Part 05

1025 Words
Cup Deg Tubuh Syifa mematung di tempat saat merasakan bibir keduanya menyatu. Tubuhnya terasa kaku seolah tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan otaknya saat ini tidak bisa bekerja dengan baik. “Ya Allah, apa ini?” batinnya berucap Hafiz mengikuti kata hatinya untuk melakukan hal tersebut. Entah dorongan dari mana ia berani melakukan hal tersebut. “Ya Allah, apa yang sudah Hafiz perbuat?” batinnya berucap “Tapi sudah terlanjur.” Perlahan Hafiz memejamkan mata lalu menggerakkan bibirnya sesuai kata hatinya. Ia bergerak menangkup wajah Syifa untuk memperdalam apa yang dilakukan. Karena Syifa tidak tahu harus melakukan apa ia memilih diam dan menurut. “Emhh..” reflek Syifa mengeluarkan suaranya karena pergerakan Hafiz. Hafiz tersenyum kecil lalu menarik diri dari Syifa untuk memberi keduanya nafas sejenak. “Huhh..” Deg.. deg.. deg Jantung Syifa berdebar kencang. Keduanya saling menatap dengan jarak wajah yang cukup dekat. Lidah Syifa terasa keluh saat ingin berbicara. Ibu jari Hafiz mengelus pipi Syifa dengan lembut. Ia menginginkan lagi. “Apa kamu tidak keberatan jika saya melakukannya, Syifa?” tanya Hafiz dengan hati-hati. “—“ Syifa terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tatapan Hafiz tertuju pada bibir merah alami milik istrinya. Mereka sudah Sah menjadi pasangan suami-istri. Karena itu Syifa memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan suaminya. Ia tidak boleh menolak permintaan Hafiz. “B-boleh, kak.” Entahlah Syifa tiba-tiba langsung mengizinkan suaminya. Hafiz tersenyum mendengar jawaban istrinya. Tanpa menunggu lama ia kembali menyatukan bibir keduanya. “Emhh..” reflek Syifa melenguh pelan. Hafiz melakukannya dengan lembut agar tidak sampai menyakiti sang istri. Ia mulai melangkah membuat tubuh Syifa terdorong ke belakang. Langkah kakinya mengikuti ke mana Hafiz membawanya. Dan… Brugh “Awss..” Syifa meringis kesakitan saat tubuh keduanya jatuh di atas tempat tidur dengan posisi Hafiz menindih tubuhnya. Posisi mereka masih sama. Bahkan saat ini Hafiz lebih leluasa untuk melakukan sesuai keinginannya. Lama-kelamaan mereka hanyut dalam permainan itu. Bahkan Syifa mulai mengimbangi apa yang suaminya lakukan. “Emhh..” lenguhnya Tangan Hafiz bergerak turun ke bawah mencari sesuatu. Ia mengikuti kata hatinya untuk melakukan hal tersebut. Sampailah pada benda kenyal milik istrinya. Ia sempat terkejut, namun setelah itu menormalkan mimik wajahnya. Tangan Hafiz sedikit gemetar saat menyentuhnya. Wajar hal itu terjadi karena selama ini ia selalu menjaga batasan dengan yang bukan mahromnya. Mereka sama-sama beruntung karena selama ini saling menjaga dengan lawan jenis. “Kak…” Syifa menahan pergerakan tangan suaminya. “Huhh..” “Huhh..” Hafiz menarik diri untuk mengambil nafas sejenak. Hafiz menyatukan kening keduanya. Nafas mereka terengah. Mereka saling berebut untuk mengambil nafas. Hafiz tersenyum karena Syifa mau memenuhi keinginannya. Ia pikir Syifa akan menolak karena belum siap. Untuk saat ini Hafiz tidak ingin langsung melakukannya. Ia ingin memberi waktu pada Syifa karena dirinya tidak ingin bersikap egois. Mau bagaimanapun mereka seharian telah menemani para tamu undangan. Yang pastinya mereka lelah secara fisik. Tubuh keduanya butuh istirahat. “Terima kasih.” ujar Hafiz sembari mengusap area bibir Syifa yang basah karena perbuatannya. Syifa tersenyum kecil. “Tidak perlu berterima kasih, kak. Karena hal ini sudah menjadi kewajiban Syifa untuk melayani Kak Hafiz.” Hafi tersenyum menanggapi perkataan Syifa. “Yaudah, saya mau bersih-bersih dulu!” Syifa mengangguk kaku. “I-iya, kak.” Hafiz menegakkan tubuhnya. Baru dua langkah ia kembali berhenti lalu berbalik badan menatap istrinya yang sedang duduk di pinggir kasur. Syifa merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan. Ia menelisik penampilan Syifa. Dirinya tidak menyangka bisa menyentuh bagian-bagian tertentu dari istrinya. “Halal mah bebas.” ucapnya dalam hati “Syifa!” panggil Hafiz “Iya, kak?” “Em.. kamu tidak perlu berganti pakaian lagi, karena saya suka dengan pakaian kamu sekarang.” Blush Kedua pipi Syifa bersemu merah mendengar perkataan Hafiz. Ia merasa malu sekaligus salah tingkah secara bersamaan. Syifa menunduk menghindari tatapan suaminya karena malu. “I-iya, kak.” jawabnya dengan gugup dan malu-malu. Hafiz tersenyum kecil. Setelahnya ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Hafiz menyandarkan tubuhnya di pintu. Ia memegang dadanya yang berdebar kencang seolah ingin terlepas dari tempatnya. Kedua pipinya bersemu merah karena malu. Ia teringat dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Hafiz bahkan tidak percaya dengan dirinya bisa melakukan hal itu. Sentuhan itu masih terasa di tangannya. Bahkan rasanya masih teringat di kepalanya. “Astagaa..” Hafiz mengusap wajahnya secara kasar. “Lebih baik aku sekarang mandi setelah itu istirahat.” gumamnya “Perasaan apa ini?” debaran jantung itu begitu terasa. Untuk saat ini Hafiz belum bisa mengetahui tentang apa yang dirasakan. “Huft.” Hafiz menghela nafas. Di sisi lain, Syifa merasakan hal yang sama. Ia menyentuh bibirnya karena teringat dengan apa yang dilakukan Hafiz beberapa menit lalu. Untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu. Tapi tidak masalah karena ia sudah melakukannya pada orang yang tepat. Hafiz adalah suaminya, jadi wajar jika dia melakukan hal itu. “Aakkhh..” “Malu sekali!” Syifa menutup wajahnya karena malu. Bahkan kedua pipinya saat ini bersemu merah seperti memakai blush on. “Ya Allah, ternyata menikah dengan Kak Hafiz tidak seburuk itu.” “Syifa terlalu takut dengan sesuatu hal yang belum terjadi. Dan sekarang Engkau menunjukkan sendiri, Ya Rabb.” gumamnya Syifa menatap tubuhnya sendiri. Ia akan menyerahkan sepenuhnya dirinya pada Hafiz, karena laki-laki itu pantas mendapatkannya. Jika mereka berhubungan keduanya akan mendapat pahala. Sekalipun mereka menikah karena terpaksa Syifa ikhlas melakukannya. “Bismillah, aku akan menyerahkan diri ini pada Kak Hafiz sepenuhnya.” gumam Syifa dengan penuh keyakinan. “Aku akan menunggu Kak Hafiz selesai bersih-bersih.” Sembari menunggu Hafiz keluar dari kamar mandi Syifa merapikan penampilannya kembali. Ia sudah siap untuk memberikan hak'nya pada Hafiz. Syifa menatap penampilannya dari pantulan kaca di hadapannya. Ia menelan ludahnya kasar. Bahkan ia baru menyadari jika penampilannya cukup terbuka. Bahkan ia geli sendiri melihatnya. "Astagfirullah. Ternyata sejak tadi penampilanku seperti ini." "Tapi nggak papa. Lagipula untuk suamiku sendiri." gumam Syifa sembari tersenyum penuh percaya diri. Syifa mengambil parfum lalu menyemprotkan parfum tersebut ke tubuhnya. Hal itu Hafiz semakin tertarik dengannya. Ia sudah bertekat untuk menyenangkan Hafiz malam ini. Tidak ada yang salah dari perbuatannya, karena mereka sudah halal. Malam ini adalah Malam Zafaf bagi mereka berdua. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD