“Tuan, Nona…”
“Mas!” reflek Syifa mendorong tubuh Hafiz menjauh karena tiba-tiba pembantu rumah tangga datang ke dapur.
Seketika suasana menjadi canggung. Bibi tersebut menunduk dalam karena malu. Ia datang di waktu yang tidak tepat. Begitupun dengan Hafiz dan Syifa merasakan hal yang sama. Semua bisa terjadi karena mereka berada di dapur.
“Maaf Tuan, Nona, saya ke sini ingin memberikan ikan yang diinginkan Nona Syifa.” ucapnya dengan nada canggung
“Ah, iya, Bi.”
Syifa menerima ikan itu sembari tersenyum canggung. Dan setelahnya Bibi tersebut pergi meninggalkan area dapur dengan langkah terburu-buru. Ia merasa bersalah, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya menjalankan perintah Syifa.
“Tuh kan, Kak Hafiz sih!” wajah Syifa memerah karena malu. Untung saja mereka belum melakukan hal lebih. Tapi sepertinya Bibi tadi melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan.
“Maaf!” Hafiz menyengir kuda. Ia tidak tahu kejadiannya akan seperti ini.
“Tau, ah.”
Hafiz terkekeh melihat istrinya merajuk. Karena kejadian barusan membuat Hafiz memilih untuk duduk. Ia tidak ingin mengulanginya lagi karena takut ada yang tiba-tiba datang seperti barusan.
“Gagal dong!” ucapnya dalam hati
Hafiz masih menatap istrinya. Bahkan ia mengikuti setiap gerak-gerik Syifa. “Lain kali jangan memakai pakaian terbuka selain di kamar, Syifa. Saya tidak sanggup melihatnya.”
“Hmm..” Syifa hanya bergumam sebagai jawaban.
***
Pukul 07.00 WIB
Jemari lentik Syifa mengancingkan satu per satu kancing kemeja yang dikenakan suaminya. Pergerakannya sedikit kaku karena belum terbiasa. Sebentar lagi Hafiz berangkat ke kantor menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dan Pemimpin di Perusahaannya.
Syifa tahu jika saat ini Hafiz tengah menatapnya lekat. Ia mencoba biasa saja, meskipun jantungnya berdebar kencang. “Dah, selesai!” ucapnya sembari menepuk pelan d**a bidang suaminya.
Syifa mendongak sembari tersenyum. “Tinggal memakai jas kantornya aja, Kak!”
“Iya. Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Syifa masih berdiri di hadapan Hafiz sembari menunggu laki-laki itu memakai jas kantornya. Ia merapikan kembali agar penampilan suaminya terlihat perfect. “Syifa!” panggil Hafiz
“Iya, Kak?”
“Em.. setelah pulang dari kampus nanti ke kantor saya, ya!”
“Untuk apa, Kak?” Syifa mengernyitkan kening. Karena ia belum pernah mendatangi kantor seseorang, selain Ayahnya.
“Saya ingin mengenalkan kamu ke semua pegawai saya.”
“—“ Syifa terdiam.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Apa yang akan mereka katakan jika pengantin wanitanya ganti? Karena pastinya yang mereka ketahui Zakia yang menikah dengan Hafiz. Mereka pasti bertanya-tanya akan hal itu.
Hafiz mengelus pipi istrinya dengan lembut. “Kok diam?”
“Em.. harus banget ya, Kak?”
“Kenapa memangnya?” bukannya menjawab Hafiz justru balik bertanya.
“Syifa malu, Kak!” cicitnya
“Malu?” Hafiz terkejut mendengarnya.
“Jadi kamu malu punya suami saya, begitu?” lanjutnya dengan nada sedikit kesal.
“Eh, bukan gitu, Kak.” Syifa langsung menyangkalnya.
“Maksudnya, karena Syifa pengantin pengganti. Mereka pasti bertanya-tanya kok perempuannya berbeda.”
Setelahnya ia menunduk. Ia memainkan jemari lentiknya karena gugup. Syifa belum siap dicerca banyak pertanyaan. Hafiz menangkup wajah Syifa, keduanya saling menatap. Ia tahu ketakutan yang dirasakan istrinya. Namun ketakutan itu tidak akan terjadi, karena tidak ada yang boleh menghina ataupun mempertanyakan kenapa.
Hanya Allah yang tahu setiap Takdir manusia. Allah pemegang kendali dalam setiap Hamba-Nya. Karena itu orang lain tidak berhak menghakimi ataupun menuntut manusia lain untuk sempurna.
Kedua Ibu jari Hafiz mengelus pipi Syifa dengan lembut, begitupun dengan tatapannya yang menenangkan. Keresahan dalam hati Syifa seketika hilang begitu saja. Dari tatapan Hafiz seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
“Nggak papa.”
“Kan ada saya yang akan melindungi kamu.” lanjut Hafiz
Syifa tersenyum kecil mendengarnya. Memang benar jodoh pilihan Allah ternyata yang terbaik. “Nanti pulangnya dijemput sopir dan setelah itu langsung ke kantor saya. Saya tunggu di Lobby biar kamu nggak ketakutan.” Hafiz mengelus kepala istrinya membuat perasaan Syifa tenang.
Akhirnya Syifa mengangguk. Perasaannya lebih tenang setelah mendengar perkataan Hafiz. “Yaudah.”
“Nggak papa, kan?” Syifa mengangguk sebagai jawaban.
Cup
Hafiz mencium kening istrinya cukup lama. Bahkan mata Syifa sampai terpejam menikmatinya. “Semangat, ya! Kalau di kampus ada apa-apa langsung bilang saya!”
Syifa mengangguk. “Iya, kak. Kak Hafiz juga semangat kerjanya.”
Setelahnya mereka keluar kamar dengan tangan saling menggenggam. Mulai pagi ini dan seterusnya Syifa akan diantar Hafiz selama berangkat ke kampus. Jika ada waktu senggang ia yang akan menjemput istrinya. Tapi hari ini ia banyak sekali pekerjaan di kantor, karena itu ia meminta sopir untuk menjemputnya.
Selama perjalanan menuju kampus Hafiz tidak melepas genggaman tangannya. Bahkan sesekali ia mencium punggung tangan istrinya. Syifa tersenyum. Ia diperlakukan sangat istimewa oleh suaminya, padahal sebelumnya mereka tidak saling mengenal.
“Em.. Kak Hafiz!” panggil Syifa
“Hmm.. kenapa?” Hafiz menoleh sekilas ke arah istrinya.
“Setelah kepulangan Kak Zakia apa Kak Hafiz menyesal menikah dengan Syifa?”
Deg
Pertanyaan Syifa membuat perasaan Hafiz tersentil. Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa pembelaannya kemarin belum cukup membuktikan semuanya? Hafiz tidak suka mendengar pertanyaan istrinya barusan. Perlahan ia melepas genggaman tangannya, hal itu membuat Syifa merasa bersalah.
“Kak…”
“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” belum selesai Syifa bicara Hafiz langsung memotongnya.
“Syifa nggak ada maksud apa-apa. Tapi Syifa takut Kak Hafiz menyesal setelah melihat kepulangan Kak Zakia kemarin.”
“Nggak ada penyesalan di hidup saya. Justru saya bersyukur Allah mengizinkan saya menikah dengan kamu.”
“Kaburnya Zakia kemarin sudah jalan dari Allah jika dia bukan yang terbaik bagi saya, melainkan kamu.” lanjutnya
Syifa tersenyum mendengarnya. Tapi hatinya tidak bisa berbohong. Ia memiliki rasa takut akan hal tersebut. “Terima kasih sudah menerima Syifa di hidup Kak Hafiz.”
“Justru saya yang berterima kasih karena kamu mau menikah dengan saya kemarin. Entah bagaimana malunya saya dan keluarga jika kamu tidak mau menggantikan posisi Zakia.”
“Dan sekarang saya sangat beruntung bisa memiliki kamu.” Hafiz tersenyum manis.
Tidak lama mobil yang dikendarai Hafiz sampai di tempat tujuan. Ia menghentikan mobilnya di depan kampus istrinya. Sebelum keluar mobil Syifa merapikan penampilannya kembali karena takut berantakan.
“Penampilan Syifa gimana, Kak? Udah rapi belum?”
“Udah. Bahkan sangat cantik!”
Blush
Kedua pipi Syifa bersemu merah mendengarnya. Ia menahan senyum saat Hafiz memujinya. “Kalau mau senyum nggak usah ditahan, senyum aja.” ujar Hafiz
“Apasih, Kak?!”
“Udah ah, Syifa keluar dulu.”
Syifa mencium punggung tangan suaminya. Saat ingin menarik tangannya Hafiz justru menahan. “Kenapa, Kak?”
“Saya belum cium kening kamu.”
Syifa terkekeh geli mendengarnya. Ia mendekat dan langsung mendapat ciuman di keningnya. Hal itu akan menjadi rutinitas mereka setiap harinya. Rutinitas baru yang semakin memperkuat hubungan mereka berdua.
“Assalamualaikum.” pamit Syifa
“Waalaikumsalam.”
Hafiz menatap kepergian istrinya sampai Syifa benar-benar tidak terlihat. Ia ingin memastikan istrinya baik-baik saja. “Saya sangat bersyukur bisa memiliki kamu, Syifa.” gumamnya sembari tersenyum kecil.
Tanpa Hafiz dan Syifa sadari ada seorang perempuan yang menatap mereka tidak suka. Tatapannya terlihat sinis dan penuh kebencian. Perempuan itu adalah Zakia. Saat Syifa keluar dari mobil Hafiz bertepatan dengan datangnya Zakia.
“Pagi yang memuakkan.” ujar Zakia dengan nada sinis.
“Kenapa kita harus bertemu di waktu yang tidak tepat?!”
BRAK
Zakia memukul stir mobilnya dengan cukup kencang. "Aarrgghh.." teriaknya frustasi
Ia benar-benar tidak rela melihat saudara tirinya bahagia. Karena seharusnya ia yang menaiki mobil mewah itu. Bagaimana Zakia tidak semakin terbakar, ia melihat Syifa keluar dari mobil Lexus LC 500h. Mobil yang sangat mewah. Hanya kalangan atas yang mempunyai mobil tersebut. Apalagi Hafiz adalah Ceo muda yang sangat tampan. Banyak perempuan di luar sana yang menginginkan menjadi pendamping hidupnya.
"BODOH LO ZAKIA!" teriaknya di dalam mobil
Zakia mengakui kebodohannya. Di saat banyak yang ingin menikah dengan Hafiz, ia justru memilih kabur tepat di hari pernikahannya. "Ini semua karena Mama!" desisnya
"Jika kemarin aku tidak memenuhi permintaan Mama pasti aku sudah bahagia hidup dengan Kak Hafiz."
Next>>