“Syifa!” panggil seseorang
Syifa berhenti melangkah saat mendengar suara saudara tirinya memanggil. Ia menoleh ke belakang dan ternyata benar, Zakia yang memanggilnya. Ia tersenyum saat Zakia mendekat ke arahnya, namun berbeda dengan respon Zakia yang terlihat dingin dan ketus.
“Ada apa…”
Srett
“Awhh.. sakit, Kak!” Syifa meringis kesakitan saat Zakia menarik tangannya secara kasar.
Zakia membawa Syifa ke suatu tempat agar tidak ada yang mendengar atau melihat apa yang ia lakukan pada saudara tirinya itu. “Sshh.. lepasin, Kak!” Syifa memberontak meminta dilepaskan karena kesakitan.
Dugh
“Awhss..” lagi-lagi Syifa meringis kesakitan karena Zakia mendorongnya sampai punggungnya terbentur dinding yang ada di belakangnya.
“Kak Zakia kenapa?” bahkan suara Syifa masih terdengar lembut saat Zakia menyakitinya.
“Lo masih tanya kenapa?” desis Zakia dengan tajam
“Sshh..” Syifa meringis kesakitan karena Zakia mencengkram pipinya dengan cukup kuat. Tatapanya begitu tajam dan menusuk. Tatapan yang baru pertama kali Syifa lihat karena sebelumnya Zakia tidak pernah bersikap kasar seperti sekarang ini.
“Kak, sakit!”
“Lepasin Kak Hafiz untuk gue!”
Mata Syifa berkaca-kaca mendengarnya. Tidak mungkin ia memenuhi permintaan Zakia. Ia bisa melakukan apapun tapi tidak untuk hal tersebut. Karena sekarang Hafiz adalah suaminya. Tidak mungkin Syifa merelakan suaminya untuk perempuan lain, karena sejak awal Zakia bersalah.
Dengan penuh keberanian Syifa mendorong Zakia, hal itu membuatnya terkejut. “Aakkhh..” Zakia menatap Syifa tidak percaya. Ternyata Syifa cukup berani melawannya.
Dengan kesadaran penuh Syifa menatap Zakia tajam. Ia tidak peduli sekalipun Zakia adalah saudara tirinya. Ia bisa berbagi untuk hal apapun, tapi bukan berarti mau berbagi suami. Sampai kapanpun ia tidak akan melepas suaminya demi perempuan manapun.
“Apa Kak Zakia sadar memintaku hal seperti itu, ha?”
“Kak Zakia sendiri yang kabur di hari pernikahan itu. Dan sekarang setelah melihat Kak Hafiz tiba-tiba Kak Zakia menyesal dan ingin merebutnya dariku.”
“Jangan bermimpi!” desis Syifa dengan tajam
“Kurang ajar.” ucap Zakia dalam hati
“Sejak kapan Syifa seberani ini?”
“Pernikahanku terjadi dengan Kak Hafiz bukan salahku, melainkan salah Kak Zakia sendiri. Jadi jangan pernah mencoba mendekati atau merebut Kak Hafiz, atau aku akan mengatakan hal ini langsung ke Ayah.”
Syifa tidak akan tinggal diam jika ada yang berniat merusak tangganya. Meskipun di hatinya belum tumbuh rasa cinta untuk Hafiz tapi ia tidak ingin siapapun merusak kebahagiaannya.
Zakia terdiam membisu. Setelah mendapat ancaman dari Zakia ia memilih diam karena sudah berurusan dengan sang Ayah. Lebih baik ia diam dan berpikir cara lain daripada Syifa melakukan seperti apa yang dia katakan.
“Bahkan sekarang dia berani mengancamku.” ucap Zakia dalam hati
“Lihat aja, gue diam bukan berarti kalah tapi sedang menyusun rencana lain.”
Setelahnya Syifa melangkah pergi meninggalkan Zakia karena tidak ada jawaban dari saudara tirinya. Ternyata keputusan suaminya untuk pindah waktu itu adalah pilihan yang tepat. Jika mereka tinggal satu rumah hal-hal buruk bisa terjadi kapan saja, karena Zakia pasti melakukan segala hal untuk mendapatkan Hafiz.
“Ya Allah, lindungi keluarga kecil Syifa.” Doa’nya dalam hati
***
“MAMA!” teriak Zakia memanggil Ibunya.
“Zakia, kenapa kamu berteriak seperti itu?” Zulfa merasa geram dengan sikap putrinya. Untung saja suaminya sudah berangkat ke kantor. Jika Fadlan melihat sikap Zakia beliau pasti marah.
“Ma…”
“Kenapa kamu jam segini sudah pulang? Ini masih pagi, Zakia.” belum selesai Zakia bicara Zulfa langsung memotongnya.
“Ck,” Zakia berdecak kesal.
Ia melempar tas’nya ke sofa lalu menghempaskan tubuhnya dengan sedikit kasar. Zakia menatap Ibunya kesal. Zulfa duduk di samping putrinya lalu mengelus tangan Zakia dengan lembut. Meskipun Zakia melakukan kesalahan beliau tetap berbicara lembut padanya.
“Kenapa, sayang? Cerita ke Mama!”
“Ini masih pagi dan kamu nggak mungkin pulang sepagi ini. Pasti telah terjadi sesuatu di kampus, iya kan?”
“Hmm.”
“Apa masalahnya? Kamu kenapa?”
Zakia menegakkan tubuhnya. Ia menatap Ibunya serius. “Ma, Syifa berani mengancam Zakia.”
“Apa?” Zulfa terkejut mendengarnya.
“Apa Mama tidak salah dengar? Mana mungkin Syifa berani sama kamu.”
“Ck, Zakia nggak bohong, Ma. Tadi Zakia bicara panjang dengannya dan Syifa berani mengancam Zakia.
“Memangnya kalian bicara soal apa?”
Zakia menceritakan apa yang terjadi. Zulfa sedikit tidak percaya Syifa seberani itu sekarang. Karena selama ini Syifa sosok anak yang penurut dan tentunya tidak berani melawan. “Apa kamu tidak mengarang cerita?”
“Astagaa.. Mana mungkin Zakia mengarang cerita.”
“Zakia yakin Syifa jadi berani seperti sekarang karena ada Kak Hafiz. Mentang-mentang dia menikah dengannya dan jadi berani sama kita, Ma.” lanjut Zakia
Zulfa mengangguk membenarkan perkataan putrinya. “Kamu benar, Zakia. Sekarang Syifa jadi lebih berani karena ada Hafiz di belakangnya.”
“Sialan emang.”
“—“ Zulfa terdiam. Beliau harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka secepatnya sebelum Syifa hamil. Jika hal itu terjadi beliau akan semakin sulit memisahkannya.
“Apa rencana Mama selanjutnya? Sekarang Syifa jadi semakin berani dengan kita.” ujar Zakia
“Mama juga sedang berpikir, Zakia. Apalagi sikap Syifa di luar rencana kita.”
“Ck.” Zakia berdecak kesal. Ingin rasanya ia membuang Syifa sejauh mungkin agar dirinya bisa memiliki Hafiz sepenuhnya.
Zakia berdiri lalu mengatakan, “Pokoknya Mama harus cari rencana yang tepat, karena ini semua salah Mama.” dan setelahnya Zakia pergi dengan perasaan kesal.
“Huhh..” Zulfa menghela nafas kasar.
“Anak itu!” gumamnya
“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Zulfa
“Tidak semudah itu memisahkan mereka karena Keluarga Hafiz memiliki kekuasan lebih dari Mas Fadlan.”
“Ck, sialan!” Zulfa kesal sendiri akan kebodohannya. Beliau sekarang harus bersusah payah berpikir untuk memisahkan Hafiz dan Syifa.
“Lebih baik aku pikirkan nanti.” gumamnya
***
Seperti perkataan Hafiz tadi pagi jika ia akan mengenalkan Syifa pada para pegawainya di kantor. Dan sekarang mereka sedang berkumpul menunggu Hafiz menjelaskan sesuatu. Dan di sampingnya sudah ada Syifa yang sedang tertunduk malu.
“Saya ingin memberitahu pada kalian semua bahwa wanita di samping saya saat ini adalah Istri saya, Syifa.” ujar Hafiz dengan nada tegas dan menekankan kata istri saya di akhir kalimat.
Seperti dugaan Syifa, dan sekarang benar terjadi. Seketika suara bisikan mulai terdengar. Ia semakin menunduk dalam karena malu sekaligus belum siap menerimanya. Tapi ia tidak perlu khawatir karena Hafiz berdiri di sampingnya.
“Saya tahu kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa istri saya berbeda dari foto yang tertara, itu semua sudah menjadi Rahasia Allah.”
“Dan sekarang Syifa yang menjadi istri saya.” lanjutnya
Hafiz menggenggam tangan Syifa lalu mencium punggung tangan istrinya. Saat itu juga ia terkejut karena pergelangan tangan Syifa terlihat bengkak. “Kenapa dengan tangan Syifa?” batinnya bertanya-tanya
Hafiz menurunkan genggaman tangannya. Setelahnya ia kembali fokus bicara dengan para pegawainya, namun ia terlihat buru-buru karena ingin bertanya tentang memar yang terjadi di tangan istrinya.
“Jadi saya harap kalian jangan berpikir yang tidak-tidak tentang kami berdua.”
“Dan satu lagi, kalian perlakukan istri saya sebaik mungkin seperti kalian memperlakukan saya di kantor ini.” ujar Hafiz
“Sudah sampai di situ saja penjelasan saya. Kalian bisa kembali bekerja!” dan setelahnya Hafiz mengajak Syifa pergi ke ruangannya. Ia sudah tidak sabar bertanya pada istrinya itu.
“Sekarang kita ke mana, Kak?” tanya Syifa saat berada di dalam lift.
“Ke ruangan saya!” jawab Hafiz dengan nada dingin.
Syifa mengangguk mengerti tanpa curiga dengan nada bicara suaminya barusan. “Oke.”
Ting
Hafiz dan Syifa keluar setelah pintu lift terbuka. Hafiz membawa istrinya masuk ke dalam ruangannya. Seketika Syifa berdecak kagum saat masuk ke dalam ruangan suaminya yang cukup besar dan mewah. Bahkan lebih besar dari ruangan Ayahnya.
“MasyaAllah.. besar sekali ruangan Kak Hafiz!” ucapnya dalam hati
“Syifa, apa yang terjadi di kampus tadi?” Hafiz langsung bertanya to the point.
Syifa menatap suaminya dengan tatapan bertanya-tanya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Hafiz. “Maksud Kak Hafiz?”
“Kamu tidak mengerti pertanyaan saya?” Syifa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Itu tangan kamu kenapa?”
Deg
Syifa langsung menunduk setelah mendengar pertanyaan suaminya. Ia lupa tidak menutupi memar di tangannya. “Astagfirullah, kenapa aku bisa lupa sih?” batinnya berucap
“Em…”
“Jangan berbohong atau saya akan cari sendiri!” Hafiz seolah bisa menebak mimik wajah Syifa jika istrinya akan berbohong.
Syifa terdiam. Kali ini ia tidak bisa mengelak dari perkatan suaminya. Hafiz seolah memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengannya. Sebelumnya ia tidak menyadari jika Hafiz mengetahi memar di pergelangan tangannya.
Next >>