“Emm … tidak, Nyonya,” kata Meysa dusta.
“Oh, ya, sudah kalau begitu. Maaf mengganggu waktu istirahatmu,” ucap Rose yang kemudian memilih berlalu.
Meysa hanya mengangguk lemah. Tak lama setelah pintu tertutup, Meysa membuka sprei dan meminta Damian untuk keluar.
“Sebaiknya kamu keluar sekarang,” kata Meysa.
“Iya.”
Damian hendak menuju ke pintu kamar, tapi mendengar suara sang istri yang bertanya pada ART mereka, pria itu memilih untuk melompat dari balkon saja. Ini akan aman jika Rose tidak langsung masuk ke kamar.
Setelah melompat, Damian pura-pura tertidur di kursi santai di balkon kamarnya. Saat tak lama kemudian Rose masuk dan mengambil ponselnya di nakas. Saat itu, ia melihat kaki sang suami di balkon.
“Astaga, ternyata kamu di sini, Mas?” tanya Rose.
“Hah? Kamu nyari aku?”
Damian pura-pura terkejut ketika Rose menghampirinya. Pria itu pun bangkit dan bertanya apa yang diperlukan wanita itu saat ini.
“Datanya ada yang eror. Makanya aku mau minta bantuan kamu,” jelas Rose.
“Oke, kita lihat.”
Damian membuang napasnya dengan kasar usai berhasil kabur dari kamar Bastian. Sial sekali. Andai istrinya tak membutuhkan bantuannya, apakah ia bisa bersenang-senang mengulang kegilaan bersama Meysa di ranjang.
“Yang ini, Mas.”
Rose menunjukkan data komputernya kepada Damian. Saat itu, dengan cekatan pria cerdas itu mulai membetulkan apa-apa yang salah. Walaupun pikirannya masih terpaku pada sang mantan kekasih yang kini menjadi ibu s**u untuk anaknya. Apakah Meysa belum tidur atau apa yang sedang ia lakukan sekarang? Menyusui anaknya? Aah … Damian tak bisa berkonsentrasi. Sampai akhirnya semuanya selesai.
“Udah aman,” katanya.
“Makasih, ya, Mas. Kayaknya aku terlalu lama cuti jadi hal kecil gini aja sampai bingung,” kata Rose.
“Sebentar lagi kamu juga akan balik lagi kayak dulu. Jadi wanita karir yang hebat dan bisa diandalkan,” puji Damian seraya menyibak anak rambut di kening Rose.
“Kamu bisa aja. Ya, udah. Kamu tidur, gih. Aku masih harus–”
“Rose, nanti aku akan bantu kamu mengerjakannya. Sekarang, berikan aku sesuatu sebagai imbalan,” bisik Damian seraya menarik tubuh sang istri dalam dekapan.
Sungguh, setelah bersama Meysa tadi, ia tak bisa menidurkan hasratnya barang sebentar saja. Bayangan pergumulan di ranjang berputar di kepala tanpa permisi. Hingga ia nekat mengajak sang istri yang gila kerja untuk melakukannya.
“Jangan sekarang, Mas. Aku harus selesaikan ini sebelum besok pagi bertemu klien. Oke.”
Rose mendorong tubuh sang suami menjauh. Tak ada yang bisa Damian lakukan sekarang. Dengan langkah gontai, ia keluar dari ruangan kerja sang istri menuju ke kamarnya. Saat sampai di depan pintu, Damian menghentikan kakinya. Ia menoleh ke arah kamar sang anak di mana ada Meysa di sana. Bayangan wanita itu menari-nari di atas tubuhnya lewat tanpa permisi. Namun, Damian menggeleng lemah. Tidak-tidak. Jangan sampai ia melakukan kesalahan karena sang istri tidak akan pernah memaafkannya. Jadi, ia memilih masuk ke kamar dan menuju ke kamar mandi. Pada tempat lembab itu, Damian memilih memuaskan diri sendiri dengan bayangan Meysa yang menggodanya.
***
“Mey, kamu sudah sarapan?”
Rose bertanya pada Meysa yang baru saja turun dari kamarnya bersama Bastian. Wanita tampak mengenakan pakaian pelayan sama seperti Murni yang saat ini ada di dapur. Namun, entah kenapa di mata Damian, semuanya seperti sesuatu berbeda. Sejak semalam. Sejak ia hampir kepergok Rose ada di kamar Bastian dan memeluk mantan pacarnya itu dari belakang.
“Belum, Nyonya. Nanti saja setelah Bastian tidur,” jawab Meysa.
“Jangan nunda makan. Kamu sudah menyusuinya sejak semalam. Pasti kamu lapar. Sini, biar aku yang gendong Bastian, kamu makan dulu,” ucap Rose.
Meysa tak bisa menolak. Rose bahkan memintanya makan di meja makan bersama Damian pagi itu. Namun, ia menolak.
“Enggak enak sama Tuan Damian, Nyonya. Saya makan di belakang aja,” jelas Meysa.
“Baiklah kalau begitu.”
Meysa permisi ke belakang. Sementara Damian pura-pura tenang dengan roti bakar selai cokelat di hadapannya. Pria itu tak mau berlebihan walaupun bisa saja sewaktu-waktu Meysa membuka semuanya di depan Rose. Namun, melihat ekspresi wanita itu semalam, mungkinkah Meysa masih memiliki perasaan kepadanya?
Tak lama kemudian, ponsel Damian berdering. Nama sang mama yang muncul di layarnya. Jadi, ia segera menerima panggilan itu.
“Halo, Ma.”
“Halo, Damian. Siang ini Mama mau ke rumahmu. Rose ada di rumah, kan?” tanya Nita.
“Rose udah balik kerja lagi, Ma. Enggak ada orang di rumah.”
“Loh, Bastian gimana?” tanya wanita itu.
“Ada yang–”
Damian menjeda ucapannya. Tak mungkin ia bilang pada Nita jika Meysa yang saat ini menjadi ibu s**u dari sang cucu. Mengingat jika dulu wanita itu tidak menyukai Meysa, bahkan meminta wanita itu menjauh darinya.
“Damian, kenapa? Pokoknya nanti siang Mama mau ke sana.”
Tut-tut-tut.
Damian membuang napas kasar ketika sambungan telepon terputus. Mamanya benar-benar keras kepala. Mau tak mau, ia harus mencegah keduanya bertemu. Jadi, ia segera memberi tahu Rose jika Nita akan datang.
“Mau apa Mama ke sini? Kamu belum transfer uang ke dia?” tanya Rose yang sudah hafal dengan tabiat sang mertua.
Nita akan menelepon dan pura-pura berkunjung ketika jatah bulanannya belum dikirim. Aah, andai saja ia tak cinta pada Damian, pasti ia tak mau menjadi menantu wanita seperti itu.
“Bukan, Mama mau ketemu Bastian. Jadi, kamu enggak usah ke kantor saja hari ini, ya. Temuin Mama,” kata Damian.
“Ngapain? Palingan basa-basi. Aku udah hafal sama kelakuan Mamamu. Aku enggak peduli dia mau ke sini,” jawab Rose.
Wanita itu berlalu demi melihat apakah Meysa sudah selesai makan atau belum. Sebab, ia harus berangkat ke kantor setelah ini. Rose sudah hafal dengan sifat sang mertua. Sementara Damian hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Sang istri tidak bisa diharapkan. Jadi, ia harus mencari cara agar Nita tidak bertemu dengan Meysa di rumah ini nanti.
***
Siang itu, sesuai rencana, Nita datang ke kediaman Damian dan Rose dengan menggunakan taksi. Wanita yang sangat manipulatif itu turun dari kendaraan dan langsung masuk ke rumah. Tepat ketika ia mendorong pintu utama rumah besar itu, ia terkejut. Matanya melotot melihat sang putra sedang menggandeng tangan Meysa untuk keluar melalui pintu samping.
“Apa-apaan ini Damian?” tanya Nita begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.