Part 10

1500 Words
Hafiz menarik tangan Syifa namun lagi-lagi Zakia menahan kepergian mereka. Dan sekarang Zakia bersikap lancang. Dengan penuh keberanian ia melepas paksa genggaman tangan Hafiz pada Syifa sehingga terlepas. Zakia memegang tangan Hafiz sembari menatapnya lembut. “Lancang sekali kamu memegang tangan saya!” desis Hafiz dengan tajam. Hafiz menarik tangannya dengan kasar. Kali ini ia tidak akan tinggal diam. Sepertinya Zakia harus diberi pelajaran agar perempuan itu mengerti. Sedangkan Syifa hanya terdiam. Ia masih speechless dengan apa yang terjadi. “Kamu lihat ini!” ujar Hafiz Hafiz memegang kedua lengan Syifa agar menatapnya. Dan… Cup Deg Syifa melebarkan matanya terkejut. Hafiz tiba-tiba menyatukan bibir keduanya dengan mesra. Hafiz beralih memegang kedua pipi Syifa lalu memejamkan matanya perlahan. Ia mulai menggerakkan bibirnya menikmati moment yang ada. “Emhh..” Syifa melenguh pelan. “Kak!” Zakia memalingkan wajah dengan kedua tangan terkepal kuat. Wajahnya memerah menahan amarah. Dadanya bergemuruh hebat. Amarah siap meledak sekarang juga, tapi ia tidak mungkin melampiaskan semuanya pada Syifa ataupun Hafiz. Karena sudah tidak tahan Zakia melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Ia pergi dengan sejuta kemarahan yang menggelora dalam d**a. Ingin rasanya ia memaki Syifa sampai puas. “Awhh..” lenguh Syifa Perlahan Hafiz menarik diri. Ia menyatukan keningnya dengan kening Syifa. Nafas keduanya terengah. Mereka sama-sama mengambil nafas sebanyak mungkin. “Apa yang Kak Hafiz lakukan?” tanya Syifa dengan nafas terengah. “Maaf, ya.” Hafiz mengelus pipi istrinya dengan lembut. Ia merasa bersalah tiba-tiba menciumnya tanpa izin. Ia melakukan ini semua demi istrinya, Syifa. Dan berhasil, Zakia pergi setelah ia mencium Syifa. Hafiz seolah menunjukkan jika dirinya adalah milik Syifa, dan begitupun sebaliknya. “Lebih baik kita masuk ke kamar!” Hafiz menarik Syifa menuju kamar mereka. Ia tahu istrinya masih shock dengan kejadian barusan, begitupun dengan dirinya. Setelah menutupu pintu kamar Hafiz langsung memeluk istrinya dengan erat. Ia bisa mengerti perasaan Syifa. “Kak!” panggil Syifa dengan nada lirih. “Sstt.. saya tahu apa yang ada di pikiran kamu, Syifa.” “Tenanglah!” Hafiz mengelus punggung Syifa mencoba untuk menenangkannya. Tiba-tiba Syifa menitihkan air matanya. Ia menangis dalam diam. Entahlah, kepulangan Zakia membuatnya merasa takut. Syifa takut Zakia merebut Hafiz darinya, padahal laki-laki itu memang seharusnya menikah dengan saudara tirinya. “Hikss..” isak tangis Syifa Hafiz terkejut tiba-tiba mendengar suara tangis istrinya. Ia melepas pelukannya dan beralih menangkup wajah Syifa. Kedua pipi Syifa sudah basah oleh air mata. “Syifa, kamu kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir. “Hikss..” “Hei, kenapa nangis? Karena kejadian di ruang makan tadi?” “Maaf, ya. Saya tidak bermaksud mencium kamu tanpa izin. Tapi karena…” “Bukan itu, kak.” Syifa memotong perkataan Hafiz membuat laki-laki itu langsung terdiam. “Lalu karena apa?” tanya Hafiz dengan nada lembut “—“ Syifa terdiam sejenak. Ia menatap suaminya lekat. Mereka baru saja menikah dua hari yang lalu, dan sekarang tiba-tiba masalah hadir mengganggu rumah tangga mereka. Rasanya Syifa belum siap menghadapa masalah ini. “Jangan nangis, ya! Semuanya akan baik-baik saja.” ujar Hafiz mencoba menenangkan istrinya. “A-apa Kak Hafiz akan meninggalkan Syifa setelah ini?” tanyanya dengan suara bergetar. Deg Hafiz terkejut mendengar pertanyaan Syifa. Mana mungkin ia melakukan hal tersebut. Mereka baru saja menikah, dan pernikahan bukanlah sebuah mainan. Apalagi mereka menikah baru dua hari yang lalu. “Syifa, kamu tanya apa sih!?” “Tentu saya tidak akan meninggalkan kamu. Kita baru menikah dua hari yang lalu.” lanjut Hafiz “Tapi Kak Zakia sudah kembali.” Wajah Hafiz berubah dingin setelah mendengar nama Zakia. “Memangnya kenapa kalau dia sudah kembali?” bahkan Hafiz enggan menyebut nama Zakia. “Syifa takut Kak Hafiz berpaling dari Syifa. Karena sejak awal kalian…” Cup “Hmptt..” Perkataan Syifa terpotong karena Hafiz tiba-tiba menyatukan bibir mereka berdua. Hafiz tidak suka mendengar perkataan istrinya itu. Sekalipun Zakia kembali tidak akan merubah apapun, apalagi status mereka. “Emhh..” “Kak Hafiz!” panggil Syifa Hafiz mendorong tengkuk Syifa agar lebih dekat dengannya. Syifa hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan sedikitpun. Daripada terus mendengar perkataan yang tidak-tidak lebih baik Hafiz membungkamnya. Lama-kelamaan Hafiz semakin dalam melakukannya. Ia melangkah maju membuat tubuh Syifa terdorong ke belakang. Syifa memegang pinggang Hafiz untuk berpegangan. Dugh “Sshh..” Syifa meringis pelan saat punggungnya terbentur lemari. “Emhh.. Kak Hafiz!” Setelah merasa puas Hafiz beralih pada leher jenjang istrinya. Ia menggigitnya pelan. “Awhss..” “Jangan digigit, kak! Sakit!” ringis Syifa Cup “Owhh..” Tangan Hafiz tidak tinggal diam. Tangannya bergerak ke bawah mencari area favoritnya. Sampailah pada dua benda kenyal kesukaannya. Yang tadinya hanya berniat membungkam mulut Syifa tapi sekarang malah berlanjut panjang. Terasa kurang, apalagi tidak ada perlawanan dari Syifa. “Enghh..” “Sshh.. Kak Hafiz!” Syifa mulai meracau memanggil nama suaminya. “Pelanhh-pelanhh, kak.” Hafiz mendekatkan wajahnya pada telinga Syifa. Tangannya tidak berhenti bermain di area favoritnya. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Syifa agar dia tidak mengatakan hal yang sama lagi. Ia tidak suka mendengarnya. “Owhh..” Hafiz dengan sengaja menghembuskan nafas tepat di samping telinga Syifa sebelum berbicara. “Kak.. gelihh!” ujar Syifa sembari memejamkan mata. “Masih mau lanjut atau stop, hm?” bisik Hafiz dengan suara berat. “U-udah stop, kak!” “Kalau gitu jangan mengulangi perkataan tadi. Apa kamu bisa?” “Syifa…” “Aaakkhh..” belum selesai bicara Hafiz semakin menekannya membuat Syifa reflek melenguh panjang. “Kamu hanya perlu menjawab iya atau tidak.” “I-iya, kak.” Hafiz tersenyum kecil mendengarnya. “Bagus!” Cup Hafiz meninggalkan ciuman kecil di dagu Syifa. Setelahnya ia menarik diri dari istrinya. Nafas Syifa terengah karena perbuatan Hafiz barusan. Matanya terlihat sayu, kakinya terasa lemas, dan untung saja ia masih sanggup untuk tetap berdiri. Hafiz mengusap bibir Syifa yang basah karena perbuatannya barusan. Ia menyukai Syifa yang pendiam, tidak bicara aneh-aneh. Apalagi menyangkut rumah tangga mereka. Allah sudah menyatukan mereka, dan tidak ada yang bisa memisahkan keduanya, kecuali Maut. “Huhh..” nafas Syifa terengah. “Masih mau bicara yang aneh-aneh, hm?” Syifa terdiam sejenak. Ia menggelengkan kepalanya pelan. “Nggak mau.” “Bagus.” jawab Hafiz sembari tersenyum puas. Ia mengelus pipi Syifa dengan lembut. Memang, mereka menikah bukan karena cinta, tapi bukan berarti mempermainkan sebuah pernikahan. Di sini Hafiz adalah Kepala rumah tangga. Pemimpin keluarga yang harus bisa bertanggung jawab terhadap keluarga kecilnya. Ia tidak akan goyah hanya karena seorang perempuan. “Jangan berpikir yang tidak-tidak, karena saya tidak akan melakukan apa yang kamu pikirkan.” ujar Hafiz dengan penuh keseriusan. Syifa menatap lekat ke dalam bola mata suaminya. Ia mencoba mencari kebohongan di sana, namun tidak ada. Yang ia lihat hanya keseriusan di dalam mata Hafiz. Hafiz laki-laki baik dan tidak akan dipersatukan dengan perempuan berhati busuk seperti Zakia dan Ibunya. “Tapi Kak Zakia sepertinya menaruh hati pada Kak Hafiz.” “Huft!” Hafiz menghela nafas berat. Ia terdiam sejenak. Hafiz membenarkan perkataan Syifa. Dari tatapan Zakia sepertinya dia memiliki rencana, entah apa itu. Ia tidak berburuk sangka padanya, tapi setelah melihat sikap Zakia ia sedikit was-was. Ia takut dia merencakan sesuatu yang membuat rumah tangganya hancur. Sebelum hal itu terjadi Hafiz harus mengambil keputusan tegas. Ia tidak ingin rumah tangganya hancur hanya karena seorang perempuan. “Kita akan pindah rumah nanti malam!” ucapnya tidak terbantahkan. “Ha?” Syifa terkejut mendengar keputusan Hafiz. Kenapa begitu tiba-tiba? “P-pindah rumah, kak?” Hafiz mengangguk. “Iya, Syifa. Kita sudah tidak aman lagi tinggal di rumah ini.” “Tapi bagaimana dengan Ayah, kak? Ayah sudah bilang agar kita tetap tinggal di rumah ini.” Di satu sisi, Syifa masih belum rela meninggalkan Ayahnya. Ia tahu sudah ada Zulfa yang menemani Ayahnya, tapi keberadaan beliau tidak membuatnya yakin. Entahlah, ia hanya takut terjadi sesuatu dengan Ayahnya. “Nanti saya yang akan bicara dengan Ayah.” ujar Hafiz “Tapi…” Syifa menggantungkan perkataannya. Karena mau bagaimanapun ia harus menurut dan ikut ke manapun suaminya pergi. “Tapi kenapa, Syifa?” “Rasanya berat saat ingin meninggalkan Ayah di rumah ini, kak. Syifa seolah belum rela tinggal berjauhan dengan Ayah.” Hafiz mengerti perasaan istrinya. Apalagi Fadlan tinggal bersama istri baru dan anak tirinya. Tidak ada yang mengawasi mereka secara langsung. Tapi mau bagaimanapun Hafiz tidak ingin rumah tangganya hancur berantakan karena keberadaan Zakia. Ia tidak bisa menebak apa yang akan Zakia lakukan suatu saat nanti. “Nggak papa. Sesekali kita datang ke rumah ini untuk menjenguk Ayah.” "Beneran?" Hafiz mengangguk sembari tersenyum kecil. "Kapanpun kamu mau menjengu Ayah kita akan langsung menemuinya. Kamu nggak perlu khawatir tentang hal itu, ya." Hafiz tidak akan masalah jika sesekali datang ke rumah ini untuk menjenguk Ayah mertuanya. Asalkan mereka hidup berjauhan karena keberadaan Zakia. Menjauh adalah pilihan yang tepat, daripada menimbulkan fitnah nantinya. Syifa memeluk Hafiz. Ia merasa terharu sekaligus bahagia karena Hafiz bisa mengerti perasaannya. Dia tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, melainkan perasaan istrinya juga. "Makasih, kak." "Terima kasih sudah mengerti perasaan Syifa." lirihnya dengan suara bergetar. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD