Bab 1
"Aku akan menjamin panti itu untuk tidak di gusur, tapi dengan syarat,
“Syarat?" Suara Khalisa terdengar gemetar, tentu saja, sebab pria yang berada di depannya adalah Bos ditempatnya bekerja, sekaligus Ayah dari sahabatnya.
“Iya, aku akan mengatasi Panti itu untuk mu, tapi dengan syarat, kamu harus menikah dengan putraku dan memberikan keturunan untuknya. Bagaimana?"
Deg
Khalisa mendongak, rasanya bagaikan di sambar petir di malam hari. Dia terkejut dengan tawaran pernikahan itu. Namun waktu yang dia miliki tidaklah lama.
“Aku memberikan tawaran bagus untuk mu, kau menikah dengan putraku dan memberikan keturunan, dan aku akan menyelamatkan Panti Asuhan itu, aku juga akan menjadi donatur utama, bagaimana?" Imbuh pria tua itu.
Khalisa menggelengkan kepalanya. “Kenapa harus saya Tuan? Saya merasa tidak pantas untuk putra Anda, masih banyak wanita berkelas yang bisa menikah dengan putra Anda, Tuan." Jawab Khalisa.
Dia lebih tau diri, siapa yang tidak mengenal putra sulung Tuan Adnan, CEO muda yang arogan, tampan dan mapan. Tentunya sangat tidak pantas untuknya yang hanya karyawan biasa dan yatim piatu.
Tuan Adnan menatap Khalisa cukup lama dengan ekpresi sulit untuk di artikan. “Layak atau tidak, bukan kamu yang menentukan, aku tidak butuh alasan apapun, kamu hanya perlu menjawab iya atau tidak. Pikirkan baik-baik." Tegas nya.
“Jika kamu setuju, tanda tangan kontrak ini. Kita sama-sama untung Khalisa, Panti Asuhanmu Aman dan aku mendapatkan cucu dari Arsen." Imbuhnya.
Tuan Adnan melirik anak buahnya untuk memberikan selembar kertas perjanjian. Khalisa menerimanya dengan tangan gemetar.
Khalisa membacanya, beberapa poin masih terlihat wajar dan Aman, namun di bagian dua poin terakhir dia membulatkan matanya.
Dia tidak boleh meminta cerai dan melarikan diri, jika itu terjadi maka, Panti Asuhan Muara Bunda akan di gusur dan membayar denda 700M.
“Pikirkan baik-baik, mereka akan kembali lagi nanti malam. aku harap jawabanmu tidak mengecewakan Khalisa." Pria tua itu melangkah pergi meninggalkan Khalisa yang tidak bergeming di lorong panti.
Khalisa menelan ludahnya kasar, sembari memperhatikan punggung pria tua itu, yang di ikuti oleh beberapa orang pengawal.
Segala sesuatu semakin menghantam pikirannya, membuat kepalanya semakin sakit dan tidak percaya, ada tawaran bagus tetapi membuatnya terkurung seumur hidup.
Matanya terpejam sampai butiran bening meluncur kembali. dia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak di cintainya, terlebih itu Arsen. merasa dirinya tidaklah pantas.
Dan isi kontrak ini bukan menguntungkan untuknya, dia merasa ini bukan pernikahan melainkan penjara seumur hidup.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan." Di dalam kebingungannya tiba-tiba saja dia mendengar seseorang memanggilnya.
“Khalisa!" Gadis cantik itu membuka mata dan menghapus sisa air matanya dengan gerakan cepat. Lalu menoleh dan memaksakan senyumnya di balik cadarnya.
Matanya menatap penuh seorang gadis cantik yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya. Gadis itu menghampirinya.
“Khalisa, kenapa kamu tidak membalas pesanku." Tanyanya, seperti biasanya nada bicaranya begitu manja.
Khalis tersenyum. “Aku meninggalkan ponselku di kamar." Jawabnya dengan suara parau.
Gadis itu mengerutkan keningnya. “Khal, kamu sakit? Bagaimana dengan Panti, apakah kamu sudah mendapatkan solusinya?"
Khalisa menghela nafas berat, dia menatap sahabatnya, dia mendapatkan solusi dan Ayah sahabatnya yang memberikan bantuan, namun dia harus mengorbankan masa depannya.
“Khal.." Alana memegang lengan Khalisa. Lalu pandangan teralih pada selembar kertas yang ada di tangan Khalisa.
“Apa ini!" Dia merebutnya, membuat Khalisa kembali terkejut.
“Alana, membalikan." Pintanya, namun Alana tidak memberikannya, gadis membacanya sampai akhir dan sama terkejutnya.
Kepalanya menggeleng keras. “Astaghfirullahaladzim, gak mungkin Ayah ku melakukan ini padamu Khal."
Matanya memerah tidak percaya jika Ayahnya memberikan kontrak seumur hidup untuk Khalisa, tidak boleh menuntut apapun, kecuali Arsen yang membuangnya.
Khalisa tidak langsung menjawab, dia tersenyum, setelah beberapa detik kemudian menjadi. “Tidak apa-apa, Alana, selama Panti ini tidak di gusur aku tidak keberatan."
Alana menatapnya nanar. “Jadi kamu menerimanya?"
“Ayahmu bisa di percayakan?"
“Ayahku tidak pernah ingkar Janji, Khalis, tapi kontrak ini sangat merugikan untuk mu. " Jawabnya, dia berucap dengan begitu sedih.
Namun Khalisa melihat ada guratan kepuasan dari wajah sahabatnya, entah itu karena apa. Senyum lega juga terlihat jelas.
“Kamu tidak perlu khawatir Khalis, aku akan bicara pada Ayah, untuk menghapus dua poin di bawah ini." Ujar Alana menyakinkan sahabatnya.
Khalisa mendongak. “Benarkah?" Alana kembali mengangguk.
**
Malam hari beberapa anak buah Tuan Adnan kembali datang ke panti untuk menemui Khalisa.
“Selamat malam Nona Khalisa, kami utusan Tuan Adnan, untuk menanyakan jawaban Anda atas tawarannya?" Ujar pria yang berdiri tegak sembari membawa dokumen resmi untuk Panti.
“Iya, saya menerimanya." Dia seperti tidak perduli dengan siapa di nikahkan, semua di lakukan hanya untuk Panti dan anak-anak lainnya. Jika sampai di gusur, entah kemana mereka akan pergi.
Prai itu mengangguk dan memberikan selembar kertas lagi untuk di tanda tangani. Khalisa menerimanya dan menyematkan goresan pada kertas itu, goresan yang akan mengikatnya seumur hidup.
“Nona, mari ikut kami." Khalisa tidak bertanya untuk apa, tentunya dia sudah tahu kemana mereka akan pergi.
Pengawal itu membukakan pintu untuk Khalisa. “Tuan, apakah aku tidak akan mengotori mobil ini?"
Pria tersebut menggeleng. “Tidak masalah Nona, mari, Tuan Adnan sudah menunggu kedatangan Anda."
Khalisa mengangguk dan segera naik, dia menoleh kearah Panti, semoga saja pengorbanannya tidak sia-sia.
Selama perjalanan beberapa menit, mobil mewah itu berhenti di depan rumah mewah nan megah, lampu-lampu mahal menyala begitu terang.
Pintu mobil kembali terbuka dan Khalisa segera turun, meskipun bersahabat dengan Alana, dia sama sekali belum pernah datang ke rumah sahabatnya itu.
Bahkan dengan Arsen pun dia tidak pernah bertemu secara langsung, hanya melihat dari televisi saja.
“Assalamualaikum." Ucap Khalisa pelan ketika memasuki pintu utama.
“Waalaikumsalam, Khalisa kamu sudah datang!" Alana segera menghampiri sahabatnya dengan riang, dia sudah bicara dengan Ayahnya untuk mengubah isi kontrak itu.
Khalisa tersenyum, namun langkah kaki itu semakin gemetar ketika ada sepasang mata tajam yang menatapnya dengan tatapan merendahkan.
“Akhirnya kamu datang juga, Khalisa." Tuan Adnan menyunggingkan senyumnya. Senyum yang membuat tubuh Khalisa membeku. sangat berbeda dengan pertemuan siang tadi.
“Panggil Arsen kemari." Titahnya.
“Aku di sini, ada apa?" Suara bariton mengalihkan pandangan mereka.
Pria tampan dengan tatapan tajam nan dingin tersebut menghampiri Ayah nya. “Jangan membuang waktuku untuk hal yang tidak penting."
“Dia Khalisa, gadis yang akan menjadi istrimu."
“Apakah di dunia ini sudah kehabisan stok wanita cantik? sampai kau harus memilih gembel untuk aku nikahi?"
Khalisa menundukkan pandangannya dengan sedikit meremas sebelah sisi gamisnya, sakit sekali mendengar penolakan itu. Meskipun tidak memiliki perasan, setidaknya jangan merendahkan dirinya.