5. Dilema.

1681 Words
Sore menjelang ketika cahaya matahari mulai miring ke barat, menembus sela atap seng pasar yang berdebu. Kios ayam milik Laila mulai sepi; tinggal beberapa potong ayam di meja, dan sisa air cucian mengalir pelan ke parit kecil di bawah. Bi Laila sedang menghitung uang hasil penjualan, sementara Nawang membersihkan meja yang belepotan darah ayam dan serpihan bulu. Setelah kejadian tadi pagi, ia masih merasa tegang, tapi dalam diam ia juga merasa bangga — entah bagaimana, ia berhasil bertahan di tengah kekacauan. Setelah pekerjaannya selesai Nawang duduk di bangku kayu, mengipasi diri dengan karton. Punggungnya pegal, tapi ada rasa puas karena berhasil melewati hari pertama tanpa bencana lain. “Lumayan, ya, Bi. Ayamnya cuma sisa tiga potong," kata Nawang setelah melihat bibinya selesai menghitung uang. Laila menoleh sekilas, wajahnya masih lelah namun tampak puas. “Ya, lumayan. Untuk hari pertama kamu ikut, tidak buruk.” Nawang tersenyum kecil. Ia senang bisa berguna di pasar. Laila baru saja menutup timbangan ketika bayangan besar jatuh di depan kios. Suara langkah berat terdengar mendekat, lalu seseorang berhenti tepat di depan mereka. Itu Hilal. Kaos hitamnya sudah setengah basah oleh keringat, otot lengan kekarnya bersembulan samar di bawah cahaya temaram. Wajahnya tetap datar seperti pagi tadi. “Selamat sore, Bu Laila.” Suara baritonnya menyapa dalam. “Eh, Hilal. Ada apa sore-sore ke sini?” Hilal menatap meja, lalu ke kanan dan kiri. “Saya cuma mau memastikan kalau kios Bu Laila aman setelah kejadian tadi pagi. Jaja memang bukan maling besar. Tapi teman-temannya itu pecandu semua. Takutnya anak itu balik lagi untuk membalas dendam dengan membawa teman-temannya.” “Oh, insyaallah aman, Lal. Semoga saja mereka tidak membuat ulah lagi. Sejak kamu memegang pasar ini enam bulan ini, pasar menjadi lebih aman." Laila mengusap tangannya pada celemek, lalu menambahkan, “Terima kasih ya, Lal. Kalau tidak ada kamu, kami pasti sudah rugi karena ayam kami dibawa kabur.” “Sudah saya bilang, itu memang tugas saya. Keamanan semua pedagang di sini adalah tanggung jawab saya. Kalau ada apa-apa, langsung saja panggil anak-anak yang jaga di sekitar. Biasanya sore begini ada dua orang di ujung lorong, satu lagi di depan parkiran.” Laila menggangguk kecil. "Kalau ada apa-apa lagi jangan ragu melaporkannya pada saya," katanya lagi sambil melirik sekilas ke arah Nawang. Saat ini Nawang tengah menunduk mengikat plastik sisa ayam yang akan dibawa pulang. “Yang membantu Ibu ini, keponakan ya?” tanya Hilal lagi. “Iya. Nawang Wulan namanya. Anak adik saya. Ibunya baru saja meninggal.” Hilal mengangguk lalu berbicara serius dengan Laila. "Bilang padanya. Lain kali jangan asal mendekati penjahat. Karena kita tidak tahu apakah penjahat itu membawa senjata seperti pisau dan sebagainya. Seseorang pada saat terdesak bisa melakukan hal yang nekad. Dan itu jelas berbahaya." Nawang melongo. Hilal berbicara pada bibinya seolah-olah ia tidak berada di antara mereka. Hilal menganggapnya sebagai mahluk yang tak kasat mata. Bi Laila berdecak. "Tuh, dengarkan apa yang Hilal bilang, Nawang. Ingat ya, lain kali jangan sembarang bertindak. Nanti kamu bisa celaka." Laila langsung menasehati keponakannya. “Iya, Bi." Nawang mengangguk patuh. “Saya permisi dulu." Sebelum pergi, Hilal melirik sekali lagi ke arah Nawang. Tatapan singkat, tapi tajam. Bertepatan pada saat itu Nawang juga tengah menatap Hilal. Rikuh, Nawang langsung melengos dan pura-pura sibuk membersihkan kios. Sementara Hilal membuang pandangan dan berlalu. Laila menghela napas panjang melihat dua anak muda di depannya saling menunjukkan ketertarikan walau samar. Situasi ini membuatnya teringat pada masa lalu. "Nawang, Bibi ingin memperingatimu. Kamu ini masih muda. Masa depanmu juga masih panjang. Kuliah dulu yang bener. Jangan pacar-pacaran. Nanti kalau ada setan lewat dan kamu hamil, masa depanmu jadi suram. Paham kamu?" "Heh, pacaran? Hamil?" Nawang ternganga. "Siapa yang pacaran, Bi? Pacar saja saya tidak punya," pungkas Nawang keheranan. "Bibi cuma memperingatkan. Jangan sampai kejadian yang menimpa ibumu dulu, terulang kembali. Bibi trauma," ungkap Laila terus terang. "Bi, kenapa Ibu dulu..." "Hilal itu memang baik dan bertanggung jawab sebagai preman pasar. Tapi sebagai pasangan, tidak. Dunianya keras dan berbeda dengan kita. Bibi lebih suka kalau suatu saat kamu punya pasangan, orangnya yang bener. Kamu paham kan maksud Bibi?" Nawang mengangguk perlahan. Ia sadar kalau bibinya langsung mengalihkan pembicaraan saat ia ingin membahas masalah ibunya. Ternyata bibinya masih belum memaafkan ibunya. "Lagi pula Hilal itu bukan type laki-laki yang setia. Pacarnya banyak. Berganti-ganti setiap minggu. Mulai dari yang cantik seksi, seram tatoan sampai yang modelan gadis baik-baik. Kamu bakalan makan hati punya pasangan ganteng tapi mata keranjang seperti dia. Yang jelek aja nyusahin, apalagi yang ganteng." Nawang meringis. Nasehat Bi Lalila sudah separuh curhat. Saat bibinya kembali mengomel, Nawang hanya mendengarkan saja. Tapi dalam hatinya, bayangan sosok tinggi besar itu terus melekat. Cara Hilal bicara, tatapan matanya yang tajam tapi tenang, dan bagaimana seluruh pasar menunduk hormat padanya—semuanya menimbulkan rasa penasaran yang sulit dijelaskan. Sore itu, di tengah bau amis dan riuh pasar yang mulai senyap, Nawang sadar: hidup barunya di rumah Bi Laila tak hanya tentang belajar berjualan ayam. Ada sesuatu lain yang baru saja dimulai — sesuatu yang berdenyut pelan di d**a, seperti debar yang tak ingin diakui. Dan ia takut untuk mengakui hal itu. *** Senja makin tua ketika Nawang dan Bi Laila pulang ke rumah. Nawang duduk di boncengan motor, berpegangan erat pada sisi jok. Motor milik Paman Jalal itu sudah dimodifikasi dengan dua kantongan besar di kanan-kiri untuk tempat ayam, membuat Nawang harus mengangkat kakinya tinggi-tinggi agar tidak tersenggol besi penopangnya. “Pegangan yang kuat, Nawang. Bibi akan mengebut. Sudah sore sekali. Bibi lapar. Kamu juga kan? Semoga pamanmu masak enak,” kata Bi Laila tanpa menoleh. “Iya, Bi,” sahut Nawang sambil menahan keseimbangan. Perutnya juga sudah keroncongan. Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah. Baru saja mesin motor dimatikan, suara berat Paman Jalal langsung terdengar dari dalam rumah. “Lama sekali pulangnya kalian. Aku lapar sekali ini! Kenapa kalian tidak masak, hah?” Bi Laila melepaskan helmnya, napasnya masih tersengal. “Astaghfirullah, Bang. Kami seharian di pasar, mana sempat masak? Biasanya juga kalau aku di pasar sampai sore, Abang yang masak, kan? Kenapa hari ini jadi berubah?” Laila balas berteriak. Rasa lapar membuat suaranya meninggi. Suasana rumah langsung menegang. Anisa, anak bungsu mereka, hanya duduk diam di ruang tamu sambil memainkan ponsel, pura-pura tidak mendengar. Jalal mendengus, wajahnya masam. “Ah, cerewet sekali kamu. Aku sibuk mencari agen ayam yang lebih murah hari ini. Aku juga baru pulang!" Jalal berkilah. "Ya sudah. Kalau begitu aku akan memasak. Sebentar lagi Zulham pulang sekolah. Dia pasti lapar. Aku ganti baju dulu." Laila masuk ke dalam kamar. Pak Jalal lantas memandang Nawang yang berdiri serba salah di sudut dapur. Ia ketakutan terjepit di tengah pertengkaran paman dan bibinya. “Menunggu bibimu masak, aku bisa mati kelaparan. Kamu buatkan saja aku dua bungkus mie goreng instan. Kasih telur. Cepat!” Nawang menatap pamannya bingung. “Saya, Paman?” “Ya, siapa lagi?!” bentak Jalal. Dengan langkah hati-hati, Nawang masuk ke dapur. Ia membuka bungkus mie instan dan membaca petunjuk di belakang kemasannya dengan saksama. Biasanya, Bik Fatimah atau ibunya yang memasak di rumahnya dulu—ia tinggal terima beres. Ia nyaris tidak pernah menyentuh kompor. “Didihkan air... masukkan mie...” gumamnya pelan. Ia menyalakan kompor, menunggu air mendidih, lalu memasukkan mie instan. Setelah itu, ia memecahkan telur langsung ke dalam panci dan mengaduknya cepat. Air menjadi keruh, tapi ia tak mempermasalahkannya. Setelah mie matang, ia meniriskan airnya dan menuangkannya ke piring berisi bumbu. Sambil mengaduk, Nawang tersenyum kecil, puas karena merasa berhasil. Ia kemudian membawa piring mie itu ke meja makan, di mana Paman Jalal sudah duduk dengan wajah tidak sabar. “Ini, Paman...” Belum sempat Nawang menaruh piring dengan benar, suara bentakan menggema. “Apa ini?!” Piring itu dihempaskan ke lantai. Mie berserakan, bumbunya tercium tajam di udara. Nawang terlonjak mundur, wajahnya pucat. “Mana ada mie goreng telur dimasak begini, hah?! Telurnya direbus bareng mie?! Ini mie kuah namanya! Kalau mau mie goreng telur, telurnya diorak-arik dulu, baru dicampur setelah mie matang dan ditiriskan! Masak begini saja tidak becus!” Bahu Nawang bergetar. Air matanya menggenang, tapi ia menunduk dalam diam. Ia sungguh tidak tahu bahwa caranya salah. Teriakan itu membuat Bi Laila berlari keluar dari kamar. “Astaghfirullah! Ada apa lagi ini, Bang?!” “Nih! Mie goreng buatan keponakanmu! Lihat hasilnya!” bentak Jalal, menunjuk ke lantai. Laila memandang sekilas, lalu menatap suaminya tajam. “Bang, Nawang itu tidak tahu caranya. Sebelumnya dia anak orang kaya. Tidak pernah masuk dapur. Kalau dia salah, ya diajarin. Atau suruh Anisa saja yang masak. Nawang itu capek, lapar juga. Sama seperti aku!" Anisa spontan menoleh, terkejut mendengar namanya disebut. “Kenapa kamu mengatur-aturku? Aku mau menyuruh siapa kek, itu urusanku!” Laila memukul meja. "Omonganmu melantur. Abang bukan mau makan, tapi menyiksa Nawang." “Menyiksa apaan?!” bentak Jalal. Laila menatap suaminya lama, napasnya memburu. Lalu tiba-tiba suaranya merendah, namun penuh tekanan. “Aku tahu, Bang. Abang masih kesal pada Laily. Tapi jangan jadikan Nawang sasaran kemarahanmu. Nawang memang anaknya. Tapi dia nggak salah apa-apa sama Abang. Laily juga tidak kan? Dia tidak tahu perasaan Abang!" Suasana rumah langsung membeku. Anisa menahan napas. Nawang mendongak, menatap Bi Laila dengan mata lebar. Pak Jalal terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras. Tanpa sepatah kata pun, ia mendorong kursi ke belakang dengan kasar, lalu berjalan menuju pintu. Brak! Pintu tertutup keras di belakangnya. Suara langkahnya menjauh di halaman. Keheningan menyelimuti rumah. Nawang berdiri kaku, masih menggenggam sendok di tangannya. Ia lalu menunduk memungguti mi yang berceceran dan piring yang pecah. Laila menatap Nawang dengan pandangan menyesal. Emosi telah membuatnya kelepasan berbicara. “Kamu istirahat saja di kamar, Nawang. Biar Anisa yang membereskannya. Bibi akan mendadar telur saja. Kalau sudah selesai nanti Bibi panggil." Annisa yang sedang menonton televisi ingin protes. Namun saat melihat wajah galak sang ibu, ia mengurungkan niatnya. Nawang menunduk. Matanya panas. Ia tidak mengerti seluruh kisah di balik pertengkaran tadi, tapi satu hal yang ia tangkap. Di masa lalu pamannya ini menyukai ibunya dan bibinya tahu. Sambil berjalan ke kamar Nawang menghela napas berat. Sepertinya sudah ada retakan yang cukup lama ada di rumah ini. Kehadirannya hanya memperjelas keretakan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD