“Jangan menilai situasi cuma dari asumsi kamu sendiri, Audrey. Dengarkan penjelasan saya dulu.”
Cengkeraman lembut namun bertenaga menahan pergelangan tangan Audrey persis saat jemarinya menyentuh gagang pintu taksi online yang baru saja menepi. Hawa dingin dari lantai basement hotel berbintang lima itu menusuk kulitnya, tetapi rasa panas di matanya jauh lebih membakar. Audrey memutar tubuhnya dengan tajam, menepis tangan Oliver dengan gerakan cepat hingga pegangan pria itu terlepas sepenuhnya.
“Penjelasan apa lagi, Pak?” potong Audrey dengan intonasi bergetar menahan amarah yang membumbung tinggi. “Semua sudah jelas banget! Bapak cuma butuh boneka murah buat dipajang di depan mantan Bapak yang namanya Vivian itu, kan? Biar Bapak kelihatan sudah move on? Biar Bapak nggak kelihatan mengenaskan di depan cewek yang menukar Bapak demi cowok lain?”
Oliver menghela napas panjang dan berat. Pria itu meraup wajahnya kasar, melepas kancing teratas kemeja birunya yang terkunci kaku di balik jas mahal. Untuk pertama kalinya, raut wajah Oliver yang biasanya dingin dan tak tersentuh memperlihatkan celah lelah yang amat sangat nyata.
“Vivian itu masa lalu saya dua tahun lalu, Audrey,” suara Oliver merendah, bernada berat yang menyapu sunyinya area parkir basement. “Dia pergi, mengkhianati saya, dan memilih bertunangan sama Adrian—sepupu saya sendiri. Dan sejak saya kembali ke Indonesia buat pegang Utama Group, dia nggak pernah berhenti mengganggu kehidupan pribadi saya.”
Audrey menatap Oliver dengan tatapan tak percaya, mencerna pengakuan yang mengejutkan itu. “Terus hubungannya sama saya apa? Kenapa harus saya yang diseret?”
“Tadi malam itu bukan cuma soal bikin dia cemburu,” lanjut Oliver, melangkah satu petak mendekat walau Audrey refleks mundur setengah langkah untuk menjaga jarak. “Saya butuh tembok tebal buat menghentikan manipulasi dia. Vivian sengaja datang ke lounge itu buat memancing emosi saya. Kalau saya meladeni dia sendirian, gosip di kalangan keluarga besar bakal makin liar dan merusak reputasi perusahaan. Saya butuh sosok yang ada di samping saya—seseorang yang punya ketegasan, kejujuran, dan harga diri tinggi. Dan itu kamu.”
“Tapi cara Bapak salah!” sergah Audrey tajam, dadanya naik turun mengendalikan emosi. “Bapak lempar saya ke dalam lumpur gosip mereka! Bapak tahu nggak gimana rasanya dipandang kayak cewek sewaan sama wanita dari kelas Bapak? Dia memandang saya seolah saya ini barang murahan!”
“Makanya saya pasang badan di depan kamu!” tembak Oliver cepat, matanya menatap lurus ke iris mata Audrey tanpa berkedip sedikit pun. “Saya nggak akan biarkan siapa pun merendahkan kamu. Termasuk Vivian. Saya menegaskan posisi kamu di depan dia supaya dia tahu batas.”
Suasana mendadak hening seketika. Denting suara mesin mobil yang lalu lalang di kejauhan menjadi satu-satunya latar belakang suara di antara mereka. Audrey mengepalkan jemarinya rapat-rapat, menunduk menatap sepasang sepatu hak tinggi mahal yang kini terasa menyiksa tumit kakinya.
“Saya ragu, Pak,” bisik Audrey pelan, hampir tak terdengar di udara malam. “Dunia Bapak terlalu berbahaya buat orang biasa kayak saya. Hari ini Bapak bilang butuh saya sebagai perlindungan, besok-besok mungkin saya yang hancur kena dampak permainan konflik keluarga Bapak.”
Oliver terdiam sejenak. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kap mobil sedan mewahnya, memperhatikan helaan napas Audrey yang masih tidak teratur.
“Gimana kalau kita bikin tawaran baru?” ujar Oliver pelan, menatap wajah Audrey yang masih menegang.
Audrey mendongak curiga, memasang kuda-kuda defensif. “Tawaran apa lagi?”
“Saya antar kamu pulang sekarang. Dan sebagai permohonan maaf resmi karena sudah menyeret kamu ke dalam drama pribadi saya ... saya traktir dua sahabat kamu makan malam,” usul Oliver datar.
Alis Audrey bertaut rapat. “Sahabat saya? Monica sama Leo?”
“Iya. Leo dan Monica,” jawab Oliver mantap, merogoh ponsel mahal di saku celananya. “Lagi pula, mereka pasti masih nungguin kamu di salon atau tempat nongkrong kalian, kan? Hubungi mereka sekarang. Bilang bos kamu mau bayar uang tebusan atas kekacauan malam ini.”
“Pak, Bapak gila ya?” Audrey tertawa hambar, geleng-geleng kepala tak percaya. “Bapak itu pakai tuksedo harga puluhan juta. Sahabat saya itu kalau makan malam di warung tenda pinggir jalan! Tempat langganan kami itu terpalnya bau asap kepiting sama amis ikan. Bapak nggak bakal betah berdiri lima menit di sana.”
“Coba saja,” tantang Oliver tipis, satu senyum samar melintas di bibirnya. “Tunjukkan ke mana tempatnya. Kalau saya kabur sebelum makanannya habis, kamu boleh batalkan kesepakatan kita besok pagi.”
“Beneran, ya? Jangan menyesal,” desis Audrey memantapkan hati.
Setengah jam kemudian, sebuah sedan hitam mewah terparkir canggung di samping deretan motor matic yang berdebu di pinggir jalan raya yang bising. Aroma gurih bumbu bakaran, asap arang yang membumbung tinggi, dan riuh suara klakson kendaraan menyambut mereka begitu pintu mobil terbuka.
Monica yang sedang mengunyah kerupuk di meja kayu panjang warung tenda 'Seafood Pak Kumis' mendadak tersedak hebat saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut. Leo yang duduk di sampingnya hampir saja menjatuhkan gelas es teh manisnya ke lantai tanah.
“Demi racun rumput laut ... itu bos lu, Drey?!” bisik Monica heboh setengah berteriak saat Audrey melangkah mendekat, mengekor di belakang Oliver yang masih terbalut kemeja biru gelap berpotongan sangat elegan.
“Gue nggak mimpi, kan?” timpal Leo seraya menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan cemas. “Anak konglomerat Utama Group mendadak nongkrong di tenda Pak Kumis yang lesehan begini?”
Audrey hanya bisa menepuk jidatnya pelan, merasa campur aduk antara malu dan ingin tertawa melihat ekspresi melotot kedua sahabatnya. “Gua juga nggak tahu kenapa dia maksa ikut, Le. Katanya mau bayar tebusan.”
Oliver melangkah santai mendekati meja kayu yang agak berminyak itu. Tanpa ragu sedikit pun, pria itu menarik kursi plastik warna hijau dan mendudukinya dengan santai, melipat kemejanya hingga separuh lengan.
“Malam, Monica, Leo,” sapa Oliver ramah namun tetap tenang dan berwibawa. “Saya Oliver. Maaf bikin kalian kaget malam-malam.”
“N-nggak apa-apa, Pak!” sahut Monica gagap, buru-buru menggeser piring kotor bekas kerangnya. “Ini ... tempatnya agak merakyat ya, Pak. Nggak kayak resto fine dining tempat Bapak biasa makan.”
“Nggak masalah sama sekali. Wangi masakannya justru bikin saya mendadak lapar,” balas Oliver jujur. Ia kemudian melambaikan tangan pada pelayan warung tenda yang berdiri terpana di dekat pembakaran. “Mas, tolong kepiting saus padang tiga porsi, cumi goreng tepung tiga, kerang dara rebus dua, sama es jeruk empat. Semuanya tolok ukur tersedap di sini.”
Leo dan Monica saling pandang dengan mata membelalak lebar. “Banyak banget, Pak?!” seru Leo spontan.
“Habiskan,” jawab Oliver santai. “Malam ini saya yang bayar semuanya. Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kalian sudah menjaga Audrey selama ini.”
“Wah, kalau ini sih kami terima dengan sangat lapang d**a, Pak!” seru Monica kegirangan, ketakutannya pada sosok Oliver mendadak menguap.
Suasana canggung yang tadinya menghimpit perlahan-lahan mulai mencair. Kebekuan itu runtuh sepenuhnya ketika piring-piring makanan beraroma rempah menyengat mendarat di atas meja. Audrey memperhatikan Oliver dengan saksama, bersiap melihat pria itu merasa jijik atau kesulitan. Namun, kejutan besar terjadi di depan matanya.
Oliver tanpa ragu menyingsingkan lengannya lebih tinggi, mengambil seekor cumi goreng tepung dengan tangan telanjang, dan mencelupkannya ke dalam sambal terasi pedas. Pria itu mengunyahnya dengan tenang, menikmati rasa gurih yang meledak di lidahnya.
“Gimana, Pak? Enak nggak?” tanya Monica penasaran, condong ke depan meja.
“Enak banget,” aku Oliver sejujurnya. “Saus padangnya punya rasa rempah yang tajam dan berani. Di restoran langganan saya, rasanya terlalu disesuaikan sama lidah luar, jadi malah kurang bumbu.”
“Nah! Kan gue bilang juga apa!” seru Leo penuh semangat, menepuk meja hingga gelas-gelas bergetar. “Warung Pak Kumis ini memang juara se-Jakarta Selatan, Pak! Nggak ada tandingannya!”
“Saya setuju,” kekeh Oliver pendek.
Untuk pertama kalinya malam itu, Audrey melihat Oliver tertawa lepas tanpa ada beban atau topeng kekuasaan yang biasa ia pakai di kantor. Tawa pria itu terdengar renyah, hangat, dan sangat manusiawi.
Selama satu jam berikutnya, warung tenda yang remang-remang itu dipenuhi gelak tawa. Monica tanpa takut-takut menceritakan konyolnya masa lalu Audrey saat awal masuk kerja yang pernah salah masuk ruang rapat, sementara Leo sibuk mengajari Oliver cara mengupas cangkang kerang dara menggunakan satu cangkang lainnya. Oliver menyimak setiap cerita dengan penuh perhatian, sesekali melontarkan tanggapan kocak yang membuat Monica tertawa terbahak-bahak.
“Bapak ternyata asyik juga ya, nggak sekaku yang menceritakan di kantor,” puji Leo di sela-sela mengunyah kerang.
“Di kantor saya harus menjaga profesionalisme, Leo,” sahut Oliver terkekeh. “Tapi di sini, saya cuma pengunjung yang lapar.”
Audrey yang duduk di sebelah Oliver hanya bisa menyantap kepitingnya dalam diam, menatap sisi samping wajah pria itu dari dekat. Ada perasaan aneh yang pelan-pelan menyusup ke dalam dadanya—sebuah rasa hangat yang mengikis dinding pertahanan yang sudah ia bangun rapat-rapat sejak kemarin. Pria di sampingnya ini ternyata bukan cuma bos dingin yang intimidatif atau pria kaya yang arogan. Di balik semua tuduhan dan rumor kantor, Oliver hanyalah seorang pria biasa yang merindukan kehangatan interaksi tanpa kepalsuan.
Pukul sebelas malam, sedan hitam Oliver berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis milik Audrey. Lingkungan perumahan tempat tinggal Audrey sudah sangat sepi, hanya disinari lampu jalan yang temaram. Monica dan Leo sudah turun lebih dulu di gang depan untuk naik taksi online menuju kosan masing-masing, meninggalkan Audrey dan Oliver berduaan di dalam mobil.
Audrey memegang gagang pintu mobil, hendak mengucap terima kasih sebelum turun. “Pak Oliver ... terima kasih buat makan malamnya. Sahabat-sahabat saya senang banget tadi.”
“Oliver,” koreksi pria itu pelan dengan suara rendah.
Audrey menoleh, menghela napas seraya tersenyum tipis. “Makasih, Oliver.”
Oliver tidak langsung menjawab. Pria itu memutar badannya menghadap Audrey. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, mata hitam Oliver menatap Audrey lekat-lekat—sebuah tatapan dalam yang membuat jantung Audrey mendadak berdetak tidak karuan. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit, berbisik dengan suara berat yang menggetarkan udara malam.
“Terima kasih untuk malam ini. Mulai besok, kita jalani kesepakatan ini secara resmi—tanpa ada kebohongan di antara kita berdua.”