Kisah 5

1137 Words
Aku tentu saja kaget. Bahkan lebih ke shock sih. Bagaimana bisa gitu lho, kami berhubungan saja lewat ta'aruf kan? Artinya dia jelas harus tahu jika jalan ini melarang proses pacaran seperti pada umumnya! "Maksudnya, Mas?" Aku bertanya untuk memastikan tujuan dia meminta izin padaku. Ekor mataku melirik jakunnya yang naik turun. "May I kiss you?" suaranya terdengar serak. Refleks aku mundur dan menjauhkan wajahku darinya. "Mas, kamu gak bercanda kan?" Pria itu terlihat diam sejenak, lalu bibirnya mengembangkan senyuman. "Ah, aku hanya menguji saja. Ternyata kamu benar-benar sangat menjaga diri." Meski jawabannya diikuti dengan senyuman, tapi aku bisa melihat raut kecewa di sana. Sumpah, mendengar jawabannya seperti itu membuat hatiku mencelos. Kok gitu sih? "Maksudnya kamu gak percaya gitu kalau aku gak pernah pacaran sebelumnya?" tanyaku tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewa. "Ekhm, bukan begitu, Mel. Hanya saja ada banyak faktor sih. Bukan hanya menguji kamu. Tapi mungkin karena kebiasaan burukku atau karena aku yang terlalu terpesona sama kamu." Well, aku gak bisa ngomong. Gimana ya, ini hari pertama kami tunangan. Dia sudah berani begitu. Mungkin buat orang-orang di luar sana udah biasa kali ya, sentuhan dengan pacar apalagi sam tunangan. Tapi bagiku, sebelum kata ijab qobul di depan penghulu terucap, aku tidak mau disentuh meski kami sudah tunangan. Toh, tunangan bukan berarti sudah setengah halal kan? Tetap saja masih dilarang bersentuhan. Selama perjalanan pulang, aku gak banyak bicara. Hanya menjawab saat ditanya saja. "Oh ya, Mel. Kamu ada niat buat lanjutin sekolah gak?" "Kuliah?" "Ya. Gimana?" "Gak ada biaya, Mas." Aku menjawab dengan nada santai. Sebenarnya kalau keinginan sih ada, tapi kenyataan bahwa orang tuaku tidak mampu ya sudahlah, aku pasrah. "Semoga nanti ada rezeki buat kamu kuliah ya? Sayang banget lho, aku dengar katanya kamu termasuk siswa berprestasi ya?" "Ah, tidak juga." Mas Adi tersenyum, "Benar kata Ustadz Gigis, kamu suka merendah. Jadi makin yakin jika kamu memang masa depanku." Aku hanya tersenyum kecil. Masih kecewa sih sama yang tadi. Pikiranku jadi kemana-mana. Jangan-jangan Mas Adi sering pacaran? Atau mungkin jangan-jangan dia juga sudah pernah tidur dengan wanita? Aku bergidik ngeri. Apa aku salah langkah ya? Huft. Kenapa aku tergesa-gesa mengambil keputusan? Mobil Mas Adi berhenti di depan rumah. Sepertinya semua keluarga sudah pulang. Halaman rumah sudah bersih lagi. "Gimana udah jalan-jalannya?" Emak menyambut kami. "Udah, Mak. Tadi ke kebun teh bentar." Aku menjawab dengan tenang. Sebenarnya aku masih kesal sih sama yang tadi. Tapi di depan Emak tercinta harus selalu terlihat bahagia, huft. "Oalah, kirain kemana. Oh ya, Adi mau masuk dulu? Ada bapak di dalam sedang minum kopi." Emak beralih menatap Mas Adi yang masih belum turun dari mobil. Pria itu hanya membuka jendela saja. "Terimakasih, Mak. Sepertinya saya harus segera pulang. Ada pekerjaan menanti." Mas Adi tersenyum. "Oh, ya sudah, hati-hati ya!" "Iya, Mak. Assalamualaikum!" "Wa'alaikum salam warahmatullah!" Selepas Mas Adi pulang, aku masuk ke dalam rumah. Rasa lapar sudah hilang. Tadinya niat mau makan lagi tapi mood makanku dihancurkan oleh peristiwa tadi. Segera aku ambil ponselku. Semoga saja Rosie gak lagi tidur siang, aku butuh teman bicara. Tanganku segera mencari nama sahabatku di layar ponsel. Deringan kedua terdengar suara serak milik Rosie, "Ada apa?" "Ck, salam dulu kek, main todong aja," ucapku tersenyum geli, dari nada suaranya dia kesal karena aku ganggu saat jam tidur begini. "Aku mau cerita, Ros." Nada suaraku lesu. Kecewa, kaget dan campur aduk pokoknya. "Iya, aku tahu. Ada apa?" "Tahu gak? Ini kan hari pertama aku jadi tunangannya Mas Adi." "Ck, iya tahu, mau pamer ya?" "Ish, bukan gitu, dengerin dulu!" "Terus?" "Dia ... dia ...." "Mel, jangan belit-belit deh, kenapa? Jangan bilang Mas Adi ternyata punya istri?!" "Hus, enggaklah! Mana ada!" "Terus?" "Um, dia malah udah berani minta kiss coba," suaraku memelan. "Astaghfirullah! Serius?!" Aku mengangguk lesu, walau aku tahu Rosie gak akan melihatnya. "Gimana ya, kaget sama kecewa juga sih. Kok dia gitu." "Terus, kamu kasih?" "Ck, ya enggak lah! Masih ingat dosa tahu! Lagian juga kamu tahu sendiri kan, aku gak mudah suka ke cowok, lah ini udah minta yang aneh-aneh, aku pikir kalau dari jalur ta'aruf begini gak akan kayak gini. Menurut kamu gimana?" Rosie tidak bersuara. Lagi mikir kali dia. "Ros, kamu masih hidup kan?" "Iya, lagi mikir ini. Gimana ya, jejangan dia cowok red flag, Mel." "Aku juga sempet mikir gitu tadi." "Terus gimana reaksi dia pas kamu gak kasih keinginan dia?" "Ya dia gak marah sih, katanya cuma menguji aja, aku beneran menjaga diri. Gila ya dia, cara mengujinya gak lucu sama sekali." "Terus rencana kamu gimana, Mel?" "Bingung sih, sebenarnya aku jadi ragu setelah kejadian ini. Tapi masa iya diputusin setelah lamaran satu hari. Emak sama Bapak pasti mencoret namaku dari kartu keluarga. Huft, bingung." "Kalau aku jadi kamu, bingung juga sih. Tapi gini aja deh, kalian kan baru tunangan, jalani aja dulu, semoga dia beneran nguji dan bukan cowok gak bener." "Gitu ya?" "Iya, kalau misal mau putus, coba tunggu 3 bulan dulu menurutku." Pemikiran Rosie ada benarnya juga. Mungkin selama 3 bulan, aku juga bisa menemukan watak aslinya. Kalau dia baik, akan aku lanjutkan dan kalau dia ternyata memang pria red flag aku putuskan saja pertunangan ini. Setidaknya jika ada jarak mungkin Emak sama Bapak tidak terlalu kecewa. Drtttt! Ada pesan masuk. Mas Adi : Mel, soal yang tadi aku benar-benar minta maaf. Kamu gak tersinggung kan? Bibirku tersenyum tipis, bukan tersinggung lagi tapi juga marah dan kecewa. Itu sama aja dengan merendahkan aku. Pake acara nguji segala. Me : Ya udah lah, Mas. Udah kejadian juga. Mas Adi : Kamu marah ya? Me : tidak, hanya mungkin agak kecewa saja. Mas Adi : Aku minta maaf, janji gak bakal gitu lagi. Oke? Me : ya. Mas Adi tidak membalas lagi. Aku merebahkan tubuh ke atas kasur. Menatap langit-langit, Heri pasti sedang bahagia dengan istrinya. Sedangkan aku, masih terjebak dalam rasa sakit karena patah hati. Harapan mencari sembuh dengan orang baru pun malah dikecewakan. Tok-tok-tok! Terdengar suara pintu diketuk dengan tergesa. Aku bangkit dan membuka pintu kamar. "Lho, ada apa, Mak?" Aku lihat Emak tampak terburu-buru dengan wajah cemasnya. "Anu, Mel. Ibunya Adi masuk rumah sakit, kita harus segera kesana, katanya kritis." Aku kaget, "Lah, bukannya tadi baik-baik aja?" "Emak juga terkejut, makanya ayo bersiap ke sana sekarang!" Aku mengangguk lalu segera memakai jilbabku. Kami naik angkot menuju rumah sakit. Tampak beberapa anggota keluarga Mas Adi menunggu di depan ruang UGD. "Apa yang terjadi?" tanyaku. Mas Adi langsung berhambur ke arahku dan tanpa berpikir panjang dia memelukku erat dan menangis. "Mel, ibu kena serangan jantung, aku harus gimana? Aku gak punya siapa-siapa lagi." Aku kaget tentu saja, bukan hanya kabar buruknya, tapi tindakan Mas Adi yang tiba-tiba memeluk begini. Mana di sini banyak orang lagi. "Mel, Adi hanya punya kamu, hiks, kami rasa sebaiknya kalian menikah secepatnya." Aku melongo. Sementara Mas Adi masih memelukku. Hah? Nikah? Aku bahkan masih ragu dan berpikir untuk mengakhiri pertunangan kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD