BAB 2

1492 Words
“Sialan, kenapa bibir gue masih kerasa agak bengkak begini, sih?” Audrey menyentuh bibir bawahnya di depan cermin kamar mandi. Rasa hangat dan sedikit kebas bekas ciuman semalam seolah belum menguap sama sekali. Setiap kali ia memejamkan mata, aroma sandalwood bercampur tembakau mahal milik pria bertopeng perak itu mendadak terbayang lagi. Sensasi yang sukses membuat dadanya berdebar tidak karuan sepanjang malam. “Drey! Lu masih di dalam toilet?” teriak Monica sambil mengetuk pintu kamar mandi kontrakan mereka berulang kali. “Gue mau pipis, cepat dong! Keburu telat kita!” Audrey membuka pintu kamar mandi dengan wajah masam. “Iya, iya, ini keluar. Nggak usah gedor-gedor kayak mau menagih utang gitu bisa?” “Lu kenapa sih dari tadi pagi senyam-senyum sendiri sambil pegang bibir?” cetus Monica penuh selidik sambil menatap Audrey curiga. “Jangan-jangan pria asing yang menyelamatkan lu semalam sempat ngapa-ngapain lu lagi?” “Nggak ada! Ngaco lu kalau ngomong!” sergah Audrey cepat, berbuat seolah-olah tidak ada yang terjadi. “Gue cuma masih kesal aja gara-gara aksi nekat lu nyiram Felix semalam. Untung kita nggak masuk sel!” “Tapi kan puas!” sahut Monica dari dalam toilet sambil tertawa lepas. “Muka si b******k itu pas kena jus jeruk bener-bener priceless banget!” Audrey menggelengkan kepala, memilih segera merapikan kemeja putih dan rok span hitamnya. Hari ini ia harus kembali ke dunia nyata, menjadi staf administrasi biasa di PT Utama Group. Ia tidak boleh terlambat kalau tidak mau kena omel kepala divisinya. Suasana lobi kantor PT Utama Group pagi itu terasa beda dari biasanya. Beberapa karangan bunga besar berjejer rapi di dekat pintu masuk. Para staf wanita heboh merapikan riasan wajah mereka di depan cermin lift, sementara para staf pria sibuk membetulkan letak dasi. “Ada paan sih rame-rame begini?” pamer Audrey begitu sampai di meja kerjanya. Ia menatap Mbak Rini, rekan kerja senior di sampingnya, yang sedang sibuk memakai lipstik merah menyala. “Lu belum baca email dari sekretariat direksi, Drey?” tanya Mbak Rini tanpa mengalihkan pandangan dari cermin kecilnya. “Belum. Gue baru aja menempelkan kartu absensi,” sahut Audrey jujur. Mbak Rini langsung mendekatkan kursinya ke meja Audrey dengan ekspresi heboh. “Hari ini General Manager baru kita mulai masuk! Gosipnya sih dia anak pemilik konsorsium besar yang baru pulang dari luar negeri. Masih muda, ganteng, tapi dinginnya minta ampun.” “Oh, bos baru,” sahut Audrey manggut-manggut santai. Ia menarik kursi kerja, berniat menyalakan komputer. “Kirain ada pembagian bonus tahunan.” “Dih, datar banget respons lu!” dengkus Mbak Rini gemas. “Lu nggak penasaran apa? Kata anak HRD, mukanya itu kayak model majalah bisnis! Pokoknya tipe-tipe pria idaman banget deh!” “Mbak, mau bos lama atau bos baru, tugas input laporan kita kan tetap numpuk,” seloroh Audrey pendek. “Mending fokus kerja daripada ekspektasi ketinggian.” Belum sempat Mbak Rini membalas ucapan Audrey, suara pengumuman dari pengeras suara kantor membahana. Seluruh staf divisi administrasi dan operasional diminta segera berkumpul di main hall lantai lima untuk menyambut kedatangan sang GM baru. “Tuh kan! Cepat, Drey, merapikan baju lu! Jangan sampai kelihatan kusam di depan bos baru!” seru Mbak Rini seraya menarik tangan Audrey paksa. Audrey hanya bisa pasrah diseret menuju main hall. Ruangan besar berlantai marmer itu sudah dipenuhi puluhan karyawan yang berbaris rapi. Suasana terasa tegang sekaligus bersemangat. Audrey memilih berdiri di barisan paling belakang, tepat di balik tubuh bongsor Pak Bambang dari divisi logistik. Posisinya aman untuk bersandar dan menguap tanpa terlihat oleh jajaran direksi di depan. “Perhatian semuanya,” suara Pak HRD terdengar menggema di mikrofon. “Pagi ini kita menyambut kedatangan pimpinan baru kita yang akan mengarahkan operasional PT Utama Group ke depan. Mari kita sambut, Bapak Oliver Danendra.” Tepuk tangan riuh langsung membahana di seluruh ruangan. Audrey yang tadinya sibuk menunduk menatap ujung sepatunya refleks mendongak saat mendengar nama itu. Langkah kaki terdengar mantap menapak lantai marmer. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap berpotongan pas badan berjalan masuk didampingi jajaran komisaris. Postur tubuhnya sangat tinggi, bahunya lebar, dan cara berjalannya memancarkan aura d******i yang kuat. Audrey mendadak mematung. Tatapannya tertuju pada gestur pria itu saat membetulkan kancing jasnya. Tunggu ... tinggi badan itu ... batin Audrey. Jantungnya mendadak berdesir aneh. Pria bernama Oliver itu memutar tubuhnya menghadap para karyawan. Wajahnya sangat tampan dengan garis rahang tegas dan hidung mancung yang sempurna. Namun, bukan hanya ketampanannya yang membuat napas Audrey tertahan di tenggorokan. Saat Oliver mengangkat tangan kanannya untuk menyapa para karyawan, pendar cahaya lampu gantung memantul di pergelangan tangannya. Pria itu mengenakan jam tangan kulit hitam dengan rangka perak berukiran rumit—sebuah jam tangan langka yang sangat spesifik. Jam tangan itu ... Mata Audrey membelalak lebar. Ingatannya langsung terlempar ke kejadian semalam di balik pilar hotel. Jam tangan berukir perak itu adalah jam tangan yang sama persis dengan milik pria bertopeng yang memojokkan dan menciumnya di lorong! “Gila ... Nggak mungkin, kan?” bisik Audrey lirih dengan suara gemetar. Bukan cuma jam tangannya. Postur tubuh, rahang tegas, dan bahu lebar itu identik dengan pria semalam. Bahkan saat Oliver melintas di depan barisan, hembusan angin tipis membawa aroma parfumnya yang sangat khas. Aroma sandalwood bercampur tembakau mahal yang masih membakar ingatan Audrey sejak tadi pagi. “Mampus gue ... Mampus!” gumam Audrey panik setengah mati. Kepanikan langsung menyerang seluruh kesadaran Audrey. Pria bertopeng yang menyergapnya, menciumnya secara brutal, dan menyuruhnya diam di lorong hotel semalam adalah bos barunya sendiri! “Drey, lu kenapa sih geser-geser gitu?” bisik Mbak Rini heran karena Audrey terus bergeser ke kanan dan ke kiri. “Nggak apa-apa, Mbak. Kaki gue mendadak agak kram,” kilih Audrey beralasan. Audrey makin merapatkan tubuhnya di balik punggung lebar Pak Bambang. Ia menundukkan kepala sejauh mungkin, berpura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya yang sebenarnya tidak lepas sama sekali. Ia berdoa dalam hati agar bumi mendadak terbelah dan menelannya bulat-bulat detik ini juga. Kalau Oliver mengenali wajahnya dari semalam, tamat sudah riwayat kariernya di perusahaan ini. “Selamat pagi semuanya,” suara Oliver terdengar menggelegar melalui pengeras suara. Suara itu. Suara berat, dalam, dan penuh intimidasi yang persis sama dengan bisikan di telinganya semalam. Audrey makin merinding. Ia memejamkan mata rapat-rapat di balik punggung Pak Bambang, mencoba menghapus bayangan ciuman panas di lorong hotel yang mendadak berputar liar di kepalanya. “Saya berharap kita semua bisa bekerja sama secara profesional,” lanjut Oliver singkat. “Saya tidak suka karyawan yang tidak efisien, apalagi yang suka membuat drama di luar jam kerja.” Kalimat terakhir Oliver terasa seperti sindiran menusuk yang ditujukan tepat ke ulu hati Audrey. Audrey meremas ujung kemejanya, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. “Baik, terima kasih atas pengarahannya, Pak Oliver,” sahut Pak HRD seraya mengangguk hormat. “Sekarang Pak Oliver bisa berkeliling sebentar untuk menyapa tim administrasi dan operasional.” “Bagus,” jawab Oliver pendek. Audrey makin panik saat mendengar derap langkah kaki Oliver mulai bergerak menyusuri barisan karyawan. Derap sepatu kulit mewahnya terdengar makin mendekat ke arah barisan divisi administrasi. Tuhan, tolong jangan sampai dia lihat gue ... Tolong ... doa Audrey komat-kamit dalam hati. Ia sengaja memiringkan tubuhnya makin jauh ke balik badan Pak Bambang, bahkan membiarkan rambut panjangnya terurai ke depan untuk menutupi separuh wajahnya. Mbak Rini di sampingnya sudah mesam-mesem merapikan pakaian, siap menyapa sang bos baru dengan senyuman terbaiknya. Derap langkah kaki itu mendadak berhenti. Aroma sandalwood yang pekat mendadak merebak kuat, menandakan sang pemilik tubuh berada sangat dekat. Keheningan mencengkeram area barisan belakang. Tidak ada suara langkah kaki lagi. “Pak Bambang,” suara Oliver terdengar sangat dekat, persis di depan mereka. “Ya, Pak Oliver?” sahut Pak Bambang dengan nada bicara canggung dan tegang. “Bisa tolong geser sedikit ke kiri?” perintah Oliver dengan intonasi datar namun tak bantah. “Kamu menghalangi staf di belakang kamu.” Jantung Audrey rasanya mau melompat keluar dari d**a. Pak Bambang langsung mengangguk patuh dan menggeser tubuh bongsornya ke samping tanpa ragu sedikit pun. Tameng pelindung Audrey mendadak hilang total. Audrey berdiri membeku dengan kepala masih tertunduk dalam-dalam. Sepatu kulit hitam Oliver yang mengkilap kini berdiri tepat tiga puluh sentimeter di depan ujung sepatunya. Atmosfer dingin dan intimidatif merayap naik, menyelimuti tubuh Audrey hingga membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. “Angkat kepala kamu,” tegur Oliver dingin. Dengan tubuh gemetar dan napas tertahan, Audrey perlahan-lahan mendongakkan kepalanya. Pandangan mereka bertemu. Mata tajam Oliver menatap lurus ke manik mata Audrey. Tidak ada keraguan di sana. Tatapan pria itu sangat tenang, meneliti dari ujung rambut hingga berhenti tepat di bibir Audrey yang sedikit merona—seolah pria itu sedang mengingat kembali sensasi gesekan bibir mereka semalam. Sebuah senyum tipis yang sarat akan arti dan d******i perlahan terpatri di sudut bibir tegas Oliver. “Kamu ...” Oliver sengaja menggantung kalimatnya, membuat seluruh staf di ruangan itu memandang Audrey dengan tatapan bingung dan penasaran. Audrey menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir. “... ikut saya ke ruangan sekarang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD