“Khalisa, ini Arsen, putra sulungku, dia yang akan menjadi suamimu." Ujar Tuan Adnan, meskipun tanpa di kenalkan, Khalisa sudah tahu, siapa pria tampan itu.
Khalisa hanya mengangguk, tanpa berani mengucapkan sepatah katapun. Sedangkan Arsen melirik kearah wanita bercadar itu dengan tatapan dingin seakan ingin membunuhnya detik ini juga.
“Kak, Khalisa adalah sahabatku, aku mengenalnya dengan baik, kau akan sangat beruntung mendapatkan istri sepertinya." Alana mencairkan keadaan yang menegang.
Arsen membalik tubuhnya, seketika ekspresi wajah dinginnya berubah drastis di hadapan sang adik. “Alana, sudah berapa kali aku katakan, aku tidak ingin menikah dengan wanita manapun selain dengan Alexia." Ungkapnya dengan suara yang teramat dingin penuh penekanan.
Alana mengerucutkan bibirnya. “Tapi aku lebih suka kalau kakak bersama Khalisa, kalau kakak tidak mau menikahi Khalisa, berarti kakak tidak ingin melihatku bahagia."
“Sudah cukup!!. Arsen, satu minggu lagi kamu harus menikahinya, Ayah akan mempersiapkan semuanya, jangan membantah ataupun menolak. kamu akan tahu sendiri apa akibatnya." Kembali mengancam putranya dengan tegas. Khalisa hanya diam, mendengarkan perdebatan dua pria berbeda usia itu.
“Kenapa tidak kau saja yang menikahi nya? Kenapa harus aku yang menikahi wanita gembel dengan wajah yang tidak jelas?" Arsen menunjuk kearah Khalisa.
Wajah yang tidak terlihat akibat tertutup cadar, Arsen kembali mengucapkan kalimat yang membuat hati Khalisa remuk.
“Apa kata rekan bisnisku nanti, kalau mereka tahu aku menikahi gadis yang lahir diluar nikah, dia wanita tanpa nasab, Ayah,Jangan membuat keluarga kita malu." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulu Arsen.
Deg
Khalisa mendongak mendengar ucapan Arsen, hatinya terasa teremas, meskipun ucapan Arsen benar adanya, dia tidak pernah tau siapa Ayah nya. bahkan akta kelahirannya hanya tertulis nama Ibu nya.
Matanya berkaca-kaca. penghinaan seperti ini bukan pertama kali dia dengar, di tempatnya bekerja, dia juga sering mendapatkan kalimat yang menyakitkan.
“Astaghfirullahaladzim, Kak, jangan bicara seperti itu, meskipun Khalisa hasil dari perzinahan, itu bukan salahnya, orang tuanya yang salah, dia berhak bahagia." Timpal Alana mengusap lembut lengan sahabatnya.
Khalisa menoleh, ada kalimat Alana yang membuatnya tersentil, hasil perzinahan? membuatnya tertawa miris, kenapa harus di perjelas seperti itu.
“Sudahlah, meskipun dia tidak pantas menjadi bagian dari anggota keluarga kita, tetap saja kau harus menikahinya, Arsen." Sambung Tuan Adnan.
Malam ini pertemuan yang hanya menghina dan merendahkan dirinya, seandainya bukan karena anak-anak panti, dia tidak akan sudi berada di tengah-tengah keluarga ini.
Terlebih dia juga menghargai Alana karena persahabatan mereka dan yang paling penting Panti Asuhannya aman.
**
Khalisa berjalan menyusuri lorong panti, sembari memikirkan apakah keputusannya benar-benar sudah benar untuk menikah dengan Arsen?
Namun jika dia tidak melakukannya, bagaimana dengan nasib anak-anak panti, kemana mereka akan pergi, terlebih denda yang baru di bayar selama menempati lahan itu tidaklah sedikit.
Dia bukan tidak berusaha meminta bantuan, Khalisa sudah mencoba meminta tolong pada Daren selaku pemimpin pembongkaran.
Khalisa meminta waktu ataupun keringanan denda, tetapi pria itu tidak bisa melakukannya, dengan alasan atasannya tetap ingin menggusur panti Muara Bunda.
Daren adalah tunangan Alana, dia berpikir pria itu bisa membantunya sebagai sahabat, namun tetap tidak mendapatkan solusi.
“Khalisa." Langkah gadis cantik itu terhenti lalu mendongak.
“Bunda." Lirih Khusus, wanita tua dengan rambut yang sudah memutih itu tersenyum lembut padanya dengan tatapan yang begitu teduh.
“Kamu pulang? lembur lagi?"
Khalisa menggeleng pelan. “Khalis, baru saja pulang dari rumah Alana, Bun." Jawabnya, suaranya begitu lembut.
Bunda Maura selaku pengurus panti, menghela nafas berat. Dia tau jika Khalis sedang berusaha untuk menyelamatkan tempat tinggal mereka.
“Nak, kalau memang tidak ada jalan keluar, kita.. "
“Alhamdulillah, Khalis sudah mendapatkan bantuan Bunda." Sela Khalisa, kembali tersenyum.
Bunda Maura terkejut, entah ekpresi seperti apa yang akan dia tunjukkan mendengar ucapan Khalisa, senang dan kelegaan itu sudah pasti.
“Benarkah? siapa orang baik itu, Nak?" Tanya nya meraih tangan Khalisa dan menggenggamnya erat.
Senyum Khalisa meredup, namun dengan cepat dia kembali menunjukkan senyumnya. “Tuan Arsen, kakak kandung Alana, Bun." Jawabnya, ketika mengucapkan nama pria itu, dadanya terasa sesak, mengingat penghinaan nya tadi.
“Tuan Arsen?" Khalis mengangguk cepat.
Sementara Bunda Maura menautkan kedua aslinya, siapa yang tidak mengenal pria kejam yang seakan tidak memiliki hati mau membantunya?
Bunda Maura menggelengkan kepalanya. “Kamu yakin Tuan Arsen membantu kita?" Kembali di ulang pertanyaan yang sama, dan Khalisa memberikan jawaban yang sama juga.
“Khalisa, jujur sama Bunda, apa kamu melakukan sesuatu Nak?"
Khalisa menundukkan kepalanya, Bunda Maura tidak mudah dia bohongi, namun kejujurannya akan membuat wanita tua itu merasa bersalah.
“Tidak, Bun, aku.. "
“Katakan yang sebenarnya, Nak. Jangan pernah membohongi Bunda." Menyela dengan tatapan teduh.
Khalisa meneteskan air matanya, Bunda Maura begitu menyayangi nya dan menganggapnya sebagai Putrinya sendiri. Dia tidak tega melihat wanita tua itu bersedih.
“Bukan Tuan Arsen, tetapi Tuan Adnan yang membantu kita, dengan Syarat, Khalis harus menikah dengan putranya Bun." Jawab Khalisa jujur.
Bunda Maura melepaskan genggaman tangannya dan menutup mulutnya menggunakan tangannya sendiri, kepalanya menggeleng keras.
Benar dugaannya, keluarga Zionathan tidak akan membantu tanpa Syarat yang menguntungkan bagi mereka, Khalisa gadis yang cantik dan pintar, tentunya akan berguna bagi mereka.
“Tidak, jangan mengorbankan masa depanmu, Khalis, lebih baik kita hancur bersama daripada.. "
“Bagaimana dengan anak-anak lainnya, Bun? Mereka butuh tempat tinggal dan pendidikan, kalau kita pergi, siapa yang akan mengurus mereka?"
Bunda Maura terdiam, air mata begitu deras, apa yang Khalisa katakan memang benar, tetapi kenapa harus ada yang berkorban, keluarga kaya itu pasti tidak akan memperlakukan Khalisa dengan baik.
Entah kenapa Bunda Maura memiliki firasa buruk. “Khalisa, Maafkan Bunda yang tidak bisa melakukan apa-apa."
Khalisa menggeleng, mungkin ini waktunya dia untuk membalas budi pada Bunda Maura yang merawatnya sejak kecil tanpa mengeluh sama sekali.
“Satu minggu lagi, Khalis akan menikah Bun, apapun akan Khalis lakukan, asalkan kita semua tetap bersama-sama." Ucapnya sembari menghapus sisa air mata Bunda Maura.
Wanita tua itu semakin tergugu, dia semakin merasa bersalah pada Khalis. “Apa kamu sudah memikirkan semuanya, Nak?"
Khalisa mengangguk. “Jangan khawatir, ada Alana yang akan menjadi pelindungku, lagi pula keluarga mereka tadi juga menerimaku dengan baik, Bun." Dia buat nada bicara itu seceria mungkin.
“Semoga saja mereka benar-benar baik padamu, Khalis, Bunda sangat menyayangimu, terimakasih sudah mau berkorban untuk kami."
Entah kehidupan seperti apa yang akan dia jalani ke depannya, Khalisa tidak begitu perduli, yang terpenting sekarang adalah mereka semua tetap bisa tinggal tanpa Khawatir akan digusur.