Jet pribadi itu membelah awan dengan kecepatan maksimal, namun bagi Arsen, burung besi itu terasa lebih lambat daripada siput. Di dalam kabin yang senyap, hanya terdengar deru mesin yang halus, Arsen duduk dengan kepala tertunduk, meremas rambutnya sendiri hingga berantakan. Di hadapannya, Regi tertidur pulas dalam selimut, sementara Rega putra sulungnya yang memiliki ketajaman insting luar biasa duduk terjaga, menatap sang ayah dengan pandangan yang sulit diartikan. Begitu mendarat di JFK, New York, Arsen tidak membuang waktu. Dengan pengawalan ketat, dia membawa si kembar langsung menuju Mansion tempat Khalisa tinggal selama berada di New York. Sepanjang perjalanan, jantung Arsen berdentum seperti genderang perang. Dia tau, menghadapi Khalisa yang meledak-ledak jauh lebih mudah dar

