9 | Ingin Terlihat Makmur

1411 Words
Mami: [Raj, besok Mami mau ke rumah kamu. Mau sekalian nitip sesuatu, nggak? Sekalian juga Mami belanja. Tanyain ke Huma, butuh apa aja. Tadi Mami chat belum dibuka sampai sekarang.] Rajendra: [Nggak usah bawa apa-apa, Mi. Di sini udah serba ada.] Rajendra: [Mami mau apa? Biar Rajen beliin.] Lima tahun sudah berlalu dari hari di mana Rajen diusir, kini hubungannya dengan orang tua sudah membaik, tetapi Rajen masih gengsi untuk menunjukkan kondisi finansialnya yang bila sedang jatuh. Rajen hanya mau keluarga—baik mami dan papi—tahunya Rajen sudah makmur. Paling tidak, tercukupi. "Ra! Besok Mami mau ke sini. Uang belanja kamu masih ada? Beli daging sapi premium nomor satu, bikin rendang," ucap Rajen. Huma sedang mengecek buku sekolah anak, mau tahu nilai-nilai dan perkembangan belajar Bara di TK. "Kalau buat rendang, sih, kayaknya kurang. Soalnya pagi tadi aku habis isi token listrik. Oh, iya." Huma teringat sesuatu. Ditatapnya sang suami berondong. "Lusa Bara ada jadwal olahraga, terus katanya mau renang di Cikini." "Jauh amat Cikini," tukas Rajen. "Ya, sekalian main kali. Tiket masuknya dua puluh lima ribu. Sama minta buat ongkos dan jajan dia paling. Ada, nggak?" "Kolam renang apa, sih?" "Tirta Yudha." Huma dapat info dari wali kelas Bara di grup sekolah. Belum Huma buka lagi ponselnya. "Renang doang sampe ke Cikini," komentar Rajen. Padahal dulu dirinya kalau cuma renang tinggal berkecipak di kolam halaman belakang rumah. Punya kolam renang pribadi. Ya, dulu. Kasihan sekali Bara ini. Kecil-kecil sudah menyecap kemiskinan. Rajen tidak menyangka keturunannya memiliki kehidupan mengenaskan macam Bara. Bagi Rajen yang merupakan anak konglo, berenang di kolam pemandian umum dengan tarif kurang dari seratus ribu itu khas orang miskin. Maaf-maaf saja. Tapi begitu melihat isi dompet cuma ada lima belas ribu ... Rajen meringis. Yang miskin itu bukan yang bisa pergi ke kolam pemandian umum murahan, tetapi yang benar-benar tidak mampu ke sana. Rajen melirik sang istri. "Nggak ada, ya?" tanya Huma. Minggu ini pemasukan Rajen cuma dari bengkel. Sehari masih lima puluh, cukup apa coba uang segitu? Apalagi di Jakarta. Sebetulnya ada, sih, uang sembilan juta sekian hasil balap tempo lalu. Sebagian lembaran merahnya bahkan sudah Rajen gunakan. Namun, Huma bisa curiga kalau Rajen keluarkan satu atau dua ratus ribu detik ini juga. "Masih lusa, kan? Besok aku cari dan aku pastiin ada uangnya. Sekalian buat rendang nyambut Mami." Huma senyum. Dalam pikiran makin terdorong keinginan untuk bekerja, sekali pun tidak Rajen izinkan. Toh, bantu suami. Kalau nanti ada hasil, kan, Rajen juga yang senang. "Tapi dagingnya pesen aja dulu ke bu warung, Ra. Entar Mas bayarin, besok." "Kalau uangnya belum ada—" "Ada. Doain aja," sela Rajen. "Ya, itu berarti belum ada, dong." "Ya, kan, besok ada." Ish! "Gih, sana." Rajen mengedik dagu, memberi titah agar istrinya lekas laksanakan apa yang diucap. Tapi Huma tidak langsung manut. "Raj, inget waktu kamu kena tipu. Itu karena kamu nggak dengerin aku. Sekarang pendapatku apa nggak mau didengerin juga? Maksudku, kalau uangnya belum ada, kan, lebih baik nggak usah. Daripada nanti jadinya utang dan janji besok bayar malah nggak tertepati, gimana? Bu warung bisa-bisa nggak percaya sama kita lagi." "Kan, aku bilang uangnya besok ada, Ra." "Tapi besok itu belum pasti, Rajen. Realita kita nggak semudah itu dapetin uang seharga daging sapi premium nomor satu sekilo. Untuk saat ini," tegas Huma. Menutup buku anak. Sementara, Bara menatap mamud dan pamudnya sedang berdebat. Dari tadi dia anteng main mobil-mobilan. Rajen ingin sekali bilang bahwa uangnya benar-benar ada plus bisa dia tunjukkan sekarang juga, tetapi ... repot urus-urusnya nanti. Huma bisa bertanya itu uang dapat dari mana. Kalau Rajen salah jawab bisa-bisa bocor kenyataan yang masih belum ingin dia beri tahukan. Kalau bocor, nanti Rajen dilarang balapan. Kalau dilarang, nanti dia kehilangan cara mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat, sedangkan Rajen masih butuh. "Dan lagi, nggak mesti disuguhin rendang atau menu daging sapi. Kita masak ayam aja udah kelihatan hidup enak, kok. Asal aku masaknya yang enak aja, ini cukup, Mas." Huma melembutkan suara, pun isi kalimat. "Mau opol ayam, Mamut," timbrung Bara. "Yang kayak waktu itu, tuh. Opolnya enak, Bala sukaaa!" Huma pun senyum ke arah sang putra. "Siap, Sayang." Rajen menghela napas, lalu melenggang. *** Humaira bukannya tidak mengerti maksud keinginan Rajen. Lelaki itu selalu mau terlihat berkecukupan, apalagi di mata orang tua dan keluarga besar Atmaja. Tahu, kok, Huma. Dia saksi bagaimana Rajen diusir, bahkan itu pun dengan dirinya. Huma juga mendengar hukuman Rajen yang telah menggagahi anak ART, sedangkan Rajen cicit konglomerat. Andai Huma bukan anak ART, hidup Rajen tidak akan begini. Pasti akan tetap dipertahankan statusnya sebagai bagian keluarga Atmaja, sebagai calon penerus yang kelak duduk di bangku pimpinan utama Luxe. Well, Luxe adalah nama merek produk Atmaja Group—si perusahaan furnitur nomor wahid Tanah Air. Apa boleh buat? Humaira Asyila hanyalah seorang anak yang lahir dari ibu mantan lacur, sudah tobat dan lintas jejak buruknya dihapuskan, bak terlahir kembali sebagai pembantu. Ini ibu Huma. Ayah biologisnya, sih, sudah diketahui dan beliau orang kaya. Baik sekali. Saking baiknya sampai memberikan Huma beasiswa seolah-olah murni—dengan seolah-olah diberi oleh pihak sekolah, itu pun di sekolahan elite tempat cicit konglomerat berada. Tapi beliau tidak mau diketahui sebagai ayah Huma. Tidak mau memberi lebih dari sekadar itu. Huma bahkan pernah jadi ART di rumah ayah biologisnya—dulu, saat belum tahu bahwa beliau ayahnya. Miris, ya? Latar belakang Humaira sangat buruk, cacat, penuh cela sehingga keluarga semakmur Atmaja merasa kotor kalau sosok seperti Huma gabung jadi bagiannya. Daripada Huma jadi noda di keluarga mereka, Atmaja bahkan memilih mengusir keterikatan salah satu keluarganya yang berkaitan dengan Huma. Sekali pun Rajen tidak bertanggung jawab menikahi Humaira, konon Rajendra tetap akan didepak dari barisan pewaris. Tapi mungkin kalau Huma bukan anak ART, bukan anak mantan lacur, bukan anak hasil one night stand, dan bukan anak haram ... mungkin Atmaja justru mengambil kasus ini sebagai kesempatan keterikatan. Andai Huma putri konglomerat juga, seperti Seruni Iris Semesta. Nama itu pernah Humaira dengar sebagai sosok yang digadang-gadang dijodohkan dengan Jagat—penerus Atmaja Group. Yang andaikata Rajen tidak gugur di kompetisi pewaris, dialah yang akan menikahi gadis bernama Seruni itu ... anaknya pengusaha properti. Huma yakin sekali semisal dirinya semulia Seruni, Kakek Uyut Atma pasti malah meminta segera dilangsungkan pernikahan saja. Nikah intimate di awal karena Rajen masih SMA, tetapi setelah kelulusan pasti digelarkan pesta besar tujuh hari tujuh malam dengan begitu bangganya hingga menarik media. Pasti. Ini karena latar belakang Huma setidak layak itu untuk keluarga Atmaja, jadi Rajen hukumannya sampai menyentuh titik diusir dan dihapuskan dari golongan pewaris utama. Sampai ke keturunan Rajen nanti tidak dibolehkan menyandang status pewaris Atmaja Group. Dan Huma paham Rajen ingin membuktikan dirinya mampu tanpa keluarga yang sudah mengusirnya. Paling tidak menunjukkan ke orang tua lewat hidangan yang lezat, serba ada, tidak pernah meminta tolong lagi, mulai menolak dibawakan ini-itu ... seolah segalanya selalu baik-baik saja di sini. Tercukupi olehnya, tidak kurang satu hal apa pun tanpa sokongan dana keluarga. Namun, Huma juga merasa harus mengingatkan Rajen untuk tidak terlalu memaksakan diri kalau memang belum mampu. Salahkah? Huma memupus air mata. Menjelang subuh itu Rajen dan Bara masih lelap. Huma ke dapur mau masak air. Mengganti isian termos. Eh, eh, gasnya habis. Begitulah Huma terisak. Ini bukan hal baru bagi Humaira, tetapi menjadi hal yang terkadang membuatnya merasa bersalah kepada Rajendra. Dipupusnya air mata, Huma kembali ke kamar. Menunggu azan sambil membuat CV lamaran kerja. Di tempatnya, Rajen menggeliat bangun. Mengerjap-ngerjap. Menatap Huma yang duduk di kursi belajar Bara. "Morning." Vokal Rajen berat khas baru siuman. Huma sontak menoleh. Rajen masih di kasur, menggeliat lagi, lalu menguap jilid sekian. Ah ... tampan sekali pria itu. Huma senyum. Dipikir-pikir, siapa yang tahu kalau sosok yang tidak pernah Huma inginkan malah menjadi suaminya? "Too," balas Huma lembut. Rajen ini dulu sangat kasar tiap ucapannya. Tidak pernah baik untuk hati Huma ketika mendengar celoteh Rajen tentangnya. Malahan ... Humaira sempat menyukai lelaki lain, masih sepupu Rajen. Namanya Gavandra. Huma sudahi kegiatannya, sudah tinggal dia sebar ke berbagai lowongan. "Kayaknya dingin, ya? Kamu tumben belum mandi, Ra." "Nggak dingin, kok. Cuma emang belum mau mandi aja." "Mas dingin, nih. Masak air aja, Ra. Mandinya pengin pake air anget." Di rumah dulu juga kalau mandi pagi Rajen seringnya pakai air hangat dari shower. Dan karena tidak ada shower, di sini harus masak air dulu. Huma menggigit bibir bagian dalam. Bagaimana bilangnya, ya? Rajen hendak kembali rebahan sambil nunggu sang istri masak air. But, batal. Huma bilang, "Gasnya habis." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD