Bab 7

1439 Words
“Mas Arsen, tunggu sebentar, aku mau bicara." Cegah Khalisa dia berdiri di hadapan suaminya. Arsen tidak menatapnya, tetapi pria itu menghentikan langkahnya. Khalisa nampak ragu-ragu untuk mengatakannya. “Mas, boleh aku izin keluar sebentar, aku ingin ke tempat kerjaku." Ucapnya, dia masih memiliki tanggung jawab di perusahaan cabang suaminya. “Kamu sudah di pecat, tidak perlu datang lagi, sekarang jadilah pembantu yang patuh di rumahku." Khalisa terbelalak, dia di pecat? kapan dan kenapa tidak ada yang memberitahu dirinya, lalu bagaimana dengan sisa gaji nya. “Aku di pecat? siapa yang memecatku dan apa salahku?" Gumamnya pelan, namun masih terdengar jelas oleh Arsen. “Aku yang memecatmu, tidak ada perusahaan yang memperkerjakan orang malas, kamu tidak masuk tanpa izin dan keterangan berhari-hari." Jawab Arsen. Khalisa kembali melebarkan matanya. “Mas, kenapa kamu harus memecatku? bukan nya kamu tau kenapa aku tidak masuk kerja? Lalu kemana sisa gajiku?" Arsen menoleh dengan menaikan sebelah alisnya, sungguh tidak tau diri sekali wanita di hadapannya ini, meskipun dia pemilik perusahaan tentunya harus melihat tetap profesional. Jika karyawan nya tidak masuk berhari-hari tanpa kejelasan, di anggapnya tidak profesional dan mengabaikan pekerjaan. Khalisa lebih dari dua dua minggu tidak masuk, memangnya perusahaan milik nenek moyangnya. “Apapun alasannya, selama tidak ada laporan masuk ek perusahaan, itu artinya kamu sudah melanggar aturan dan untuk sisa gaji mu, nanti bagian keuangan akan mentransfer nya." Khalisa terdiam, sekarang dia tidak lagi memiliki pekerjaan dan penghasilan lagi. Sampai beberapa detik kemudian dia kembali mendongak. “Mas." Panggilnya “Apa lagi?" “Karena aku sekarang sudah tidak lagi bekerja dan kamu juga tidak menganggapku sebagai istri di rumah sakit ini, bagaimana kalau setiap pekerjaan yang aku kerjakan kamu bayar?" Usulnya. Arsen menautkan kedua alisnya, dia semakin yakin jika istrinya benar-benar mata duitan dan tidak pernah cukup dengan segala hal. Bukankah menikah dengannya mendapatkan kompensasi besar dari Ayahnya, lalu sekarang ingin memanfaatkan pekerjaan rumah untuk mendapatkan uang darinya. “Selain mura*n ternyata kamu juga matre. Tapi bagus juga kalau kamu sadar diri, daripada jadi istri kamu memang lebih cocok jadi pembantu." Arsen segera berlalu, terlalu muak melihat Khalisa yang menurutnya terlalu banyak trik. Khalisa menatap punggung suaminya yang semakin jauh, dia hampir terbiasa dengan kalimat hinaan itu. kepalanya menggeleng kecil, yang penting sekarang dia mendapatkan pekerjaan baru. Hampir tiga minggu dia menikah, Arsen belum memberikannya uang sama sekali. ** Keesokan paginya, Khalisa melakukan tugasnya bukan sebagai seorang istri, melainkan pembantu pribadi suaminya, dia menyebut dirinya sendiri seperti itu. Menyiapkan pakaian untuk Arsen dan membuatkan sarapan, terpakai atau tidak yang dia lakukan, yang penting dirinya sudah melakukannya. Khalisa menuruni anak tangan, namun dia menautkan kedua alisnya ketika mendengar suara ribut-ribut dari arah ruang makan. Langkah kakinya membawanya ke arah keributan. pagi-pagi seperti ini ternyata kekasih suaminya yang sedang membuat keributan. Alexia yang mendengar langkah kaki segera menoleh, tatapannya tertuju pada Khalisa dengan tatapan tidak suka. Dia sudah mendengar laporan dari Rina. “Aku dengar dari Mas Arsen, sekarang kamu pembantu baru di rumah ini kan?" Alexia melangkah menghampiri Khalisa yang berdiri tanpa menundukkan pandangannya. Alexia berdiri di hadapan Khalisa, tatapan keduanya beradu. “Jadi seperti ini pelayan baru di rumah colon suamiku? sekarang siapkan tempat duduk untukku." Titah Alexia. Khalisa menaikan sebelah alisnya. Lalu dia melihat kearah deretan kursi yang tertata rapih mengelilingi meja makan. “Nona Alexia, anda tidak butakan? lihat di sana ada kursi yang sudah tersusun, silahkan duduk." Khalisa berucap berusaha menahan tawanya. Entah pura-pura tidak melihat atau memang pandangan Alexia bermasalah, sampai tidak melihat adanya kursi. Alexia yang memang sedang mencari kesalahan Khalisa tidak akan tinggal diam. “Berani sekali kamu menjawab perintahku." “Sudahlah Nona, lebih baik duduk dan sarapan, daripada mengoceh terus akan membuatmu kehilangan tenaga." Setiap jawaban Khalisa membuatnya kesal. “Sialan!..Kamu berani melawanku, tidak taukah kamu siapa aku?" Desisnya. Khalisa mengangkat kedua bahunya acuh. Sikap Khalisa benar-benar membuatnya kesal. “Ingat Khalisa, mau sampai kapan kamu bertahan di pernikahan yang tidak di inginkan oleh Arsen, menyerahlah, karena sangat berat bersaing denganku." Ucapan Angkuh dan penuh keyakinan itu membuat Khalisa ingin tertawa. Sangat lucu menurutnya. “Nona Alexia, aku tidak perlu bersaing dengan wanita yang tidak sekelas denganku, dari segi manapun saat ini akulah pemenangnya." Khalisa maju satu langkah, dia menatap dengan barani. “Dari segi Agama aku halal dia sentuh, dari segi hukum akulah yang di lindungi, dari segi masyarakat akulah yang di akui, Sedangkan Kamu!" Khalisa menggeleng kecil. “Dari segi Agama haram untuk disentuh, dari segi hukum kamulah terdakwa dan segi masyarakat kamu Pelak*r, Paham!!" Khalisa menekan setiap kalimatnya. Kedua tangan Alexia mengepal erat, dia tertampar oleh setiap kalimat Khalisa. Yang di ucapan oleh Khalis adalah kenyataannya. Dia kalah dalam segi apapun. Alexia yang tidak bisa mengendalikan emosinya langsung mendorong Khalisa hingga terjungkal. Tidak ada satupun maid yang berani menolong, mereka takut berurusan dengan Alexia. “Wanita renda*n berani sekali kamu bicara seperti itu padaku, tidak sadar diri, kamu jauh lebih haram dan hina dariku, sebab anak yang lahir dari perzinahan tetap saja sampah." Alexia menginjak telapak tangan Khalisa dengan sepatu bertumit tinggi. Khalisa meringis merasakan sakit yang luar biasa. Sedangkan Alexia tersenyum miring, merasa puas bisa melampiaskan amarahnya, dia tidak terima dengan ucapan Khalisa. “Ada apa ini?" Tiba-tiba suara bariton itu mengalihkan pandangan mereka. Khalisa mendongak dengan mata yang memerah menahan sakit. Alexia menoleh sembari tersenyum lebar. “Surprise!!!" Serunya langsung berlari ke arah Arsen yang terkejut melihat kedatangan kekasihnya. Wanita cantik itu memeluk erat sampai beberapa detik, lalu sedikit mengendurkan pelukannya dan menatap nanar sang kekasih. “Kapan kamu kembali, kenapa tidak memberitahu ku?" Tanya Arsen menangkup kedua pipi kekasihnya, ada rasa rindu dan rasa bersalah. “Aku sengaja ingin memberikan kejutan untuk mu, tapi dia melah menghinaku, dia mengatakan aku adalah pelak*r" Mengadu dengan tatapan sendu dan manja. Arsen melirik kearah Khalisa yang berdiri sembari memegangi sebelah tangannya. “Jangan dengarkan ucapan wanita renda*n itu." “Aku ingin kamu menghukumnya." Pinta Alexia dan Arsen pun menganggukkan kepalanya. Khalisa yang melihat itu hanya menarik sudut bibirnya. Arsen maju beberapa langkah sembari membuka gespernya, tatapannya begitu tajam penuh dengan kebencian. Tidak ada yang boleh menghina kekasihnya. Alexia bukan pelak0r seperti yang Khalisa katakan, justru wanita bercadar itulah perusak segalanya. Khalisa terkejut melihat gesper di tangan suaminya. “Mas, kamu mau apa?" Tentu saja dia takut jika sampai suaminya melakukan kekerasan padanya. Khalisa memejamkan matanya ketika Arsen mengayunkan gespernya. Kuat sampai mengenai punggungnya. Cetazzss “Awwhhhh" Jerit Khalisa, punggungnya terasa nyeri dan perih. Cetazss Cambukan kedua membuat Khalisa terjatuh, Sampai lima kali Arsen memberikan cambukan pada punggung Khalisa. “Arsen!" Alexia menegur kekasihnya, seperti tidak terima melihat pria itu menghentikan siksanya, dia masih belum merasa puas. “Bawa dia keruang pendingin, kurung sampai aku kembali nanti." Perintahnya. Entah berapa lama dia kembali ke Mansion, Khalisa menggeleng kecil. “Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan, Arsen?" Galen tiba-tiba saja muncul. Dia merinding melihat keadaan Khalisa. Arsen melirik sekilas. “Bawa di ke ruang pendingin." Galen menunjuk dirinya sendiri. “Belum masuk jam kerja Bro, aku tidak mau." Arsen menatap horor, dia tidak menerima penolakan. Galen meringis sembari dan akhirnya meminta maid wanita untuk memapah Khalisa ke ruang pendingin. Pintu ruangan terbuka, Rina yang memiliki dendam pada Khalisa langsung mendorongnya masuk. Galen hanya menggeleng melihat kelakuan Rina. “Turunkan suhunya." Titah Galen, jika tidak, Khalisa bisa mati membeku, ruangan pendingin itu khusus penyimpanan stock daging. Rina mengangguk saja, namun alih-alih menurunkan suhunya, dia malah menaikan ketika Galen sudah berlalu dari tempat tersebut. Rani menyeringai. “Mampus, siapa suruh melawan Nyonya Alexia." Tidak perduli apa yang akan terjadi pada wanita bercadar itu, ada Alexia yang akan melindunginya. Di ruang makan, Arsen sibuk membujuk kekasihnya. “Sayang, kamu bukan pelak0r, please jangan dengarkan dia." Alexia terisak. “Bagaimana kalau sampai media tau, karierku bisa hancur, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini." “Omong kosong apa yang kamu bicarakan, Alexia!!" Arsen tidak terima dan tidak mau kehilangan kekasihnya. Alexia hidupnya dan cintanya, wanita itu yang menemaninya ketika dirinya terpuruk atas kematian sang Bunda. Arsen hampir gila kehilangan sang Bunda, tanpa Alexia mungkin dia sekarang sudah berada di Rumah Sakit Jiwa. “Tapi aku tidak mau di cap sebagai perusak rumah tangga mu, bahkan wanita itu sudah berani melawanku." “Aku tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan Alexia, jika dia melawanmu, aku akan menghukumnya dan kamu bebas melakukan apapun padanya, asal jangan tinggalkan aku." Pinta Arsen menggenggam erat kedua tangan Alexia. Alexia diam untuk sesaat. “Benarkah aku boleh melakukan apapun padanya?" Reflek Arsen mengangguk. Dia tidak perduli pada Khalisa yang penting kekasihnya tetap berada disisihnya. Galen yang melihat itu hanya menggeleng, sahabatnya benar-benar bodoh dan tidak bisa membedakan mana cinta dan mana yang hanya pura-pura cinta, di manfaatkan untuk kepuasan diri Alexia. “Bodoh"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD