Part 06

1408 Words
Ceklek Pintu kamar mandi terbuka dan terlihatlah Hafiz yang sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia keluar dengan kondisi yang lebih fresh dari sebelumnya. Ia menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Hafiz mendongak dan seketika tatapannya bertemu dengan mata indah Syifa yang saat ini menatap ke arahnya. Penampilan Syifa masih sama seperti beberapa menit lalu. Termyata dia memenuhi permintaannya untuk tidak berganti pakaian. “Kenapa sekarang jantungku yang berdebar seperti ini?” ujar Hafiz dalam hati. “Padahal aku sendiri yang meminya Syifa untuk tidak berganti pakaian.” “Kak Hafiz sudah selesai mandinya!?” ujar Syifa Hafiz mengangguk pelan. “I-iya.” Karena Hafiz yang hanya menggunakan baju mandi Syifa berinisiatif untuk mengambilkan suaminya pakaian. “Biar Syifa ambilin bajunya, kak!” “Mau pakai kaos rumahan atau baju tidur?” tanya Syifa “—“ bukannya menjawab Hafiz justru melamun menatap pergerakan Syifa. “Kak?” panggil Syifa “Ha? K-kenapa, Syif?” “Kak Hafiz mau pakai baju tidur atau kaos rumahan aja?” “Em.. kaos rumahan aja.” Syifa mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya Syifa berjalan menuju Hafiz sembari membawa pakaian untuk suaminya. Jantung Hafiz berdebar kencang melihat Syifa berjalan menuju ke arahnya. Apalagi pakaian yang dikenakan Syifa terlihat menggoda. Hafiz menelan ludahnya kasar. Ia sedikit memalingkan wajah agar tidak bertatapan langsung dengan istrinya. Ia takut tidak bisa menahan diri. Padahal ia baru saja bersih-bersih. “Ini bajunya, kak!” ujar Syifa “Hmm.. kenapa Syifa harum sekali?” batin Hafiz berucap “I-iya. Terima kasih, Syifa.” lagi-lagi Syifa mengangguk sebagai jawaban. “Mau Syifa bantuin juga pakai bajunya?” “Ha? E-enggak perlu!” “Baiklah.” Hafiz kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Tidak membutuhkan waktu lama ia sudah selesai dengan aktivitasnya. Ia melihat Syifa sedang duduk di pinggir kasur dengan posisi membelakanginya. Punggung Syifa yang putih bersih membuat pikiran Hafiz terbang ke mana-mana. Ia mencoba menahan diri karena takut Syifa belum siap. Lebih baik dirinya istirahat agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Syifa, kamu tidak mau istirahat?” tanya Hafiz “Iya, kak. Sebentar lagi!” “Baiklah.” Hafiz membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi membelakangi Syifa. Setelahnya Syifa menyusul Hafiz merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia melirik punggung suaminya. Ia berdecak karena Hafiz tidur dengan posisi membelakangi. Padahal ia berniat melakukan sesuatu. Akhirnya Syifa memberanikan diri mendekat ke arah Hafiz. “Kak Hafiz!” panggil Syifa sembari menyentuh lengan suaminya. Deg Tiba-tiba tubuh Hafiz berdesir hebat saat mendapat sentuhan dari istrinya. “K-kenapa, Syif?” tanyanya dengan nada gugup. “Kak Hafiz kenapa tidur membelakangi Syifa?” “Em…” “Apa nggak nyaman tidur dengan Syifa? Kalau memang nggak nyaman biar Syifa tidur di sofa aja, kak.” lirihnya Syifa menggeser tubuhnya berniat turun dari kasur. Ia akan tidur di sofa karena takut suaminya kurang nyaman. Merasakan pergerakan Syifa dengan cepat Hafiz berbalik badan dan reflek menarik lengan istrinya. “Jangan Syif!” “Astagfirullah.” Brugh “Awss..” Syifa jatuh tepat di atas tubuh suaminya. Hitungan detik Hafiz menahan nafas saat Syifa jatuh di atas tubuhnya. Di saat itu juga keduanya saling menatap tanpa sengaja. Tubuh mereka mematung karena terkejut. Kejadiannya begitu cepat membuat Syifa tidak bisa menghindar. Entah dorongan dari mana Hafiz menggerakkan tangannya untuk menyelipkan anak rambut Syifa ke belakang telinga. Wajah Syifa terlihat semakin cantik saat dilihat dari jarak dekat. Bahkan sangat cantik. “Kak…” “Kenapa harus tidur di sofa, hm? Saya nyaman aja kok.” jawab Hafiz dengan suara lembut “Syifa pikir Kak Hafiz nggak nyaman.” lirihnya Setelahnya tatapan Hafiz turun ke bawah. Ia menelan ludahnya kasar saat melihat sesuatu yang indah. Tatapannya terus tertuju ke bawah membuat jantungnya berdebar kencang. Nalurinya sebagai laki-laki bergerak begitu saja. Dan tiba-tiba… “Kak Hafiz!” Syifa terkejut karena Hafiz tiba-tiba memutar tubuh mereka. Dan sekarang tubuh Syifa berada di bawah Hafiz. “Syifa!” panggil Hafiz dengan suara berat “I-iya, kak?” “Bagaimana kalau saya tidak bisa menahan diri?” “A-apa maksud Kak Hafiz?” “S-saya…” Hafiz menggantungkan perkataannya. “Kenapa, kak?” “Saya ingin memiliki kamu sepenuhnya, Syif.” Syifa tersenyum kecil. Ia sudah menduga sebelumnya. Bahkan ia sudah mempersiapkan diri untuk disentuh oleh suaminya. Syifa mengelus pipi Hafiz membuat perasaan laki-laki itu tidak karuan. Entah dorongan dari mana Syifa berani melakukan hal tersebut. “Silahkan jika Kak Hafiz menginginkan.” jawab Syifa tanpa keraguan di dalamnya. Hafiz terdiam sejenak. “A-apa kamu yakin?” Syifa mengangguk yakin. “Iya, kak. Syifa sudah yakin dengan keputusan ini.” “Lagipula kita pasangan suami-istri, jadi wajar saja jika kita melakukannya, kak.” “Hal itu juga sudah menjadi kewajiban Syifa melayani Kak Hafiz sebagai seorang suami.” lanjutnya dengan penuh keyakinan. Jawaban Syifa membuat hati Hafiz berbunga-bunga. Rasanya begitu bahagia. “Terima kasih.” ucapnya sembari tersenyum manis. “B-boleh saya memulai?” Syifa mengangguk sembari tersenyum. Hafiz memegang kepala Syifa lalu membacakan Doa untuk keduanya. “Bismillah, Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa.” “Aamiin.” Syifa mengaminkan Doa yang dipanjatkan suaminya. Jantung keduanya berdebar kencang. Setelah ini Syifa akan menjadi Hafiz seutuhnya, dan begitupun dengan sebaliknya. Hafiz mengelus pipi Syifa dengan lembut. Tatapannya terlihat begitu lekat membuat perasaan Syifa tidak karuan. Padahal sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri untuk hal ini. Hafiz mendekatkan wajahnya membuat Syifa menahan nafas. Hidung mereka bersentuhan, dan… Cup Bibir keduanya menyatu dengan sempurna. Hafiz terdiam sejenak sembari menatap respon Syifa. Mata wanita itu terpejam sembari menahan nafas. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin lepas dari tempatnya. Perlahan Hafiz mulai menggerakkan bibirnya. Ia meraih kedua tangan Syifa lalu menggenggamnya dengan lembut. “Emhh..” reflek Syifa melenguh pelan. Suara Syifa membuat Hafiz tidak terkendali. Seketika ia tidak bisa berpikir jernih. Hafiz bergerak semakin kasar membuat Syifa sedikit kewalahan saat mengimbangi pergerakannya. “Enghh..” Hafiz melepas genggaman tangannya. Ia bergerak menyusuri keindahan yang dimiliki sang istri. Sampailah pada dua benda kenyal yang membuatnya merasa gemas. Ia memberanikan diri menyentuhnya. “Emhh.. kak!” lenguh Syifa Dan lama-kelamaan Hafiz merasa ketagihan. Tempat itu akan menjadi favoritenya setelah ini. Ia bermain di area sana karena merasa gemas. Ia seperti sedang bermain squisy. “Emhh..” lenguhnya “Terasa pas di tangan saya, Syifa.” ujar Hafiz dengan nada meracau. “Pelanhh, kak!” “Aku tidak bisa jika hanya melakukan ini. Aku akan ketagihan setelah ini.” batin Hafiz berucap. Hafiz semakin kencang memegangnya, hal itu membuat Syifa meringis kesakitan, namun ada rasa nikmat di dalamnya. Tubuhnya bergetar hebat saat mendapat sentuhan dari sang suami. Mereka baru pertama kalinya merasakan kenikmatan ini. Hafiz beralih pada leher Syifa. Ia meninggalkan tanda kepemilikan di sana. “Kak Hafiz!” panggil Syifa sembari meremas rambut suaminya. Syifa menggigit bibir bawahnya agar tidak terlalu kencang saat bersuara. Ia takut ada yang mendengar suaranya, meskipun hal itu tidak mungkin terjadi. Mereka benar-benar menikmati malam ini. “Awss.. pelan-pelan, kak!” ringis Syifa Hembusan nafas Hafiz di leher Syifa membuat wanita itu bergidik geli. Sesekali ia menggeliat karena merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Apalagi tangan Hafiz tidak mau diam di area sensitifnya. “Kak…” “Emhh..” lenguh Syifa. Hafiz bergerak turun semakin ke bawah. Ia tersenyum setelah sampai di area favoritnya. Ia menelan ludahnya kasar. Rasanya masih seperti mimpi baginya. Tanpa berpikir panjang Hafi merobek kain tipis tersebut. Ia tidak ingin ada yang menghalangi. Krekk “Kak Hafiz!” reflek Syifa memekik karena terkejut. Dan sekarang terlihatlah pemandangan indah tepat di depan Hafiz. Laki-laki itu menelan ludahnya berulang kali. Jantungnya berdebar kencang. Pemandangan yang sangat indah. Untuk pertama kalinya ia melihat dengan bebas pemandangan seindah ini. Syifa menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Ia merasa malu melihat tatapan Hafiz. Tatapannya terlihat seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Seketika Hafiz menatapnya tidak suka karena Syifa menghalangi pemandangan indah itu. “Jangan ditutup! Saya tidak suka kamu melakukan hal itu.” ujar Hafiz sembari menarik kedua tangan Syifa. “T-tapi…” “Saya suka melihatnya secara bebas seperti ini.” “Syifa malu, kak!” cicitnya “Tidak usah malu karena saya suami kamu, Syifa.” Hafiz menunduk. Rasanya tidak puas jika hanya menatap keindahan itu tanpa ikut merasakannya. Seketika Hafiz langsung minum di sumbernya. Ia minum seperti bayi yang sedang kehausan. Bahkan hal itu membuat Syifa terkejut. “Kak…” Syifa melenguh panjang. Tubuhnya bergetar hebat saat Hafiz melakukan itu. Bahkan perutnya seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di atasnya. Terasa menggelitik. “Emhh.. Kak Hafiz!" Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD