Bab 5

1029 Words
“Arsen, Ayah tidak mau tau dan tidak mau mendengar alasan apapun, pernikahan ini harus menghasilkan keturunan, setelah itu terserah apa yang akan kamu lakukan padanya." Pagi-pagi sekali Tuan Adnan sudah mendatangi kediaman sang putra. Melihat Arsen yang keluar dari kamar yang berbeda membuatnya marah. Khalisa gadis pilihannya, sebelum memutuskan untuk menjodohkan dengan Arsen, pria tua itu lebih dulu menyelidiki keseharian gadis itu. Khalisa tidak pernah dekat ataupun memiliki hubungan dengan pria manapun, gadis itu selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Karena itu, Tuan Adnan mengharapkan Arsen memiliki keturunan dari rahim Khalisa, “Kenapa tidak Ayah saja yang menghamilinya." “Bodoh!.. Apa kamu tidak ingat janjimu pada Alana?" Tegas Tuan Adnan. Arsen melirik adiknya yang memasang wajah sedih. Janji yang dia ucapan kan pada Alexia ternyata membuatnya menjadi terjebak dalam situasi yang rumit. Janji mana yang harus dia ingkari. “Aku hanya ingin punya anak dari Alexia tidak wanita lain." Cintanya begitu besar, dia tidak ingin mengkhianati kekasihnya. Tetapi, bukannya dia sudah mengkhianati Alexia dengan menikahi Khalisa? rahangnya mengeras. “Kamu bisa bersama Alexia, setelah mendapatkan keturunan dari Khalisa, jika kau terus menolak, maka kamu akan melihat kehancuran karier kekasihmu itu." Timpal Tuan Adnan. Nadanya tidak menerima penolakan. Sedangkan Khalisa tengah berkutat di dapur, menyiapkan sarapan untuk suami dan Ayah mertuanya. Setelah selesai, dia menghidangkan sarapan tersebut di atas meja, tidak lupa meminta Maid untuk memanggil suami dan Ayah mertuanya. Khalisa menatap setiap hidangan, sarapan yang dia buat sama sekali tidak di lirik oleh Arsen, pria itu fokus pada ponselnya, sementara Tuan Adnan tanpa bicara menikmati sarapannya. “Khalisa, kamu tidak sarapan? tapi kursinya sepertinya.. " Alana menggantung kalimatnya, melihat tidak ada kursi yang tersisa. “Kak, kenapa hanya ada tiga kursi, lalu Khalisa duduk di mana?" Alana mengalihkan pandangannya pada sang kakak. “Sarapan saja di dapur." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel miliknya. “Kak.. " Alana merasa tidak enak hati. Namun alih-alih bersedih Khalisa malah tersenyum, tidak masalah, lagi pula sarapan di manapun sama saja. ** Lampu kelap kelip mengikuti irama musik DJ yang begitu keras, di sebuah klub malam yang saat ini di datangi oleh Arsen dan dua sahabatnya. Tekanan sang Ayah dan permintaan sang Adik membuat kepalanya seakan pecah, sedangkan Alexia saat ini sedang merajuk. “Kenapa gak langsung pulang aja sih Sen?" Tanya Galen, dia sudah lelah seharian bekerja dan ingin istirahat. Arsen menengguk minumannya, setelah beberapa saat dia menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin pulang, aku tidak ingin membuat Alexia semakin marah padaku." Jawabnya Galen menggelengkan kepalanya. Arsen terlalu menurut pada Alexia sampai melupakan kewajibannya sebagai seorang suami. “Sen, kalau menurutku, Alexia tidak ada hak untuk marah, yang berhak marah itu Khalisa, karena dia istri mu." Ujar Galen, menurutnya Alexia memang tidak ada hak apapun untuk marah pada Arsen. Arsen menoleh dan menatapnya tajam. “Alexia lebih berhak atas diriku karena dia kekasihku." Galen hanya menggelengkan kepalanya, seperti apa dia menasehati, tetap saja Arsen akan memilih Alexia. Malam semakin larut, Arsen yang pikirannya tengah kalut, melampiaskannya pada minuman, sehingga membuatnya mabuk berat. Dia tidak ingin pulang ke rumah, tetapi juga tidak ingin ke apartemen, sebab di sana ada Alexia, khawatir jika sampai terjadi sesuatu. Arsen pulang sekitar pukul tiga dini hari dalam keadaan mabuk sampai membuat Galen kuwalahan mengantarkannya pulang. “Nona Khalisa, aku harap kamu bisa memakluminya,ini pertama kalinya Arsen mabuk, mungkin karena pekerjaan di kantor sedang ada masalah." Galen memberikan alasan lain untuk menjaga perasaan Khalisa. Wanita bercadar itu hanya mengangguk. Dan mengucapkan terimakasih sudah mengantar suaminya pulang. Setelah kepergian Galen, Khalisa membawa suaminya ke kamar, Khalisa tidak tau apa yang dikatakan Galen itu benar karena pekerjaan, atau karena hal lain. Arsen terlihat begitu kacau, telapak tangan pria itu terluka. Khalis mengobatinya dengan alakadarnya saja. Setelah itu, dia melepas sepatu dan mengambil air mengunakan baskom, mengelap suaminya agar tidak terlalu bau Alkohol. Sudah memastikan jika suaminya bersih dan aman untuk dia tinggal, Khalisa yang hendak pergi namun tiba-tiba saja pergelangan tangannya ditarik oleh Arsen sampai membuatnya terjatuh di atas d**a pria tersebut. “Astaghfirullah,Mas Arsen!" Pekik Khalisa. “Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini semua kepadaku, apa salahku?" Arsen bergumam pelan, suaranya begitu pelan namun seperti orang yang terluka. Khalisa menggeleng, mungkin rencauan biasa ketika orang yang sedang mabuk. Sampai tiba-tiba. Arsen membalik posisi membuat Khalisa berapa di bawah tubuhnya. “Mas, minggir kamu berat" Khalisa dia sedikit mendorong d**a suaminya agar menjauh. Arsen dengan tatapan yang buram menatap perempuan yang berada dibawah tubuhnya bayangan wajah Alexia membuat matanya memanas, dan dengan kasar menarik penutup wajah Khalisa. Mata Khalisa membulat. “Astaghfirullah, Mas Arsen, apa yang kamu lakukan?" seru nya dia pun mulai panik. Sedangkan Arsen malah terkekeh. “Ternyata kamu sangat cantik, tapi sayangnya kau sangat murah*n Khalisa." Desisnya Khalisa memejamkan matanya, sembari memberontak, dia tidak ingin berada di bawah tubuh pria yang sedang dalam pengaruh alkohol. Plakkk Satu tamparan mendarat begitu saja di pipi mulus Khalisa, sehingga membuat Khalis terdiam. “Bukannya ini yang kau inginkan sialan, naik ke atas ranjangku, setelah ini kau akan mendapatkan bayaran dari Ayahku, apa lagi kalau kamu sampai hamil, akan mendapatkan uang banyak." Arsen tidak begitu percaya kalau alasan Ayahnya memaksa dirinya menikahi Khalisa hanya karena sesuatu yang bersangkutan dengan Alana. Dan Khalisa juga tidak menolak layaknya wanita pada umumnya yang tidak mau menikah, tentunya ada alasan yang menguntungkan bagi wanita ini, apa lagi kalau bukan Uang. Khalisa diam dan pasrah, membiarkan Arsen menyentuh dirinya, meskipun setiap kalimat yang terucap membuatnya sakit hati. “Gara-gara aku menikahi mu, kekasihku menangis dan bersedih setiap hari, tidur dalam kekhawatiran. Khawatir kalau sampai aku menyentuhmu!" Ucapnya lalu kembali menjelajahi setiap inci tubuh Khalisa. Tidak ada kelembutan layaknya malam pertama pada umumnya, Arsen melakukannya dengan kasar, tangisan Khalisa dia anggap sebagai musik pengiring kegiatannya. “Sudah berapa banyak pria yang memakaimu, hmm?" Tanya Arsen menatap remeh istrinya, dari cerita seseorang dia bisa menyimpulkan jika Khalisa sudah banyak bergonta-ganti pasangan. Khalisa menggeleng, “Tidak ada... " Plakk Arsen kembali mendaratkan tamparan keras. “Jangan mengeluarkan suara, aku tidak sudi mendengarkannya." Tidak ada acara membuka pakaian dengan lembut, semua Arsen lakukan dengan kasar dan penuh emosi, dia tidak bisa membayangkan tangis Alexia karena pernikahannya ini. “Aaakkhhhhhhh" Teriakan Khalisa memenuhi kamar utama, ketika Arsen menekan paksa miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD