“Jadi, gimana rasanya kabur gitu aja setelah melumat bibir atasan kamu semalam, Audrey?”
Suara kunci pintu ruang kerja General Manager berbunyi tebal saat terkunci rapat dari dalam. Oliver berdiri membelakangi meja kerja mahoni berukuran raksasa, santai memutar tubuhnya seraya melonggarkan kancing teratas kemeja putih mewahnya. Jemari tangannya yang panjang mengusap lehernya sendiri dengan gerakan lambat yang sengaja dirancang untuk mengintimidasi.
Audrey menyandarkan punggungnya rapat-rapat ke daun pintu kayu yang dingin. Lidahnya mendadak kelu, sementara dadanya naik turun berusaha mengontrol napas yang mendadak acak-acakan.
“Ma—maaf, Pak Oliver. Saya rasa Bapak salah orang,” cetus Audrey sekuat tenaga menahan getar pada suaranya. Ia sengaja membusungkan d**a, berusaha mempertahankan sisa-sisa profesionalismenya sebagai seorang staf biasa. “Semalam saya di rumah, tidur nyenyak. Saya nggak tahu-menahu soal acara pesta topeng atau ... atau insiden bibir yang Bapak maksud.”
Oliver terkekeh pelan. Suara tawa rendah itu terdengar begitu berat dan berbahaya di dalam ruangan berpendingin udara yang hening ini. Ia melangkah perlahan mengikis jarak di antara mereka, membuat ritme napas Audrey makin tak menentu. Derap sepatu kulit mewahnya berdentang pelan namun mantap di atas karpet tebal.
“Bohong,” bisik Oliver santai. Ia berhenti persis satu langkah di depan Audrey, mengurung ruang gerak wanita itu. “Bibir kamu yang bengkak pagi ini bilang hal yang beda, Audrey.”
Pipi Audrey mendadak panas membara seperti tersiram air panas. Refleks, tangannya terangkat menutupi bibir bawahnya sebelum ia menyadari betapa bodohnya gestur refleks tersebut.
“Itu ... itu cuma digigit nyamuk semalam!” sergah Audrey cepat, berusaha menyelamatkan mukanya. Matanya melotot tajam menatap pria tinggi di depannya. “Lagipula, Pak, kalaupun semalam ada insiden di hotel itu, itu murni salah paham! Saya terjebak, dikejar sekuriti, dan Bapak tiba-tiba narik saya ke balik pilar. Bapak yang nyium saya duluan!”
“Oh, jadi kamu akhirnya ngaku kalau cewek semalam itu kamu?” tanya Oliver dengan alis terangkat sebelah. Senyum tipis nan penuh kemenangan terpatri makin jelas di bibirnya.
Audrey tersentak. Ia merutuki kecerobohan mulutnya sendiri yang terlalu gampang dipancing. “Maksud saya—”
“Nggak usah ngeles lagi. Percuma,” potong Oliver dingin.
Ia berbalik santai menuju meja kerjanya, lalu merogoh sebuah benda kecil melingkar berhias kristal imitasi dari dalam laci atas. Tanpa peringatan, benda itu dijatuhkan pelan ke atas permukaan meja kayu.
Gelang perak imitasi milik Audrey menari sebentar di atas meja sebelum berhenti tepat di tengah-tengah. Benda murah yang sengaja ia beli di pasar malam bersama Monica itu kini tergeletak kontras di meja seorang pimpinan puncak.
“Gelang kamu jatuh pas kamu lari ketakutan melepaskan diri dari saya semalam,” lanjut Oliver seraya bersandar santai di tepi meja. Kedua tangannya bersedekap di d**a, menampilkan lekuk otot lengannya yang terbentuk sempurna di balik gulungan kemeja. “Bukan cuma itu. Rekaman CCTV koridor hotel juga merekam sangat jelas wajah kamu dan dua teman kamu. Kalian menyusup tanpa undangan resmi dan bikin keributan di acara relasi bisnis penting keluarga Danendra.”
Lutut Audrey mendadak lemas seketika. Seluruh keberaniannya menguap tanpa bekas. “Pak Oliver ... tolong. Sahabat saya cuma mau kasih pelajaran ke mantannya yang selingkuh. Kita benar-benar nggak ada niat jahat sama sekali.”
“Akuisisi dan investasi miliaran rupiah hampir berantakan gara-gara aksi nekat jus jeruk teman kamu itu, Audrey,” potong Oliver cepat. Intonasi suaranya turun satu oktaf, menjadi sangat dalam dan mengancam. “Kalau saya mau, detik ini juga saya bisa telepon tim hukum perusahaan untuk memproses kamu, Monica, dan pria pemegang kipas lipat itu atas tuduhan pencemaran nama baik serta penyusupan ilegal. Kalian bertiga bisa langsung masuk sel sebelum jam makan siang.”
“Jangan!” jerit Audrey panik. Ia maju dua langkah tanpa sadar, menatap Oliver dengan tatapan memohon yang pasrah. “Tolong jangan bawa-bawa teman saya, Pak. Mereka nggak salah. Saya yang bakal tanggung jawab. Apapun! Tapi tolong jangan proses hukum.”
Oliver menatap Audrey dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan cermat. Pandangannya berhenti sejenak pada mata bening Audrey yang mulai berkaca-kaca, lalu turun ke rahang wanita itu yang mengeras menahan tangis.
“Apapun?” ulang Oliver pelan, menimbang kata tersebut.
“Iya, apapun! Asal jangan libatkan polisi atau bikin teman-teman saya dipecat dari pekerjaan mereka,” tegas Audrey mantap meski dadanya bergemuruh hebat oleh rasa takut.
Oliver mengangguk-angguk kecil, seolah respons pasrah itu sudah ia prediksi sejak pertama kali Audrey melangkah masuk ke ruangannya. Ia memutar tubuhnya, mengambil selembar berkas tebal bersampul hitam dari atas meja lalu melemparkannya tepat ke arah d**a Audrey. Audrey menangkapnya dengan gerak refleks yang gagap.
“Mulai hari ini, kamu dipromosikan jadi Asisten Pribadi saya. Executive Assistant,” ujar Oliver datar, seolah baru saja mengumumkan menu makan siang.
Audrey membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia menatap surat keputusan di tangannya dengan pandangan tidak percaya. “Apa? AP? Tapi Pak, asisten pribadi Bapak kan Mbak Siska? Lagipula saya cuma staf administrasi biasa, saya nggak punya kualifikasi buat posisi selevel itu—”
“Siska sudah saya pindahkan ke divisi cabang mulai pagi ini,” potong Oliver dingin. “Dan soal kualifikasi, saya yang tentukan, bukan kamu. Kamu cuma punya dua pilihan sederhana sekarang, Audrey. Tanda tangani surat promosi itu detik ini juga, pindahkan meja kerja kamu ke depan ruangan saya, dan ikuti semua perintah saya tanpa bantahan ...”
Oliver menghentikan kalimatnya. Ia kembali mengikis jarak, memajukan wajahnya hingga napas hangatnya berembus di kulit pipi Audrey. Aroma parfum sandalwood dan tembakau mahal yang pekat langsung mengurung indra penciuman Audrey, membawanya kembali pada sensasi panas di koridor hotel semalam.
“... atau pilihan kedua, kamu, Monica, dan Leo saya serahkan ke kepolisian atas tuduhan tindak pidana penyusupan pesta elite. Pilih yang mana?” bisik Oliver tepat di depan telinga Audrey.
Air liur yang ditelan Audrey terasa seperti duri tajam yang menyiksa tenggorokannya. Pilihan jebakan yang sangat licik dan tanpa cela. Oliver tahu betul ia tidak punya celah sedikit pun untuk lari. Jika ia menolak, masa depan dua sahabatnya akan hancur lebam, dan dirinya sendiri akan menyandang status mantan narapidana di usia muda.
“Kenapa harus saya, Pak?” bisik Audrey lirih dengan tatapan bergetar. Ia menatap mata hitam Oliver yang kelam tanpa dasar. “Dari ratusan karyawan yang lebih berpengalaman di gedung ini, kenapa harus saya?”
“Karena kamu gampang penurut kalau sudah disudutkan seperti ini,” jawab Oliver santai tanpa ada raut rasa bersalah sedikit pun. “Dan karena bibir kamu lumayan manis buat meredam stres saya semalam.”
“Bapak gila!” umpat Audrey spontan. Ia membelalak kaget atas ucapan m***m yang keluar dari mulut bos barunya itu.
“Satu kata kasar lagi dari mulut kamu, dan surat panggilan polisi meluncur detik ini juga,” ancam Oliver tenang sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel mewahnya di atas meja.
Audrey memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menata detak jantungnya yang menggila. Ia meremas pinggiran surat keputusan promosi di tangannya hingga kertas tebal itu kusut. Amarah, rasa malu, dan keputusasaan berbaur menjadi satu adonan pahit di dalam dadanya. Dengan napas terengah-engah menahan emosi yang meluap, ia akhirnya mengangguk lambat.
“Baik. Saya terima posisi itu,” ujar Audrey pasrah, menyerahkan nasibnya. “Tapi ada syaratnya.”
Oliver mengernyitkan alisnya, tampak sangat terhibur melihat keberanian staf kecil di depannya yang masih mencoba melawan. “Kamu ngerasa punya posisi buat tawar-menawar sama saya?”
“Saya serius, Pak!” potong Audrey cepat, tidak mau terkecoh lagi. “Bapak harus jamin keselamatan karier Monica dan Leo di perusahaan ini. Bapak nggak boleh menyentuh, mengintimidasi, atau mengancam mereka lagi pakai insiden semalam. Kalau Bapak melanggar janji ini, saya bakal nekad bongkar kelakuan Bapak yang nyium staf sendiri di hotel ke media!”
Hening sejenak mencengkeram ruangan luas itu. Oliver menatap Audrey dalam-dalam, menilai seberapa jauh keteguhan wanita di depannya. Bukannya marah atau tersinggung, senyum tipis di bibir pria itu justru terukir makin lebar.
“Deal,” sahut Oliver singkat. Ia mengulurkan tangannya ke depan, menunggu respons. “Selamat datang di neraka kamu yang baru, Asisten Utama Audrey.”
Audrey menatap uluran tangan berotot itu dengan rasa benci yang membumbung tinggi. Namun, demi melindungi sahabat-sahabatnya, ia terpaksa menyambut genggaman tangan Oliver yang hangat dan kokoh.
Baru saja jemari mereka bersentuhan, Oliver mendadak menarik tangan Audrey sedikit lebih kuat. Tubuh wanita itu terdorong maju tanpa persiapan dan menabrak d**a bidang sang GM dengan keras.
“Satu hal lagi yang wajib kamu ingat,” bisik Oliver seraya menundukkan kepala. Ia menatap bibir Audrey yang gemetar dari jarak yang sangat dekat. “Di luar jam kantor pun, kamu harus siap saya panggil kapan aja. Jangan pernah sekali-kali matikan ponsel kamu, atau saya anggap kamu melanggar kesepakatan.”
“Pak Oliver, lepas—”
Suara ketukan kasar di pintu ruang kerja mendadak memecah ketegangan yang pekat itu. Belum sempat Oliver atau Audrey merenggangkan jarak tubuh mereka, engsel pintu sudah berputar cepat dan terbuka lebar dari luar.
Pak Anton, Kepala Bagian Administrasi berbadan tambun dengan kacamata tebal yang hampir melorot, melangkah masuk tanpa rasa bersalah sambil membawa tumpukan dokumen tebal di tangannya. Namun, langkah kaki Pak Anton mendadak terhenti total tepat di ambang pintu. Matanya membelalak lebar, memandang pemandangan di depannya dengan mulut melongo.
Dari sudut pandangnya di pintu yang terbuka, Pak Anton melihat sang General Manager baru berdiri sangat dekat—bahkan hampir memeluk—staf administrasi biasanya yang kini berwajah merah padam dan ketakutan setengah mati.
“Maaf Pak Oliver ... saya cuma mau menyerahkan laporan bulanan—oh, Audrey? Kenapa kamu ada di sini dengan wajah merah begitu?”