“Tanda tangani ini. Perjanjian kerja sama profesional dan personal selama enam bulan ke depan.”
Sebuah dokumen tebal bermap hitam kaku diletakkan Oliver di atas meja kerja Audrey tepat pukul delapan pagi. Dentum halusnya di atas permukaan kayu oak memotong fokus Audrey yang baru saja menyalakan monitor. Pria itu berdiri tegap di hadapannya, tampil sangat rapi dengan kemeja putih tergulung hingga siku dan dasi abu-abu gelap yang terpasang sempurna.
Audrey mendongak, menatap map hitam itu lalu beralih ke wajah Oliver yang datar tanpa ekspresi. “Dokumen apa lagi ini, Oliver?”
“Buka dan baca sendiri,” sahut Oliver tenang seraya menyilangkan kedua tangan di d**a. “Semua poin yang kita bahas kemarin malam sudah saya tuangkan di situ secara sah dan tertulis.”
Dengan ragu, Audrey menarik map tersebut dan membukanya. Halaman pertama memuat judul tebal, Surat Perjanjian Kerja Sama Khusus (Pendampingan Khusus & Asistensi Pribadi). Jemari Audrey menelusuri baris demi baris kalimat hukum di atas kertas tebal tersebut.
“Poin pertama,” gumam Audrey membaca nyaring dengan alis bertaut rapat. “'Pihak Kedua wajib mendampingi Pihak Pertama dalam setiap acara sosial, keluarga, dan relasi bisnis resmi selama jangka waktu enam bulan.' Oke, ini masuk akal.”
Ia membalik halaman berikutnya, lalu matanya tertahan pada sebuah pasal dengan cetak tebal.
“Pasal empat, poin B,” baca Audrey seraya menaikkan sudut alisnya, menatap Oliver tajam. “'Selama masa perjanjian berlangsung, Pihak Kedua dilarang keras melibatkan diri dalam ranah emosional pribadi atau melibatkan perasaan asmara terhadap Pihak Pertama.' Excuse me? Kamu pikir saya bakal jatuh cinta sama kamu?”
Oliver terkekeh rendah, sebuah kekehan tipis yang amat sangat menyebalkan di mata Audrey. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menumpuk kedua tangan di tepi meja Audrey.
“Itu pasal standar, Audrey. Langkah antisipasi biar fokus kita nggak terdistraksi hal-hal konyol,” potong Oliver santai. “Lanjut baca poin berikutnya.”
Audrey mendesis pelan, kembali menatap lembaran kertas itu. “'Pihak Pertama dan Pihak Kedua wajib menjaga kerahasiaan kesepakatan ini di hadapan seluruh karyawan PT Utama Group. Di area kantor, hubungan berlaku murni secara profesional sebagai Atasan dan Asisten Pribadi.'“
“Gimana? Ada pasal yang kamu keberatan?” tanya Oliver, nada suaranya berubah menjadi intonasi negosiator yang dingin.
“Gaji tambahan dan asuransi ganti rugi kalau reputasi saya rusak gara-gara drama kamu?” tantang Audrey seraya melipat tangan di d**a.
Oliver merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pena eksekutif berujung emas dan meletakkannya tepat di atas lembar terakhir kontrak. “Sudah tertera di pasal tujuh. Tunjangan tiga kali lipat dari gaji AP standar dan perlindungan hukum penuh kalau ada pihak ketiga yang berusaha mencemarkan nama baik kamu secara sepihak.”
Audrey terdiam sejenak. Poin-poin ini dibuat sangat presisi, rapi, dan harus diakui ... sangat menguntungkan posisinya yang selama ini terus terpojok oleh rumor. Tanpa ragu lagi, Audrey menarik pena emas itu, membubuhkan tanda tangannya di atas materai, lalu menyodorkan kembali map tersebut ke arah Oliver.
“Selesai,” ujar Audrey mantap. “Batas waktu enam bulan. Tidak kurang, tidak lebih.”
“Bagus,” kata Oliver seraya mengambil map itu. “Sekarang, jalankan tugas pertama kamu hari ini. Susun ulang seluruh jadwal rapat saya sampai minggu depan, pangkas pertemuan yang tidak krusial, dan bersiaplah. Jam sembilan tepat kita ada rapat evaluasi divisi administrasi dan keuangan.”
Audrey membelalak. “Rapat evaluasi? Yang dipimpin Pak Anton?”
“Tepat,” sahut Oliver seraya berbalik menuju ruangannya. “Saya mau lihat gimana cara kamu menghadapi orang yang sudah menyebar rumor murah soal kamu di kantor ini.”
Pukul delapan lewat lima puluh sembilan menit, ruang rapat utama PT Utama Group sudah dipenuhi para kepala bagian dan manajer divisi. Udara di dalam ruangan itu terasa dingin dan tegang. Pak Anton duduk di sisi kiri meja rapat panjang, bersandar angkuh seraya menata tumpukan berkasnya. Di sampingnya, beberapa staf senior berbisik-bisik sambil melirik sinis ke arah pintu masuk.
Pintu kaca tebal ruangan rapat terbuka. Oliver melangkah masuk dengan aura kepemimpinan yang pekat, mengekor tepat di belakangnya Audrey yang membawa sebuah laptop dan tumpukan dokumen tebal.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Oliver singkat seraya menduduki kursi utamanya di ujung meja. “Kita mulai rapat evaluasi kuartal ini.”
Pak Anton langsung berdeham keras, menegakkan posisi duduknya seraya melempar pandangan meremehkan ke arah Audrey yang sedang memasang kabel proyektor.
“Maaf sebelum dimulai, Pak Oliver,” sela Pak Anton dengan nada suara yang sengaja dikencangkan agar terdengar ke seluruh ruangan. “Mengingat rapat hari ini membicarakan masalah krusial audit keuangan dan efisiensi divisi administrasi, apakah bijak kalau seorang asisten baru yang ... yah, belum teruji kualifikasinya, ikut memegang data internal selengkap ini?”
Beberapa kepala bagian saling pandang, mengangguk pelan menyetujui sindiran Pak Anton.
Audrey menghentikan jemarinya di atas papan ketik laptop. Ia merasakan tatapan menusuk dari sekeliling ruangan, tetapi kali ini ia tidak menunduk seperti kemarin. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan menatap Pak Anton lurus-lurus.
“Terima kasih atas perhatiannya yang luar biasa, Pak Anton,” potong Audrey dengan suara jernih, tenang, dan sangat berwibawa. “Tapi draf laporan analisis efisiensi yang akan kita bahas hari ini diringkas sendiri oleh saya di bawah pengawasan langsung Pak Oliver.”
Pak Anton tertawa sinis, menyilangkan tangan di d**a. “Meringkas data itu mudah, Saudari Audrey. Yang sulit adalah memahami rasio margin kerugian dan menyaring draf vendor yang bermasalah. Jangan sampai posisi AP yang baru kamu tempati ini cuma jadi beban buat operasional tim.”
“Pak Anton,” panggil Oliver dingin, menghentikan ocehan pria paruh baya itu dalam seketika. “Biarkan Audrey menyelesaikan presentasinya sebelum Kamu menghakimi kapasitas kerjanya.”
Audrey menekan satu tombol di laptopnya. Layar proyektor besar di belakang meja rapat mendadak menyala, menampilkan slide presentasi berupa grafik rasio profitabilitas dan diagram aliran kas yang tersaji amat sangat rapi.
“Mari kita langsung masuk ke poin utama,” ujar Audrey seraya melangkah tegap ke samping layar proyektor. “Selama lima kuartal terakhir, Divisi Administrasi mengalami pembengkakan anggaran operasional sebesar empat belas persen. Dan setelah saya melakukan audit silang pada draf kontrak vendor lama ...”
Audrey menekan tombol kalkulasi pada slide berikutnya. Angka-angka merah menyala di layar.
“... saya menemukan adanya penggelembungan biaya pengadaan barang berkala pada draf yang ditandatangani oleh sub-divisi Bapak sendiri, Pak Anton. Kerugian perusahaan mencapai tiga ratus lima puluh juta rupiah per tahun.”
Suasana ruangan rapat mendadak hening seketika. Wajah Pak Anton yang tadinya jumawa berubah merah padam seperti udang rebus. Mulutnya ternganga, matanya membelalak menatap angka-angka presisi yang disajikan Audrey di layar proyektor.
“I-ini pasti ada kesalahan input data!” sergah Pak Anton panik, suaranya meninggi secara refleks. “Kamu nggak bisa asal tuduh tanpa dasar hukum yang jelas, Audrey!”
“Semua lampiran faktur fisik, bukti transfer, dan revisi klausul kontrak vendor lama sudah saya cetak dan lampirkan salinannya di dalam map biru di depan meja Bapak,” balas Audrey tenang tanpa ampun. “Bisa Bapak periksa sendiri detail angkanya sekarang.”
Beberapa manajer divisi lain buru-buru membuka map di meja mereka, berbisik-bisik heboh melihat keakuratan data yang disusun Audrey. Tidak ada satu pun celah kesalahan. Data itu disajikan dengan logika akuntansi tingkat tinggi dan analisis hukum yang sangat tajam.
Oliver menyandarkan tubuhnya di kursi kulitnya, menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. “Laporan yang sangat presisi, Audrey. Pak Anton, ada tanggapan mengenai kebocoran anggaran di divisi Anda?”
Pak Anton bungkam seribu bahasa. Tangannya yang memegang pena tampak gemetaran di atas meja rapat, tak sanggup lagi membalas argumen telak dari wanita yang tadi pagi ia remehkan.
Rapat evaluasi berakhir tepat pukul dua belas siang. Para kepala bagian melangkah keluar ruangan rapat satu per satu dengan pandangan yang kini penuh rasa hormat pada Audrey. Beberapa dari mereka bahkan sempat memberikan anggukan apresiasi saat melewati meja kerja Audrey.
Saat Oliver berjalan kembali menuju ruangannya untuk menerima panggilan telepon penting dari kantor pusat, Audrey pamit melangkah ke koridor luar dekat pantry untuk mengambil berkas arsip tambahan yang tertinggal.
Koridor itu sepi dan lengang, hanya terdengar dengung halus dari mesin pendingin ruangan. Namun, baru saja Audrey menarik map dari lemari arsip, sebuah langkah kaki yang terburu-buru mendekat dari belakang.
“Audrey!”
Audrey memutar tubuhnya. Pak Anton berdiri di sana dengan napas memburu, wajahnya membayangkan amarah yang tak terelakkan setelah dipermalukan habis-habisan di dalam ruangan rapat tadi. Pria itu maju beberapa langkah, mengikis jarak hingga menyudutkan Audrey di dekat dinding koridor.
“Bisa bersikap sopan sedikit, Pak?” tegur Audrey dingin, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Pak Anton tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kebencian dan rasa harga diri yang koyak. Ia menundukkan kepalanya, menatap Audrey dengan tatapan beracun yang amat sangat sharp.
“Kamu pikir saya nggak tahu cara kamu dapat posisi ini, Audrey? Kamu main mata kan sama GM baru itu?”