“Kamu kenapa, sih, Mas? Biarin aja mereka. Peduli amat sama kata orang. Ingat, ya, aku juga nikahin kamu karena cinta. Enggak peduli aku kata orang. Biarin Bang Jo menentukan kebahagiaannya,” sahut Rose kemudian.
“Ya, aku beda sama dialah. Aku ini karyawan terbaik di perusahaan kamu. Sedangkan dia apa? Dia cuma pengasuh, Sayang,” ucap Damian berapi-api.
Pokoknya apapun yang terjadi, ia tak mau Meysa bersama Jo. Ia tak mau semua terbuka dan wanita itu menikmati kemenangannya.
“Sudahlah, Mas. Biarkan saja mereka. Cinta itu memang aneh. Dia bisa jatuh ke mana saja dan pada siapa saja. Lagi pula, kamu enggak perlu repot memisahkan mereka. Enggak ada yang tahu bagaimana ke depannya. Bang Jo punya selera yang tidak biasa. Mungkin saja setelah mengenal Meysa lebih dalam, ada satu 2 hal yang mungkin tidak dia sukai. Jangan ikut campur urusan mereka lagi. Oke,” jelas Rose panjang lebar.
Damian hanya bisa diam ketika sang istri sudah berkata demikian. Ia tak tahu, mengapa istri dan kakak iparnya begitu percaya pada Meysa. Apakah ia perlu mengeluarkan senjata terakhirnya sekarang?
“Sayang, kamu tahu, kan, Meysa itu pernah hamil di luar nikah. Apa kamu enggak curiga atau paling enggak mikir dikitlah. Dulu aja dia begitu. Bisa memberikan kesuciannya pada orang sembarangan sampai hamil dan tidak ada yang bertanggung jawab. Sekarang, dia bisa juga menjebak Bang Jo. Dia berikan yang laki-laki suka dan hamil. Itu bisa aja terjadi, kan?” ucap Damian masih tak mau kalah.
Rose membuang napasnya dengan kasar, lalu menatap sang suami yang kelewat cemas dengan lekat.
“Mas, sama mantan pacarnya yang udah tunangan aja dia enggak pernah menyentuh. Apalagi sama Meysa yang baru dia kenal. Bang Jo itu bukan cowok sembarangan, Mas,” kata Meysa.
Sial! Bahkan hal itu juga tidak membuat Rose bergerak untuk memisahkan mantan pacarnya itu dengan Jo. Lantas, apa yang harus Damian katakan lagi?
Sementara itu, Meysa yang ternyata naik dan mendengar semua pembicaraan mereka dari balik pintu hanya bisa terdiam. Tangannya terkepal sempurna demi menahan rasa marah yang ada di dadanya. Damian benar-benar keterlaluan. Dia mengatakan keburukan yang sebenarnya adalah ulahnya di hadapan sang istri agar membencinya. Namun, Meysa tak akan tinggal diam. Ia akan membuat Damian membongkar kebusukannya sendiri satu per satu di hadapan istrinya yang kaya ini.
Tok-tok-tok.
“Masuk!”
“Permisi, Nyonya. Pak Jo mau pamit pulang. Beliau ingin bertemu dengan Nyonya dan menyampaikan sesuatu,” kata Meysa.
“Oh, iya. Ini pasti soal proyek di jalan poros. Titip Bastian dulu, ya,” kata Rose yang kemudian memberikan anak laki-lakinya pada Meysa.
Sementara Damian menatap nyalang wanita yang dulu pernah sangat ia cintai itu dengan nanar. Ia tampak kesal, tapi kemudian memilih berlalu mengekor pada Rose yang berjalan lebih dulu.
“Tunggu saja, Damian. Aku akan membuka semuanya,” ucap Meysa lirih.
***
Malam itu, Rose mendatangi kamar sang anak dan Meysa sebelum terlelap. Saat ia masuk, wanita itu melihat Meysa yang kesulitan membuka kancing bajunya saat menyusui Bastian. Jadi, ia melempar tanya pada wanita itu.
“Mey, apa kamu tidak punya pakaian yang bisa memudahkanmu menyusui Bastian?”
“Tidak ada, Nyonya. Baju yang kemarin Nyonya berikan aku pakai siang hari agar lebih efisien,” kata Meysa.
“Aku sepertinya punya beberapa pakaian. Tunggu sebentar, ya.”
Rose akhirnya berlalu menuju ke kamarnya. Saat ia masuk, Damian masih ada di kamar mandi. Setelah menemukan pakaian yang ia maksud, Rose kembali ke kamar sang anak dan memberikannya pada Meysa.
“Pakai ini. Pasti jauh lebih nyaman,” kata wanita itu.
Meysa melihat 3 baju yang Rose berikan. Oke, ini sepertinya sesuai dengan ukuran tubuhnya. jadi. Atau mungkin sedikit kekecilan karena Rose memiliki tubuh lebih mungil dari Meysa. Setelah mengganti pakaiannya, wanita itu keluar dan mengambil alih kembali Bastian dari gendongan sang majikan.
“Istirahatlah. Bastian juga sudah tidur,” kata Rose.
“Baik, Nyonya.”
Rose akhirnya berlalu. Wanita itu memilih pergi ke ruang kerjanya dan menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa dari kantor tadi. Sementara Damian yang sudah selesai membersihkan diri memilih keluar untuk mencari sang istri. Ia pikir, Rose pergi ke kamar sang putra dan ia kemudian menyusulnya.
Seperti perintah Rose tadi, Meysa sudah beristirahat di ranjang bersama Bastian. Ia hanya menyalakan lampu tidur saja untuk menerangi kamar itu. Sementara Damian tersenyum kecil melihat sosok wanita yang ia pikir adalah sang istri tidur dengan membelakanginya. Sementara pakaiannya sedikit tersingkap di bagian betis.
“Kenapa Rose malah tidur di sini? Apa dia kangen ngelonin Bastian?” bisiknya.
Pria itu mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Melihat lutut mulus di hadapannya, Damian menelan ludahnya dengan susah payah. Ia telah lama menahan diri. Bagaimana jika ia meminta haknya pada sang istri malam ini.
Tangan pria itu terulur demi mengusap kaki Meysa yang putih. Tentu saja, wanita yang baru saja terlelap itu merasa semuanya seperti mimpi. Saat kemudian, Damian merebah di sampingnya dan menghidu tengkuk Meysa dengan perlahan.
“Aku kangen banget, Sayang,” bisiknya.
Sontak Meysa membuka mata. Ia menoleh dan langsung terkejut ketika melihat Damian ada di sana. Begitu juga dengan pria itu. Bukankah tadi itu Rose, kenapa berubah jadi Meysa.
“Kamu mau apa, Damian?” tanya Meysa seraya menyilangkan tangannya di d**a.
Sejenak, Damian terdiam. Pikirannya mulai gila ketika melihat Meysa yang begitu menawan. Aah … apakah perasaan itu masih ada? Bahkan ia mulai memikirkan setiap inci tubuh wanita itu ketika dulu ada dalam dekapannya.
“Emm … aku pikir kamu tadi Rose. Kenapa kamu pakai pakaian itu? Bukannya itu punya dia?” tanya Damian.
“Nyonya yang memberikannya,” jawab Meysa lirih.
Saat ini, wanita itu menunduk. Namun, ia tahu jika mantan pacarnya sedang menatapnya dengan nyalang. Sejujurnya, jika tadi Damian tak bersuara, ia bisa saja terlena. Bahkan mungkin mengulangi kesalahan yang sama. Nyatanya ia tetap harus ingat sang anak yang kini telah ada di surga. Bukankah gara-gara pria di depannya ini ia meninggal.
Meysa kemudian memberanikan diri untuk mendongak. Ia melihat wajah Damian yang sudah kadung ingin, tapi mencoba menahannya. Lantas, apakah ia bisa memanfaatkan kelemahan pria itu untuk membuatnya hancur?
Sementara Damian masih terdiam. Alasan ia meninggalkan Meysa waktu itu bukan karena ia sudah tak cinta. Melainkan karena Rose. Jadi, jika sekarang ia ditanya bagaimana perasaannya terhadap wanita itu, jelas Damian masih sayang. Itulah sebabnya, ia benci melihat Meysa bersama Jo.
“Kamu … masih seperti dulu, Mey,” ucap Damian yang ternyata tidak bisa menahan dirinya.
Meysa mendongak. Umpan benar-benar disambar oleh ikan. Jadi, apakah ia harus segera menarik pancingnya.
“Enggak ada yang berubah, Damian. Enggak sama sekali,” bisiknya.
Melihat ada kesempatan, Damian kemudian mengikis jarak dengan pengasuh anaknya itu. Mungkin reuni mantan bisa membuat hubungan keduanya membaik walaupun di belakang Rose, pikir Damian. Ketika kemudian ia mengulurkan tangannya dan mengusap lutut Meysa lembut dan mata keduanya beradu. Siap untuk membuat dosa walaupun Meysa benar-benar menginginkan kehancuran pria di depannya. Saat itu, ketukan di pintu membuat Damian terkesiap. Ia kalang kabut, sedangkan Meysa yang sudah tahu akan ada yang datang langsung meminta Damian bersembunyi.
“Di kolong ranjang aja,” katanya seraya membuka sprei.
Damian manut. Tepat ketika pintu terbuka, semuanya aman. Rose masuk dan menemui Meysa yang duduk di tepi ranjang.
“Apa kamu melihat Damian, Mey?” tanya Rose usia mendorong pintu ruangan itu.