Pagi harinya
Sejak lima menit yang lalu Hafiz lebih dulu bangun daripada istrinya, Syifa. Ia menatap istrinya yang masih terlelap dengan begitu nyenyak. Bahkan ia mendengar suara dengkuran halus darinya.
“Ternyata Syifa jauh lebih cantik darinya.” ujar Hafiz dalam hati
Yang Hafiz maksud adalah perempuan yang ingin ia nikahi kemarin. Namun karena perempuan itu kabur Syifa’lah yang menjadi penggantinya. Justru dengan Syifa yang menggantikannya ia merasa sangat bersyukur. Karena Syifa jauh lebih cantik dan tentunya baik hati. Ia bisa melihat hal itu dari cara bicaranya.
Hafiz mengelus pipi Syifa dengan lembut. “Syifa!” panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“—“
Syifa tidak bergerak sedikitpun. Ia masih nyenyak dalam tidurnya. “Syifa, bangun!”
“Emhh..” Syifa melenguh pelan karena terganggu dengan suara suaminya.
Bukannya bangun Syifa justru bergerak membelakangi Hafiz. Ia mencari kenyamanan dalam tidurnya. Hafiz tersenyum kecil melihat istrinya. Apa ia terlalu lembut saat membangunkannya?
Cup
Hafiz mencium telinga Syifa membuat wanita itu merasa geli. “Ayah, geli!” ujar Syifa tanpa sadar.
Hafiz mengernyitkan kening saat Syifa menyebut Ayah. Apa istrinya tidak salah? Kesadaran Syifa belum sepenuhnya terkumpul. Ia berpikir laki-laki yang saat ingin membangunkannya adalah sang Ayah tercinta, padahal suaminya sendiri.
“Ayo bangun, Syif!” ujar Hafiz sekali lagi.
“Lima menit lagi, Yah!”
Hafiz semakin heran mendengar jawaban istrinya. Dan sekarang ia mengerti. “Mungkin karena kesadaran Syifa belum sepenuhnya terkumpul.” ucapnya dalam hati
“Sholat subuh dulu, yuk!”
“Kalau masih ngantuk tidurnya dilanjut setelah Sholat.” ujar Hafiz
“Hmm..”
Syifa berbalik badan menjadi terlentang. Matanya masih setengah terbuka. Ia belum menyadari keberadaan Hafiz tepat di sampingnya. Pandangannya mengabur karena masih mengantuk.
“Syifa masih ngantuk, Yah.” rengeknya dengan manja.
Syifa beralih memeluk Hafiz yang ia pikir adalah Ayahnya. Hafiz tersenyum kecil lalu mengelus punggung istrinya dengan lembut. Ia menunduk mendekatkan wajahnya pada Syifa, namun belum disadari wanita itu.
“Bangun, yuk! Nanti terlambat sholatnya.” bisik Hafiz dengan suara lembut.
Syifa mengernyitkan kening saat merasakan ada yang berbeda. Ia merasa suara Ayahnya berbeda pagi ini. Terdengar lembut dan berat. Syifa mengerjapkan matanya berulang kali mencoba mengumpulkan kesadarannya. Setelahnya ia mendongak, dan…
Deg
“ASTAGFIRULLAH.” Reflek Syifa menjauh dari pelukan Hafiz.
Syifa melebarkan matanya terkejut. Kenapa ada laki-laki di kamarnya? “KAMU SIAPA?” pekiknya
Karena belum menyadari kondisinya membuat selimut yang menutupi tubuhnya jatuh ke bawah, hal itu membuat Hafiz menelan ludahnya kasar. Jantung Hafiz berdebar kencang. Padahal tadi malam ia sudah merasakannya. Tatapan dan pikiran Hafiz seketika terfokus pada satu titik. Hal itu sangat mengganggu pikirannya.
“Syifa…”
“Kamu siapa? Kenapa bisa ada di kamarku?” Syifa belum menyadari jika mereka berdua sudah menikah.
Hafiz memejamkan mata sejenak untuk mentralisir perasaan dan pikirannya saat ini. Bagaimana ia mengatakan pada Syifa jika apa yang dilihat saat ini sangat mengganggu pikiran dan tubuhnya.
“Kita sudah menikah, Syifa. Saya suamiku kamu!” jawab Hafiz setelah membuka mata.
Deg
Syifa terkejut mendengarnya. Ia terdiam mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Dan sekarang ia teringat jika mereka sudah menikah. “Astagfirullah.” Syifa menutup wajahnya karena merasa bersalah. Bisa-bisanya ia lupa jika sudah menikah.
“Maaf, Kak!”
“Syifa lupa kalau sudah menikah.” lanjutnya
Hafiz mengangguk pelan. Namun saat ini bukan hal itu yang menjadi permasalahannya. Justru kondisi Syifa saat ini yang sangat mengganggunya. Hafiz tidak yakin bisa menahan diri lebih lama jika Syifa tidak segera menutupinya. Pemandangan indah yang sulit untuk dilewatkan.
“Syifa!” panggil Hafiz dengan suara berat.
“Iya. Kenapa, Kak?” Syifa masih belum menyadari kondisinya.
“Ekhm,” bukannya menjawab Hafiz justru berdehem. Hal itu membuat Syifa bertanya-tanya.
“Kenapa, Kak?”
“I-itu…”
Syifa mengernyitkan kening melihat kegugupan suaminya. “Itu apa, Kak?”
“Selimut!”
Syifa langsung menunduk setelah mendengar jawaban suaminya. Dan betapa terkejutnya saat melihat selimut yang ia kenakan jatuh ke bawah. “Astagfirullah’haladzim.” Syifa langsung menarik selimutnya ke atas untuk menutupi tubuhnya.
Syifa menunduk malu. Kedua pipinya terasa panas. Dan sekarang ia teringat semuanya jika sudah melakukan hubungan bersama Hafiz, suamiya. Syifa merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa melupakan hal itu?
“Ya Allah, malu sekali!” ucapnya dalam hati
“M-maaf, kak. Syifa nggak sadar.” gugupnya
“Nggak papa.”
Padahal dibalik jawaban Hafiz ia menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Namun karena hari sudah pagi tidak mungkin ia memintanya lagi. Lebih baik ia menahan diri sampai merasa sedikit tenang. Mereka bisa melakukannya lagi di waktu yang tepat.
“K-kalau gitu Syifa mau mandi dulu!”
Syifa beranjak dari tempat tidur dengan sedikit kesulitan karena tubuhnya yang terlilit selimut tebal, dan di bagian tertentu ia merasa sakit dan perih. “Awss..” ringisnya dengan wajah kesakitan.
“Kamu kenapa, Syif?” Hafiz sedikit khawatir mendengar suara kesakitan dari istrinya.
Syifa menggeleng pelan. “Nggak papa, kak.”
Melihat Syifa kesulitan Hafiz langsung membantu istrinya itu. Ia beranjak dari tempat tidur lalu menghampiri istrinya. Tanpa mengatakan apapun Hafiz langsung menggendong Syifa menuju kamar mandi. Mereka akan mandi bersama.
“Eh,” reflek Syifa mengalungkan kedua tangannya pada leher Hafiz untuk berpegangan.
“Kak Hafiz mau bawa Syifa ke mana?”
“Kamar mandi!”
Deg
Jantung Syifa seketika berdebar kencang setelah mendengar jawaban suaminya. “M-mau ngapain, kak?” tanyanya dengan nada sedikit gugup.
“Katanya mau mandi! Ya.. kita mandi.”
“Berdua?”
Hafiz menatap sekilas ke arah istrinya. Ia tersenyum kecil lalu mengangguk. “Iya. Kita akan mandi berdua.”
“T-tapi…”
“Nggak papa, kan!? Lagipula kita sudah berhubungan tadi malam. Jadi tidak ada salahnya kalau saya melihat lagi.”
Blush
Kedua pipi Syifa bersemu merah mendengarnya. Tentu ia masih malu karena baru tadi malam mereka melakukan untuk pertama kalinya. Rasanya masih aneh saat berdekatan dengan Hafiz. Bahkan saat bangun tidur tadi pagi ia bisa-bisanya lupa jika sudah menikah.
"Tolong buka pintunya!" ujar Hafiz
Ceklek
Syifa membuka pintu kamar mandi dan Hafiz langsung membawanya masuk. Wajah Syifa terlihat memerah karena malu. Hal itu membuat Hafiz gemas melihatnya. "Kok merah sih pipinya? Padahal nggak panas kok." dengan sengaja Hafiz menggoda istrinya.
"E-emang nggak panas, kak."
"Terus kenapa pipinya memerah?"
"Nggak papa. Mungkin karena suhu ruangan yang dingin."
Hafiz terkekeh mendengar jawaban istrinya. Ia tahu jawaban Syifa barusan hanyalah alasan karena dia merasa malu untuk mengakuinya. Hafiz menurunkan Syifa di bath up dengan hati-hati agar tidak sampai melukainya. Syifa menurut tanpa ada bantahan apapun yang keluar dari mulutnya.
Setelahnya Hafiz menyalakan air yang langsung mengguyur tubuh Syifa. "Selimutnya dilepas, Syifa!"
Deg
Syifa menelan ludahnya kasar. Apa ia harus membukanya di hadapan Hafiz? "Dibuka?" tanyanya untuk memastikan
Hafiz mengangguk. Ia lebih suka saat Syifa tidak menggunakan apapun. Di matanya Syifa sangat cantik dan mempesona. Entahlah, jantungnya sering berdebar setelah kejadian tadi malam. Seketika Hafiz bertanya-tanya apakah dirinya mulai jatuh hati pada istrinya, Syifa? Tapi apa semudah dan secepat itu?
Syifa menurut. Ia membuka selimut yang melilit tubuhnya secara perlahan. Ia tidak berani menatap suaminya karena merasa malu. Bahkan jantungnya saat ini serasa ingin lepas dari tempatnya. Hafiz merasa gemas karena Syifa terlalu lama membukanya. Ia memutuskan untuk ikut masuk ke dalam bath up dengan posisi di belakang istrinya.
Syifa melebarkan matanya karena Hafiz ikut masuk ke dalam bath up. "Kak Hafiz kenapa ikut masuk?"
"Memangnya kenapa? Bukankah kita ingin mandi, hm!?"
"Biar saya bantu membukanya!" Hafiz menggerakkan tangannya untuk membantu Syifa membuka selimut tersebut. Dengan senang hati ia melakukannya.
Entah kenapa tangan Syifa tiba-tiba terasa kaku. Ia membiarkan apa yang dilakukan Hafiz. Dan dalam hitungan detik Hafiz berhasil membukanya. Akan terasa sangat lama jika Syifa yang melakukannya. Hafiz membuang selimut itu ke lantai. Dan sekarang ia bisa melihat pemandangan indah dengan jelas. Tepat di dekatnya. Bahkan ia bisa merasakannya.
Hafiz menarik pinggang Syifa agar lebih dekat padanya. "Kak..." Syifa semakin terkejut dengan perbuatan suaminya.
"Sstt.. jangan banyak bergerak, Syif!"
"I-itu apa, kak? Kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjal?"
Hafiz terkekeh geli mendengar pertanyaan polos istrinya. Ia memeluk Syifa dari belakang dengan menggerakkan tangannya di dua benda kenyal milik istrinya. "Bukan apa-apa. Abaikan saja!"
Next>>