8 | Terpaksa Berbohong

2455 Words
"Katanya lo nolak kenalan sama Hazel?" Rajen sedang mengganti oli motor, ini juga bukan milik customer, melainkan motor butut Pak Idris yang dijadikan kelinci percobaan untuk Rajen. Di bengkel, dia belum diizinkan gabung bekerja. Masih belajar, paling jadi yang suka isi-isi bensin plus isi angin. Kalau dua itu Rajen bisa. "Hazel siapa?" Idam mengelap tangannya dengan handuk kecil. "Yang di arena malam kemarin. Cewek." Rajen mengingat-ingat. "Ada banyak cewek di sana—" "Tapi yang katanya berani nyamperin lo sambil ngajak kenalan itu cuma Hazel, kan?" By the way, orang-orang di bengkel belum ada yang tahu bahwa sebetulnya Rajen sudah menikah, sudah punya anak, dia terstempel bujang di mata mereka. Rajen tidak ada niat menyembunyikan statusnya, tetapi tak merasa perlu koar-koar sudah menikah juga, kecuali kalau ditanya. "Oh ... namanya Hazel?" Rajen bicara acuh tak acuh. Malah sebetulnya Rajen lupa bagaimana rupa gadis itu. "Dia anak polisi." Lho? Sontak Rajen menoleh. Anak polisi, tetapi terjun di dunia liar yang biasanya polisi bertugas membubarkan? Bukankah ini kontroversi? "Kalo ada Hazel, balapan aman. Kalo nggak ada, katanya sering waswas disidak satpol PP," jelas Idam. Dia lanjut duduk di hadapan motor yang sedang dibenahi. Ya sudahlah, toh Rajen tidak begitu ingin tahu. Maka Rajen sekadar manggut-manggut. Oh, ya. Ini bengkel khusus motor. Tapi yang sebelah ada khusus mobil dan masih punya Pak Idris. Rajen menunduk sesaat, mengecek hasil kerjanya sendiri. Habis ini Rajen mau ganti busi dan bongkar pasang mesin. Selang sepersekian waktu, Idam kembali. Masuk jam istirahat. Azan Zuhur terdengar. "Dia juga nge-chat lo, tapi katanya nggak dibales? Kenapa?" Rajen meneguk air mineral. Botol minum hijau Hulk punya Bara, Humaira membawakan untuknya bekerja. Jangan sampai hilang atau ketinggalan katanya, nanti Bara ngamuk. Sekadar info, semua botol minum di rumah warnanya hijau Hulk. Tiap beli selalu mengedepankan selera anak. Oke, ini tidak penting. "Dapat kontak gue dari mana?" Pantas saja ada nomor asing masuk. Jelas tidak Rajen balas. "Bang Bendrong." Dan Idam disuruh menanyakan soal itu ke Rajen. "Kenapa nggak bales? Doi inceran semua anak tongkrongan, lho. Cantik juga, kan?" Hazel. Rajen masukkan botol hijau Hulk-nya ke tas kecil. Ada ponsel juga di situ. "Eh, tapi calon CEO masa sama anak polisi? Minimal sama pewaris takhta lagi gak, sih? Ya, gak, Raj?" Idam menaik-turunkan alis. Rajen nyengir sepintas. Tidak bilang iya atau sebaliknya. "Yang nentuin standar jodoh calon CEO siapa emang? Baru denger kalo anak polisi kurang pas sama anak pengusaha." "Wah, wah ... berarti bisa, nih, sama Hazel?" Bukan seperti itu. "Semua manusia setara, kan?" Karena istri Rajen anak ART. Tapi Rajen kurang mahir menyelorohkannya. Sehingga Idam mengartikan lain. "Gas, Raj, gas! Cantik juga, tuh, si Hazel. Seluruh anak tongkrongan pasti iri sama lo. Paling nanti datang musuh dikit, yang cemburu dan nggak terima lo jadian sama dia." Rajen menyungging sebelah bibir. "Ngobrolin apa, sih? Sejak akrab, kok, kalian gak ajak-ajak gue juga?" sela Malik. Bergabung. Idam dan Rajen auto bubar, padahal masih ada yang ingin Rajen katakan pada Idam. Tapi ... nanti sajalah. "Oi!" Malik berkacak pinggang. *** +628123***: [Hai.] Itu Hazel? Rajen hapus. Bahaya, kan? Takutnya Huma patroli, terus memergoki ada pesan masuk dari nomor asing. Pasti Rajen ditanya-tanya banyak hal nanti, seperti: "Siapa ini?" "Kok, bisa tahu kamu?" "Dapat kontaknya dari mana?" "Siapa Bang Bendrong?" Dan masih banyak lagi. Sementara, Rajen tak bisa jawab tidak tahu. Huma kalau sudah mode penyidik, Rajen kesulitan berkelit. Bukannya apa, posisinya Rajen sedang menyembunyikan kegiatan malamnya dari istri. Rajen merasa masih butuh uang dari sana, balap liar memberikan banyak uang dalam waktu singkat padanya di kondisi finansial sedang jatuh dan belum stabil. Entah kenapa sampai detik ini belum ada panggilan interviu dari perusahaan yang Rajen masukkan surat lamaran. Rajen cek email, bahkan di kolom spam pun tidak ada tanda-tanda lamarannya diterima. Rajen refresh, tetap nihil. Mencari pekerjaan ternyata sulit, ya? Padahal sudah ada gelar Sarjana, sudah ada pengalaman membuat aplikasi juga, tetapi lamaran kerja Rajen entah sudah dilirik atau bahkan tidak sama sekali. Apa yang salah? Apa yang membuat pelamar kerja susah dapat kerjaan? Waktu berlalu, kembali Rajen bergelut dengan motor butut Pak Idris. Rajen serius belajar. Untuk saat ini dia belum digaji pada umumnya, uang sepuluh juta buat Rajen setor sebagai investor dari Atmaja Group jelas kurang meyakinkan. Maka uang itu masih Rajen simpan. Tapi setidaknya di sini Rajen diberi upah harian karena sudah jadi pelayan isi bensin dan isi angin. Paling tidak ... lima puluh ribu Rajen kantongi. Lumayanlah. "Gimana, Raj? Masih betah belajar hidup mandiri?" celetuk Malik. Rajen sudah tiba di jam pulang. Ini pukul setengah lima sore. Rajen pakai lagi jaketnya. Malik duduk di meja ban. Rajen melirik. "Lebih enak kehidupan lo yang nggak mandiri itu, kan?" Malik nyengir. Rajen tarik resleting jaketnya sampai dadaa tertutup. "Jelaslah." Malik terkekeh. "Tapi agak gak nyambung, ya? Luxe, kan, perusahaan furnitur. Lha, lo kenapa mangkalnya di bengkel alih-alih mebel atau yang sejenis?" Ya, jelas juga. Kan, Rajen cuma akal-akalan. Termasuk jawabannya sekarang. "Namanya belajar mandiri itu dilepas, Mal. Dibebasin. Disuruh mengembara. Nggak mesti sealiran sama perusahaan keluarga, karena yang jadi bahan pembelajarannya bukan itu. Tapi jiwa kemandirian, jiwa survival." Malik ber-oalah ria dengan takjub. "Gini, toh, cara hidup dan didikan konglomerat?" Yap. Rajen manggut-manggut. "Eh, si Jagat gimana kabarnya? Berarti dia lagi sibuk belajar mandiri juga? Di bidang apa dia?" "Sorry, Mal. Gue balik dulu. Udah jam segini, bye!" Rajen cepat-cepat berpamitan, dia menepuk bahu Malik. Karena Rajen malas mengarang kebohongan yang lain, apalagi soal Jagat—kembarannya. Sosok yang kelak akan memimpin Atmaja Group di kursi jabatan impian Rajen. *** Kalian tahu siapa Jagat? Selain kembaran Rajen, dia adalah saingan di kompetisi pewaris Atmaja Group. Rajen selalu berusaha lebih unggul dari sang kembaran. Rajen dengan jiwa ambisiusnya bertekad memenangkan kompetisi tersebut, kelak yang jadi pimpinan utama perusahaan keluarga adalah dirinya. Rajen sudah membuktikan di beberapa aspek, nilainya selalu di atas Jagat. Rajen rajin belajar, Rajen punya keinginan kuat, dan Rajen tidak masalah menerima takdir pewaris—yang kehidupan asmaranya sampai diatur; dijodohkan oleh wasiat kakek uyut. Bunyi wasiat itu adalah ... "Siapa pun yang jadi pemimpin Atmaja Group di generasi Rajen dan Jagat, kelak harus mau menerima perjodohan dengan cucu pemilik Bumantara Corp." Namanya Seruni. Rajen ingat. Seruni Iris Semesta. Saat itu Rajen masih SMA, Seruni juga masih kecil. Beda usia sekitar enam tahunan. Dan takdir pernikahan para pewaris utama sudah ditentukan tetua. Rajen tidak masalah dijodohkan, apalagi selama ini Rajen memang tidak pernah berpacaran. Meski hati dan perasaan cinta—yang selalu Rajen tampik—sudah tumbuh untuk Humaira. Perasaan itulah yang Rajen sebut kebencian. Sikapnya kepada Huma lantas semakin kurang ajar, dulu. Waktu Rajen masih SMA. Sementara, Jagat sudah berkasih dengan seorang gadis bernama Sierra. Jagat tidak mau dipisahkan dari kekasihnya sehingga gagasan perjodohan itu membuat Jagat makin ingin mengundurkan diri dari kompetisi penerus. Tapi ... apa boleh buat? Takdir yang sudah direncanakan oleh keluarga besar rupanya tidak Tuhan acc. Tuhan memiliki takdir untuk kehidupan para ciptaan-Nya sendiri. Hingga Rajen di sini. Matahari sore yang terasa pengap, masih sanggup memantulkan panas dari aspal jalanan Jakarta yang padat. Suara klakson bersahutan, bercampur dengan teriakan tukang parkir dan deru mesin kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti. Rajen terjebak macet para pengendara yang kebanyakan mau pulang habis kerja. Rajen tidak di dalam ruang ber-AC dengan dinding beton di ketinggian puluhan lantai. Rajen justru ada di antara mereka yang memakai helm bonus dari pembelian motor baru. Rajen bukan lagi anggota keluarga Atmaja yang diakui, melainkan anggota yang namanya sudah dicoret dengan tidak diizinkan mendapat apa-apa ... sepeser pun. Di sudut trotoar, Rajendra menepi. Parkir dulu sebentar. Rajen mau beli sesuatu buat anak. Bara senang sekali kalau Rajen pulang ngirim jajanan. Lihatlah, takdirnya adalah menjadi seorang papa muda dan suami Humaira. Walau dulu Rajen bersedia dijodohkan dengan Seruni Iris Semesta. Bahkan tangannya bernoda hitam, berbau mesin. Waktu cuci tangan tadi yang ini susah dibersihkan agar noda olinya tak berbekas. Rambut Rajen pun berantakan, sedikit basah oleh keringat. "Ini uangnya," ucap Rajen. Kembalian seribu rupiah pun dia tunggu. Kok, miris, ya? Mengingat dirinya yang dulu ... jangankan seribu, dua puluh ribu juga seperti tidak bernilai. Tak Rajen butuhkan. Rajen tenteng bungkusan tiga jus buah untuk Bara, Huma, dan dirinya di rumah. Berjalan menuju motor. Namun, langkahnya terhenti. Tatapan Rajen terkunci pada satu titik. Kuda besi hitam mengilap—yang rasanya Rajen kenali—berhenti tepat di depan sebuah restoran mewah. Pintu mobil itu terbuka perlahan. Sambil Rajen kaitkan belanjaannya di motor, dia melirik-lirik mobil tersebut. Dari dalamnya tampak seseorang turun dengan gerakan tenang dan penuh wibawa di usia yang sepantaran seperti dirinya. Segala gerak Rajen sontak terjeda. Itu ... Danapati Jagat Atmaja. Kembarannya. Jagat di sini? Harusnya di California, kan? Sedang pendidikan calon CEO. Tapi sore itu Rajen melihat sang kembaran turun dari Lexus dan memasuki sebuah resto mewah, sedangkan dirinya di sini ... tahu bagaimana penampilannya, kan? Rajen tak bergerak. Bahkan napasnya seakan tertahan. Jagat mengenakan setelan ratusan juta. Rajen sampai bisa memperkirakan berapa harganya—karena dulu pakaian Rajen seperti itu. Rambut Jagat disisir rapi paripurna, sepatu kets-nya juga tampak mahal. Satu tangannya merapikan jam di pergelangan, sementara yang lain memasukkan ponsel ke saku. Kontras yang terlalu jelas. Terlalu menyakitkan. Rajen menunduk sedikit, melihat tangannya sendiri. Jangankan jam di pergelangan, tampilannya saja sangat jomplang. Bagian sisi kuku Rajen kehitaman gara-gara oli tadi. Kotor. Ini juga jaket yang dipakai harganya tidak sampai tembus sejuta. Ah, tetapi paling tidak pakaian Rajen selalu hasil pilihan Humaira. Benar. Tak usah minder. Tak usah merasa terhina. Meski jujur, Rajen geram sampai menekan geraham. Apalagi melihat seorang pelayan restoran membuka pintu dengan hormat. Jagat pun sekadar mengangguk tipis, lalu melangkah masuk tanpa ragu. Seakan dunia memang sudah disiapkan untuknya. Dadaa Rajen berdetak menggebu. Lekas dia pakai helmnya. Nanti. Lihat nanti. Toh, semua yang Jagat miliki, yang Jagat terima di dunia ini, itu bukan milik sendiri, tetapi karena embel-embel Atmaja. Bahkan uang seribu rupiah di kantong Rajen pun lebih bernilai ketimbang ratusan ribu di dompet Jagat. Iya, kan? Rajen terkekeh pelan. Sialan. Rahang Rajen mengeras. Seketika teringat hari itu. Hari ketika Rajen dipanggil ke mansion keluarga besar. Seluruh anggota dikumpulkan, salah satunya ada Jagat. Tatapan dingin dari kakek uyut, raut tidak berdaya dari orang tua, dan sorot sinis dari sang kembaran. Iya, Jagat memberikan tatapan sinis dan penghakiman seolah Rajen pantas mendapatkannya. Terkait keputusan sepihak dan kalimat yang menghapus posisinya begitu saja. "Mulai hari ini kamu sudah bukan lagi bagian keluarga Atmaja. Pergilah, bawa istri dan anakmu." Kini ... Rajen menarik napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang naik di dadanya sebelum menyalakan motor untuk lekas pulang. Dia marah. Iri. Atau ... dendam. Entah. Tiba-tiba pintu restoran kembali terbuka sebelum Rajen menekan starter motor. Refleks Rajen mengangkat kepala dan menatap ke arah sana—lagi. Jagat berdiri di ambang pintu, berbicara dengan seseorang di dalam. Wajahnya serius, tetapi bisa Rajen lihat Jagat tetap tenang. Jagat seperti seseorang yang tahu persis ke mana arah hidupnya. Berbeda dengan Rajen sekarang. Oh ... mata mereka bertemu. Rajen dan Jagat. Namun, hanya sepersekian detik. Tatapan Jagat sulit dibaca. Rajen sontak mengangkat dagunya sedikit. Ini Rajendra. Dia ulas senyum sebelah bibir, seolah mencemooh penampilan Jagat yang ... sorry, ye. Nggak banget! Itu semua bukan milik Jagat, tuh! Itu semua hasil dari embel-embel Atmaja. Beda dengan Rajen, beli motor juga uang sendiri, cui! Rajen memasang raut congkak. Kenapa? Dia punya banyak hal untuk disombongkan pada seseorang yang semua-muanya hasil fasilitas orang tua. Namun, Jagat yang pertama memutuskan kontak mata itu. Jagat memalingkan wajah, berkata sesuatu pada orang di dalam, lalu kembali masuk ke restoran. Yeah ... pintu tertutup. Rajen menekan geraham. Dia nyalakan mesin matic-nya. Asal kalian tahu, harga motor ini kalau Jagat tidak dikasih uang sama mami-papi dan yang lain, dia tidak akan mampu! Melengganglah Rajen dari trotoar itu. Di belakangnya, restoran mewah yang Jagat masuki tadi tetap berdiri megah. Dan di dalamnya ada kehidupan yang dulu hampir Rajen miliki. Yang sekarang bahkan tidak bisa dia sentuh. Tidak. “Lihat aja nanti ...,” bisiknya. Saat Rajen bisa masuk ke restoran itu, dia akan membawa serta Humaira dan Bara. Mempersilakan mereka makan sepuasnya di sana, tanpa melihat harga. Nanti. Tentu dengan uang sendiri, bukan hasil dari suntikan dana keluarga Atmaja. Meski sekarang, untuk saat ini, di sini Rajen tersinari cahaya mentari sore dan berselimut polusi ibu kota—ditambah dengan bau oli menempel di tubuhnya. Sedangkan Jagat, untuk saat ini dan seterusnya, pasti akan selalu berjalan di lantai marmer, disambut pendingin ruangan dan pelayanan kelas atas. Tak apa. Keluarga besar yang dulu menjadi segalanya bagi Rajen, kini hanya jadi bayangan yang menolak mengakuinya—hanya karena sebuah kesalahan yang bukan benar-benar miliknya. Tidak apa-apa. Jagat yang sudah dipastikan sebagai penerus, pewaris, dan calon pimpinan utama yang 'lebih pantas', sedangkan Rajen ... bukan lagi siapa-siapa untuk mendapatkan yang pernah menjadi hak-haknya. Sungguh, tidak apa-apa. "Yeay! Pamut datang, yeay!" Dari gerbang rumah, Rajen mendapati suara lengkingan riang itu. Lihat di teras, Rajen juga disambut. Bukan oleh pelayan, tetapi malaikat kecilnya. "Mamuuut! Pamut dataaang!" Begitu riang. Bara melompat-lompat kecil, di mana wajahnya sudah terpoles bedak tabur. Hei. Memangnya ada sambutan yang lebih menyenangkan dari ini? Juga seseorang yang sudah menunggunya dengan penampilan cantik berdaster. Rajen sampai lupa bagaimana menyenangkannya saat masih jadi bagian keluarga Atmaja, nyatanya yang di sini lebih bisa membuat hati Rajen meletup-letup gembira. "Pamut, bawa apa itu?" Telunjuk mungil Bara mengarah ke jinjingan kresek yang Rajen tenteng. Bukan makanan mahal, tetapi sepertinya kebahagiaan ini bahkan tak bisa dibeli dengan uang satu miliar. Rajen yakin, Jagat juga tidak memilikinya. "Bawa apa, hayooo?" goda Rajen, menggiring putranya masuk. "Apa, Pamut? Loti?" "Jus buah!" "Asyiiik! Mamut, Bala mau dua! Pamut, gendong!" "Nanti, Jagoan. Pamud mandi dulu, bau." Bahkan Rajen menahan diri untuk tidak langsung mencium Humaira. Kok, serasa dapat kode ngamar dari istri, ya? Cantiknya, wanginya, semuanya di diri Huma sore ini serasa ada ajakan ... 'bobok bareng, yuk!' Oh, shitt! Rajen mesumm. "Nanti, Sayang. Diminumnya nanti bareng sama pamud. Tunggu pamud mandi dulu, ok?" kata Huma. "Nggak pa-pa kalo Bara udah nggak sabar, Mam. Kasih aja," seloroh Rajen. Bara menggeleng. "Nanti aja balengan. Pamut jangan lama-lama mandinya, ya!" See! Begitu saja Rajen sudah bisa terkekeh. Dia senang. Huma membawakan handuk dan celana dalam ganti Rajen ke kamar mandi, lalu membereskan tas kerjanya. Botol minum dikeluarkan, termasuk ponsel. Sementara papanya mandi, Bara duduk di sofa ruang tengah menjaga tiga jus buah. Anteng sekali. Bahkan saat mamanya mengurus sang papa, Bara tetap anteng di tempat. Rajen sudah di kamar, ganti baju. Huma menghitung uang yang ada di tas kecil Rajen. Uang recehan. Di nakas, ponsel Rajen getar. Langsung dia raih selagi Huma fokus hitung uang koin. Bang Bendrong: [Kumpul, yok, tar malem. Ada yang mau kenalan.] "Dari siapa?" tanya Huma, menatap suami. "Hm?" Langsung Rajen hapus pesan tersebut. "Operator. Suruh isi pulsa biar masa aktifnya gak hangus." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD