nyaman. “K-kak, itunya…” “Sstt.. jangan banyak bergerak, Syif! Saya tahu maksud kamu.” Hafiz lebih dulu memotong perkataan istrinya. “Biarkan saja, karena saya merasa nyaman dengan posisi saat ini.” “Tapi rasanya aneh, Kak.” Hafiz terkekeh mendengarnya. “Nggak papa. Lama-kelamaan kamu akan terbiasa.” “Hmm..” Syifa hanya bergumam sebagai jawaban. Hafiz menenggelamkan wajahnya di d**a Syifa, bahkan sesekali menggesekkan hidung mancungnya. Ia bisa mendengar suara detak jantung Syifa yang berdebar kencang. Ia tersenyum kecil saat merasakannya. “Ternyata jantung kamu berdebar kencang, ya.” ucap Hafiz Syifa tersenyum malu mendengarnya. “Kak Hafiz bisa dengar?” Hafiz mengangguk dalam pelukannya. “Bisa. Bahkan suaranya terdengar cukup jelas.” Blush Kedua pipi Syifa bersemu merah mendengarnya. Bagaimana tidak mendengarnya jika pipi menempel sempurna di pipi Syifa. Degupan jantungnya cukup kencang membuat Hafiz merasa salah tingkah. Ternyata sentuhan darinya sangat berpengaruh bagi istrinya. Tidak mendapat jawaban apapun Hafiz mendongak menatap istrinya. Dan ternyata istrinya sedang blushing. “Malu, hm?” Hafiz menaik-turunkan alisnya menggoda. “Dih, enggak.” “Syifa biasa aja kok.” ucapnya sembari mengalihkan pandangan. Hafiz menegakkan tubuhnya secara tiba-tiba membuat Syifa meringis pelan. “Sshh..” “Eh, Astagfirullah.” “Maaf, saya lupa, Syifa.” Hafiz langsung berhenti bergerak. Ia lupa jika mereka masih dalam posisi menyatu. Padahal Hafiz berniat menegakkan tubuhnya agar bisa melihat wajah istrinya dengan jelas. Ia ingin menggoda Syifa. “Sakit?” Syifa mengangguk kecil. “Nggak papa, Kak.” “Maaf ya, saya tidak sengaja.” Syifa hanya tersenyum sebagai jawaban. “Kamu masih malu-malu jika kita berhubungan?” Syifa menelan ludahnya kasar. Untuk apa Hafiz bertanya seperti itu? Bahkan saat ini wajahnya terasa panas karena menahan rasa malu. Sudah pasti ia malu karena belum terbiasa. Ia masih membutuhkan waktu untuk terbiasa. "K-kenapa Kak Hafiz tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Syifa dengan nada gugup "Nggak papa. Saya hanya ingin tahu jawabannya." Syifa tersenyum canggung. Sudah pasti jawabannya iya. "I-iya, Kak. Syifa masih sering malu-malu karena belum terbiasa." Hafiz mengerti perasaan istrinya. Setidaknya Syifa sudah mulai menerima kehadirannya. Tidak mudah menerima seseorang secara tiba-tiba, karena itu sebisa mungkin Hafiz memperlakukan istrinya sebaik mungkin. Perhatian dan kasih sayang darinya tidak akan didapatkan perempuan manapun, kecuali Istri dan Ibunya. "Memangnya Kak Hafiz nggak malu juga?" "Enggak. Saya justru suka melihat kamu dengan..." dengan sengaja Hafiz menggantungkan perkataannya, hal itu membuat Syifa bertanya-tanya sekaligus merasa penasaran. "Kok diam? Kenapa nggak dilanjutin, Kak?" Hafiz membisikkan sesuatu pada istrinya. "Saya suka melihat kamu tanpa menggunakan apapun seperti ini." PLAK "Aduh!" Hafiz memekik kesakitan karena Syifa memukul lengannya cukup kencang. "Sakit, Syifa! Kenapa dipukul?" "Itu akibatnya kalau Kak Hafiz bicara tanpa difilter dulu." Hafiz terkekeh mendengarnya. Ia bicara apa adanya, karena itulah kenyataannya. Ia kembali membaringkan tubuhnya di d**a Syifa untuk beristirahat sebentar. Tubuhnya terasa lelah sehabis olahraga malam. "Elus rambut saya, Syifa!" pintanya dengan nada manja Syifa menurut. Ia mengelus rambut suaminya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Perlahan mata Hafiz terpejam karena merasa mengantuk saat Syifa mengelus rambutnya. "Saya ngantuk, Syifa." "Tidur aja, Kak!" "Hmm.. selamat malam, Istriku!" Syifa menahan senyum mendengar perkataan suaminya barusan. Ia merasa geli karena terdengar aneh. Hafiz mendongak karena tidak ada jawaban dari istrinya. "Kok nggak dijawab sih?!" "Selamat malam, suamiku!" Syifa sedikit kaku saat mengatakannya. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD