“Ini…” Syifa ragu saat ingin berkata jujur. Ia takut Hafiz marah pada saudara tirinya, Zakia.
“Kenapa, Syifa? Jangan setengah-setengah kalau bicara.”
“Tadi sempat bicara dengan Kak Zakia.”
“Jadi ini perlakuan dia?” Hafiz langsung tidak terima setelah mendengar jawaban istrinya.
Syifa menggelengkan kepalanya cepat. Ia menggenggam kedua tangan Hafiz untuk menenangkan suaminya. Ia tidak ingin masalah kecil ini berlanjut panjang. Lagipula dirinya baik-baik saja.
“Dengerin penjelasan Syifa dulu, Kak!”
“Saya tahu kamu pasti akan membelanya kan!?” Hafiz sudah bisa menebak isi pikiran istrinya.
“Enggak. Syifa nggak membela Kak Zakia, tapi mau menjelaskan kejadian di kampus tadi.”
“Yaudah jelasin sekarang!”
Mengalirlah cerita dari Syifa. Tidak ada yang ia tutup-tutupi karena dirinya ingin terbuka dengan suaminya. Hal itu lebih baik daripada menyembunyikan sesuatu yang membuat salah paham ke depannya.
“Tuh kan benar, Zakia yang melakukan ini semua ke kamu.”
Syifa mengelus lengan Hafiz untuk menenangkannya. Ia senang melihat suaminya khawatir dengan kondisinya, padahal hanya luka kecil. “Nggak papa, Kak. Lagipula hanya memar sedikit.”
“Saya sebagai suami kamu tidak terima melihat orang lain menyakiti kamu, sekecil apapun itu.”
“Sebentar, saya ambilkan air dingin untuk mengompres lengan kamu.” lanjut Hafiz
Syifa speechless mendengar perkatataan suaminya. Sebegitu perhatian dan khawatirnya Hafiz padanya. Padahal mereka menikah bukan karena saling cinta, melainkan karena terpaksa.
Tidak lama Hafiz kembali dengan membawa baskom kecil yang berisi air dingin di dalamnya. Ia duduk berhadapan dengan Syifa. Ia menarik tangan Syifa lalu mengompres lengan istrinya. Meskipun hanya memar kecil harus diobati agar cepat sembuh.
“Enak?” tanya Hafiz
Syifa mengangguk kecil. “Iya, Kak. Lebih enak dari sebelumnya.”
“Iya kan, makanya jangan banyak membantah kalau mau diobati.” Syifa tersenyum kecil mendengarnya.
Beberapa menit kemudian
Hafiz selesai mengompres lengan istrinya sejak lima menit yang lalu. Syifa merasa pergelangan tangannya lebih baik dari sebelumnya. Hafiz begitu telaten mengobatinya. “Terima kasih, Kak.” ujar Syifa
“Untuk?”
“Mengompres pergelangan tangan Syifa barusan.”
“Sama-sama.”
“Kamu udah makan siang?” tanya Hafiz
Syifa menggelengkan kepalanya. Setelah pulang dari kampus ia langsung menuju kantor suaminya. “Belum, Kak.”
“Kalau gitu kita makan siang di kantin, yuk!”
“Em.. kenapa nggak di sini aja, Kak?” Syifa masih belum terbiasa dan canggung untuk berbaur dengan para pegawai Hafiz. Ia masih membutuhkan waktu untuk terbiasa.
“Kamu mau makan di sini aja?” Syifa mengangguk kecil sebagai jawaban.
“Yaudah. Saya minta sekretaris saya untuk memesankan makan siang.” lagi-lagi Syifa mengangguk sebagai jawaban.
***
Malam harinya
Hap
“Eh,” Syifa terkejut karena mendapat pelukan dari belakang secara tiba-tiba.
“Kak Hafiz buat Syifa terkejut aja.”
Hafiz terkekeh mendengarnya. “Kamu fokus banget masaknya!”
“Iya. Nggak mungkin kan Syifa buatin makanan nggak enak untuk Kak Hafiz. Karena itu fokus Syifa nggak mau terbagi.”
“Hmm.. baiklah.”
“Saya duduk aja kalau gitu.” sebelum melepas pelukannya Hafiz mencuri ciuman di pipi istrinya.
Beberapa menit kemudian
Harum khas masakan tercium di hidung Hafiz. Wanginya begitu lezat, membuat perutnya tidak sabar meminta untuk segera diisi. Syifa menghidangkan masakannya di atas meja makan membuat Hafiz menelan ludahnya kasar.
“Harum banget masakan kamu, Syifa.” ujar Hafiz
Syifa tersenyum mendengar pujian dari suaminya. “Semoga Kak Hafiz suka, ya.”
“Saya pasti suka, Syifa.”
Syifa mengambilkan makanan untuk suaminya terlebih dulu, dan setelah itu dirinya. Hafiz memimpin doa dan setelahnya mereka makan dengan khidmat. “Selamat makan, Syifa!”
“Selamat makan juga, Kak Hafiz!”
Beginilah suasana rumah Hafiz dan Syifa yang dipenuhi keharmonisan dan ketenangan. Tidak ada yang membuat Syifa takut saat berada di rumah. Ia benar-benar nyaman tinggal bersama suaminya.
“Alhamdulillah.” Hafiz mengelus perutnya yang terasa kenyang.
“Gimana masakan Syifa malam ini, Kak? Suka?”
Hafiz mengangguk berulang kali. Tanpa ditanya sekalipun Syifa sudah tahu jawabannya, karena Hafiz terlihat begitu lahap saat makan malam. Bahkan sangat menikmati. “Suka sekali. Bahkan kamu tahu sendiri jika saya nambah.” Syifa terkekeh mendengarnya. Memang benar Hafiz sempat menambah makanan karena kurang.
“Em.. Syifa!” panggil Hafis
“Iya, Kak?”
“Setelah ini temani saya bekerja, ya! Kamu keberatan nggak?”
Syifa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. “Nggak sama sekali, Kak. Tapi Syifa mau bersihin piring-piring ini dulu, setelah itu nyusul ke kamar.”
Hafiz mengangguk. “Kalau gitu saya ke kamar dulu!” Syifa mengangguk sebagai jawaban.
Setelah kepergian Hafiz tidak lama pembantu rumah datang menghampiri Syifa. Mereka yang akan mengambil alih pekerjaan Syifa. “Biar kami saja yang membersihkan semuanya, Non.” ujar salah satu dari mereka
Syifa tersenyum kecil. Ia membiarkan mereka mengambil alih pekerjaannya. “Terima kasih.” tidak lupa Syifa selalu mengucapkan terima kasih jika dibantu, pada siapapun itu. Ia tidak memandang sekalipun mereka pembantunya.
Setelahnya Syifa melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Sebelum menemui suaminya yang sedang bekerja Syifa bersih-bersih terlebih dulu. Ia memakai skincare rutin yang selalu dilakukan setiap malam sebelum tidur.
Tidak lupa Syifa menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. “Hmm.. harum!” gumamnya sembari tersenyum
“Setelah ini aku bisa menemani Kak Hafiz bekerja. Dan semoga saja aku tidak mengantuk selama menemaninya.”
Ceklek
Syifa membuka pintu kamar dan terlihatlah Hafiz yang sedang berkutat dengan laptop serta beberapa berkas di tangannya. Mencium aroma wangi membuat Hafiz tersenyum kecil. Ia tahu itu wangi istrinya.
Hafiz menoleh dan ternayat benar, istrinya yang datang. “Sudah selesai?”
“Em.. urusan dapur tadi diambil oleh Bibi, Kak.”
“Baguslah!”
Saat Syifa ingin naik ke atas kasur Hafiz lebih dulu memanggilnya. “Syifa!” panggilnya dengan suara lembut
“Kenapa, Kak?”
“Duduk sini!” Hafiz menepuk pangkuannya mengisyaratkan Syifa untuk duduk di sana.
“Ha?” Syifa mengerjapkan matanya berulang kali. Ia takut salah lihat.
“Duduk sini, Syifa!” Hafiz berucap sekali lagi karena Syifa justru terbengong dari kejauhan.
Dengan ragu Syifa mendekat ke arah suaminya. Saat berada di dekat Hafiz laki-laki itu langsung menarik tangan Syifa memintanya untuk duduk di pangkuannya. Syifa menurut, dan tidak ada penolakan apapun.
“Kak Hafiz nggak salah?” tanya Syifa
“Salah kenapa?”
“K-kak Hafiz kan lagi sibuk.” Syifa sedikit gugup saat duduk di pangkuan suaminya. Ia belum terbiasa melakukan hal seperti ini.
“Nggak papa. Justru jika ada kamu saya semakit bersemangat.”
Hafiz kembali melanjutkan pekerjaannya. Kedua tangannya mengukung Syifa membuat wanita itu tidak bisa bergerak dengan bebas. Bahkan jarak wajah keduanya cukup dekat. Syifa bisa merasakan hembusan nafa suaminya yang menerpa kepalanya.
“Ya Allah, Syifa gugup sekali.” ucapnya dalam hati
“Nggak usah tegang seperti itu, Syif! Kayak sama siapa aja kamu.” Hafiz bisa merasakan tubuh Syifa terasa kaku.
Syifa tersenyum canggung. Bagaimana tidak gugup jika jarak keduanya cukup dekat. “Em.. lebih baik Syifa duduk di sofa aja, Kak. Syifa nggak mau…”
"Nggak mau apa, hm?" belum selesai bicara Hafiz langsung memotong perkataan istrinya.
Hafiz menunduk menatap istrinya. Ia menahan tawa melihat wajah Syifa terlihat begitu tegang, padahal ia tidak melakukan apapun. "Syifa nggak nyaman, Kak." jawabnya dengan nada gugup
"Makanya ini dibiasain biar nyaman lama-kelamaan."
Glek
Syifa menelan ludahnya kasar. Sepertinya ia salah bicara. Bukannya diturunkan Hafiz justru mengangkat sedikit tubuh Syifa untuk dibenarkan posisi duduknya. Hafiz memegang pinggang Syifa dengan tangan kirinya karena takut istrinya terjatuh. Hafiz benar-benar romantis. Suami idaman yang diinginkan banyak perempuan.
Sesekali Hafiz mengelus pinggang istrinya dengan lembut, hal itu membuat perasaan Syifa campur aduk. Ia juga bergerak gelisah karena merasa gugup. "Sstt.. jangan banyak bergerak, Syifa!"
"Kenapa, Kak? Syifa udah bilang kalau nggak nyaman duduk dengan posisi seperti ini."
Syifa terus bergerak karena merasa kurang nyaman. Hal itu membuat sesuatu dalam diri Hafiz meronta. Mau bagaimanapun ia laki-laki normal. Apalagi berduaan di dalam kamar dengan pasangan halal.
"Kenapa Syifa terus bergerak sih? Justru aku yang tidak nyaman sekarang." batin Hafiz berucap
"Syifa, udah stop!" pinta Hafiz sembari meremas pinggang Syifa secara pelan.
Syifa berhenti bergerak. Ia merasakan sesuatu yang aneh di bawahnya. "Apa ini? Kok rasanya beda seperti ada sesuatu yang menonjol?" ucapnya dalam hati
Syifa mendongak dan ternyata Hafiz sedang menatapnya. Tatapan Hafiz sulig ditebak. Namun Syifa bisa melihat jika suaminya tengah menahan sesuatu. "K-kak ini apa? Kok beda rasanya?" tanyanya dengan nada gugup
"Ini karena kamu terus bergerak, Syifa."
"M-maksudnya?" Syifa benar-benar tidak mengerti apa maksud suaminya. Bahkan baru pertama kalinya ia merasakan keanehan ini.
Hafiz menunduk mendekatkan wajahnya pada telinga Syifa lalu membisikkan sesuatu padanya. "Ini tandanya kamu harus melayani saya, Syifa." bisiknya dengan nada berat
Next>>