Benar apa kata orang, manusia hanya bisa berencana sedangkan takdir tetap ada di tangan-Nya. Seperti pernikahan ini. Mau tidak mau aku akhirnya menerima keputusan dua keluarga untuk segera melangsungkan pernikahan kami.
Ibu mertuaku meninggal dunia. Hanya bertahan satu malam di rumah sakit. Serangan jantung yang menjadi penyebab kepergian beliau. Mas Adi sangat terpukul. Dia dua bersaudara. Kakak laki-lakinya sudah menikah dan memiliki 2 orang anak.
Alhasil saat ibu mertuaku meninggal, Mas Adi sangat terpukul. Betapa tidak, ayahnya sudah lebih dulu meninggalkannya saat Mas Adi duduk di bangku SMA.
"Kenapa kamu melamun?" bisikan lembut Mas Adi mengembalikanku ke dunia nyata.
Ya, saat ini kami masih berdiri menyambut tamu undangan yang berdatangan setelah beberapa jam lalu kami sudah resmi jadi suami istri.
Orang bilang nikah itu bikin deg-degan dan jantung berdebar karena haru dan bahagia. Sayangnya hal itu berbeda denganku. Hari ini harusnya hari bahagiaku. Hari menjadi raja dan ratu. Sekali seumur hidup, setidaknya itu yang aku impikan tentang pernikahan. Namun yang aku rasa hanya hampa dan kosong. Entah kenapa, ada keraguan dan ketakutan dalam hatiku. Semoga saja ini hanya pikiranku saja. Semoga semua berjalan sesuai harapan.
"Mungkin hanya lelah saja, Mas." Aku tersenyum dan kembali menyambut tamu.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi juga selesai. Aku juga sudah tidak sabar mau ke kamar."
Aku meringis. Tentu saja aku tahu maksud pria di sampingku ini.
"Ya Allah, Mel! Selamat ya, akhirnya kamu duluan yang nikah. Aku turut bahagia," Ina, teman sekelasku saat di SMA datang dan memelukku.
"Makasih udah datang, Ina. Jauh-jauh dari Yogyakarta lho!" jawabku sambil senyum.
"Demi maskot kelas kita, kenapa enggak? haha!" Ina terlihat diam sejenak lalu berbisik lagi, "Dani gimana, Mel?"
Aku melotot, bisa-bisanya dia bertanya tentang pria lain di pernikahanku!
"Sst, aku gak ada urusan lagi sama dia."
"Tapi terakhir ketemu, dia bilang setelah lulus kuliah, dia cerita katanya mau melamarmu lho!" Ina masih berbisik.
"Ish, jodoh gak ada yang tahu, Ina."
"Kamu beneran gak mau sama Dani?"
"Ck, aku udah nikah, Ina."
"Boleh aku ambil?"
"Ambil aja!"
Ina tertawa renyah. "Siap!"
"Udah ih, tamu udah pada antri tuh!" Aku tersenyum geli. Akibat ulah Ina ini, antrian tamu undangan jadi macet di belakang.
"Selamat ya!"
"Barakallah, Amelia!"
Aku tersenyum menanggapi ucapan selamat dari tamu undangan. Begitu juga dengan Mas Adi.
"Mel, tadi itu siapa?" tanya Mas Adi.
"Ina, teman sekelasku."
Mas Adi mengangguk. "Cantik ya?"
Aku mencelos. Lah, aku baru jadi istrinya beberapa jam yang lalu, dan dia sudah memuji wanita lain di depanku? Lucu gak sih ini?
Menanggapi ucapan Mas Adi, aku hanya tersenyum kecut. "Iya cantik. Harusnya Mas Adi nikah sama dia."
Bukannya minta maaf, Mas Adi malah tertawa geli, "Kamu cemburu ya? Tenang saja, pemenangnya tetap kamu kok, aku hanya bercanda."
Entahlah, aku malas menjawab lagi meski dia bilang cuma bercanda.
***
"Mel, kenapa masih di sini? Adi menunggu kamu di ruang tamu," ucap Emak. Setelah selesai resepsi, Mas Adi tidak mau menginap di rumahku. Dia mengajak check in di hotel selama beberapa hari.
Sebenarnya aku gak setuju. Baru saja menikah, masa gak mau nginep di rumah mertua sih? Tapi ya gitu, Emak Bapakku malah menyuruhku untuk taat sama Mas Adi.
"Mak, bisa gak sih bilang ke Mas Adi, malam ini tidur di sini aja dulu?" Aku memelas.
"Ish, jangan begitu, dia suami kamu. Yang sekarang menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kamu, Sayang."
Huft, Emak kembali memberi wejangan. Bukannya aku gak tahu, hanya saja aku merasa ini terlalu terburu-buru. Proses dari ta'aruf kemudian lamaran sampai kami menikah tidak sampai satu bulan. Terlalu singkat. Aku belum menemukan kenyamanan.
Rosie saja belum ke tahap lamaran. Katanya bulan depan baru lamaran.
"Lho, Amel masih di sini? Kasihan Adi menunggu dari tadi," Bapak datang dan melihatku bersama Emak yang sedang duduk di belakang rumah.
"Tahu nih, Pak. Anaknya masih merajuk aja."
Bapak tersenyum dan mengelus lembut kepalaku, "Sayang, hari ini tanggung jawab Bapak pindah ke Riyadi. Bapak sudah percayakan dia buat jagain kamu. Saat kamu taat sama suamimu, pahalanya akan mengalir ke Bapak sama Emak. Begitu juga sebaliknya."
Aku merenungi kata-kata dari Bapak. Semua itu benar adanya. Aku taat bukan untuk Mas Adi, tapi aku taat untuk diriku dan juga kedua orang tuaku.
Akhirnya aku bangkit dan tersenyum. Memeluk kedua orang tuaku satu persatu.
"Bapak dan Emak selalu menyayangimu, hari ini kamu akan menempuh hidup baru bersama suamimu. Pintu kami selalu terbuka menunggumu, bukan untuk pulang tapi untuk silaturahmi dan bakti kepada orang tua."
Ekor mataku melirik mata Emak. Terlihat ada genangan air di sana. Sedih? Bukan lagi, sangat. Tapi ini pilihanku.
Emak dan Bapak mengantarku ke depan menemui Mas Adi. Dia terlihat lelah dan mengantuk.
"Eh, udah siap, Mel?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Iya, Mas. Maaf menunggu lama."
"Tak apa, baju kamu udah aku siapin semua," Mas Adi tersenyum.
Tatapanku tertuju pada koper di sebelah pria itu. Bibirku mengulum senyum, "Terimakasih, Mas."
Tepat jam delapan malam, aku dan Mas Adi meninggalkan rumah Emak dan Bapak. Rohil sudah tidur, sepertinya anak itu lelah karena seharian menjadi pagar ayu. Bang Damar sendiri katanya sedang service motor. Katanya besok keluar kota.
Rupanya Mas Adi sudah memesan hotel sebelumnya. Kami tinggal masuk saja. Mas Adi memesan hotel yang lumayan mewah. Jujur saja, aku baru pertama kali menginap di hotel semewah ini. Sebelumnya hanya hotel biasa, itu juga saat study tour sekolah.
Koper yang disiapkan Mas Adi aku ambil dan kubuka untuk dibereskan.
Hari ini sangat melelahkan.
Grep! Aku kaget, tiba-tiba sepasang tangan memelukku dari belakang.
"Kamu wangi, aku suka," bisik seseorang yang tentu saja aku tahu ini Mas Adi.
"Aku beresin baju dulu, Mas." Rasanya canggung tapi ada juga hangat dan nyaman. Aku belum pernah pacaran sama sekali. Wangi maskulin Mas Adi menusuk hidung. Seperti membangunkan sisi diriku yang lain. Apalagi pria itu makin memeluk erat. Bahkan wajahnya sekarang menyusup ke leherku.
"Beres-beresnya nanti saja, ayo sekarang kita laksanakan tugas pengantin baru." Suara pria itu terdengar berat.
Tangannya membalikkan tubuhku. Tanpa aba-aba langsung menghujani wajahku dengan ciuman panasnya. Aku kewalahan. Apalagi aku sama sekali tidak punya pengalaman untuk melakukan adegan seperti ini.
"Mas, tunggu!" ucapku dengan nafas tersengal.
"Ada apa?" tatapannya berkabut gairah.
"Ada satu hal yang terlupa."
Kening pria itu berkerut, "Apa itu?"
"Sholat sunnah pengantin baru," ucapku pelan. Ya walau aku gak pernah pacaran, setidaknya aku pernah membaca buku tentang pernikahan. Sebelum bermalam pertama, sholat sunnah dua rakaat lalu suami mendoakan istri sambil memegang ubun-ubunnya.
Mas Adi tersenyum lebar, "Ah, maaf. Aku lupa. Soalnya kamu bikin gak tahan."
Wush! Pipiku seketika terasa panas. Kenapa pria tidak malu berkata m***m? Apa semua pria seperti itu?
Tapi meskipun demikian, Mas Adi melaksanakan apa yang aku katakan.
Gelapnya malam ini menjadi saksi aku telah menyerahkan hidup pada pria yang sekarang sedang menikmati tubuhku. Keringat kami menyatu. Dalam hening aku berdoa semoga ini pilihan terbaik dan mendatangkan hak baik dalam hidupku.