“Hafiz, masuk ke kamar sana! Syifa pasti sudah nungguin kamu.” ujar Ramdan
Hafiz tersenyum canggung. Justru ia bergabung dengan keluarganya yang lain karena belum siap masuk ke kamar. Ia tidak tahu harus melakukan apa setelah masuk kamar. Saat ini ia masih menyiapkan diri untuk tidur berdua bersama istrinya, Syifa.
“Nanti saja, Pa.”
“Kok nanti saja? Sekarang Hafiz!” Ramdan gemas sendiri dengan putranya. Bukannya langsung menurut malah membantah.
“Yaudah, iya.”
Akhirnya Hafiz pamit pada keluarganya yang lain untuk istirahat terlebih dulu. Ia berjalan menuju kamar Syifa. Tidak, lebih tepatnya sekarang menjadi kamar mereka berdua. Jantungnya tidak bisa diam sejak tadi. Karena tidak terbiasa dekat dengan seorang perempuan membuat dirinya bingung harus melakukan apa.
Hafiz berdiri di depan kamar Syifa. Ia merasa ragu saat ingin mengetuk pintu tersebut. “Ketuk nggak ya?” gumamnya
“Bismillah.”
Tok.. tok.. tok
Hafiz memberanikan diri mengetuk pintu kamar istrinya. Karena tidak mungkin ia berdiam diri di depan kamar seperti ini. Dan tidak lama Syifa membuka pintu kamarnya.
Ceklek
Syifa terkejut saat melihat keberadaan suaminya. Ia pikir orang lain yang mengetuk pintu kamarnya. Syifa menunduk menghindari tatapan langsung dengan suaminya. Ia masih malu dan belum terbiasa.
“Masuk, kak!” ujar Syifa dengan nada gugup
“Terima kasih.”
Hafiz masuk ke dalam kamar. Setelahnya ia duduk di sofa karena tidak tahu harus melakukan apa. Seharusnya mereka bersikap romantis karena baru saja menikah. Tapi mereka bukan pasangan seperti di luar sana, mereka menikah karena terpaksa.
“Em.. Kak Hafiz mau bersih-bersih dulu atau Syifa dulu?” Syifa memberanikan diri untuk bertanya karena takut suaminya ingin mandi terlebih dulu.
“Kamu dulu saja.” Syifa mengangguk sebagai jawaban
Beberapa menit kemudian
Membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk mandi. Setelah selesai Syifa berniat langsung ganti baju, namun sayangnya ia lupa tidak membawa baju ganti. “Astaga..” ucapnya sembari menutup mulut
“Aku lupa bawa baju ganti.” gumamnya
“Gimana ini?” Syifa panik sendiri karena kelalaiannya.
Bisa-bisanya ia lupa tidak membawa baju ganti. Karena biasanya ia berganti pakaian di dalam kamar. Tapi karena sekarang ia sudah menikah kebiasaan itu akan dirinya ubah. Belum 24 jam ia menikah tapi sudah lupa.
“Nggak mungkin aku keluar hanya menggunakan handuk seperti ini.”
Syifa tidak memiliki keberanian akan hal itu. Apa yang akan Hafiz pikirkan jika ia keluar dalam kondisi seperti ini. Apalagi mereka menikah bukan karena cinta, melainkan karena terpaksa. Syifa takut Hafiz berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Apalagi berpikir seperti menggodanya.
Syifa menggelengkan kepalanya berulang kali. “Enggak. Aku nggak mau.”
“Terus gimana sekarang?”
Syifa berpikir keras untuk bisa keluar dari kamar mandi. Dan setelah berpikir ia menemukan sebuah cara namun tidak yakin dengan apa yang dipikirkan. Tapi setidaknya hal itu lebih baik daripada keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk.
Ceklek
Perlahan Syifa membuka pintu kamar mandi. Ia melihat Hafiz masih duduk di sofa sembari bermain ponsel. Ia kembali menutup pintu kamar mandi lalu meyakinkan dirinya sendiri untuk meminta bantuan pada suaminya.
“Kak Hafiz!” panggil Syifa dari dalam kamar mandi
“Iya. Kenapa?” Hafiz langsung mendengar panggilan istrinya.
“Em.. Syifa minta tolong, boleh?” tanyanya dengan ragu-ragu
Hafiz mendekat ke arah pintu kamar mandi agar suara Syifa bisa terdengar dengan jelas. “Mau minta tolong apa?”
“Em.. tolong ambilin baju Syifa di lemari, kak. Syifa lupa bawa baju ganti.”
“—“ Hafiz terdiam.
Hafiz menelan ludahnya kasar. Apa ia harus melakukan hal itu? Bahkan ia belum pernah memegang baju perempuan, selain Ibunya. Dan itupun saat masih kecil. “Kak Hafiz masih di sana kan?” panggil Syifa karena tidak mendengar jawaban suaminya
“Ah, iya. Saya dengar kok.”
“Kak Hafiz nggak keberatan?”
Hafiz tersenyum kecil. “Nggak papa. Saya ambilin sebentar!”
“Em.. bajunya terserah, ya?”
“Iya, kak. Terserah Kak Hafiz aja.”
Setelahnya Hafiz berjalan menuju lemari Syifa. Bahkan saat ingin membukanya ia merasa ragu, karena benda di hadapannya saat ini berisi barang-barang pribadi milik istrinya.
Akhirnya Hafiz memberanikan diri untuk membuka lemari tersebut. Ia tidak ingin membuat Syifa menunggu lama, apalagi dia baru selesai mandi yang pastinya merasa dingin. Pintu lemari itu terbuka dan terlihatlah pakaian istrinya, termasuk pakaian dalam miliknya.
“Astagfirullah.” jantung Hafiz seketika berdebar kencang saat melihat itu.
Buru-buru Hafiz mengambil pakaian Syifa. Ia mengambilnya dengan asal karena tidak baik untuk jantungnya. Bahkan saat mengambil pakaian dalam ia tidak berani melihatnya. Yang terpenting ia sudah mengambilnya.
Hafiz kembali ke depan kamar mandi. “Syifa!” panggilnya dengan suara berat
“I-iya, kak.”
“Tolong buka sedikit pintu kamar mandinya. Saya sudah ambilin baju ganti buat kamu.”
“Iya, kak.”
Syifa membuka sedikit pintu kamar mandi lalu mengulurkan tangannya. Hafiz menaruh baju itu di atas tangan Syifa. “Terima kasih, kak.”
“Hmm..” Hafiz hanya bergumam sebagai jawaban.
Syifa kembali menutup pintu kamar mandi dan setelahnya Hafiz melangkah keluar. Ia ingin mengambil nafas sejenak. Bukan hanya itu, ia juga ingin menormalkan detak jantungnya kembali.
Hafiz memegang dadanya yang berdegup kencang. “Normal nggak sih ini?” gumamnya
Di sisi lain, Syifa memakai bajunya di dalam kamar mandi. Ia melebarkan matanya saat melihat pakaian yang diambil oleh Hafiz. “Astagfirullah.” Reflek ia beristigfar saat melihat baju tersebut.
Syifa melebarkan matanya karena terkejut. Ia menatap pakaian itu dengan tatapan tidak percaya. Bahkan ia belum pernah melihat pakaian itu sebelumnya. “Aku nggak punya pakaian seperti ini sebelumnya. Tapi kenapa bisa diambil Kak Hafiz?”
“Enggak. Ini pasti salah!”
“Ini bukan baju aku.”
“Huhh..” Syifa menghela nafas lelah.
Syifa membuka pintu kamar mandi berniat memanggil suaminya kembali. Namun sayangnya ia tidak menemukan keberadaan Hafiz. Laki-laki itu tidak ada di dalam kamar. “Di mana Kak Hafiz?”
“Sepertinya dia keluar kamar.”
Hal itu digunakan Syifa sebaik mungkin. Ia memakai baju tersebut dengan terpaksa dan setelahnya keluar dari kamar mandi. Ia berani keluar karena Hafiz sedang pergi. Sebelum laki-laki itu kembali ia menggunakan kesempatan itu untuk mengambil baju yang lebih layak.
“Bisa-bisanya Kak Hafiz mengambil baju seperti itu untukku. Dari mana dia mendapatkannya?” gerutu Syifa
Tanpa Syifa sadari Hafiz masuk ke dalam kamar. Karena sedang panik membuatnya tidak menyadari hal tersebut. Ia masih sibuk mencari pakaiannya yang cocok. "Syifa!" panggil Hafiz
Deg
Tubuh Syifa mematung di tempat mendengar suara suaminya. Ia bahkan belum selesai memilih baju yang akan digunakan. Karena terhalang pintu lemari membuat Hafiz tidak bisa melihat kondisi istrinya saat ini. Ia melangkah mendekat ke arah Syifa karena dirinya juga ingin bersih-bersih. Tubuhnya terasa lengket setelah melakukan aktivitas seharian penuh.
"Kamu sudah..."
Deg
Seketika Hafiz menghentikan ucapannya. Tubuhnya mematung melihat penampilan istrinya saat ini. Baru saja ia menormalkan detak jantungnya, tapi sekarang penampilan Syifa justru membuat jantungnya serasa ingin lepas detik itu juga.
"Ya Allah, apa yang harus Syifa lakukan sekarang?" batinnya berucap
Next>>