Part 04

841 Words
“K-kak Hafiz!” ujar Syifa sembari menutupi dadanya dengan kedua tangan. Syifa melebarkan matanya karena terkejut. Belum selesai ia mengambil baju tiba-tiba Hafiz sudah kembali masuk ke dalam kamar. Tubuh keduanya mematung karena sama-sama terkejut. Bahkan Hafiz sendiri tidak tahu kalau Syifa memakai baju seperti itu. “K-kamu kenapa memakai baju seperti itu, Syifa?” tanya Hafiz dengan nada gugup Syifa menggeleng pelan. Tidak ada yang berniat memakai baju seperti ini. Bahkan dirinya terpaksa. Justru Hafiz sendiri yang mengambil baju ini untuknya. Padahal ia merasa tidak punya baju seperti ini. Lalu dari mana Hafiz mendapatkannya? “E-enggak, kak. Ini bukan baju Syifa.” jawabnya dengan gugup Glek Hafiz menelan ludahnya kasar. Mau bagaimanapun ia laki-laki normal. Apalagi mereka hanya berdua di dalam ruangan tertutup seperti ini. Nalurinya sebagai laki-laki muncul begitu saja. Apalagi Syifa adalah kekasih halalnya, karena itu mereka bebas melakukan apapun. “Ini juga Syifa mau ambil baju lain, kak.” “Sebentar!” Syifa kembali berbalik badan lalu mencari baju lain dengan tergesa-gesa. Karena panik membuatnya tidak fokus mencari baju. Apalagi tangannya terlihat gemetar karena keberadaan suaminya, Hafiz. Hafiz menatap Syifa dari belakang. Tatapannya begitu lekat membuat jantungnya berdebar kencang. Untuk pertama kalinya ia satu ruangan dengan seorang perempuan dalam situasi seperti ini. Apalagi Syifa adalah Istri Sah’nya. Tanpa sadar Hafiz berjalan mendekat ke arah Syifa. Tatapannya terus tertuju ke arah perempuan itu. Syifa tidak menyadari jika Hafiz berdiri tepat di belakang tubuhnya. “Ya Allah, tenangkan Syifa!” batinnya berucap Dan tiba-tiba… Grep Deg Tubuh Syifa mematung saat mendapat pelukan secara tiba-tiba dari arah belakang. Pergerakannya untuk mencari baju terhenti seketika. Tidak mungkin dirinya sedang bermimpi. Ia sadar sepenuhnya. Pelukan itu terasa begitu nyata di tubuhnya. “Ya Allah, apa ini? Apa yang Kak Hafiz lakukan?” batin Syifa berucap Jantung Syifa berdebar kencang. Lidahnya terasa keluh, tubuhnya terasa kaku, seolah mati rasa. Syifa tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Untuk pertama kalinya ia mendapat pelukan dari seorang laki-laki, selain Ayahnya. “Syifa!” panggil Hafiz dengan suara berat. “—“ Syifa terdiam dengan perasaan tidak karuan. “Kamu berhasil menggoda saya, Syifa.” Deg.. deg.. deg.. Syifa melebarkan matanya. Apa-apaan ini? Ia sama sekali tidak menggoda suaminya. Justru Hafiz yang salah sejak awal. Dia tidak melihat baju yang diambil dan berakhir seperti sekarang. Bahkan hanya menatap suaminya, Syifa tidak berani melakukan hal itu, apalagi sampai menggodanya. Ia tidak seberani itu untuk melakukan hal lebih. “A-apa maksud Kak Hafiz? Syifa tidak menggoda Kak Hafiz.” gugupnya Hafiz tersenyum kecil. Menggoda atau tidak, tapi sekarang dirinya sudah tergoda. “Tapi kenapa kamu memakai pakaian seperti ini, hm?” suara Hafiz terdengar serak membuat perasaan Syifa campur aduk. “I-ini Kak Hafiz yang mengambilkan.” Speechless Hafiz terdiam. “Karena itu saat Kak Hafiz keluar kamar Syifa berniat mengambil baju lain. Tapi ternyata Kak Hafiz lebih dulu kembali sebelum Syifa mengambil baju lain.” Syifa mencoba menjelaskan agar suaminya tidak salah paham. “Ya Allah, jadi ini salahku?” batin Hafiz berucap “Astagfirullah. Kenapa bisa!?” Namun semuanya sudah terjadi. Dan saat ini ia sedang memeluk istrinya. Tidak ada yang perlu disesali karena apapun yang terjadi atas kehendak Allah. Mungkin, dengan kelalaian Hafiz yang membuat hubungan mereka bisa lebih dekat seperti sekarang. “Lepasin, kak! Syifa mau ambil baju lain.” gugupnya Syifa mencoba melepas pelukan Hafiz namun laki-laki itu justru semakin mengeratkan pelukannya. “Kak…” Hafiz memutar tubuh Syifa agar menghadap ke arahnya. Ia mengukung tubuh Syifa membuat perempuan itu tidak bisa bergerak. Keduanya saling menatap. Jantung Syifa serasa ingin lepas dari tempatnya melihat jarak wajah keduanya yang cukup dekat. Bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. “Ya Allah, apa yang ingin Kak Hafiz lakukan?” batin Syifa bertanya-tanya Tatapan Hafiz tertuju pada bibir kemerahan milik istrinya. Ia menelan ludahnya berulang kali karena mencoba menahan diri agar tidak melakukan hal lebih. Tapi, hatinya mengatakan untuk melakukan lebih dari ini. “K-kak Hafiz mau ngapain?” Syifa menahan d**a bidang suaminya saat Hafiz semakin mendekat ke arahnya. “—“ Hafiz terdiam. Ia semakin mendekat tidak peduli dengan pertanyaan Syifa. Hafiz sudah dikenalikan oleh hati dan pikirannya. Mereka bekerja sama untuk mendorong Hafiz melakukan lebih dari ini. Tidak ada yang salah karena Syifa kekasih halalnya. “Kak…” dengan cepat Syifa memalingkan wajahnya saat Hafiz ingin menciumnya. Untung saja pergerakan Hafiz cukup lambat, hal itu membuat Syifa masih sempat untuk menghindar. Hafiz menangkup wajah Syifa membuat perempuan itu menatap ke arahnya. Jarak wajah keduanya cukup dekat. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. “Kak Hafiz mau apa?” tanya Syifa dengan nada gugup “Saya mau merasakan ini, Syif!” jawab Hafiz sembari mengelus bibir bawah Syifa dengan lembut. Bahkan tatapannya tidak pernah lepas dari bibir itu. “Ya Allah, apa yang harus Syifa katakan? Syifa belum siap.” ucapnya dalam hati Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Syifa membuat Hafiz beriniastif semakin mendekatkan wajah mereka. Hati dan pikirannya sudah bekerja sama mendorong dirinya untuk melakukan hal itu. Syifa menahan nafas saat bibir keduanya ingin bersentuhan. Bahkan Hafiz sudah memejamkan mata. Dan... Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD