“Demi apa lu diangkat jadi AP cowok topeng semalam?! Audrey, lu masuk kandang macan!”
Cairan hijau kental mendadak meluap menyeberangi tepi meja pantry. Monica buru-buru menarik beberapa lembar tisu dapur saat jus alpukat yang baru dibelinya tumpah membasahi tumpukan nota kantor. Matanya membelalak lebar, memandang Audrey yang berdiri di samping dispenser dengan wajah sepucat kapas.
“Pelan-pelan suara lu, Mon!” bisik Audrey setengah panik. Ia menyenggol lengan Monica, matanya melirik liar ke arah lorong luar pantry yang mulai ramai oleh lalu lalang karyawan. “Kalau ada yang dengar, mampus gue.”
“Ya gimana gue nggak kaget?!” cerceca Monica setengah berbisik, melemparkan tisu basah ke tong sampah dengan geregetan. “Semalam lu hampir dicium sampai pingsan di balik pilar hotel, terus pagi ini dia muncul jadi bos baru, dan sekarang lu tiba-tiba diangkat jadi asisten pribadinya? Script sinetron mana yang lu curi, Drey?”
Audrey menghela napas berat, menyandarkan punggungnya pada lemari pendingin. “Gue nggak punya pilihan. Dia pegang rekaman CCTV semalam. Kalau gue nolak, dia ancam bakal seret lu, gue, sama Leo ke polisi atas tuduhan penyusupan pesta elite. Lu mau kita bertiga masuk penjara?”
Monica bungkam seketika. Mulutnya yang tadi siap memberondong dengan rentetan pertanyaan mendadak terkunci rapat. “Gila ... cowok itu beneran ancam kita?”
“Sangat,” jawab Audrey lirih. “Makanya, ikuti aja permainannya. Yang penting lu sama Leo aman.”
Namun, pergerakan di PT Utama Group selalu lebih cepat daripada rumor gosip mana pun. Belum sempat hari berganti siang, kabar kepindahan meja kerja Audrey ke area depan ruang kerja General Manager sudah menyebar seperti kebakaran hutan. Pak Anton, yang tadi pagi menyaksikan posisi mencurigakan antara Oliver dan Audrey, tidak membuang waktu untuk menyebarkan asumsi miring.
“Yah, namanya juga anak muda jaman sekarang,” cibir Pak Anton cukup keras di tengah koridor divisi administrasi, sengaja agar terdengar oleh beberapa staf yang sedang berkumpul. “Kualifikasi nomor dua. Yang penting pinter ambil hati pimpinan lewat jalur belakang. Iya kan?”
Mbak Rini yang berdiri di dekat printer hanya bisa mengurut d**a sambil menatap Audrey kasihan, sementara Audrey memilih menunduk rapat, mencengkeram erat tumpukan map berkas di dadanya tanpa membalas sepatah kata pun.
Malamnya, usai jam kantor berakhir, Audrey melarikan diri ke salon tempat Leo bekerja. Suara pengering rambut dan aroma kencang obat pengeriting menyambutnya saat ia mendorong pintu kaca. Di meja belakang, Leo yang sedang merapikan gunting-guntingnya langsung menarik Audrey ke sudut ruangan yang sepi, bergabung dengan Monica yang sudah lebih dulu mendaratkan bokongnya di sofa salon.
“Lu yakin nggak mau laporkan pria itu ke dinas tenaga kerja?” tembak Leo tanpa basa-basi, tangannya sigap meneliti wajah Audrey yang tampak kuyu. “Drey, pria dari keluarga elite kayak Oliver Danendra itu nggak pernah bikin pergerakan tanpa niat terselubung. Lu cuma staf biasa, dia punya segalanya. Dia bisa remukkan lu kapan aja kalau dia bosan.”
“Gue tahu, Le,” sahut Audrey pelan seraya memeluk lututnya di sofa. “Tapi gue udah bikin kesepakatan sama dia. Selama gue turuti kemauan dia di kantor, dia nggak akan utak-atik kalian berdua. Gue cuma perlu bertahan sampai situasi mereda.”
“Tapi sampai kapan?” potong Monica gemas. “Lu lihat sendiri cara Pak Anton mandang lu tadi siang! Seluruh kantor mikir lu menang posisi karena ... karena 'menjual' diri ke bos baru!”
“Biarkan mereka ngomong apa aja,” sela Audrey mantap, menatap kedua sahabatnya bergantian. “Gue bakal buktikan lewat kerjaan gue. Gue bukan cuma pajangan atau objek pemerasan dia. Gue bakal bikin dia sadar kalau gue punya kapabilitas.”
Tantangan itu langsung datang keesokan harinya. Pagi-pagi sekali, saat Audrey baru saja menaruh tasnya di meja kerja barunya yang persis berhadapan dengan pintu kaca tebal ruangan Oliver, pintu itu terbuka.
Oliver berdiri di sana, tampil sangat segar dengan kemeja biru gelap yang tergulung rapi hingga siku. Pria itu melempar satu tumpukan tebal dokumen analisis keuangan dan berkas audit lima tahun terakhir ke atas meja Audrey.
“Kerjakan ini,” perintah Oliver datar tanpa salam pembuka. “Saya mau rangkuman analisis rasio profitabilitas, prediksi cash flow kuartal depan, dan perbaikan draf kontrak vendor ini sudah ada di meja saya sebelum jam lima sore.”
Audrey menatap tumpukan kertas setinggi lima belas sentimeter itu dengan napas tertahan. “Pak Oliver, ini tugas tim analisis keuangan seluruh divisi. Biasanya butuh waktu tiga hari buat menyelesaikan ini.”
“Dan sekarang kamu adalah Asisten Pribadi saya, Audrey,” potong Oliver dingin, menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu dengan tatapan menantang. “Tugas kamu adalah memangkas waktu kerja mereka jadi satu hari. Kamu punya kualifikasi buat buktikan omongan kamu semalam, atau kamu mau saya kembalikan ke meja administrasi bawah sambil membawa surat pemecatan?”
Audrey meremas jemarinya di bawah meja. Rasa panas membakar dadanya, membangkitkan harga diri yang sejak kemarin diinjak-injak.
“Baik, Pak,” jawab Audrey lantang, menatap lurus ke dalam iris mata hitam Oliver. “Sebelum jam lima sore, berkasnya sudah ada di meja Bapak.”
Satu ukiran senyum tipis yang amat sangat tipis melintas di bibir Oliver sebelum pria itu berbalik dan menutup pintu ruangannya rapat-rapat.
Sejak detik itu, Audrey tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Ia mengabaikan panggilan makan siang dari Mbak Rini, menolak tawaran kopi dari staf lain, dan membenamkan seluruh fokusnya pada angka-angka rumit di layar monitor. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik, menganalisis rumus spreadsheet, menyaring variabel kerugian, dan menyusun ulang kalimat-kalimat hukum dalam kontrak vendor dengan tingkat ketelitian tinggi.
Jam dinding di lorong terus berdetik. Pukul dua siang, pukul tiga, hingga pukul empat empat puluh lima sore.
Audrey mencetak lembar terakhir dari mesin printer, merapikan tumpukan kertas tersebut dalam map tebal berwarna biru, lalu berdiri dari kursinya. Punggungnya terasa pegal luar biasa dan matanya amat perih, tetapi kepuasan yang luar biasa membakar dadanya.
Ia mengetuk pintu ruang kerja Oliver.
“Masuk,” suara berat dari dalam menyahut.
Audrey melangkah masuk dengan langkah tegap. Ia meletakkan map biru itu tepat di tengah meja kerja Oliver, persis di samping cangkir kopi pria itu yang sudah dingin.
“Semua rangkuman rasio profitabilitas, proyeksi cash flow, dan draf revisi kontrak vendor sudah selesai, Pak,” ujar Audrey tenang namun tegas. “Jam empat lima puluh menit. Sepuluh menit lebih cepat dari tenggat waktu yang Bapak minta.”
Oliver menghentikan jemarinya yang sedang mengetik di laptop. Ia melirik jam tangan peraknya, lalu menatap map biru di depannya. Pria itu membuka lembar demi lembar, meneliti angka-angka, grafik, serta poin-poin revisi hukum yang disusun Audrey dengan sangat rapi dan tanpa cela.
Tidak ada celah kesalahan. Audrey tidak hanya sekadar menginput data, ia bahkan menemukan dua celah kerugian pada draf kontrak vendor lama yang luput dari pengamatan tim keuangan sebelumnya.
Oliver terdiam cukup lama. Tatapan dinginnya perlahan berganti menjadi pandangan penuh penilaian yang dalam. Ia menutup map tersebut dengan pelan.
“Lumayan,” ucap Oliver singkat, mencoba menyembunyikan rasa impresif yang sempat melintas di matanya. “Ternyata otak kamu tidak sedangkal perkiraan orang-orang di luar sana.”
“Saya bekerja pakai otak dan kemampuan saya, Pak,” sahut Audrey tajam. “Bukan pakai gosip murah Pak Anton.”
Oliver terkekeh rendah. Ia bersandar di kursi kulitnya, memperhatikan gestur Audrey yang berdiri tegak membela harga dirinya.
“Bagus. Saya suka karyawan yang tahu nilai dirinya,” kata Oliver. Ia kemudian membungkuk sedikit, merogoh sesuatu dari bawah meja kerjanya.
Sebuah kotak hadiah berukuran cukup besar, dilapisi kertas karton tebal berwarna hitam pekat dengan pita emas dan logo merek fashion ternama dunia, diletakkan Oliver di atas meja. Kotak itu didorong pelan ke arah Audrey.
Audrey mengerutkan keningnya curiga, menolak menyentuh kotak mahal tersebut. “Apa ini, Pak?”
“Buka aja,” perintah Oliver santai.
Dengan ragu, Audrey menarik pita emasnya dan membuka tutup kotak. Di dalamnya, terbaring anggun sebuah gaun malam berwarna navy blue dari bahan sutra halus dengan potongan elegan, lengkap dengan sepasang sepatu tumit tinggi yang warnanya senada.
“Saya nggak bisa terima barang mewah kayak gini dari atasan,” potong Audrey cepat seraya mendorong kotak itu kembali.
Oliver berdiri dari kursinya, melangkah mengitari meja hingga kini berdiri sangat dekat di samping Audrey. Aura dominannya kembali mengurung wanita itu dalam sekejap.
“Pakai ini besok malam. Kamu harus ikut saya ke acara makan malam relasi,” bisik Oliver dengan intonasi rendah yang mengikat. Pria itu menundukkan kepala, membuat napas hangatnya menyentuh pucuk telinga Audrey. “Dan ingat, mulai besok malam, peran kamu bukan cuma asisten saya.”
Audrey menahan napas, menatap Oliver dengan pandangan menuntut penjelasan. “Maksud Bapak apa?”
Oliver tersentuh tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Audrey meremang seketika. “Mulai besok malam di depan keluarga Danendra dan relasi bisnis saya, kamu adalah pacar saya.”