“Gila ... ini beneran gue?”
Audrey menyentuh permukaan kaca cermin di lounge hotel berbintang lima itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Bayangan wanita di hadapannya tampak begitu asing dan kontras dengan dirinya yang biasa. Gaun malam berwarna navy blue berbahan sutra halus itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan garis bahu yang tegas namun anggun, dipadukan dengan sepasang sepatu tumit tinggi yang membuat postur tubuhnya makin jenjang. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajah, menegaskan garis rahangnya yang bersih.
Pintu kaca restroom berderit pelan. Oliver berdiri di ambang pintu, bersandar santai dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan hitamnya. Tuksedo mewahnya tampak sangat pas, memancarkan aura maskulin yang pekat dan dominan.
“Sudah selesai mengagumi diri sendiri?” suara berat Oliver memecah keheningan, menggema pelan di dalam ruangan serba marmer itu.
Audrey memutar tubuhnya, refleks menarik bagian d**a gaunnya yang dirasanya sedikit terlalu rendah. “Pak Oliver, ini beneran terlalu berlebihan buat sekadar makan malam relasi. Saya kerasa kayak mau datang ke pesta karpet merah atau acara pemberian penghargaan.”
Oliver melangkah mendekat tanpa terburu-buru. Derap sepatunya berbunyi ritmis di atas lantai marmer yang mengkilap. Ia berhenti tepat di depan Audrey, tatapan matanya menelusuri penampilannya dari ujung rambut, riasan tipis di wajahnya, hingga ujung sepatu dengan pandangan yang amat sulit diartikan.
“Gaun itu cocok di tubuh kamu,” ujar Oliver datar, walau ada kilat kagum yang sempat tertangkap di matanya walau hanya sepersekian detik. “Dan berhenti memanggil saya 'Pak Oliver' malam ini.”
Audrey mengernyitkan dahi, merasa tidak nyaman di bawah tatapan intens itu. “Terus saya harus panggil apa? Bos? Tuan Danendra? Atau Tuan Muda?”
“Oliver,” potong pria itu singkat tanpa kompromi. “Cukup panggil Oliver. Atau kamu mau panggil 'Sayang' biar kelihatan jauh lebih meyakinkan di depan orang-orang?”
“Ogah!” sergah Audrey cepat dengan pipi mendadak memerah. “Saya panggil Oliver aja. Nggak usah aneh-aneh, bikin merinding.”
“Bagus. Ingat, malam ini kamu bukan staf administrasi atau sekadar asisten saya,” pangkas Oliver seraya mengulurkan siku tangannya. “Sambut tangan saya, Audrey. Pertunjukan utama sebentar lagi dimulai.”
Dengan helaan napas berat, Audrey menyangkutkan jemarinya di lipatan siku Oliver. Mereka melangkah keluar dari restroom menuju area lounge eksklusif yang dipenuhi denting dentang alat makan perak dan alunan musik jazz lembut dari piano grand di sudut ruangan. Audrey mengira acara ini hanyalah makan malam bisnis kaku dengan para investor tua berkepala botak. Namun, melangkah tiga meter menuju meja bundar di sudut ruangan, ia sadar ada yang tidak beres dengan atmosfer tempat ini.
Di meja tersebut, seorang wanita bergaun putih gading sedang duduk anggun sambil menyesap anggur merah dari gelas kristal. Penampilannya sangat berkelas, dengan riasan wajah sempurna dan perhiasan berlian yang berkilau di lehernya. Saat Oliver dan Audrey mendekat, wanita itu menegakkan punggungnya, memutar tubuh, dan melempar tatapan yang sanggup membekukan ruangan seketika.
“Oliver?” suara wanita itu terdengar halus, bernada dingin namun sarat akan intrik yang tajam. Matanya langsung tertuju pada jemari Audrey yang melingkar di lengan Oliver. “Luar biasa. Aku benar-benar nggak menyangka kamu bakal datang ke tempat ini.”
Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah tegang, terasa sesak seperti kehabisan oksigen. Audrey bisa merasakan otot lengan Oliver mengeras seketika di balik jas tebalnya.
“Kenapa nggak, Vivian?” sahut Oliver santai, namun nada suaranya mendadak berubah sangat dingin dan menusuk, seolah ia sedang berbicara dengan musuh bebuyutannya. “Lounge ini bukan milik pribadi kamu, kan?”
Wanita bernama Vivian itu berdiri perlahan. Postur tubuhnya sangat tenang, memancarkan keangkuhan khas bangsawan kelas atas yang terbiasa memandang rendah orang lain. Ia menatap Audrey dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang terang-terangan merendahkan.
“Dan ... siapa wanita di samping kamu ini?” tanya Vivian dengan senyum tipis yang terasa sangat pasif-agresif. “Aku belum pernah lihat dia di lingkaran pergaulan kita. Model baru? Atau ... wanita yang sengaja kamu sewa cuma buat menemani malam kamu supaya nggak kelihatan sendirian?”
Darah Audrey mendadak berdesir panas. Rasa tersinggung yang luar biasa membakar dadanya. Harga dirinya dihantam secara terbuka. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk membalas sindiran tajam itu, tetapi tangan Oliver mendadak bergerak cepat melampaui perkiraannya.
Oliver melepaskan siku tangannya, lalu melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Audrey, menarik tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke sisinya. Sentuhan yang protektif namun sangat dominan itu membuat Audrey tersentak kaget dan menahan napas.
“Jaga mulut kamu, Vivian,” potong Oliver dingin dengan intonasi yang begitu rendah dan penuh intimidasi. “Kenalkan, ini Audrey. Kekasih saya. Bukan wanita sewaan, apalagi bekas orang lain.”
Kalimat terakhir Oliver mendarat seperti tamparan tak kasat mata yang keras di wajah Vivian. Senyum palsu di wajah wanita bergaun putih itu mendadak luntur seketika. Matanya berkilat marah dan terluka.
“Kekasih?” Vivian tertawa pelan, suara tawa yang sengaja dibuat-buat demi menutupi rasa terkejutnya yang besar. “Sejak kapan seorang Oliver Danendra menurunkan standar selera wanitanya sejauh ini? Gaun itu ... pilihan yang bagus, Oliver. Tapi kamu nggak bisa menyembunyikan gestur canggungnya. Dia kelihatan sangat tidak nyaman berada di tempat berkelas seperti ini. Dia seperti orang asing yang salah masuk ruangan.”
Vivian melangkah satu titik lebih dekat ke arah Audrey, menatapnya dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat, penuh racun manipulasi. “Kasihan kamu, Mbak. Kamu tahu nggak kalau Oliver cuma memanfaatkan kamu?”
Audrey menahan napasnya rapat-rapat, mengepalkan kedua tangan di samping gaun mewahnya hingga buku-buku jarinya memutih.
“Vivian,” tegur Oliver keras, melangkah satu petak ke depan untuk menutupi tubuh Audrey dari pandangan wanita itu. “Kamu mau bahas soal memanfaatkan orang? Mau saya ingatkan lagi di depan semua pengunjung lounge ini soal gimana cara kamu menukar perasaan saya demi pertunangan dengan Adrian?”
Wajah Vivian yang tadinya penuh percaya diri mendadak pucat pasi. Nama 'Adrian' yang diucapkan Oliver tampak seperti racun mematikan yang merusak seluruh pertahanan wanita itu dalam sekejap.
“Oliver! Jangan mulai bicara sembarangan di sini!” desis Vivian tajam dengan suara yang mulai bergetar menahan amarah.
“Kamu yang mulai duluan,” balas Oliver tanpa belas kasihan sedikit pun, menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan jijik yang sangat terbuka. “Adrian sedang menunggu kamu di meja utama keluarga besar, kan? Sebaiknya kamu balik ke calon suami kamu itu sebelum saya hilang kesabaran dan membocorkan hal lain yang lebih menarik ke publik.”
Vivian meremas tas genggam mewahnya hingga kulit sintetisnya berkerut keras. Matanya bergantian menatap Oliver dan Audrey dengan amarah dan kebencian yang tertahan di balik riasan tebalnya.
“Kamu bakal menyesal, Oliver. Kamu benar-benar bakal menyesal,” bisik Vivian penuh dendam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada Audrey, wanita itu berbalik dan melangkah pergi dengan derap sepatu tumit tinggi yang terburu-buru dan kacau.
Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti area sudut lounge tersebut. Audrey berdiri membeku di tempatnya, pikirannya berputar liar memproses semua dialog beracun yang baru saja terjadi di depan matanya. Nama Vivian, sosok Adrian yang disebut-sebut sebagai kakak Oliver sekaligus calon suami Vivian, dan sebutan 'bekas orang lain' yang menyayat.
Semua potongan teka-teki misteri Oliver Danendra mendadak menyatu secara paksa di dalam kepala Audrey. Pria ini tidak sedang mencari asisten pribadi yang kompeten, apalagi pasangan yang jujur. Pria ini sedang melancarkan aksi balas dendam pribadi.
“Ayo duduk,” kata Oliver datar, suaranya tenang seolah tidak baru saja terjadi konfrontasi berdarah yang memuakkan. Ia menarik salah satu kursi kayu berukir untuk Audrey. “Makanan kamu sudah dipesan dari tadi.”
Audrey tidak bergerak sedikit pun. Ia menatap Oliver dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa muak, kecewa, dan amarah yang mendalam.
“Saya mau pulang,” ujar Audrey pelan namun sangat tegas.
Oliver mengernyitkan alisnya, tampak tidak suka dengan sikap membangkang itu. “Kita baru aja sampai, Audrey. Jangan mulai sikap kekanak-kanakan kamu di sini.”
“Saya bilang saya mau pulang!” potong Audrey dengan intonasi naik satu oktaf, tidak peduli lagi pada pandangan penasaran dari beberapa pengunjung hotel berkelas di sekitar mereka.
Melihat rahang Audrey yang mengeras menahan emosi yang hampir pecah, Oliver menghela napas panjang seraya memijat pangkal hidungnya. “Baik. Kita bicara di mobil.”
Perjalanan menuju area parkir basement terasa seperti jalan menuju eksekusi mati yang lambat dan menyiksa. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara di sepanjang lorong hotel yang lengang. Oliver berjalan di depan dengan langkah lebar dan terburu-buru, sementara Audrey menyusul di belakang seraya menahan rasa sakit luar biasa pada tumit kakinya akibat sepatu mahal yang tidak pernah terbiasa ia kenakan.
Begitu sampai di samping mobil sedan mewah milik Oliver yang terparkir di sudut remang-remang basement, Oliver membuka pintu depan dengan gerakan kasar untuk Audrey.
“Masuk,” perintah Oliver singkat.
Audrey berhenti tepat di depan pintu mobil yang terbuka. Ia menolak melangkah masuk. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya, ia memutar tubuhnya menghadap Oliver secara penuh. Tanpa peringatan, Audrey melepas pegangan tangan Oliver yang sempat mencoba menahannya, menepisnya dengan raut wajah terluka yang amat sangat jelas.
“Bapak cuma manfaatin saya buat bikin mantan Bapak cemburu, kan? Saya ini manusia, Pak, bukan properti sandiwara Bapak!”