Dua hari kemudian
Hafiz dan Syifa masih tinggal di rumah Fadlan karena beliau belum bersiap berpisah dengan putrinya. Fadlan masih ingin tinggal satu rumah agar bisa memantau rumah tangga Syifa dan Hafiz. Beliau tidak akan ikut campur, hanya melihat perkembangan mereka berdua.
Sejak kemarin Hafiz dan Syifa sudah menjalani aktivitas seperti biasa. Hanya saja status mereka berdua yang sudah berubah. Syifa masih belum terbiasa, namun ia berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya.
“Turun yuk, kak! Ayah dan Mama pasti udah nungguin kita di bawah.” Hafiz mengangguk sebagai jawaban.
Hafiz berjalan lebih dulu dan diikuti Syifa dari belakang. Mereka tersenyum melihat keberadaan Fadlan dan Zulfa yang sudah lebih dulu ada di ruang makan. “Selamat pagi, Ayah, Mama!” sapa Hafiz sembari tersenyum kecil.
“Pagi, nak!”
“Ayo duduk!” ujar Fadlan
Fadlan menarik sebuah kursi untuk istrinya. Saat akan duduk tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapa mereka semua. “Selamat pagi semuanya!”
Deg
Tubuh Syifa mematung mendengar suara itu. Apa ia tidak salah dengar? Syifa menoleh ke belakang untuk memastikan apakah benar yang didengar. Dan ternyata benar. Yang datang adalah saudara tirinya, Zakia. Sosok perempuan yang kabur tepat di hari pernikahannya bersama Hafiz.
“K-kak Zakia!” lirihnya dengan tatapan terkejut.
Zulfa berdiri menyambut kedatangan putrinya. Beliau tersenyum haru karena akhirnya Zakia kembali pulang ke rumah. Beliau menghampiri putrinya lalu mengajak Zakia mendekat ke arah keluarganya yang lain.
“Akhirnya kamu pulang juga, sayang.” ujar Zulfa dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Namun berbeda dengan respon Fadlan yang hanya biasa saja. Bahkan beliau tidak menoleh sedikitpun ke arah putri tirinya. Beliau masih kecewa dengan perbuatan Zakia yang sudah mempermalukannya.
Zakia menatap ke arah Hafiz yang saat ini hanya terdiam. Setelah mendengar suara Syifa ia sudah bisa menebak siapa yang datang. Zakia, sosok nama yang sama saat ingin dijodohkan dengannya. Tapi kenapa perempuan itu pulang?
“Mendekatkan ke Ayahmu, Zakia!” bisik Zulfa pada putrinya
Zakia langsung tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Zulfa. Ia beralih menatap Ayahnya yang saat ini enggan menatap ke arahnya. Ia menghampiri Ayahnya dengan tertunduk sedih.
“Ayah!” panggil Zakia dengan suara lembut dan penuh kesedihan di dalamnya.
“—“
“Ayah, Zakia…”
“Kenapa kamu pulang?”
Deg
Zakia sontak menatap Ibunya meminta bantuan. Ia tidak bisa menghadapi Ayahnya sendirian. Mengerti arti tatapan putrinya Zulfa langsung mendekat ke arah suaminya. Beliau harus menjelaskan sesuatu padanya.
Zulfa mengelus bahu suaminya dengan lembut. Beliau mencoba bicara dengannya secara perlahan. “Yah, bukannya tadi malam kita sudah bicara?! Tolong maafin Zakia, ya.”
“Mungkin Zakia kemarin terkejut dengan keputusan kita. Dan karena itu dia memutuskan untuk kabur tanpa berbicara apapun pada kita terlebih dulu.” Sebisa mungkin Zulfa membujuk suaminya agar tidak memperpanjang hal ini.
Zulfa menatap putrinya memberi kode pada Zakia agar minta maaf pada Fadlan. Zakia mendekat ke arah Ayahnya dan langsung berlutut sebagai bentuk permintaan maafnya dengan tulus.
“Ayah, Zakia minta maaf!”
“Zakia kemarin khilaf. Zakia janji tidak akan melakukan kesalahan apapun lagi.”
Fadlan tersenyum miring. “Ternyata kamu masih ingat jalan pulang ke rumah. Ayah pikir kamu sudah tidak ingat.”
“Seberapa besar keberanian kamu untuk menginjakkan kaki di rumah ini lagi?”
“Ayah masih kecewa denganmu.” ujar Fadlan
“Zakia…”
Srett
Zakia menghentikan ucapannya karena Fadlan tiba-tiba berdiri. Setelahnya Fadlan melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Selera makannya seketika hilang setelah melihat kedatagan Zakia.
“Ayah mau ke mana?” tanya Zulfa dengan wajah panik.
“—“ Fadlan terdiam dan terus melangkah pergi.
“Ayah!”
“Ck.” Zulfa berdecak kesal menatap putrinya, Zakia. Menurutnya Zakia terlalu bodoh karena tidak bisa membujuk Fadlan. Setelahnya beliau menyusul Fadlan sebelum suaminya semakin marah.
Dan sekarang tinggal tiga manusia yang ada di ruang makan. Suasana tiba-tiba menjadi hening karena keberadaan Zakia. Bahkan Syifa dan Hafiz tidak tahu harus melakukan apa. Mereka masih sama-sama terkejut dengan kedatangan Zakia yang begitu tiba-tiba.
“Syifa!” panggil Zakia dengan nada lembut.
“—“ Syifa terdiam. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa.
Zakia mendekat ke arah Syifa, dan…
Brugh
Deg
Syifa terkejut Zakia tiba-tiba menariknya ke dalam pelukannya. Tubuh Syifa mematung. Ia tidak membalas pelukan dari saudara tirinya. Ia masih terkejut dengan kejadian yang begitu tiba-tiba pagi ini. Kenapa tidak ada yang memberitahu kepulangan Zakia?
“Ya Allah, apa maksud semua ini?” ucap Syifa dalam hati
“Apa kamu tidak merindukanku, Syifa?” tanya Zakia
“—“ Syifa terdiam.
Zakia mengelus punggung Syifa sembari menatap Hafiz. Ia menatapnya kagum. Ternyata sosok laki-laki yang ia tinggal adalah anak tunggal dari keluarga kaya raya. Betapa bodohnya ia tidak mencari tahu terlebih dulu akan hal itu. Karena rasa takutnya ia langsung memenuhi permintaan Zulfa untuk langsung kabar tepat di hari pernikahan.
“Ini semua salah Mama! Jika Mama tidak menyuruhkan kabur pasti aku sudah menjadi istri Kak Hafiz.”
“Laki-laki tampan yang saat ini berdiri di hadapanku.” ujar Zakia dalam hati
“Betapa bodohnya aku kemarin. Dan sekarang aku menyesal.”
“Mama harus tanggung jawab akan hal ini. Bagaimanapun caranya Kak Hafiz harus menikah denganku.” lanjutnya dalam hati
Perlahan Zakia melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Syifa sembari mengelus pipi adik tirinya dengan lembut. “Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?”
Syifa terdiam sejenak. “A-apa itu, kak?” tanyanya dengan nada gugup.
Zakia melirik sekilas ke arah Hafiz, dan hal itu disadari oleh Syifa. “Em.. apa kamu benaran menikah dengan Kak Hafiz?”
Deg
Syifa semakin terkejut mendengar pertanyaan Zakia. Seharusnya ia bersikap biasa saja karena Zakia sendiri yang pergi tepat di hari pernikahannya. Ia hanyalah pengganti tapi hal itu tidak akan merubah keadaan sekalipun Zakia sudah kembali.
“I-iya, kak.”
“Kenapa kamu merebut calon suamiku, Syif!?”
Jedarr
Seperti disambar petir di siang bolong. Syifa tidak menyangka dengan perkataan Zakia barusan. Kali ini bukan hanya Syifa yang terkejut, melainkan Hafiz juga terkejut mendengarnya.
Hafiz berbalik badan dan seketika tatapannya bertemu dengan Zakia. Kedua tangannya terkepal kuat menahan amarah. Ternyata perempuan ini yang kabur tepat di hari pernikahaan mereka kemarin.
Hafiz tersenyum smirk ke arah Zakia. Setelah melihat penampilan Zakia justru Hafiz sangat bersyukur karena kemarin perempuan itu kabur di hari pernikahan mereka. Jika tidak, ia tidak akan menikah dengan Syifa. Syifa jauh lebih baik dari Zakia!
“Jangan berkata yang tidak-tidak tentang istri saya!” desis Hafiz dengan tajam
“A-apa maksud Kak Hafiz?”
Zakia tidak mengerti apa yang dimaksud Hafiz. Dengan wajah polosnya ia berpura-pura sedih di hadapan Hafiz agar laki-laki itu merasa ibah dengannya. Namun apa yang ia lakukan sia-sia karena Hafiz sama sekali tidak peduli. Justru Hafiz menatapnya dengan penuh kebencian.
“Saya tidak suka dengan perkataanmu barusan.”
“Syifa tidak pernah merebut saya dari siapapun, termasuk kamu. Jadi, jangan asal bicara!” Hafiz tidak ingin istrinya disalahkan dalam hal ini. Mereka sama-sama terjebak dalam pernikahan yang serba mendadak.
Zakia menarik nafas panjang lalu ia hembuskan secara perlahan. Ia tidak boleh marah ataupun terpancing karena perkataan Hafiz. Ia harus bisa menahan diri agar tetap tenang. Zakia tersenyum kecil seolah menunjukkan ketenangan dalam dirinya. Padahal di dalam lubuk hatinya Zakia ingin memaki-maki saudara tirinya itu, Syifa.
“Kak, kita perlu bicara tentang…”
“Tidak perlu!” dengan cepat Hafiz memotong perkataan Zakia.
“Kenapa, kak?”
“Apa yang harus dibicarakan? Kamu tiba-tiba pulang dan seenak jidat ingin bicara tentang hal kemarin.”
“Saya tidak mau. Lagipula saya sudah menikah dengan Syifa, dan kamu bukan siapa-siapa di hidup saya!” sarkas Hafiz dengan tajam
“Kurang ajar.” batin Zakia berucap
"Kak, tapi..."
"Syifa, kita pergi dari sini! tanpa menunggu jawaban istrinya Hafiz langsung menarik tangan Syifa pergi meninggalkan ruang makan.
Tapi kerena Zakia merasa belum puas ia menghadang jalan mereka. Ia tidak membiarkan Hafiz dan Syifa pergi sebelum mereka selesai bicara. "Kak, Zakia belum selesai bicara."
"Saya tida peduli. Minggir!"
"Nggak! Zakia nggak akan minggir sebelum kita bicara."
"Kak..." Syifa menatap suaminya lembut. Entah kenapa semuanya jadi seperti ini.
Hafiz mengelus lengan istrinya mencoba untuk menenangkan. Jika Zakia bukanlah saudara Syifa pasti ia sudah membentaknya. Mau bagaimanapun ia harus bisa menghargai posisinya di rumah ini, dan menghargai Zakia saudara tiri dari istrinya. Hafiz berusaha tetap sabar meskipun dadanya bergemuruh hebat menahan amarah. Di sini Zakia seolah menyalahkan Syifa atas kejadian kemarin.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Hafiz to the point
"Zakia ingin kita menikah!"
Deg
Syifa melebarkan matanya terkejut. Apa ia tidak salah dengar? Bisa-bisanya Zakia meminta Hafiz untuk menikahinya di saat laki-lak itu sudah menjadi suami Syifa. Syifa menggelengkan kepalanya tidak setuju. Ia tidak bisa terima akan hal itu.
"Kak, apa maksud kamu? Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Syifa dengan suara bergetar menahan tangis.
"Seharusnya aku yang tanya seperti itu ke kamu, Syifa. Kenapa kamu menikahi calon suami dari saudara kamu sendiri? Di mana letak hati nurani kamu?!"
Syifa menggelengkan kepalanya. Ini semua tidak benar. "Kak Zakia sendiri yang pergi tepat di hari pernikahan kalian."
"Tapi bukan berarti kamu bisa menikah dengan calon suamiku, Syifa." desis Zakia dengan tajam
"SUDAH CUKUP!" bentak Hafiz
Next>>