Part 12

1407 Words
Malam pertama di rumah baru Karena sudah tinggal berdua dengan suaminya membuat Syifa harus lebih mandiri. Ia berjalan menuju dapur berniat memasak untuk makan malam. Tapi ternyata di dapur sudah ada beberapa asisten rumah tangga yang sedang memasak. “Non Syifa!” sapa salah satu dari mereka. “Ada yang bisa saya bantu, Non?” Syifa menggeleng pelan. “Tidak ada, Bi. Justru saya ke sini ingin membantu kalian memasak.” “Jangan, Non!” jawabnya cepat Mereka di sini untuk bekerja dan sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memasak. Syifa tidak perlu melakukan apapun. Ia hanya perlu menunggu sampai mereka selesai memasak. “Biar kami saja yang memasak. Non Syifa lebih baik tunggu saja sampai kami selesai! Sebentar lagi juga selesai.” “Gitu, ya!” Syifa tersenyum kecil. Padahal ia ingin memasak untuk suaminya. “Iya, Non.” “Yaudah, saya ke kamar dulu!” Ia mengangguk sembari tersenyum kecil. Setelah selesai Syifa akan dipanggil untuk makan malam. Ceklek Syifa masuk ke dalam kamar dengan wajah cemberut. “Kenapa Syifa? Kok cemberut gitu wajahnya?” tanya Hafiz “Huft!” Syifa menghela nafas. Ia duduk di pinggir kasur dengan wajah cemberut. “Syifa pengen masak, tapi makan malam sudah mau selesai. Bibi yang siapin semuanya.” Hafiz terkekeh geli mendengar perkataan istrinya. Hafiz mempekerjakan mereka untuk hal itu. Tapi kenapa Syifa terlihat cemberut? Justru Syifa seharusnya senang karena tidak perlu capek-capek untuk memasak. “Duduk sini!” ujar Hafiz sembari menepuk space yang ada di sampingnya. Syifa menurut. Ia langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa. Hafiz menarik tangan Syifa lalu menggenggamnya lembut. “Harusnya kamu senang, dong. Saya melakukan itu agar kamu tidak kelelahan mengurus rumah tangga sendirian.” “Tapi untuk memasak Syifa ingin melakukannya sendiri, kak. Biar mereka melakukan hal yang lain saja.” “Kamu mau’nya seperti itu?” Syifa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. “Yaudah. Besok saya akan bicara dengan mereka semua jika untuk memasak biar kamu sendiri yang melakukan.” “Em.. nanti aja setelah selesai makan malam, kak! Biar besok pagi Syifa bisa memasak untuk kita berdua.” ucapnya dengan antusias. “Yaudah, boleh.” “Yeyy.. terima kasih, kak.” Syifa memekik bahagia. Entahlah, ia merasa senang saat Hafiz memenuhi permintaannya tanpa mereka berdebat. Hafiz mengelus pipi Syifa dengan lembut. Ia ikut bahagia jika istrinya bahagia. Tatapan Hafiz beralih pada bibir merah alami milik istrinya. Ia menelan ludahnya kasar. Tiba-tiba ia ingin merasakan bibir itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya tanpa sadar. Sontak hal itu membuat Syifa terkejut, namun tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya mematung, seolah menunggu apa yang ingin Hafiz lakukan padanya. Jarak wajahnya semakin dekat. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. “Ya Allah, apa yang ingin Kak Hafiz lakukan?” batin Syifa berucap “Kak…” Cup Hafiz lebih dulu menyatukan bibir keduanya membuat perkataan Syifa terhenti. Jantung Syifa berdebar kencang saat merasakan bibir keduanya menyatu. “Emhh..” Hafiz mendorong tengkuk Syifa agar bisa lebih leluasa melakukannya. “Kakhh..” “Emhh..” Syifa melenguh pelan. Perlahan tubuh Syifa terbaring di sofa karena Hafiz mendorongnya. Dan sekarang Hafiz memimpin permainan. Ia menindih tubuh Syifa dengan bibir keduanya yang masih menyatu. “Enghh..” Hafiz beralih pada leher Syifa yang tertutup hijab. Ia bergerak semakin turun dan sampailah pada dua benda kenyal kesukaannya. Ia tersenyum lalu memegangnya salah satu. “Uhh.. Kak Hafizhh!” panggil Syifa sembari memejamkan mata “Aakkhh..” Hafiz tersenyum mendengar Syifa memanggil namanya. Ia menaikkan baju Syifa sampai batas d**a. Dan terlihatlah pemandangan indah tepat di hadapannya. Nafas Syifa mulai terengah karena perbuatan suaminya. “K-kak Hafiz mau apa?” tanya Syifa dengan nada gugup Syifa merasa malu saat Hafiz menatapnya lekat. Ia belum terbiasa melayani suaminya. Namun berbeda dengan Hafiz yang terlihat biasa. Ia seorang laki-laki yang tugasnya memimpin. Ia seolah sudah terbiasa dengan apa yang dilakukan. “Mau ini!” jawab Hafiz sembari menyentuh area favoritnya. Deg.. deg.. deg Jantung Syifa berdegup kencang setelah mendengar jawaban suaminya. Tubuhnya terasa panas dingin. “Boleh?” tanya Hafiz untuk memastikan. Syifa terdiam sejenak. “B-boleh, kak.” Akhirnya Syifa memberanikan diri untuk mengizinkan Hafiz melakukan hal lebih. Hafiz tersenyum dan langsung melakukan keinginannya. “Emhh…” “Owhh.. kak..” panggil Syifa dengan nada meracau. “Enghh..” Syifa meremas rambut Hafiz sebagai pelampiasan. Bahkan sesekali ia menekan kepala suaminya tanpa sadar. “Kak Hafizhh…” “Emhh..” “Enak, Syifa!” Hafiz mulai meracau tidak jelas. Sesekali Syifa mendongak menikmati sentuhan suaminya. Matanya terpejam dengan tangan yang terus meremas rambut suaminya. “Sshh.. jangan digigit, kak!” “Awss.. sakit!” Karena merasa gemas Hafiz reflek menggigitnya. Syifa meringis kesakitan, namun ada sensasi nikmat di dalamnya. Hafiz bergerak semakin tidak karuan. Tubuhnya tidak terkendali karena permainannya sendiri. “Te-terus, kak!” Namun tiba-tiba… Tok.. tok.. tok “Tuan Hafiz, Nona Syifa, makan malam sudah siap!” “Aakkhh.. s**t!” reflek Hafiz mengumpat dalam hati. Ia langsung menghentikan aktivitasnya. Hafiz menatap ke arah pintu dengan nafas terengah. Keningnya berkeringat karena aktivitas barusan, padahal suhu ruangan cukup dingin. Begitupun dengan Syifa. Nafasnya terengah seperti baru saja mengikuti lomba lari marathon. Matanya terlihat sayu. Keduanya saling menatap seolah tatapan mereka menahan sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya. “Kak, itu ada Bibi!” ujar Syifa dengan nafas terengah “Iya.” Hafiz merapikan pakaian Syifa kembali. Ia mengusap sudut bibir istrinya lalu berdiri berniat membuka pintu. “Sebentar, saya temui Bibi dulu!” Syifa mengangguk sebagai jawaban. Ceklek Hafiz membuka pintu sembari tersenyum kecil. Ia tidak menyadari jika penampilannya saat ini begitu berantakan. Apalagi rambutnya yang acak-acakan. Melihat penampilan Hafiz, Bibi itu menahan senyum. Ia menundukkan pandangannya karena tidak berani menatap Hafiz secara langsung. Seketika beliau berpikir yang tidak-tidak tentang majikannya itu. “Maaf mengganggu waktunya, Tuan. Saya ingin memberitahu kalau makan malam sudah siap.” ucapnya dengan nada sopan Hafiz mengangguk kecil. “Saya akan segera ke ruang makan.” “Baik, Tuan. Kalau gitu saya permisi dulu!” Setelah kepergian sang Bibi, Hafiz kembali masuk ke dalam kamar. Ia melihat Syifa duduk di sofa sembari merapikan penampilannya yang berantakan. Hafiz menghampirinya dengan senyuman menggoda. “Padahal tinggal sedikit lagi!” ujar Hafiz “Apasih, kak!? Waktunya makan malam, jangan aneh-aneh.” Syifa tahu arah pembicaraan suaminya. Ia berdiri menatap penampilan suaminya yang acak-acakan. Itu semua karena perbuatannya. “Ada apa?” tanya Hafiz saat menyadari tatapan Syifa. “Rambut Kak Hafiz berantakan.” “Biar Syifa rapihin!” Ia merapihkan rambut suaminya agar lebih rapi. Ia malu sendiri mengingat aktivitas mereka berdua beberapa menit yang lalu. “Jika nggak ada Bibi pasti Kak Hafiz sudah melakukan lebih dari itu.” ucapnya dalam hati Padahal mereka belum sepenuhnya saling mengenal, tapi mereka berdua seolah sudah dekat cukup lama. Syifa mencoba mengimbangi sikap suaminya. Tidak mungkin ia menolak keinginan Hafiz tanpa alasan yang jelas. “Dah, rapi!” ujar Syifa sembari tersenyum manis. “Oke. Kita makan malam sekarang!” Hafiz menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Mereka keluar kamar untuk makan malam berdua. “Ya Allah, ternyata pernikahan kemarin tidak semenakutkan apa yang aku pikirkan. Dan tidak seburuk yang orang lain pikir.” ujar Syifa dalam hati Ruang makan "Biar Syifa yang ambilkan makanannya, kak!" Dengan senang hati Syifa mengambilkan makanan untuk suaminya. Ada kebahagiaan tersendiri di hatinya saat melayani Hafiz. Ia ingin menjadi istri yang baik dan berbakti pada suaminya. Hafiz menurut tanpa banyak bantahan. "Kak Hafiz mau lauk apa?" "Apa aja. Saya nggak rewel kalau soal makanan." Syifa mengangguk sebagai jawaban. Dan sekarang ia mengerti jika Hafiz tidak pilih-pilih perihal makanan. "Selamat makan, kak!" "Selamat makan, Istriku!" Syifa tersenyum malu-malu mendengar jawaban suaminya. Kata Istriku yang keluar dari mulut Hafiz membuat jantungnya berdebar kencang. Mereka makan dengan suasana tenang. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Para asisten rumah tangga sudah makan di tempat lain. Mereka memiliki ruang sendiri untuk makan ataupun berkumpul. Bahkan ruangannya tidak kalah besar dari ruang makan Syifa dan Hafiz. Hafiz tidak ingin membeda-bedakan antara dirinya dengan para pekerja di rumahnya. Sebisa mungkin ia memberikan yang terbaik untuk orang yang tinggal satu rumah dengannya. Sesekali Hafiz menatap istrinya tanpa disadari Syifa. "Syifa!" panggilnya sembari menatap lekat istrinya. "Kenapa, kak?" "Em.. setelah makan nanti kita lanjutkan aktivitas yang tadi, ya?!" Glek Syifa menelan makanannya dengan kasar. Ia terkejut mendengar perkataan Hafiz. Ia terdiam, tidak berani menatap suaminya secara langsung. "Nanggung kalau nggak dilanjutin!" ujar Hafiz sekali lagi "..." Syifa terdiam. "Diamnya kamu saya anggap jawabannya iya." Syifa semakin terkejut mendengar perkataan suaminya. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD