Pintu depan berderit pelan, diikuti suara sandal basah menyeret lantai. Jarum jam dinding menunjuk pukul dua belas lewat tiga puluh. Nawang yang setengah tertidur di kamar kecilnya tersentak. Ia menahan napas, mendengar langkah berat Paman Jalal melewati ruang tengah.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu kamar Bi Laila dibuka.
“Dari mana, jam segini baru pulang?” Suara Laila terdengar gusar.
“Ke mana saja, yang penting tidak berada di rumah ini,” balas Paman Jalal. Suaranya terdengar sewot. Nawang menajamkan pendengaran. Bibi dan pamannya kembali bertengkar.
“Kalau begitu, seharusnya Abang tidak usah pulang lagi! Apa perlu aku mengeluarkan semua baju-baju Abang?” suara Bi Laila meninggi.
Dari arah samping terdengar suara gemerisik. Anisa membuang selimut ke samping. Ia tampak kesal karena terbangun.
“Ada apa lagi sih ini orang tua berdua? Ribut terus!” omel Anisa kesal. Ia kemudian mengambil bantal guling dan menutup kedua telinganya.
“Kamu mengusirku gara-gara anak si Laily itu?” Nawang menahan napas. Kehadirannya tidak diterima di mana pun.
“Tapi Abang bilang tidak mau berada di rumah ini lagi. Jadi, ngapain juga Abang pulang?”
“Karena aku tidak suka kamu membahas-bahas masa laluku di depan anak itu!” Nada suara Paman Jalal kian meninggi. Terdengar suara pintu kamar dibuka, lalu kembali tertutup.
“Aku juga tidak suka Abang terus menyiksa Nawang! Dia tidak punya salah apa-apa pada Abang!” Suara pertengkaran di luar makin keras. Sepertinya mereka telah keluar kamar dan kini ada di ruang tengah. Nawang beringsut dari ranjang. Ia tidak bisa tidur lagi. Perlahan ia bangkit dan mengintip dari pintu kamar yang sudah tidak bisa ditutup rapat.
Paman Jalal tampak duduk di kursi plastik ruang tengah. Cahaya lampu redup menyorot wajahnya yang keras. Matanya merah karena lelah atau amarah—entahlah. Sementara Bi Laila berdiri dengan rambut acak-acakan, khas baru bangun tidur.
“Kamu tidak mengerti, La. Setiap kali aku melihat wajah anak itu, aku jadi teringat pada Laily. Ingat pada semua kebodohan yang dia perbuat.”
Bi Laila mendekat setapak. “Lah, ngapain Abang mikirin si Laily? Dia itu bukan siapa-siapanya Abang!”
“Kamu lupa kalau dia dulu sudah mempermalukan keluarga kita!” bentak Jalal. “Dia hamil di luar nikah dengan laki-laki lain. Masa kita tidak berhak marah!”
Alasan Paman Jalal membuat Bi Laila tertawa tanpa merasa lucu.
“Kita? Bukan kita, Bang. Tapi aku. ” Bi Laila menepuk dadanya.
“Aku kakaknya. Aku dulu yang bekerja mati-matian membiayai kuliahnya, yang menanggung malu saat semua orang mencibir keluarga kami. Tapi semarah-marahnya aku, aku tetap mencintai dia. Karena dia adikku. Darahku sendiri.
Sementara Abang—” suara Bi Laila menurun, tapi tajam, “—Abang siapa? Cuma seorang pengagum rahasia yang patah hati karena impiannya musnah!”
Keheningan jatuh di antara mereka. Hanya terdengar detak jam dinding dan suara jangkrik dari luar jendela. Nawang menahan napas. Pertengkaran paman dan bibinya selalu tentang almarhumah ibunya.
Beberapa detik kemudian, Paman Jalal menatap Bi Laila dalam-dalam.
“Kalau kamu tahu aku suka pada Laily, kenapa kamu tetap menerima lamaranku waktu itu, La?”
Bi Laila terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Bibirnya perlahan membentuk senyum getir.
“Karena aku sudah lama mencintaimu dalam diam.”
Paman Jalal tertegun. Nawang melihat amarah di wajah pamannya mereda—berganti kebisuan yang ganjil.
“Kita ini sama, Bang,” lanjut Bi Laila lirih. “Sama-sama mencintai orang yang tidak mencintai kita. Bedanya, aku tidak menyalahkan siapa pun karena perasaanku sendiri. Tidak seperti Abang... Abang memilih membenci orang yang bahkan tidak tahu kalau dirinya Abang cintai. Itu tidak adil, Bang.”
Paman Jalal memalingkan wajah. Tangannya mengepal. Ia ingin membantah, tapi tak ada kata yang keluar.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang dibuka. Nawang kembali mengintip. Zulham keluar dari kamar dengan wajah masih mengantuk.
“Sudah tengah malam, Yah, Bu. Ayo kita tidur. Ngapain juga membahas masa lalu terus? Orangnya saja sudah tiada. Lagi pula, apa kalian nggak malu membahas masalah cinta-cintaan di usia sekarang?” Zulham berusaha menjadi penengah.
Keheningan mengisi ruangan. Angin malam menyusup lewat celah jendela, menggoyangkan tirai. Membungkam sepasang suami istri yang kerap bertengkar.
“Lebih baik Ayah dan Ibu tidur. Sebentar lagi kita mau jualan.” Zulham ngeloyor masuk kembali ke dalam kamar.
Nawang menyudahi pengintaiannya. Ia kini duduk di kasur tipisnya. Dari luar tak terdengar lagi suara pertengkaran. Namun dalam hatinya, semua perasaan berkecamuk. Malam ini ia baru tahu, ternyata ibunya bukan hanya meninggalkan jejak masa lalu, tapi juga luka yang masih membekas dalam hati orang-orang yang ditinggalkannya.
***
Rasanya baru saja Nawang memejamkan mata, tapi suara ketukan keras di pintu membuatnya terlonjak.
“Nawang! Cepat bangun, kita harus ke pasar!” suara Bi Laila terdengar dari luar.
Kepala Nawang berat. Matanya panas, tubuhnya seperti melayang. Ia duduk perlahan di atas kasur, menahan pusing yang datang bergelombang. Saat meraba dahinya sendiri, kulitnya terasa membara. Begitu juga dengan lehernya. Ia tahu dirinya demam.
Namun lidahnya kelu. Ia tak berani berkata apa pun. Baru kemarin ia mulai membantu di kios, dan ia takut kalau nanti orang serumah mengira ia malas atau mencari alasan.
Dari dapur terdengar suara sendok beradu dengan panci, lalu suara Bi Laila memanggil Anisa agar bangun juga. Karena hari Minggu dan tidak ke sekolah, Anisa memang wajib ikut ke pasar. Meski menggerutu, gadis itu tetap bangun dan bersiap.
Paman Jalal seperti biasa berangkat lebih dulu dengan motornya, membawa keranjang berisi ayam yang sudah dibersihkan. Zulham membonceng Anisa, sedangkan Nawang berjalan bersama Bi Laila seperti kemarin.
Udara subuh menggigit kulit. Kabut tipis menyelimuti jalanan sempit menuju pasar. Napas Nawang terengah, dadanya naik turun berat. Setiap langkah, kakinya seperti tidak mau bekerja sama. Dua puluh menit perjalanan terasa seperti dua jam.
“Nawang, hati-hati!” ujar Bi Laila tiba-tiba menahan lengannya saat ia nyaris terjerembab.
Begitu telapak tangan Bi Laila menyentuh kulit Nawang, ia langsung tersentak.
“Astaghfirullah, panas sekali badanmu! Kamu sakit, ya?” serunya khawatir.
Nawang buru-buru menggeleng. “Cuma tidak enak badan sedikit. Tidak apa-apa, Bi. Nanti juga kalau sudah berkeringat jadi sembuh sendiri.”
“Betul begitu?” tanya bibinya ragu.
“Betul, Bi. Saya kuat kok. Kalau nanti tidak sanggup, baru saya pulang,” ucapnya pelan, suaranya serak.
Bi Laila menatapnya ragu, tapi akhirnya mengangguk. Ia tahu Nawang pasti takut dibilang manja—terutama kalau Jalal mendengar.
Setibanya di pasar, Nawang langsung membantu membersihkan kios dan menata ayam. Hari ini Paman Jalal ikut berjualan. Ia menimbang dan memotong ayam bersama Zulham tanpa sekalipun menoleh ke arah Bi Laila. Suasana kios dingin bukan hanya karena udara pagi, tapi juga karena perang dingin yang masih berlangsung antara mereka berdua.
Saat matahari mulai menembus atap seng pasar, saat Bi Laila menyuruh Anisa mengantar pesanan ayam ke pelanggan tetap—warung, tukang sayur, dan rumah-rumah di sekitar pasar. Anisa menoleh pada Nawang.
“Ayo, Mbak Nawang, ikut. Nanti Mbak jadi tahu siapa-siapa saja pelanggan yang harus diantar ayam-ayamnya, jadi Mbak bisa gantiin aku dan Ibu,” katanya sambil menyusun ayam-ayam yang akan diantar.
“Iya, Nis.” Walau langkahnya berat, Nawang ikut mengangkat tumpukan ayam yang sudah disiapkan Bi Laila.
Bi Laila langsung menolak. “Jangan dulu, Nawang. Kamu sakit, kan?” kata Bi Laila khawatir.
Namun Nawang tersenyum menenangkan. “Tidak apa-apa, Bi. Saya kuat, sungguh.”
Dari ujung meja, Paman Jalal menatapnya dengan tatapan tajam, seperti menantang. Nawang menunduk. Ia tahu, kalau menolak, ia pasti dianggap malas. Maka ia pun mengikuti langkah panjang Anisa, membawa plastik-plastik ayam di kedua tangannya.
Mereka berjalan dari satu warung ke warung lain. Asap gorengan, bau tanah basah, dan aroma amis daging bercampur jadi satu di udara. Peluh dingin mulai membasahi pelipis Nawang. Pandangannya berkunang.
Anisa berjalan di depan dengan langkah cepat, sandal jepitnya menampar-nampar jalan yang masih basah sisa hujan semalam. Dua kantong besar berisi ayam tergantung di kedua tangannya.
“Cepetan, Mbak Nawang! Kita masih harus mengantar ke warung Bu Ratmi, Bang Monang, dan Bu Darti!” serunya dengan nada setengah sebal.
Nawang yang berjalan beberapa langkah di belakang hanya tersenyum tipis. “Iya, sebentar, Nis.”
Anisa menoleh sekilas, memutar bola matanya. “Aduh, Mbak, baru juga jalan segini sudah ngos-ngosan. Aku aja kuat, padahal aku lebih kecil, lho.”
Nada suaranya khas remaja empat belas tahun—menyebalkan, tapi tanpa maksud jahat.
“Iya, kamu memang kuat, Nis.” Nawang berusaha menanggapi lembut, walau tubuhnya makin lemas.
Langkahnya mulai tidak stabil. Pandangannya berputar, kepalanya terasa kian pusing seperti kitiran. , Nawang menyemangati dirinya sendiri. Tinggal tiga pelanggan lagi, setelahnya ia akan beristirahat di kios. Namun langkahnya makin berat. Jalanan di depan terasa berputar, suara-suara dari pasar terdengar jauh. Ia mencoba menarik napas panjang, tapi dadanya sesak.
“Mbak Nawang?” suara Anisa sayup-sayup terdengar.
Nawang ingin menjawab, tapi lidahnya kaku. Dunia berputar. Suara riuh pasar menjauh. Tubuhnya terasa ringan, seolah melayang.
Dari kejauhan, Hilal yang sedang memeriksa kios para pedagang memperhatikan dua gadis itu. Tatapannya tajam—kebiasaannya untuk selalu waspada. Saat melihat tubuh Nawang sedikit oleng, alisnya berkerut.
Beberapa detik kemudian, tubuh Nawang benar-benar goyah.
“Mbak—!” teriak Anisa, tapi belum sempat ia berlari, seseorang sudah lebih dulu bergerak cepat.
Hilal menembus kerumunan, dan dalam satu gerakan sigap, menangkap tubuh Nawang sebelum membentur tanah. Pasar seketika riuh. Semua orang menghampiri Nawang yang terkulai lemah di lengan kuat Hilal.
“Kalian semua minggir dulu! Jangan berkerumun, anak ini pingsan!” suaranya menggelegar, membuat orang-orang di sekitar spontan menyingkir.
Ia mengangkat Nawang ke tempat yang lebih teduh, di sisi kios sayur. Beberapa pedagang mendekat, ada yang mengipasi dengan karton, ada yang sekadar menatap cemas.
“Anak ini sakit kali, ya. Kasihan,” gumam seorang ibu penjual cabai.
Anisa, yang kini benar-benar panik, menatap sepupunya yang terkulai di pelukan Hilal. “Aduh, bagaimana ini…” katanya lirih, lalu buru-buru berlari kencang.
“Bu! Ibu! Mbak Nawang pingsan!” teriaknya sekuat tenaga.
Dari kios ayam, Bi Laila langsung terlonjak. Timbangan hampir terjatuh saat ia meletakkannya tergesa.
“Ya Allah! Di mana, Nis?!”
“Di depan, deket kios sayur!”
Laila dan Zulham berlari tergopoh-gopoh, sementara Jalal hanya melengos.
Setiba di lokasi, Laila melihat Nawang yang sudah dibaringkan oleh Hilal di tempat teduh. Beberapa orang tampak memandang dengan tatapan kasihan.
“Nawang! Astagfirullah!” serunya panik.
Hilal mengeluarkan sebotol kecil minyak angin dari saku celananya. “Biar saya bantu, Bu,” katanya datar sambil membuka tutupnya.
Namun Bi Laila segera menahan tangannya dengan lembut. “Biar Ibu saja, Lal.”
Nada suaranya halus tapi tegas. Ia menolak Nawang disentuh oleh Hilal.
Hilal menatapnya sejenak, lalu mengangguk dan menyingkir. Ia tahu diri. Bi Laila mengoleskan minyak di pelipis dan tengkuk Nawang. Zulham berdiri di samping, mengipasi dengan karton bekas.
Sementara Anisa, yang tadinya cerewet, kini terdiam. Wajahnya tegang dan sedikit takut.
“Aku nggak tahu Mbak Nawang sakit, Bu… tadi jalannya pelan banget. Aku kira cuma ngantuk,” katanya pelan.
“Sudah, Nis. Nanti saja ngomongnya. Sekarang bantu Ibu ambil air minum.” Suara Bi Laila panik tapi tegas. Anisa pun kembali berlari ke kios, sementara Zulham memunguti plastik-plastik ayam yang berjatuhan.
Beberapa saat kemudian, kelopak mata Nawang bergetar. Ia menarik napas pendek, lalu mengerjap pelan, menatap langit-langit pasar yang dipenuhi anyaman bambu dan pancaran cahaya matahari yang menembus celah-celahnya.
“Bi…” suaranya nyaris tak terdengar.
“Alhamdulillah,” desah Laila lega, buru-buru menepuk pipi keponakannya pelan.
“Sudah sadar, Nawang? Kamu tadi pingsan. Ya Allah, panas banget badanmu.”
Nawang mencoba tersenyum, tapi tubuhnya lemah. Ia tidak tahu bagaimana bisa berbaring di lantai pasar, dikelilingi orang-orang. Pandangannya masih berkunang.
Sementara itu, tak jauh dari sana, Hilal berdiri diam di balik kerumunan. Pandangannya terarah pada Nawang yang mulai bisa duduk dengan bantuan Ibu Laila.
Ia memperhatikan sebentar—cukup untuk memastikan bahwa gadis itu sadar dan aman.
Udara pagi mulai ramai dengan suara pedagang dan pembeli.
Dengan gerakan tenang, ia memutar tubuh. Langkahnya pelan, hampir tanpa suara di antara pijakan sandal dan teriakan tawar-menawar di pasar. Ia sengaja tidak menatap ke arah Nawang lagi.
Ia tahu, kalau Nawang melihatnya di situ, ia akan merasa sungkan, bahkan mungkin malu. Ia tidak ingin membuatnya seperti itu. Ia tidak perlu ucapan terima kasih.
Yang penting gadis itu selamat. Itu saja.
Sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh sekilas. Dari jarak beberapa meter, matanya menangkap sosok Nawang yang tengah disandarkan pada bahu Ibu Laila, wajahnya masih pucat tapi sudah membuka mata.
Hilal menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Syukurlah,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu melangkah menjauh. Dalam beberapa detik, tubuhnya sudah lenyap di antara gang-gang pasar yang sempit dan penuh hiruk pikuk.
Di belakangnya, Bi Laila terus menenangkan Nawang yang tampak kebingungan.
“Sudah, Nawang, tenang dulu. Tadi kamu jatuh, tapi sudah ditolong orang,” ujarnya lembut.
“Ditolong siapa, Bi?” tanya Nawang pelan, suaranya serak.
Bi Laila menatapnya sebentar, lalu tersenyum samar. “Nggak usah dipikirin. Yang penting kamu sudah sadar sekarang.”
Nawang hanya mengangguk lemah, sementara matanya menatap kosong ke arah pasar yang mulai ramai. Ia tak tahu, di balik kerumunan itu, seseorang yang tadi menolongnya sudah menghilang tanpa jejak—karena ia tak ingin terlihat.