Di kediaman rumah Fadlan
“Aarrgghh..”
BRAK
Pyarr
“GUE BENCI SAMA LO SYIFA!” teriak Zakia
Barang-barang yang ada di kamarnya berserakan, bahkan pecah. Ia melampiaskan kekesalannya melalui barang yang ada di dalam kamarnya. Dadanya bergemuruh hebat karena amarah yang bergejolak dalam dirinya.
Ceklek
“Astagaa.. Zakia!”
Zulfa terkejut melihat kamar putrinya berantakan. Bahkan penampilan Zakia terlihat acak-acakan. Beliau menghampiri putrinya setelah mengunci pintu kamar agar tidak ada yang tahu kondisi Zakia saat ini.
Zulfa memegang kedua lengan Zakia sembari menatapnya lekat. Melihat kedatangan Ibunya membuat Zakia semakin marah. Ia memalingkan wajahnya enggan menatap Ibunya sendiri, Kedua tangannya terkepal kuat menahan amarah yang siap meledak saat ini juga.
“Kamu kenapa, Zakia?” tanya Zulfa dengan lembut.
Bukannya menjawab Zakia justru melepas tangan Zulfa dari lengannya secara kasar. “Ini semua karena Mama!” desisnya dengan tajam
Dan sekarang Zulfa mengerti alasan kenapa putrinya marah besar seperti seperti ini. “Huhh..” beliau menghela nafas kasar.
Zulfa menarik Zakia agar lebih dekat dengannya. Beliau menangkup wajah Zakia sembari menatapnya lembut. Beliau tahu kesalahnnya kemarin. Dan karena perbuatannya kemarin membuat putrinya merasa frustasi.
“Mama minta maaf.” ucapnya dengan tulus
Zakia tersenyum miring. “Minta maaf?”
“Ayolah, Ma… dengan permintaan maaf Mama tidak akan bisa mengembalikan semuanya.”
“Lihat, Syifa sekarang hidup bahagia bersama suaminya. Seharusnya Zakia yang ada di posisi Syifa sekarang.” lanjutnya dengan penuh emosi.
“Tenang, Zakia!”
“APANYA YANG TENANG, MA?!” bentak Zakia
Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ibunya. Dan sekarang ia menyesal telah mengikuti perkataan Ibunya kemarin. Sekarang Syifa hidup bahagia bergelimang harta. Bahkan Hafiz memperlakukannya seperti seorang Ratu di hidupnya.
Zulfa memejamkan mata sembari menarik nafas panjang. Setelahnya beliau menghembuskan secara perlahan. Beliau melakukannya berulang kali agar bisa lebih tenang. Zulfa harus bisa menenangkan putrinya. Karena di setiap masalah pasti ada jalan.
“Zakia, dengerin Mama!” Zulfa menangkup wajah putrinya.
“Apa? Apa lagi yang ingin Mama lakukan, ha?”
“Bahkan rencana kemarin…”
“Zakia, diam dulu! Dengerin Mama bicara dulu.”
“Ck.” Zakia berdecak kesal mendengarnya. Ia kembali memalingkan wajah karena kesal dengan Ibunya.
“Lebih baik kita duduk dulu!”
Zulfa mengajak putrinya untuk duduk. Mereka harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Sekarang Syifa sudah pindah rumah, karena itu Zulfa harus memutar otak menyusun rencana baru untuk memisahkan Syifa dengan suaminya, Hafiz.
“Mama punya rencana baru.”
“Zakia nggak percaya.”
“Ayolah Zakia.. Mama mengakui kesalahan kemarin, tapi bukan berarti Mama melakukan kesalahan lagi. Mama sudah merencanakan semuanya dengan matang.”
“Memangya apa yang ingin Mama rencanakan?”
“Sini Mama bisikkin!” Zulfa membisikkan sesuatu pada putrinya, Zakia. Kali ini beliau sudah menyusun rencana dengan baik.
Zakia tersenyum kecil mendengar rencana yang dibuat oleh Ibunya. Ia menatap Zulfa dengan tatapan sulit diartikan. “Apa Mama yakin rencana itu akan berhasil memisahkan Syifa dengan Kak Hafiz?”
“Tentu!”
“Kamu harus percaya dengan Mama.” lanjut Zulfa
“Baiklah. Kapan Mama akan menjalankan rencana itu?”
“Secepatnya.”
Banyak rencana yang sudah Zulfa pikirkan. Bagaimanapun caranya beliau harus bisa memisahkan Syifa dengan Hafiz. Hafiz harus menjadi menantunya. Beliau tidak rela jika laki-laki itu hidup bahagia dengan anak tirinya. Laki-laki seperti Hafiz tidak boleh jatuh ke perempuan lain, selain putrinya.
***
Grep
“Astagfirullah.” Syifa terkejut karena merasakan pelukan secara tiba-tiba dari arah belakang.
Cup
Hafiz mencium pipi istrinya dengan lembut. Pelukannya terasa hangat dan nyaman. Mereka terlihat pasangan yang saling mencintai, padahal rasa itu belum ada. Namun sebagai suami sebisa mungkin Hafiz menciptakan kehangatan dalam keluarga.
“Terkejut, hm?” ujar Hafiz
“Iya, kak. Tiba-tiba banget.”
Hafiz tersenyum kecil mendengarnya. “Kamu masak apa pagi ini?” seperti permintaan Syifa kemarin jika urusan memasak ia ingin membuat sendiri.
“Syifa buat sup ayam. Kak Hafiz mau?”
“Mau dong.”
“Yaudah. Lebih baik Kak Hafiz duduk aja, karena sebentar lagi selesai.”
Hafiz menggelengkan kepalanya tidak mau. Ia masih nyaman seperti ini, dan ia akan menemani istrinya sampai selesai memasak. “Nggak mau.” tolaknya mentah-mentah
Syifa menoleh ke arah suaminya. “Kak, tapi Syifa lagi masak. Nanti nggak selesai-selesai kalau Kak Hafiz nggak mau melepas pelukannya.”
“Nggak papa.”
Bukannya melepaskan Hafiz justru semakin mengeratkan pelukannya. Ia merasa sangat nyaman dan tenang saat memeluk ataupun di dalam dekapan istrinya. Kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada perempuan manapun, selain Ibunya. Karena selama ini Hafiz sangat menjaga batasan dengan lawan jenis.
“Huft!” Syifa menghela nafas. Kali ini ia hanya bisa pasrah.
Hafiz tersenyum. Ia mengikuti ke manapun istrinya melangkah tanpa melepas pelukannya sedikitpun. Hal itu membuat Syifa sedikit kesulitan karena tidak bisa bergerak dengan leluasa. Apalagi bahunya terasa berat karena kepala Hafiz.
Cup
Hafiz mencium bahu istrinya yang terbuka. Karena hanya ada mereka berdua di dalam rumah membuat Syifa dengan bebas tidak memakai hijab. Kalaupun ada orang lain Bibi mereka sama-sama perempuan, karena Hafiz tidak mengizinkan pekerja laki-laki bebas keluar masuk ke dalam rumah demi kenyamanan istrinya.
Syifa bergerak sedikit tidak nyaman. “Kak, jangan aneh-aneh!”
“Kenapa? Saya nggak ngapa-ngapain kok.”
“Kak Hafiz diam aja karena sebentar lagi makanannya selesai.”
“Hmm..” Hafiz hanya bergumam sebagai jawaban.
Tapi lama-kelamaan pikiran Hafiz tertuju pada hal yang tidak-tidak. Karena mau bagaimanapun ia laki-laki normal. Apalagi sedang berduaan dengan pasangan halal. Tidak ada siapapun di dapur. Hanya ada mereka berdua yang membuat pikiran Hafiz melayang jauh.
Cup
“Kak.. stop!”
Fyuhh
“Kamu harum sekali, Syifa. Saya sangat menyukai wangi kamu.” Hafiz menggesekkan hidung mancungnya di bahu Syifa membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
Deg.. deg.. deg
Jantung Syifa berdebar kencang. Ia takut Hafiz melakukan hal yang tidak-tidak. “Kak, setelah ini sarapannya selesai.”
“Hmm..”
Cup
“Wangi kamu sangat candu, Syifa.”
Hafiz semakin mengeratkan pelukannya dengan sesekali mencium bahu istrinya yang terbuka. Seperti apa yang ditakutkan Syifa, dan sekarang benar terjadi. Syifa mencoba melepas pelukan Syifa namun sangat sulit. Pelukannya terasa erat, tidak mudah dilepaskan sekalipun Syifa memaksa.
Dan tiba-tiba Hafiz memutar tubuh Syifa menghadap ke arahnya. Sontak hal itu membuat Syifa terkejut. “Kak, mau ngapain?” tanya Syifa dengan nada gugup
Tak
Hafiz mematikan kompor dan semakin mendekat ke arah istrinya. Syifa menahan d**a bidang Hafiz untuk memberi jarak di antara mereka berdua. Namun hal itu tidak ada gunanya karena Hafiz semakin mendekat.
“Kak, kita lagi ada di dapur!”
“Hmm.. saya tahu.”
“Jangan berbuat macam-macam! Takutnya Bibi tiba-tiba datang.”
“Nggak ada kok.”
Hafiz menelisik penampilan istrinya dari atas sampai bawah. Ia tersenyum penuh arti. Ia baru menyadari penampilan Syifa pagi ini cukup terbuka dan berani. Sejak kapan istrinya seberani ini? Namun ia menyukainya.
Syifa menunduk menatap penampilannya sendiri. Dan, ia baru menyadarinya juga. “Ya Allah, apa yang Kak Hafiz pikirkan tentang pakaianku sekarang? Kenapa aku bisa lupa seperti ini?” gerutunya dalam hati
“Kak, Syifa…”
“Mau ke mana, hm?” Hafiz menahan pergerakan Syifa yang ingin lari darinya.
“Syifa mau ganti baju, kak.”
“Untuk apa?”
“Em…” Syifa bingung harus menjawab apa.
“Tidak perlu ganti baju, Syifa! Saya lebih suka kamu memakai pakaian seperti ini.”
“Apalagi saat…” Hafiz menggantungkan perkataannya membuat Syifa merasa penasaran.
“Saat apa, kak?”
Hafiz mendekatkan wajahnya pada telinga Syifa lalu membisikkan sesuatu padanya. “Saat tidak menggunakan apapun.” Jawabnya dengan suara berat.
Blush
Seketika kedua pipi Syifa bersemu merah. Ia merasa malu sekaligus salah tingkah secara bersamaan. Ia tidak menyangka Hafiz akan berkata seperti itu. Syifa memalingkan wajahnya enggan menatap Hafiz karena malu.
“Area favorit saat terlihat cukup jelas.” ujar Hafiz sembari menyentuh dua benda kenyal kesukaannya.
“Enghh..”
“Kak.. jangan!” jantung Syifa berdebar kencang saat Hafiz mulai menyentuhnya.
“Jangan apa, hm?”
“Jangan…”
“Aakkhh..” Syifa melenguh karena Hafiz semakin kuat memegangnya.
Hafiz tersenyum melihat respon istrinya. Mata Syifa mulai terpejam merasakan kenikmatan akibat sentuhannya. Bahkan hanya dengan sentuhan kecil dari suaminya mampu menghipnotisnya. Syifa paling lemah jika berurusan dengan suaminya. Laki-laki yang mampu menaklukannya dengan mudah.
"Kakhh.."
Syifa mencengkram pinggang Hafiz sebagai pelampiasan. Matanya terpejam, ia tidak tahu apa saja yang dilakukan Hafiz padanya. Tapi ia bisa merasakan kenikmatan yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kata.
"Emhh.." lenguhnya
"Kak... udahh! Tubuh Syifa lemas." ujar Syifa masih dengan mata terpejam karena nikmat.
"Tapi wajah kamu tidak bisa berbohong jika sangat menikmatinya, Syifa." ujar Hafiz dalam hati
Next>>