Bab 3

1037 Words
Setelah satu minggu Tuan Adnan membuktikan janjinya, Bunda Maura mendapatkan dokumen resmi kepemilikan panti dan terbebas dari denda lahan serta bangunannya. Khalisa duduk termenung, sibuk dengan pikirannya, dia baru saja melakukan sholat malam. tatapannya begitu teduh menatap indahnya langit malam yang penuh dengan bintang. “Bunda tau apa pikirkan, Nak." Khalisa dibuat kaget oleh kemunculan Bunda Maura yang secara tiba-tiba. Saking fokusnya merenung sampai tidak menyadarinya. Khalisa tersenyum sampai terlihat kedua lesung pipinya. “Kok Bunda belum tidur?" Bunda Maura duduk di sebelah Khalisa, meraih sebelah langannya dan mengusap lembut. “Kamu akan menikah besok, dengan pria yang bukan pilihanmu. tetapi pria yang di paksakan untuk menikah denganmu." Khalisa tidak menjawab, dia kembali menatap indahnya langit malam yang penuh bintang. Bunda Maura seakan tahu, jika Arsen juga di paksa menikah dengan Khalis. “Kamu sudah yakin Nak? Menikah itu untuk menghalalkan hubungan antara pria dan wanita, bertujuan membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warohmah serta menyempurnakan ibadah. seumur hidup itu lama, Khalis." Bunda Maura melirik Khalisa yang masih diam. Khalisa tau semua itu, tetapi tidak ada jalan lagi untuk mundur, Tuan Adnan sudah menepati janjinya. Bagaimana nanti ke depannya, Insya Allah dia akan menghadapinya. Khalis menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar. “Semoga saja ini yang terbaik, Bun." “Kalau tidak salah, Tuan Arsen adalah seorang pengusaha, setelah menikah kamu akan tinggal bersamanya di pusat kota Jakarta dengan lingkungan baru." Bunda Maura kembali mengelus punggung tangan gadis cantik itu. Khalisa mengangguk, calon suaminya adalah seorang CEO di kantor pusat tempat dia bekerja. “Hmm." “Kamu harus tetap istiqomah dan menjadi istri yang sholehah." Khali kembali menganggukkan kepalanya. *** Hari yang di tunggu pun tiba. Sekarang Khalisa tengah berada di sebuah kamar tamu dengan beberapa orang penata rias, di kamar itu juga ada Alana. Orang-orang itu mendandaninya sesederhana mungkin, sebab wajah Khalisa tidak akan terlihat karena tertutup oleh cadar. “Masya Allah, Mbak Khalis cantik banget." Puji seorang wanita yang mendandaninya. Khalisa meremas jemarinya, bertaut dengan rasa gugup, bagaimana tidak, sebentar lagi, dia akan menjadi seorang istri dan melepas masa gadisnya. Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan, namun tidak dengan Khalisa, pernikahan yang dilakukan bukan karena cinta, melainkan kontrak yang akan mengikatnya seumur hidup. “Jelas dong, Khalisa memang paling cantik, kakakku sangat beruntung mendapatkan istri sepertinya." Timpal Alana ikut memuji sahabatnya. Khalisa memaksakan senyumnya. “Kamu juga sangat cantik." Alana terkekeh senang, mendengar pujian dari sahabatnya. Sementara di ruang keluarga, Arsen sudah duduk di depan penghulu. karena Khalis tidak memiliki wali, dia menggunakan wali hakim. Hanya dengan satu kali tarikan nafas, Arsen mampu mengucapkan Ijab qobul yang menjadikan Khalisa sebagai istri Sah nya di mata Negara dan Agama. Pernikahan yang hanya di hadiri beberapa orang saja dan selebihnya adalah maid di mansion megah itu. bukan di gedung mewah dengan altar megah. tidak, semau serba seadanya. Setelah beberapa saat barulah Alana mengajak Khalisa kelaur kamar untuk melanjutkan proses berikutnya, menyematkan cincin pernikahan. Cincin yang terlihat sederhana namun harganya tentu saja tidaklah murah, Arsen mesangkan dengan kasar tanpa ada kelembutan sama sekali. Beberapa maid menertawakan Khalisa dan ada juga yang Iba. “Selamat datang di neraka versi duniaku." Bisik Arsen menyeringai, seketika tubuh Khalisa menegang. Tidak ada yang mengucapkan selamat selain Bunda Maura, wanita tua itu meneteskan air matanya. bukan tentang pernikahan sederhananya, melainkan sikap keluarga dan para maid yang sepertinya tidak menghargai Khalis. Waktu terus berputar tidak terasa sudah waktunya shalat magrib, Khalisa perlahan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Dia tidak memanggil suaminya ataupun mengajak melakukan sholat berjamaah. Khalisa keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan cadar, di kamar tersebut tidak ada siapapun selain Arsen yang saat ini sedang duduk di balkon kamar mereka. Langkah kakinya begitu pelan, dia ingin menghampiri Arsen dan mengajaknya sholat berjamaah, Semakin dekat dia semakin mendengar suara suaminya yang sedang bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Arsen: Aku berjanji padamu Alexia, aku tidak akan menyentuhnya sedikit pun, aku sangat mencintaimu hanya kamu, aku tidak b*******h melihat tubuh wanita sialan itu." ucap Arsen dengan nada yang begitu merendahkan tanpa menyadari Khalis ada di belakangnya. Deg Khalis reflek mundur beberapa langkah, dia membekap mulutnya sendiri, ya Allah cobaan apa lagi ini, baru saja menikah beberapa jam yang lalu namun Khalis harus mendapatkan fakta bahwa suaminya memiliki seorang kekasih. Khalis tertegun untuk sementara, menarik nafas dalam-dalam, lalu dia membalikkan tubuhnya segera mungkin jangan sampai Arsen menyadari kehadirannya. Khalis tahu, ini hanya pernikahan kontrak tanpa perasaan, namun kenapa Arsen harus bicara seperti itu. Dan dia sungguh tidak menyangka jika suaminya masih berhubungan dengan wanita lain. Arsen: Sudah aku katakan, meskipun dia istriku, aku tidak akan pernah menyentuhnya Alexia, percayalah padaku, pernikahan ini hanya dirinya yang menganggapnya nyata, aku masih mengharapkan mu. Khalis kembali berjalan ke kamar mandi, air matanya menetes begitu saja, beberapa kali dia istighfar, Dadanya terasa sakit, meskipun tidak ada cinta, setidaknya jangan ada kalimat yang menyakitkan. Sekarang Khalis mengerti apa yang Arsen katakan dengan Neraka versi dunianya. Entah berapa lama Khalisa sholat magrib, ketika dia menoleh, Arsen sudah terlelap di atas ranjang. Dia membuka mukenanya dan kembali memakai cadar, hatinya kembali ter cubit, ketika melihat bantar dan selimut di atas sofa. Tidak masalah yang penting dia masih bisa memejamkan matanya, dia manapun baginya sama saja dan sudah terbiasa. Bahkan ranjang miliknya di panti juga tidak begitu empuk. Namun dia masih bisa terlelap. Semua hanya perlu di syukuri saja. Matanya menelisik setiap penjuru ruangan kamar mewah nan luas itu, tepat di atas dinding ranjang, terdapat foto seorang wanita yang begitu cantik. Khalisa yakin, jika wanita itu adalah kekasih suaminya. Sebab tidak hanya satu, melainkan dinding kamar tersebut tertempel foto wanita cantik bak model itu. Mulai malam ini, Khalisa memutuskan untuk tidak sakit hati dan menjalani sesuai kontrak yang tertulis. tidak di izinkan melarang ataupun ikut campur urusan Arsen. Tidak di izinkan menuntut apapun kecuali Arsen yang menceraikannya. Mungkin sudah menjadi takdir jalan hidupnya seperti ini, yang penting anak-anak panti tidur dengan nyaman tanpa merasa takut lagi. “Jangan terlalu banyak berharap di pernikahan sialan ini." Suara Arsen membuyarkan lamunan Khalisa, wanita menoleh dengan menautkan kedua alisnya. Bukankah Arsen sudah tidur, kenapa tiba-tiba mengubah posisi bersandar di kepala ranjang. Memberikan tatapan yang meremehkan. Khalisa mengangguk, dia tidak akan berharap apapun, kecuali untuk panti Muara Bunda. selebihnya dia akan mengikuti alur yang Arsen buat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD