Tidak terasa, sudah sebulan Nawang tinggal di rumah bibinya.
Selama itu pula, Paman Jalal nyaris tak pernah berhenti memusuhinya. Tatapan sinis, ucapan ketus, dan sikap dingin sudah menjadi rutinitas harian. Setiap kali Nawang mencoba membantu, Paman Jalal selalu punya cara untuk membuatnya merasa tak dibutuhkan.
Zulham berbeda. Lelaki itu tak banyak bicara, tapi kebaikannya tampak dari hal-hal kecil. Kadang ia diam-diam menggantikan tugas Nawang di kios, atau mengantarnya pulang saat cuaca panas. Namun jarak di antara mereka tetap terasa. Zulham menjaga sikap—entah karena takut ayahnya marah, atau karena ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam konflik keluarga.
Anisa, gadis empat belas tahun yang masih labil, justru paling sulit ditebak. Kadang ia ramah dan manja, kadang sinis dan menyebalkan. Jika Bi Laila menunjukkan sedikit saja perhatian pada Nawang, Anisa langsung berubah masam. Ia tidak suka ibunya bersikap terlalu lembut pada keponakannya itu.
Bagi Anisa, kasih sayang ibunya adalah sesuatu yang tidak boleh dibagi. Ia ingin menjadi satu-satunya yang dicintai.
Sementara di kampus, kehidupan Nawang berubah total.
Dulu teman-temannya selalu memanggilnya “Princess Nawang”—gadis dari Pondok Indah yang anggun, modis, dan selalu menebar senyum ramah. Kini, julukan itu berganti menjadi “Ratu Pasar.”
Mereka bilang itu hanya candaan, tapi Nawang tahu: itu ejekan.
Viola, Katrina, dan Arina—tiga sahabat yang dulu selalu menemaninya shopping, makan di kafe-kafe mahal atau sekedar berburu kopi kekinian—perlahan menjauh. Kini mereka malah akrab dengan geng Nora, yang terdiri dari Nora itu sendiri, Raisa dan juga Nadia. Geng yang dulu sering mereka bicarakan di belakang, sekarang menjadi sahabat mereka. Dunia memang selucu itu.
Namun anehnya, Nawang tidak merasa sedih. Ia jadi tahu sifat teman-temannya yang sebenarnya.
Siang itu, ia duduk di taman kampus, di bawah rindangnya pohon ketapang. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menebar bayang lembut di wajahnya. Bekal nasi goreng ayam buatan Bi Laila masih hangat di pangkuannya. Aroma bawang dan kecap yang sederhana membuat perutnya bergemuruh karena lapar. Ia pun makan dengan lahap.
Sendok demi sendok ia lahap perlahan. Tidak ada sahabat yang tertawa di sampingnya, tidak ada topik obrolan tentang tas terbaru atau tenpat liburan yang sedang hype saat libur kuliah. Ia makan dalam diam dan penuh kedamaian.
Herannya, dijauhi teman-temannya tidak membuatnya kehilangan.
Ia justru merasa seperti… lega. Seolah-olah ia baru dibebaskan dari topeng di mana ia harus berpura-pura bahagia demi menyenangkan orang lain.
Untuk pertama kalinya, Nawang merasa bebas menjadi dirinya sendiri.
Setelah suapan terakhir, ia menutup kotak bekalnya dan meneguk air dari tumbler ungu yang mulai kusam. “Ah, nikmatnya,” gumamnya kecil. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.
Setelah berdiri sejak pagi buta di pasar, mencium bau amis ayam dan udara dingin, bisa duduk di taman kampus dan makan tenang seperti ini adalah bentuk kemewahan tersendiri baginya.
Namun ketenangan ini mendadak pecah.
“Aku perhatikan, kamu sekarang lebih suka sendirian ya, Naw?”
Suara berat itu muncul dari belakang. Seseorang sudah duduk di sampingnya tanpa permisi. Nawang menoleh sekilas—dan hatinya berdesir.
Bisma Ardha. Ketua BEM. Wajah yang terkenal seantero kampus. Bisma tersenyum ramah dan percaya diri seperti biasa.
“Kak Bisma,” sapa Nawang sopan.
“Nggak menjawab pertanyaanku, nih?” Bisma menggoda ringan.
Nawang hanya tersenyum tipis, lalu sibuk membereskan kotak bekalnya. Ia tahu, Bisma adalah gebetan Nora—dan ia tahu betul betapa cepatnya gosip beredar di kampus ini. Semua orang tahu kalau Nora tergila-gila pada Bisma. Bahkan, separuh perempuan di kampus juga begitu. Termasuk dirinya. Dulu. Bisma adalah tokoh idola dalam novel-novel remaja: pintar, gagah, dan tampan.
“Aku pamit dulu, Kak,” ucap Nawang sambil berdiri.
Namun Bisma dengan cepat menahan pergelangan tangannya. Gerakannya spontan, tapi cukup mengejutkan.
“Sebentar, Naw,” ucap Bisma lembut, matanya menatap penuh tanda tanya. “Aku masih mau mengobrol. Kenapa sih dari dulu kamu seperti alergi terhadapku? Apa aku pernah berbuat salah padamu tanpa kusadari?”
Nawang menatap tangannya yang masih digenggam Bisma, lalu memandang wajah Bisma dengan tenang.
“Bukan begitu, Kak. Aku sedang mengejar waktu. Ada tugas kuliah yang harus aku kerjakan sebelum sore,” jelas Nawang dengan sabar.
Bisma masih menatapnya lekat-lekat. “Kamu sibuk banget, ya? Bukannya biasanya kamu punya waktu nongkrong di kafe kampus bersama teman-temanmu?”
Nawang menarik napas pelan. “Itu dulu. Sekarang aku kerja. Jadi, waktuku banyak habis di pasar.”
Bisma tampak terkejut. “Pasar?”
“Iya.” Nawang menatap lurus ke depan. “Aku membantu paman dan bibi berjualan ayam potong di pasar.”
Hening sesaat. Angin taman berhembus pelan, membuat ujung rambut Nawang bergoyang ringan.
Bisma terdiam, mencoba mencerna kalimat itu.
“Berarti… apa yang orang-orang bilang itu benar, ya?” katanya pelan.
“Aku kira cuma gosip. Katanya kamu jatuh miskin dan sekarang tinggal di tempat saudaramu.”
“Ya, itu semua benar.”
Nada suara Nawang datar tapi tenang. Ia tidak terusik sedikit pun dengan rumor itu.
“Aku tidak tinggal di Pondok Indah lagi. Sekarang aku tinggal di rumah bibi, di kawasan pasar tradisional.”
Bisma masih tertegun. Tatapan matanya berubah—bukan merendahkan, tapi lebih seperti heran dan kagum.
Nawang tersenyum kecil. “Aku pamit, Kak. Masih ada tugas yang harus kukumpulkan.”
Ia beranjak pergi, langkahnya tenang, meski banyak mata memperhatikannya dari kejauhan.
Namun belum jauh, suara Bisma terdengar lagi—keras, lantang, dan membuat beberapa kepala menoleh.
“Mungkin sekarang sudah saatnya aku kembali mengejarmu, Naw!”
Langkah Nawang terhenti. Ia menoleh, keningnya berkerut.
“Apa maksud Kak Bisma?”
Bisma berdiri, tatapan matanya dalam penuh perasaan.
“Nawang Wulan, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Tapi kata Viola, kamu itu sudah punya pacar—seorang anak pejabat yang tampan dan mapan. Makanya aku mundur.”
Nawang mematung. Viola… berbohong? Untuk apa?
“Tapi tadi aku nggak sengaja dengar obrolan Viola dengan Nora,” lanjut Bisma. “Katanya pacarmu itu sudah memutuskanmu gara-gara status sosialmu berubah.”
Nawang mengerjap. Kebohongan apa lagi ini?
“Makanya aku sekarang bergerak cepat mendekatimu. Aku tidak mau keduluan orang lain lagi,” kata Bisma jujur.
Lalu di depan semua orang yang tengah menonton dari kejauhan, ia tiba-tiba berlutut. Satu lutut di tanah, tangan kanan di d**a. Pose yang begitu dramatis, sehingga seluruh taman kampus mendadak senyap.
“Nawang, maukah kamu menjadi pacarku?”
Senyumnya tulus, matanya berkilau penuh harapan.
“Asal kamu tahu, aku tidak mempermasalahkan soal status sosialmu. Mau kamu itu anak presiden ataupun anak ratu pantai selatan, semua itu tak berpengaruh pada rasa cintaku.”
Kampus seketika riuh. Sorak-sorai meledak. Mahasiswa yang lewat berhenti. Ponsel-ponsel terangkat, merekam momen itu. Tepuk tangan bergema, teriakan menggema:
“Terima! Terima!”
Nawang tergugu. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Ia tahu harga diri Bisma dipertaruhkan di sini. Tapi ia juga tahu… memberi harapan palsu bukanlah kebaikan.
“Terima kasih atas perasaan Kak Bisma. Aku sangat menghargainya. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. Keadaanku sekarang ini menuntutku untuk fokus kuliah dan bertahan hidup. Sekali lagi, aku minta maaf ya, Kak.”
Nawang merangkapkan kedua tangan dan melanjutkan langkahnya.
Senyap sesaat. Tepuk tangan berubah menjadi bisik-bisik kecewa.
Bisma masih berlutut, menatap punggung Nawang yang menjauh di antara cahaya sore. Dan di tengah riuh yang perlahan mereda, terdengar suara lirih namun tegas:
“Aku tidak akan menyerah, Nawang,” katanya, nyaris seperti janji pada dirinya sendiri.
“Selama kamu masih sendiri… aku akan terus berusaha.”
***
Riuh tepuk tangan di taman kampus perlahan mereda, berganti dengan bisik-bisik yang berlari lebih cepat dari angin.
Dalam hitungan menit, seluruh kampus tahu: Ketua BEM, Bisma Ardha, baru saja ditolak mentah-mentah oleh Nawang Wulan.
Sore itu, sepanjang koridor fakultas hanya ada satu nama yang disebut-sebut: Nawang Wulan si Ratu Pasar.
Sebagian kagum karena keberaniannya, sebagian lain mencibir karena dianggap sombong.
Dan di tengah semua suara itu, Nawang berjalan dengan kepala tegak, walau dadanya sesak. Ia tidak menyesal menolak Bisma, tapi ia tahu... hidupnya di kampus tak akan tenang setelah ini.
Begitu sampai di depan kelas, Nora sudah menunggunya.
Tangan terlipat di d**a, wajah tersenyum, tapi matanya menusuk.
“Nah, akhirnya muncul juga si Ratu Pasar kita,” katanya manis, tapi nadanya seperti racun yang dibungkus madu.
Nawang berhenti. “Kamu mau apa, Nor?”
“Wah, galak banget sekarang. Dulu kamu nggak begini, lho.” Nora melangkah pelan mendekat, disusul Raisa dan Nadia di belakangnya. Sementara Viola, Katrina dan Arina mengamati dari kursi masing-masing.
“Kamu tahu nggak, semua orang di kampus lagi ngomongin kamu lho,” lanjut Nora dengan nada manja yang dibuat-buat. “Kamu berhasil membuat Ketua BEM kita berlutut di taman. Hebat, kan? Dan yang lebih hebat lagi—kamu menolak pernyataan cintanya di depan umum. Bravo! Tepuk tangan lagi dong untuk Ratu Pasar kita!”
Nora membalikkan tubuh ke arah teman-teman sekelas.
Seketika ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan. Beberapa tertawa, sebagian pura-pura tak peduli.
Termasuk Viola, Katrina, dan Arina—yang dulu pernah memanggil Nawang dengan sebutan bestie selamanya. Kini mereka ikut bertepuk tangan, walau pelan, tapi cukup menusuk hati.
Nawang tidak memedulikan provokasi teman-temannya. Dengan tenang ia duduk di kursinya dan mengeluarkan laptop. Sebentar lagi perkuliahan akan dimulai. Lebih baik ia menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum rampung.
Melihat sikap Nawang yang tenang, Nora naik pitam. Ia melangkah mendekat, suara sepatunya terdengar keras di lantai kelas.
“Kenapa kamu menolak Kak Bisma?” suaranya meninggi. “Kamu ingin membuatnya malu, ya? Oh… mungkin ini memang sifat aslimu. Suka merendahkan orang lain.”
Nawang tidak menatapnya, hanya menjawab datar, “Aku tidak suka mempermainkan perasaan orang.”
Nora menyeringai. “Atau jangan-jangan kamu masih berharap pacar kamu yang anak pejabat itu minta balikan, ya?”
Ucapan itu membuat wajah Viola, Katrina, dan Arina memucat. Mereka saling berpandangan, lalu buru-buru menunduk.
Perlahan Nawang berdiri, lalu menatap Nora lurus-lurus. “Aku menolak karena hubunganku dengan pacarku yang anak pejabat itu baik-baik saja. Jadi, mana mungkin aku menerima pernyataan cinta dari laki-laki lain?” katanya tenang, namun tajam.
Nora menatap curiga. “Kamu bilang hubungan kalian baik-baik saja? Tapi Viola bilang kamu sudah diputuskan. Mana yang benar, Vi?”
Semua mata beralih ke Viola. Nora menatapnya tajam, sementara Nawang menatapnya datar namun menusuk.
Suasana di kelas mendadak hening.
“Eh, anu… aku juga kurang jelas mendengarnya, Nor,” jawab Viola tergagap. Pipi dan telinganya memerah. Ia tidak berani menatap Nawang.
Nawang hanya tersenyum masygul. Viola memang benar-benar tega memfitnahnya.
Untungnya, dosen mereka sudah datang. Nora terpaksa kembali ke tempat duduknya dengan wajah kesal, sementara Nawang membuka laptopnya lagi, seolah tak terjadi apa-apa.
Namun di dalam hatinya, Nawang tahu—ia tidak akan diam begitu saja. Nanti ia akan menanyakan alasan Viola memfitnahnya.
Setelah perkuliahan berakhir, Nora cs bergegas keluar lebih dulu. Mereka tampak masih marah pada Viola. Wajah Viola sendiri tampak gelisah. Ia dan kedua temannya juga terlihat terburu-buru ingin keluar dari kelas. Tapi sebelum mereka sempat melewati pintu, Nawang berdiri dan melangkah cepat ke depan, menghadang jalan mereka.
“Kenapa kamu memfitnahku, Vi?” tanyanya tanpa tedeng aling-aling. Viola mematung. Demikian juga dengan Katrina dan Arina.
Wajah Viola menegang sesaat, tapi ia cepat menutupinya dengan ekspresi pura-pura prihatin.
“Aku melakukan itu untuk menolongmu, Naw. Aku tidak mau kamu dijadikan bahan taruhan anak-anak cowok di BEM. Katanya, mereka taruhan mobil untuk mendapatkanmu,” katanya, berusaha terdengar bijak.
Nawang menatapnya lama. “Alasanmu hampir masuk akal… kalau saja kamu tidak kembali memfitnahku soal pacar anak pejabat itu.”
Ia mendekat satu langkah.
“Tapi tidak masalah. Sekarang aku tahu seperti apa kalian sebenarnya.”
Viola menunduk. Katrina dan Arina ikut menahan napas.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bicara.
“Terima kasih, ya,” ujar Nawang lirih, tapi nadanya tajam. “Kalian sudah menunjukkan wajah asli kalian.”
Ia melangkah pergi melewati mereka, meninggalkan tiga bayangan perempuan yang dulu pernah disebutnya sahabat.
Suara langkah sepatunya menggema di koridor kampus yang mulai sepi, bersamaan dengan semilir angin sore yang membawa satu kenyataan baru—bahwa kadang kehilangan justru adalah bentuk perlindungan terbaik.