“Emhh..” Syifa kembali melenguh.
Ia memejamkan mata karena merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya. Sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Kak, stop!”
“Syifa merasa ada yang aneh!” ucapnya dengan nafas terengah.
“—“ Hafiz terdiam.
Bukannya berhenti Hafiz justru bergerak semakin nakal. Tangan satunya tidak mau tinggal diam. Ia telah hilang kendali. Ia harus bisa merasakan pemandangan indah di hadapannya saat ini.
“Emhh..”
“Enak, Syifa!” ujar Hafiz dengan nada meracau.
Mulut Hafiz tidak berhenti menyeruput seperti bayi yang sedang kehausan. Syifa meremas rambut suaminya sebagai pelampiasan. Nafasnya memburu, tidak beraturan. Tubuhnya bergetar hebat merasakan hal aneh dalam tubuhnya.
“Kak Hafizhh..” panggil Syifa
“Huhh..”
“Huhh..”
Hafiz menarik diri saat merasa cukup. Sekarang waktunya ia melakukan lebih dari ini. Keduanya saling menatap dengan tatapan sayu. Nafas keduanya terengah seperti baru selesai mengikuti lomba lari marathon.
Dada Syifa bergemuruh hebat. Lidahnya terasa keluh saat ingin berbicara. Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Hafiz semakin mendekat ke arah Syifa lalu menggenggam kedua tangan istrinya. Ia akan melakukannya sekarang juga.
“Kak…” Syifa menatap suaminya dengan tatapan sayu. Ia tidak tahu harus berbicara apa.
“Kamu sudah siap?” tanya Hafiz dengan suara lembut.
Syifa terdiam sejenak. Dan tidak lama ia mengangguk pelan sebagai jawaban. Hafiz tersenyum melihat respon istrinya. “Tahan, ya! Mungkin akan terasa sakit karena kita baru pertama kali melakukannya.” Hafiz juga tidak tahu, tapi ia memberi sedikit nasehat pada istrinya.
Syifa mengangguk kaku. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya. Hafiz mendekatkan wajahnya pada telinga Syifa lalu membisikkan sesuatu padanya. “Bersiaplah, Istriku!” bisiknya dengan suara lembut.
Dan…
Jlebb
“Aaakkhhh..” Syifa dan Hafiz melenguh panjang secara bersamaan.
“Hikss..”
“Sakit, Kak!” Syifa meringis kesakitan karena rasanya begitu sakit dan perih. Ia bahkan mencengkram telapak tangan suaminya sebagai pelampiasan.
“Awss..” ringisnya dengan air mata mengalir membasahi kedua pipinya.
Hafiz terdiam sejenak. Seperti apa yang dikatakan barusan, rasanya akan sangat sakit. Ia menghapus air mata Syifa yang mengalir di kedua pipinya. Hafiz merasa bersalah karena seolah menyakiti istrinya.
“Hikss..” isak tangis Syifa.
“Sstt.. sakit banget?”
Syifa mengangguk sembari terisak. “I-iya, Kak. Sangat sakit dan perih.”
“Maaf, ya!” Hafiz memeluk istrinya untuk menenangkan. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak bergerak sampai sakit yang dirasakan istrinya mulai meredah.
Cukup lama terdiam akhirnya Hafiz memberanikan diri menatap Syifa. Ia seolah meminta izin untuk bergerak. “Saya boleh bergerak?”
Syifa mengangguk pelan. Meskipun rasanya masih sedikit sakit dan perih ia tidak mungkin membiarkan Hafiz terdiam yang membuat suaminya semakin tersiksa. “Bergeraklah, Kak!”
Hafi tersenyum mendengarnya. Ia langsung bergerak setelah mendapat jawaban dari istrinya. “Sshh..” Syifa meringis pelan.
“Kakhh..”
Syifa mencengkram punggung Hafiz dengan cukup kuat. Bahkan kuku panjangnya menancap di sana. Hafiz terus bergerak dengan sesekali memejamkan mata. Ia sangat menikmati permainannya yang baru pertama kali ia lakukan.
“Owhh..”
“Enak, Syifa!” ujar Hafiz dengan nada meracau.
“Kak Hafiz!” Syifa memanggil nama suaminya dengan nada meracau.
Lama-kelamaan rasa sakit itu hilang dan tergantikan dengan kenikmatan yang belum pernah Syifa rasakan sebelumnya. “Emhh..” Hafiz melenguh pelan.
Selama bermain tangan Hafiz tidak mau tinggal diam. Ia bermain di area dua benda kenyal milik istrinya. Syifa menggigit bibir bawahnya menahan suara agar tidak kelepasan.
Hafiz yang mengerti akan hal itu mengelus bibir istrinya. Ia tidak mengizinkan Syifa menggigit bibir karena bisa menyakiti dirinya sendiri. Justru ia lebih suka istrinya berisik dan terus memanggil namanya.
“Jangan digigit, Syifa!”
“Bersuaralah! Panggil nama saya yang keras.” ujar Hafiz dengan nada meracau.
“Emhh..” lenguhnya
Syifa tersenyum. Ia sangat menikmati permainan suaminya, padahal sebelumnya ia menangis karena rasa sakit. Ia tidak tahu bagaimana kelanjutan pernikahannya bersama Hafiz nanti. Tapi ia percaya Hafiz laki-laki yang baik. Karena itu ia menyerahkan dirinya secara penuh pada suaminya.
“Syifa mencintaimu, Kak!” ucapnya dalam hati
“Sedikit lagi, Syifa!”
Dan…
“Aaarrghhh..” Hafiz melenguh panjang setelah berhasil menanamkan cairan cinta ke dalam rahim istrinya.
Brugh
“Sshh..” Hafiz menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Syifa. Ia ambruk begitu saja dengan tubuh penuh keringat.
Syifa memeluk suaminya erat. Nafas keduanya memburu. Mereka saling berebut oksigen yang seolah semakin menipis. Namun hal itu tidak mengurangi rasa bahagia keduanya. Mereka tersenyum bahagia sekaligus merasa lega.
Syifa merasa perutnya terasa hangat. Bahkan mereka masih dalam kondisi menyatu sempurna. Hafiz tidak langsung melepaskan setelah selesai bermain. Ia masih nyaman dengan posisi saat ini.
“Huhh..”
“Huhh..” nafas keduanya terengah.
Cup
Hafiz mencium dagu istrinya membuat Syifa tersenyum kecil. Malam ini Hafiz memperlakukannya dengan sangat lembut. Awalnya terasa sakit, namun hal itu tidak terjadi lama. Justru ia sangat menikmati permainan suaminya.
“Masih sakit?” tanya Hafiz
Syifa menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak, Kak.”
“Tapi?”
Syifa terdiam sejenak. Malu sekali jika harus berkata jujur. Namun, tanpa Syifa menjawab Hafiz sudah tahu jawabannya. Ia bisa melihat dari respon istrinya. Syifa terlihat begitu menikmati permainannya.
“Nggak ada tapi, Kak.” jawabnya dengan malu-malu.
“Kamu sangat menikmatinya, hm!?”
Blush
Kedua pipi Syifa bersemu merah mendengarnya. Ia merasa malu sekaligus salah tingkah secara bersamaan. Syifa terdiam karena tidak bisa mengelak lagi. Apa yang dikatakan Hafiz benar adanya. Ia merasa malu untuk mengakuinya.
“Benar, hm!?” Hafiz masih menuntut jawaban dari istrinya.
"Apasih, Kak? Udah, ah!"
Syifa malu untuk mengakuinya. Apalagi mereka baru pertama kali melakukannya. Syifa dan Hafiz tidak saling mengenal sebelumnya, dan mereka harus ikhlas saat melakukannya. Keduanya masih belajar saling menerima satu sama lain, meskipun sama-sama terkejut.
Hafiz tidak pernah menyesal menikah dengan Syifa. Allah lebih tahu Takdir terbaik menurut-Nya. Sebisa mungkin Hafiz akan membahagiakan istrinya, meskipun Syifa hanyalah istri pengganti. Cinta akan tumbuh karena terbiasa. Hafiz yakin akan hal itu.
"Kak, berat!" Syifa mendorong tubuh Hafiz agar menyingkir dari atas tubuhnya.
"Sshh.."
"Jangan banyak bergerak, Syifa!" ujar Hafiz
"Kenapa, Kak?"
Hafiz memejamkan mata seolah menahan sesuatu. Karena Syifa terus bergerak membuat Singa dalam dirinya kembali bangun. Namun karena hari semakin malam, bahkan sudah memasuki dini hari tidak mungkin ia kembali melanjutkan aktivitas mereka. Karena mau bagaimanapun mereka butuh istirahat setelah aktivitas yang melelahkan sepanjang hari.
Hafiz menegakkan tubuhnya. Ia menatap lekat istrinya membuat jantung Syifa berdebar kencang. Tatapan Hafiz seolah mampu menghipnotisnya. Matanya terlihat tajam namun lembut saat menatapnya. Bahkan Syifa enggan mengalihkan pandangan saat keduanya saling menatap.
"Kenapa, Kak?" tanya Syifa dengan ragu-ragu.
"Kamu mau lagi, hm?"
Syifa mengerjapkan matanya berulang kali. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya. "M-mau apa, Kak?"
"Melanjutkan aktivitas kita barusan!"
Deg
Syifa langsung terdiam. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Mereka baru saja selesai melakukannya. Ia tidak menyangka Hafiz tidak puas hanya dengan satu kali permainan. Hafiz tersenyum smirk melihat respon istrinya. Wajah Syifa terlihat takut-takut, justru hal itu terlihat menggemaskan di matanya.
Hafiz mengelus pipi istrinya dengan lembut. Jarak wajah keduanya cukup dekat. Bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Hidung mancung Hafiz hampir bersentuhan dengan hidung mungil Syifa.
"A-apa Kak Hafiz merasa kurang?" tanya Syifa dengan nada gugup
Hafiz menahan senyum. "Tentu kurang, Syifa."
Syifa menelan ludahnya kasar. Bukannya tidak mau melayani, tapi tubuhnya terasa lelah dan sakit-sakit. Bahkan semua tulangnya serasa ingin patah. Mungkin karena baru pertama kali yang membuat tubuh Syifa belum terbiasa.
"T-tapi..."
"Sstt!" Hafiz mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibir Syifa memintanya untuk berhenti berbicara.
"Tidak ada kata tapi, Syifa. Apa kamu mau mendapat Dosa karena menolak permintaan suami?"
Syifa menggelengkan kepalanya. "Syifa nggak mau, Kak."
"Kalau gitu mari kita lanjutkan aktivitas yang sempat tertunda barusan."
"Emhh.." Syifa melenguh saat Hafiz tiba-tiba bergerak.
Ternyata Hafiz tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia masih ingin melanjutkan, karena satu kali rasanya belum cukup puas. Dan mereka kembali melanjutkan aktivitas malam panjang yang menguras energi. Hafiz tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Malam pertama yang penuh kenangan.
"Owhh.. s**t!" reflek Hafiz mengumpat pelan.
"Enak, Syifa! Saya ingin terus melakukannya." ucapnya dengan nada meracau.
"Kamu sudah membuat saya hampir gila, Syifa."
Kali ini Hafiz melakukannya sedikit lebih kasar dari sebelumnya. Ia tidak bisa mengontrol dirinya untuk tetap perlahan melakukannya. Hafiz hilang kendali. Syifa benar-benar membuatnya gila. Rasa nikmat yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Moment ini tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Moment indah yang akan terkenang selama hidupnya.
"Sshh.. pelanh-pelanhh, Kak!" ujar Syifa dengan nafas terengah.
"Panggil nama saya, Syifa! Suara kamu sangat indah untuk didengar."
Next>>