BAB 8

1725 Words
“Jaga tangan dan batasan kamu, Pak Anton, kalau masih mau punya karier di perusahaan ini.” Cengkeraman kasar tangan Pak Anton di lengan Audrey terlepas seketika ketika sebuah tangan lain mencengkeram pergelangan tangan pria paruh baya itu dengan tekanan yang jauh lebih bertenaga. Hawa dingin yang mengintimidasi mendadak menyapu koridor sempit di dekat pantry. Audrey mendongak, mendapati Oliver sudah berdiri tepat di sampingnya dengan rahang menegang keras dan tatapan mata yang seolah sanggup membakar siapa saja di hadapannya. Pak Anton meringis pelan, mengibaskan tangannya saat Oliver akhirnya melepaskan pegangannya dengan dorongan singkat. Beberapa staf kantor yang kebetulan lewat untuk mengambil minuman di pantry mendadak menghentikan langkah. Mereka berpura-pura sibuk memegang cangkir atau memeriksa dokumen, tetapi pandangan mata mereka tertuju penuh ke arah drama yang membara di lorong itu. “Pak Oliver ...” Pak Anton berusaha merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, mencoba memasang wajah tenang walau napasnya masih memburu gusar. “Bapak jangan salah paham dulu. Saya cuma mau menegur bawahan saya yang tidak punya tata krama di depan umum.” “Teguran?” Oliver melangkah satu petak ke depan, memangkas jarak dan berdiri pas di depan Audrey, menyembunyikan wanita itu di balik punggung tegapnya. “Menyudutkan staf di koridor sepi, mencengkeram lengannya secara fisik, sambil melontarkan tuduhan tidak berdasar itu bukan menegur, Pak Anton. Itu pelecehan verbal dan intimidasi.” “Saya punya alasan kuat, Pak!” sergah Pak Anton tidak mau kalah, suaranya meninggi dengan nada defensif. Matanya melirik benci ke arah Audrey dari balik bahu Oliver. “Sikap dia di ruang rapat tadi sengaja mempermalukan saya dan tim saya di depan para manajer lain! Cara dia menyampaikan data itu sangat emosional dan tidak profesional. Dia sengaja menjatuhkan kredibilitas saya!” “Kredibilitas yang mana, Pak Anton?” potong Oliver tajam, nada suaranya yang berat dan dingin seketika memotong keberanian pria itu. “Data angka yang dia sajikan tadi pagi adalah hasil laporan audit resmi. Jika data itu membuat Anda merasa dipermalukan, artinya memang ada yang salah dengan kinerja divisi Anda, bukan dengan cara asisten saya menyampaikannya.” “Tapi cara dia menyerang sub-divisi saya—” “Lagipula ...” sela Pak Anton lagi, mencoba mencari celah baru sambil menyipitkan mata. “Semua orang di kantor ini juga tahu rumor yang beredar soal hubungan kalian berdua. Dia cuma staf biasa yang tiba-tiba melesat naik jadi Asisten Pribadi General Manager. Wajar kalau saya curiga ada favoritisme di sini!” Bisik-bisik di ujung koridor terdengar makin riuh. Beberapa karyawan yang berdiri di dekat mesin pembuat kopi saling pandang, menantikan reaksi sang pimpinan baru. Audrey mengepalkan jemarinya kuat-kuat di balik punggung Oliver. Sudut hatinya menciut, rumor itu adalah ketakutan terbesarnya sejak menerima tawaran perjanjian ini. Keringat dingin mulai merembes di telapak tangannya. Namun, Oliver sama sekali tidak goyah. Pria itu justru melangkah satu sentimeter lebih maju, membusungkan d**a dan menatap Pak Anton dengan tatapan meremehkan yang amat menyengat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. “Rumor murah yang dibuat oleh orang-orang frustrasi karena kinerjanya tersaingi?” tembak Oliver tanpa ragu, suaranya menggema tegas di sepanjang koridor. “Dengar baik-baik, Pak Anton. Dan ini berlaku untuk siapa pun yang berdiri di koridor ini.” Oliver melirik sekilas ke arah sekumpulan staf yang berkerumun di ujung lorong sebelum menancapkan pandangannya kembali pada Pak Anton. “Audrey berada di posisi Asisten Pribadi murni karena kualifikasinya. Dia menyelesaikan analisis laporan keuangan dalam waktu dua belas jam—sesuatu yang divisi Anda bahkan gagal lakukan dalam tiga bulan terakhir. Laporan audit presisi yang dia sajikan tadi pagi membuka mata kita semua soal adanya kebocoran anggaran ratusan juta di sub-divisi yang Anda pimpin.” Wajah Pak Anton yang tadinya memerah menahan marah kini berangsur pucat pasi. “Pak, masalah anggaran itu masih dalam proses konfirmasi vendor, saya bisa jelaskan—” “Masalah anggaran itu menunjukkan ketidakmampuan Anda dalam memimpin dan mengawasi alur kas!” potong Oliver tanpa ampun, menyilangkan kedua tangannya di d**a. “Daripada sibuk mengurusi hidup orang lain dan menyebar fitnah murahan di koridor kantor, sebaiknya Anda kembali ke meja kerja Anda. Fokus menyusun laporan pertanggungjawaban audit keuangan itu sebelum jam lima sore ini, atau saya anggap Anda mengundurkan diri.” “Pak Oliver! Bapak tidak bisa menindak saya cuma karena membela wanita ini!” seru Pak Anton, suara dan napasnya mulai tidak teratur. “Saya sudah bekerja di perusahaan ini selama delapan tahun!” “Dan delapan tahun itu tidak memberi Anda hak istimewa untuk melanggar aturan,” balasa Oliver dingin, tatapannya menembus manik mata Pak Anton tanpa berkilat sedikit pun. “Saya menindak Anda hari ini murni karena pelanggaran etika kerja, intimidasi fisik terhadap rekan kerja, dan ketidakbecusan manajerial. Sekarang, minta maaf pada Audrey. Secara formal.” Pak Anton membelalak tak percaya. “Apa? Minta maaf sama dia? Di depan staf lain?” “Atar surat pemutusan hubungan kerja Anda saya tandatangani sebelum jam makan siang,” ancam Oliver santai, namun intonasinya begitu mengikat hingga tak ada sedikit pun ruang untuk bernegosiasi. Suasana koridor mendadak hening total. Bahkan gesekan langkah kaki dari arah tangga darurat pun tak terdengar lagi. Seluruh staf yang menyaksikan dari jauh menahan napas, tak menyangka sang General Manager baru akan bertindak sejauh dan sekeras itu demi menegakkan kewenangannya. Pak Anton mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahagnya mengeram rapat menahan rasa malu dan kebanggaan diri yang hancur berkeping-keping. Pria paruh baya itu akhirnya mengalihkan pandangannya dari Oliver, menatap Audrey dengan pandangan terpaksa dan wajah yang membara oleh kemarahan terpendam. “Saya ... saya minta maaf atas tindakan dan ucapan saya tadi, Saudari Audrey,” ucap Pak Anton kaku. suaranya berat dan hampir-hampir tak terdengar seperti bisikan frustrasi. Audrey yang berdiri di belakang Oliver menghela napas pelan. Ia menarik bahunya ke atas, berusaha mempertahankan martabatnya di hadapan pria yang selama ini selalu memandang rendah dirinya. “Dimaafkan, Pak Anton. Saya harap setelah ini kita bisa bekerja secara profesional sesuai lingkup tugas masing-masing.” Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Pak Anton berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan kaki gusar. Langkahnya terburu-buru, menghilang di balik belokan koridor menuju ruangannya. Beberapa staf yang berkerumun dekat pantry pun buru-buru membubarkan diriBegitu Oliver melayangkan pandangan dingin yang penuh peringatan ke arah mereka. Dalam hitungan detik, koridor sepi itu kembali hening. Audrey bersandar pelan pada dinding koridor, meresapi keheningan yang kembali melingkupi tempat itu. Jantungnya masih berdegup kencang seperti drum yang dipukul bertubi-tubi. Ada desir hangat yang perlahan menyusup ke dadanya—rasa tersanjung dan lega yang luar biasa karena dibela dengan begitu tangguh di depan umum. Selama bertahun-tahun bekerja di bawah bayang-bayang hierarki kantor yang tidak adil, belum pernah ada satu orang pun yang berdiri pas di depannya dan memasang badan seperti yang dilakukan Oliver baru saja. Namun, di saat yang bersamaan, rasa cemas yang jauh lebih pekat dan kelam justru datang menghantam pikirannya. Pembelaan Oliver yang begitu terang-terangan dan tanpa kompromi pasti akan dijadikan bahan bakar baru bagi rumor kantor. Gosip di antara para karyawan tidak akan mati, gossip itu justru akan meledak dan menyebar makin liar tak terkendali mulai besok. “Jangan dipikirkan ucapan dia,” ujar Oliver pelan. Ia memutar tubuhnya, membelakangi lorong yang kosong dan menatap Audrey sepenuhnya. Audrey mendongak, menatap Oliver dengan raut wajah yang campur aduk antara rasa terima kasih dan keraguan yang besar. “Tapi Pak ... Oliver, cara kamu membela saya tadi di depan semua orang ... itu justru makin membenarkan tuduhan Pak Anton dan orang-orang.” “Membenarkan apa?” tanya Oliver datar. “Mereka bakal makin yakin kalau rumor itu beneran!” desis Audrey pelan, memelankan suaranya agar tak terdengar ke area lain. “Mereka bakal mikir kita memang ada hubungan khusus. Posisi saya sebagai AP bakal dianggap cuma hadiah dari hubungan gelap, bukan karena kerja keras saya!” Oliver mendengus pelan, menatap Audrey dengan pandangan tajam namun teduh. “Biarkan saja mereka berpikir apa pun yang mereka mau, Audrey. Pikiran orang lain di luar kendali kita. Yang paling penting hari ini adalah mereka tahu batas, dan nggak akan ada satu orang pun di kantor ini yang berani mengganggu atau meremehkan kamu lagi.” “Tapi reputasi—” “Reputasi kamu dibangun dari hasil kerja kamu, bukan dari mulut orang-orang frustrasi seperti Anton,” potong Oliver tegas namun lembut. “Ayo ikut saya.” Sebelum Audrey sempat membalas atau mengajukan keberatan, Oliver meraih pergelangan tangan wanita itu. Gerakannya lembut, menjaga agar tidak menyakiti bekas cengkeraman Pak Anton tadi, namun genggamannya begitu erat dan tidak membiarkan adanya penolakan. Pria itu menarik Audrey menyusuri koridor utama, melewati ruang-ruang kerja transparan di mana puluhan pasang mata memandang mereka dari balik kaca dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Oliver tidak peduli. Ia terus melangkah tegap menuju ruang kerja eksekutif sang General Manager. Begitu mereka melangkah masuk, Oliver menutup pintu jati tebal ruang kerjanya dengan bunyi klik yang menggema. Tanpa melepaskan pandangannya dari Audrey, Oliver langsung menekan tombol kontrol di samping pintu. Kunci pintu berbunyi bip menandakan akses terkunci dari dalam, dan dalam hitungan detik, tirai kaca otomatis merosot turun, menutup seluruh pemandangan transparan dari luar. Ruangan besar beraroma kayu cendana itu mendadak menjadi arena privat yang benar-benar terisolasi dari dunia luar. Audrey berdiri membeku di dekat pintu, napasnya tersendat. Perubahan atmosfer yang begitu drastis membuat dadanya bergemuruh hebat. Oliver berbalik. Langkah kakinya yang panjang dan mantap mengikis jarak di antara mereka dalam hitungan detik, memaksa Audrey melangkah mundur hingga punggungnya menempel pelan pada pintu kayu di belakangnya. Pria itu tidak berhenti sampai jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Oliver merendahkan tubuhnya sedikit, memangkas sudut pandang hingga matanya sejajar dengan mata Audrey. Ia menatap lurus ke dalam iris mata wanita itu dengan pendar kekhawatiran dan ketegangan yang tak lagi mampu ia sembunyikan di balik topeng profesionalismenya yang dingin. Jemari Oliver terangkat ragu. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, ia mengusap pelan bekas cengkeraman Pak Anton di pergelangan tangan Audrey yang masih menyisakan rona kemerahan. Kulit Audrey terasa dingin dan jemarinya sedikit gemetar. “Kamu nggak apa-apa? Gemetar begini ...” bisik Oliver dengan suara berat dan serak yang menggetarkan udara di antara wajah mereka. Audrey menahan napas, tak mampu mengalihkan pandangannya dari pendar mata Oliver yang begitu pekat. “Tangan kamu dingin, Audrey,” lanjut Oliver pelan, ibu jarinya mengusap lembut urat nadi di pergelangan tangan wanita itu. “Mulai hari ini, biar saya pastikan nggak ada seorang pun di kantor ini yang berani menyentuh atau membentak kamu lagi. Termasuk Anton, atau siapa pun itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD