Part 13

1424 Words
“Astagfirullah.” Syifa memekik terkejut karena tiba-tiba mendapat pelukan dari belakang. Dan ternyata Hafiz pelakunya! Hafiz menumpukan dagunya di bahu Syifa dengan mesra. Apa yang ia lakukan saat ini seolah mereka sudah lama menjadi pasangan suami-istri. Syifa sedikit geli saat Hafiz menumpukan dagunya di bahunya. Ia belum terbiasa dengan perlakuan suaminya saat ini. “Kenapa, kak?” “Justru saya yang seharusnya bertanya. Kamu ngapain berdiri di sini malam-malam?” “Em.. Syifa mau cari udara segar aja.” “Nggak dingin?” Syifa menggeleng pelan. “Enggak, kak. Justru Syifa menyukai udara malam.” “Oh, ya? Padahal udara malam nggak baik loh.” Syifa hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya. Ia menyukai hawa dingin karena menurutnya hal itu sangat menenangkan. Udara dingin di malam hari dengan kesunyian yang membuat ia tenang. Apalagi saat ditemani gemerlapnya bintang sebagai pelengkap. “Kamu nggak mau masuk?” tanya Hafiz “Nanti saja, kak.” “Hmm..” Hafiz hanya bergumam sebagai jawaban. Hafiz mengelus perut Syifa dengan lembut. Syifa membiarkan apa yang suaminya lakukan selagi membuat laki-laki itu nyaman. Tapi, siapa sangka perlahan pergerakan Hafiz semakin naik ke atas. Sontak hal itu membuat Syifa terkejut. “Kak Hafiz!” Syifa menahan tangan suaminya. “Syifa!” panggil Hafiz dengan suara berat. Perlahan Hafiz melepas pelukannya. Ia memutar tubuh Syifa agar menatap ke arahnya. Ia memegang kedua lengan Syifa sembari menatapnya lekat. Hafiz ingin melanjutkan aktivitas mereka berdua yang sempat tertunda karena makan malam. “K-kak Hafiz mau apa?” tanya Syifa dengan nada gugup “Melanjutkan aktivitas kita yang sempat tertunda.” Deg Tubuh Syifa mematung di tempat. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Ia menahan nafas saat Hafiz mendekatkan wajahnya. Hembusan nafas laki-laki itu menerpa kulit wajahnya. Reflek Syifa menoleh karena wajah keduanya semakin dekat. Cup Hafiz mencim pipi Syifa karena wanita itu menoleh. Padahal ia ingin menyatukan bibir keduanya. “Kenapa, hm?” bisiknya dengan lembut. “Kak, kita lagi ada di luar.” Jawab Syifa dengan nada gugup. “Mau masuk ke dalam?” “—“ Syifa terdiam. Diamnya Syifa membuat Hafiz beranggapan menjawab iya. Tanpa berpikir panjang ia menggendong istrinya ala bridal style. Ia membawa Syifa masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda. Syifa mengalungkan kedua tangannya di leher Hafiz untuk berpegangan. Entahlah, setiap Hafiz menyentuhnya ia tidak bisa menolak. Ia seolah pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Hafiz membaringkan Syifa di atas kasur dengan hati-hati. Setelahnya ia bergerak menindih tubuh istrinya. Ia menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan agar tidak menindih sepenuhnya tubuh Syifa. “Nggak usah malu. Lagipula saya sudah melihat semuanya.” ujar Hafiz sembari tersenyum “—“ Syifa terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. “Kenapa hanya diam saja, hm? Tidak mau mengatakan sesuatu?” Hafiz mengelus pipi Syifa dengan lembut. Jarak wajah keduanya cukup dekat membuat Syifa gugup sekaligus salah tingkah. Tatapan Hafiz berhasil menghipnotisnya untuk terdiam dan pasrah. Hafiz beralih mengelus bibir istrinya. “Bibir yang cantik!” “Sepertinya saya akan candu untuk mencium ini.” lanjutnya Hafiz melebarkan matanya terkejut. “Tunggu, kak!” Syifa menahan d**a bidang suaminya saat Hafiz ingin menyatukan bibir mereka berdua. “Kenapa lagi, hm?” Syifa terdiam sejenak. Jemari lentiknya mulai membuka satu per satu kancing baju yang dikenakan suaminya. Entah ia memiliki keberanian dari mana melakukan hal tersebut. Hafiz menunduk saat merasakan sesuatu. Ia tersenyum smirk melihat perbuatan istrinya. “Kamu yakin?” tanya Hafiz “Bukankah lebih baik tidak menggunakan pakaian agar kita bisa lebih leluasa melakukannya!?” “Ah, s**t!” Hafiz mengumpat dalam hati. “Sejak kapan Syifa berani seperti ini?” Setelah berhasil melepaskan Syifa melempar pakaian Ashraf ke lantai. Dan setelahnya ia mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Ia tersenyum manis seolah mengizinkan Hafiz segera memulai permainannya. Ia tidak sabar menunggu. “Apa kamu sudah siap?” Syifa menganggukkan kepalanya. Ia sudah siap. “Kamu sudah tidak malu lagi?” tanya Hafiz sembari mengelus pipi istrinya dengan lembut. “Sedikit!” “Tapi, demi melayani Kak Hafiz apapun akan Syifa lakukan. Lagipula kita sudah pernah melakukannya. Syifa berusaha menahan rasa malu itu.” “Good girl!” Hafiz mendekatkan wajahnya, dan… Cup “Emhh..” bibir keduanya menyatu dengan sempurna. Syifa mendorong tengkuk Hafiz agar semakin dekat dengannya. “Enghh..” lenguhnya “Awss..” Syifa meringis pelan karena Hafiz menggigit bibir bawahnya. “Jangan digigit, kak! Sshh..” Setelah merasa puas Hafiz beralih pada leher jenjang istrinya. Ia menyingkirkan helai rambut Syifa yang menghalangi perbuatannya. Ia meninggalkan banyak tanda kepemilikan di sana. Cup "Owhh..” “Kak Hafiz!” panggil Syifa dengan nada meracau. “Terus panggil nama saya, Syifa!” Hafiz semakin dibuat gila oleh suara istrinya. Suara Syifa mengalun indah di telinganya. “Sshh.. pelan-pelan gigitnya, kak!” Hafiz merasa gemas karena itu ia meninggalkan gigit-gigitan kecil di leher istrinya. Hafiz bergerak semakin ke bawah. Ia tersenyum kecil saat sampai di dua benda kenyal favoritnya. Ia semakin turun ke bawah menyamakan wajahnya dengan perut Syifa. Hafiz mengelus perut istrinya dengan tatapan penuh harap. Entahlah, tiba-tiba ia menginginkan seorang anak sebagai pelengkap dalam rumah tangganya. Cup “Enghh..” Syifa melenguh saat Hafiz meninggalkan ciuman kecil di perutnya. “Syifa!” “Kenapa, kak?” “Huhh..” nafas Syifa terengah. Detak jantungnya berpacu cepat membuat Syifa tidak bisa berpikir jernih. “Bagaimana kalau kamu hamil dalam waktu dekat ini? Apa kamu tidak keberatan?” Syifa terdiam. Ia mencerna pertanyaan suaminya dengan baik. “Kenapa Kak Hafiz tiba-tiba bertanya seperti itu?” “Karena saya menginginkan seorang anak, Syifa.” Syifa tersenyum mendengarnya. Hal itu wajar karena mereka pasangan suami-istri. Ia sama sekali tidak masalah jika mengandung dalam waktu dekat ini. Jika Allah sudah percaya dengan mereka berdua pasti akan diberikan kepercayaan untuk menjadi Orang Tua. Syifa mengelus rambut suaminya. Keduanya saling menatap dengan tatapan sayu. “Syifa nggak masalah, kak. Justru Syifa senang bisa memberikan Kak Hafiz seorang keturunan.” Hafiz tersenyum mendengarnya. Ia mencium perut Syifa sekilas lalu menegakkan tubuhnya siap melakukan ke inti. “Kalau gitu bersiaplah, Istriku!” Syifa mengangguk sembari tersenyum. Ia sudah siap sejak tadi. Sebisa mungkin Syifa menyenangkan suaminya. Bukan hanya mendapat pahala, kemungkinan akan mendapatkan cinta dari Hafiz sepenuhnya. Dan… “Aarrgghh..” keduanya melenguh panjang “Kak Hafizhh!” panggil Syifa Hafiz tersenyum dengan tatapan sayu. Ia mulai bergerak membuat pikiran Syifa kacau. Genggaman tangan keduanya cukup erat, bahkan urat di tangan Hafiz cukup terlihat. Mata Syifa terpejam menikmati apa yang dilakukan suaminya. “Enghh..” “Syifa!” panggil Hafiz dengan nada meracau “Owhh..” “Aakkhh..” “Sshh.. pelanh-pelanhh, kak!” Tubuh Syifa terhentak ke belakang karena Hafiz semakin mempercepat gerakannya. Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Hafiz menggenggam kedua tangannya membuat ia tidak bisa banyak bergerak. “Owhh.. enak, Syifa!” “Uhh..” Hafiz tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. "Aakkhh.." Brugh "Huhh.." Hafiz menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Syifa. Mereka saling berebut oksigen karena nafas keduanya hampir habis. Tubuh Hafiz maupun Syifa dibanjiri keringat, padahal suhu ruangan cukup dingin. Hafiz tersenyum lega setelah berhasil menanamkan cairan cintanya ke dalam rahim sang istri. Syifa merasakan hangat di dalam perutnya. Ia tidak banyak berbicara karena Hafiz sudah mengatakan sebelumnya. Syifa membalas pelukan suaminya meskipun terasa berat. Mereka masih menyatu membuat Syifa merasa kurang nyaman. Ia tidak berani banyak bergerak karena takut mengganggu suaminya. Setelah dirasa cukup tenang Hafiz mendongak menatap istrinya. Mereka saling melempar senyuman manis. "Kamu nggak papa kan? Apa saya melukai kamu?" tanya Hafiz dengan tatapan khawatir Syifa menggeleng pelan. "Enggak, kak. Syifa baik-baik saja." "Huhh.. Syukurlah!" "Maaf, jika saya sedikit kasar melakukannya. Saya tidak bisa mengendalikan diri karena terlalu nikmat." wajah Syifa memerah menahan rasa malu setelah mendengar perkataan suaminya. Cup "Emhh.. Kak, udahh!" Hafiz terkekeh melihat respon istrinya. Ia menyempatkan mencium area favoritnya yang membuat Syifa melenguh pelan. Karena hari semakin malam Hafiz mengajak Syifa untuk istirahat. Besok pagi mereka harus menjalankan aktivitas seperti biasa. "Tidur, yuk! Kamu pasti lelah." "Em.. tapi itunya..." "Nggak papa. Biarkan sampai pagi kitta seperti ini." Jawab Hafiz sembari mengerlingkan matanya menggoda. Jika Syifa susah dibangunkan ia memiliki sebuah cara agar istrinya langsung bangun. "T-tapi..." "Sstt!" Hafiz meminta Syifa untuk diam. Hafiz menarik selimut lalu menyelimuti tubuh keduanya agar tidak kedinginan. Namun sebelum itu Hafiz sudah menggulingkan tubuhnya ke samping agar Syifa tidak sesak nafas. Ia merasa kasihan karena tubuhnya pasti terasa berat. Rasanya begitu nikmat tidur dalam posisi masih menyatu. Ia yakin tidurnya malam ini akan terasa begitu nyenyak. "Tidur! Jangan banyak gerak atau Singa dalam diri saya kembali bangkit, Syifa." bisik Hafiz dengan nada penuh peringatan. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD