10 | Rajen Single

1636 Words
"Yuk, ke pasar! Eh, mana sini tabung gasnya, biar Mas beliin dulu," kata Rajen. Huma menatap sang suami yang beberapa saat lalu pamit ke luar, narik uang di ATM. Konon dapat pinjaman dari Nayaka—sepupu Rajen. "Bala ikut ke pasal, Pamut!" Si kecil kesayangan mereka sudah bangun pagi itu. Jam setengah enam pagi. Sudah mandi malah, baru selesai Huma pakaikan baju. Bara terbiasa mandi lebih pagi walau sekolah berangkatnya nanti jam tujuhan. "Iya, Pamud beli gas dulu. Mana, Ma? Bukain gasnya," seloroh Rajen. Asal kalian tahu, sampai detik ini dia tidak bisa buka-pasang gas. Selalu Humaira. Tapi kalau bagian angkat-angkat barang berat, Rajen yang lakukan. Untungnya Huma tipe wanita yang bisa memasang tabung gas, bisa angkat galon juga. Kehidupannya super mandiri sejak SD, Huma bahkan sudah bisa masak dari saat dirinya masih kelas 5 Sekolah Dasar. Wajarlah. Karena harus. Tuntutan kehidupan. Kalau tidak begitu, nanti bagaimana? Meski tinggal dengan ibu dan ada adik perempuan satu, tetapi justru dirinya yang melayani mereka. Ibu kerja, sih. Huma juga suka bantu-bantu pekerjaan ibu. Jika tidak, ya, di rumah jaga adik. Sudah pasti masak dan lain sebagainya. Huma tidak begitu disayang oleh ibu, jadi hidupnya kalau bukan mengandalkan diri sendiri, ya, siapa lagi? "Ini. Uangnya beneran udah ada?" ucap Huma. Selesai memisahkan selang dari tabung gas. Sekarang meski Rajen tidak bisa menggantikannya sebagai sosok yang buka-pasang gas, tetapi kehidupan Huma jauh lebih baik. Punya tempat bersandar. Dipikir-pikir Rajen memang tipe yang selalu mengusahakan agar Huma tidak kesusahan, tidak berjuang sendirian, apalagi tentang uang. "Ada, nih." Rajen tunjukkan lima lembar seratusan ribu. Dia serahkan empat ke Huma, yang seratus buat beli gas. "Pinjam lima ratus ke Nana." Nana itu Nayaka. Tapi, maaf. Rajen berdusta. Itu uang hasil balap tempo lalu. Huma mengulum senyum. Dia kepal baik-baik uang pemberian suami. Uang hasil pinjam soalnya. "Beli gas dulu," pamit Rajen. Mengangkat tabung gas melon. Hei. Itu Janardana Rajendra Atmaja. Siapa yang mengira bahwa sosok yang paling dipandang mulia karena kekayaan keluarganya semasa di sekolah, saat ini sedang menenteng tabung gas subsidi dari pemerintah? Memakai sandal jepit Swalow hijau dan kaus oblong, dipadu kolor murah dapat belikan Huma dari pasar kalau-kalau ada uang lebih. Yang Huma pandangi dari jendela ruang tamu. Meski begitu, kok, malah seperti aktor yang sedang syuting jadi orang miskin, ya? Huma mesam-mesem. Rajen memang tampan paripurna. Ketampanannya ini yang membuat dia tidak menjiwai sebagai orang kekurangan rupiah. Rajen petantang-petenteng dengan penampilan macam sekarang saja masih terlihat bujangan konglo-nya. Dan itu suami Humaira. Awas! Jangan ada yang ngaku-ngaku. Rajen itu punya Huma. Wait, wait. "Bara!" Lho, kok, bocah itu nyeruntul keluar. Sejak kapan? Lari-lari pakai sandal mungil melewati pagar. "Pamuuut! Bala ikuuut! Beli pelmen Yupi, Pamuuut!" Astaga. Huma gesit mengejar sang putra dengan kecepatan lari emak-emak. "Pamuuut!" Huma tangkap anaknya. Bara digendong. "Mamut, Bala mau ikut ke walung." "Nggak usah. Pamut cuma mau beli gas. Udah jauh juga." "Tapi Bala mau pelmen, Mamut." "Katanya mau ikut ke pasar?" "Beli di pasal?" Kembali ke rumah. Huma turunkan Bara dan anak itu melepas sandal. "Iya, nanti jajan di pasar aja. Kan, kalau ke pasar, Bara pasti jajan lagi." "Tapi, kan, beli pelmen cuma dua libu di walung." Mata Bara yang persis Rajen itu mengerjap lugu. "Kalau jajan di warung, di pasarnya nanti jangan jajan, mau?" Bibir Bara mengerucut. "Kita harus berhemat, Sayang." Huma usap-usap gemas pipi anaknya. "Halus belhemat soalnya kita miskin, ya, Mamut?" Eiy! "Hemat itu bukan karena miskin aja, Bara. Tapi supaya kelak kita nggak jadi orang yang nggak menghargai uang. Boros, foya-foya, itu nggak bagus." Bara menghela napas. "Jajan pelmen dua libu, kan, bukan bolos." "Ya, nanti beli di pasar." Bara tidak mengerti jalan pikiran mamanya. "Ayo, sarapan. Nasi liwetnya udah mateng, tuh." Karena tidak ada gas, Huma inisiatif bikin nasi liwet di risecooker. Kalau liwet, kan, nasi kaya rasa. Asal ada bumbunya saja. Dan tidak selalu harus pakai kompor, tinggal colok. Tak lama, Rajen juga kembali. "Pamut! Bala dibeliin jajan, nggak?" Melihat papanya datang habis dari warung, Bara girang. Langsung beranjak dari tempatnya. Ini di ruang makan yang bergabung dengan dapur. Huma memindahkan nasi ke piring untuk sarapan bertiga. "Nggak. Bara mau jajan?" timpal Rajen. Huma ekspres menyela, "Nanti aja di pasar. Ayo, pada sarapan dulu." Dan untungnya, baik Bara maupun Rajen sama-sama tidak pernah protes soal makanan. Asal jangan jengkol, Rajen tidak suka. Lalu oncom atau dage, ini Rajen langsung diare setelah memakannya. Lambungnya tidak cocok, maybe. Lain-lainnya masih oke. Meski di awal kehidupan miskinnya, Rajen masih ragu-ragu sekadar buat makan sama tahu. Sekarang, sih, sudah bersahabat, bahkan Rajen tidak menolak ketika Huma masak ikan asin. Ikut makan dengan lahap. Rajen manggut-manggut. "Masakan Mamud selalu enak, ya, Bar?" Si kecil juga mengangguk-angguk, dengan sebutir nasi liwet menempel di pipinya. "Mantap." "Habisin kalo gitu," timpal Huma, sok cool. Padahal tiap kali masakannya dipuji, dia terbang ke nirwana, baper tingkat dewa. Ah, mereka bisa saja! *** Pasar tradisional adalah tempat yang paling ogah Rajen datangi, dulu. Maaf-maaf saja, tetapi aroma dan suasananya itu sangat menyebalkan bagi Rajen. Bau, apalagi kalau hujan—kotor dan becek, sudah begitu berdesak-desakan, berisik pula, terus lengkap dengan gerahnya. Selain itu juga, kan, Rajen memang tidak terbiasa dengan kondisi yang demikian. Belanja tinggal suruh bibi. Kalau memang ingin beli apa-apa, ya, ke mal atau supermarket. Di perjalanan naik mobil yang nyaman, sejuk AC. Barang kalau banyak yang dibeli, ya, ada sopir untuk angkut-angkut. Kehidupan Rajen sangat sempurna, dulu. Mau apa-apa tinggal tunjuk, tak perlu lihat harga, apalagi sampai harus cari ke stand lain barangkali ada yang lebih murah. Misal malas, ya, tinggal minta tolong carikan atau belikan ke ART. Saaangat sempurna makmur dan bergelimang keberlimpahan duniawi. Yang namanya uang, sepuluh ribu berceceran di segala penjuru rumah pun tak ada yang notice. Ya, sepuluh ribu buat apa, sih? Yang padahal kalau ada di sepuluh tempat auto jadi seratus ribu. Tapi tetap tidak ada yang pedulikan uang itu di rumah Rajen dulu, terlebih di mansion. Paling diminta oleh ART, tentu dipersilakan. Namun, saat ini ... setelah lima tahun dengan status sosial baru, Rajen merasa uang seratus rupiah pun sangat berharga. Karena uang jajan Bara yang dua ribu kalau kurang seratus perak, gemas sekali rasanya. Ingin digenapi, tetapi tidak ada lagi. Harusnya dapat permen enam, jadi cuma empat atau lima—ibaratnya. "Yeay, sampai!" Bara berseru girang. Oh, benar. Rajen memarkir motor matic-nya di pasar. Sudah tiba di tujuan. Bara berdiri di depan, dia tidak mau dibonceng di belakang. Maunya di depan dan pakai kacamata hitam. Begitu turun, Bara langsung digendong oleh papanya. "Berat, Mas. Turunin aja." Rajen menoleh. "Nggak pa-pa. Hitung-hitung latih otot, angkat beban." Mereka pun beriringan memasuki pasar tradisional itu. Tidak lama, apalagi habis ini Bara harus siap-siap ke sekolah. Belanja seperlunya. Paling penting adalah daging sapi, Rajen ngintil Huma yang ujung-ujungnya Bara dibiarkan jalan sendiri sambil dituntun. Hanya dengan begini saja sudah asyik. Yeah ... asal jangan bertemu rumpun keluarga Atmaja saja. Tapi sialnya, di lampu merah saat jalan pulang .... Motor Rajen tepat di sebelah mobil yang di dalamnya seseorang menurunkan kaca jendela. Rajen tidak menoleh tadinya, Huma juga tidak, tetapi orang itu menyebut nama istri Rajen. "Humaira!" Praktis yang nengok bukan cuma Huma, tetapi Rajen dan Bara juga. Mata ke mata bersua setelah sekian lama, Huma mendapati Gavandra—yang pernah dirinya cinta—di sana. Oh, dia bukan rumpun keluarga inti Atmaja, tetapi Gavandra adalah pria yang pernah baku hantam dengan Rajen karena tidak terima Humaira dinikah olehnya. Sontak tatapan Rajen meruncing. Lima tahun berlalu tak lantas membuatnya ingin kembali beramah-tamah kepada sang sepupu bernama Gavandra Zyandru Budiman. Sontak begitu lampu hijau menyala, Rajen langsung melenggang tarik gas. Huma berpegangan. Tiba-tiba ngebut sekali lajunya. Ini sudah lima tahun berlalu. Namun, apa hati Gavandra masih sama untuk Humaira? Rajen tarik gas makin dalam, dadanya bergemuruh kencang. "Bahaya banget, ih, ngebut!" Huma menegur begitu tiba di rumah. Rajen tahu hubungan Huma dan Gavandra sudah berakhir paten, mengingat kejadian lawas yang mana Huma sampai kehilangan satu anak setelah membaca pesan dari Gav. Namun, ini tahun kelima setelan kejadian itu. Bagaimana kalau .... Ah, tidak. Huma sudah melenggang menggantikan baju Bara, mau pergi sekolah. Dengan tidak membicarakan apa-apa soal Gavandra. *** "Ini rumahnya?" Malik mengangguk, menatap bangunan megah kediaman Rajendra. Ada yang ingin tahu di mana rumah Rajen, dan itu perempuan. Namanya Hazel. Datang ke kosan Malik bersama Idam. Mata Hazel berbinar memandang rumah Rajen. Kagum dan takjub tergambar di sana. Dia lalu manggut-manggut. "Ternyata bukan sembarang orang." Hazel membisikkan gumaman. "Emang. Kakek uyutnya yang punya Luxe. Orang tuanya yang sekarang megang Atmaja Group," jelas Malik. Beralih menatap Hazel. "Sedangkan Rajen, dia yang nanti nerusin bisnis keluarga sama kembarannya." Senyum Hazel semakin lebar. Terpesona kepada seorang Janardana Rajendra Atmaja, bukan soal penampilannya saja yang menyilaukan ternyata, tetapi latar belakang hidup Rajen jauh lebih bersinar. Idam pun masih terpaku, terpesona pada rumah mewah itu. "Yuk, pulang!" ajak Hazel. "Udah, gini doang?" timpal Idam, menyudahi keterpakuan. Hazel mengangguk. Dia pun berlalu naik ke motor gedenya. "Oh, ya, Dam. Kasih tahu Rajen, malam ini jam sepuluh di Senayan." "Ikut!" seru Malik. Sudah tahu soal balapan dan Rajen salah satu anggotanya. Hazel berlalu. Malik pun naik ke boncengan motor Idam. Pagi, yang selanjutnya Idam melesat ke bengkel. Di sana sudah ada sosok bernama Rajen. "Dari tadi, Raj?" "Baru nyampe." "Lewat mana lo?" Kok, tidak berpapasan di jalan? "Abis muter dulu." Antar anak ke sekolah. Idam ber-oh ria. "Betewe, entar malem jam sepuluh di Senayan." "Berapa duit?" Rajen hanya peduli ini. Uang. Kalau cuma main atau kumpul, nggak dulu. "Nggak di-spill. Datang aja." Yaaah. Tapi okelah. Jika tidak berduit, kan, nanti tinggal pulang. Rajen semangat pol hari ini. "Ngomong-ngomong ... lo punya pacar, gak?" "Nggak." Rajen jawab tanpa menatap Idam, tak begitu peduli. Idam pun mengirimkan pesan kepada seseorang yang pernah memintanya bertanya hal barusan. Idam: [Zel, selamat. Rajen single.] ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD